Tirakat Wahid Hasyim

SUARA “mesin toelis” selalu terdengar setiap malam dari salah satu kamar di ujung kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Tahunnya 1934: mesin ketik masih barang langka dan mewah.

Para santri yang masih terjaga merasa terganggu. Tapi siapa berani memprotes? Sang pengetik adalah Abdul Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari, pengasuh pondok.

Wahid baru pulang dari Mekah. Dalam usia 20 tahun, anak sulung dari sepuluh bersaudara itu diminta ayahnya membantu mengajar dan membimbing para santri. “Semua dawuh Gus Wahid ketika itu dianggap top,” kata Muchit Muzadi, 87 tahun. “Ndak ada yang berani protes kalau beliau lagi mengetik.”

Muchit masuk Tebuireng pada 1937 dalam usia 12 tahun. Ia lulus Salafiyah pada 1943. Pondok masih dipimpin langsung KH Hasyim Asy’ari, dibantu putranya, Wahid Hasyim.

Tertarik pada suara mesin ketik, Muchit dan sejumlah santri sering mengendap-endap, mengintip Wahid Hasyim dari balik jendela kamar. Wahid tak merasa terganggu, malah membiarkan santri-santrinya meninjau dari balik jendela kaca.

Rasa penasaran Muchit terhadap “mesin” terpenuhi karena dia kenal Karim Hasyim, adik Wahid Hasyim-yang membiarkannya ketak-ketik sembarangan ketika si gus sedang mengajar. “Gus Wahid tahu saya belajar mengetik pakai mesin itu, tapi beliau diam saja,” Muchit bercerita.

Kamar dengan penerangan senthir, lampu minyak yang digantung, itu tiap malam tak pernah hening. Jika tak mengetik, bisa dipastikan Wahid sedang membaca. “Sejak saya menginjakkan kaki di Tebuireng, saya melihat beliau tak pernah berhenti membaca,” kata Muchit. l l l

PADA masa awal kelahirannya, Wahid sering sakit-sakitan. Sebagai anak lelaki pertama-empat anak terdahulu perempuan-hal itu merisaukan ibundanya, Nyai Nafiqoh. Sang ibu bernazar, pada usia tiga bulan Wahid akan dibawa ke guru ayahnya, KH Kholil, di Bangkalan, Madura.

Ketika waktu itu tiba, Bangkalan sedang disiram hujan lebat. Petir sambar-menyambar. Bukannya membukakan pintu, Kiai Kholil malah meminta tamu dan bayinya itu menunggu di halaman rumah. Karena cemas melihat bayinya kehujanan, Nyai Nafiqoh menggendong sang bayi berteduh di emper sambil berdoa.

Tuan rumah tidak kasihan, tapi malah memerintahkan membawa sang bayi kembali ke halaman. Beberapa waktu kemudian, KH Kholil meminta bayi itu dibawa pulang. “Kisah itu menjadi isyarat, kelak sang bayi akan menjadi orang besar,” kata Munib Huda, sekretaris pribadi Abdurrahman Wahid, anak tertua Wahid. Munib menilai kisah itu hanya bisa ditafsirkan oleh orang-orang yang ikhlas dan linuwih.

Wahid lulus dari Madrasah Tebuireng pada usia 12 tahun. Di sela-sela pelajaran agama, dia menghafal syair-syair berbahasa Arab. Setahun kemudian, dia meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara ke sejumlah pesantren.

Dalam berbagai pengembaraan ke pesantren-pesantren, Wahid selalu menggunakan oto, sebutan mobil zaman dulu, yang disetirnya sendiri. Selain dalam usia belasan tahun sudah mahir menyetir mobil, ia piawai mengendarai sepeda motor. Pernah, suatu ketika, karena ngebut, ia dan sepeda motornya nyemplung ke kali di depan pesantren.

Lebar kali itu hampir empat meter dan arusnya deras. Tapi ia tak kesulitan saat naik ke jalan. Mesin sepeda motornya tetap menyala dan tubuh serta pakaiannya tidak basah. “Ia mengaku perasaannya tidak masuk ke kali, melainkan di jalan raya,” kata Imam Tauhid, mantan abdi dalem Pondok Pesantren Tebuireng.

Wahid memulai pengembaraan dengan menyantri di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo, selama 25 hari, 1-25 Ramadan. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang didirikan KH Abdul Karim, alumnus Tebuireng dan kawan dekat ayahnya.

Dari Lirboyo, Wahid meneruskan pengembaraan ke sejumlah pondok pesantren di sekitar Jawa Timur. Selama dua tahun ia berpindah-pindah pesantren, kemudian pulang ke Tebuireng.

Mondok berpindah-pindah merupakan tradisi nahdliyin. “Para santri sering berkelana untuk mencari barokah sang kiai,” kata Munib Huda. “Jika santri mondok, makan dan minum juga ikut kiai.”

Menurut Munib, di era muda Wahid, kiai di tiap pondok punya spesialisasi masing-masing. Ada spesialis ilmu fikih, tafsir, falaq, manteq, atau hukum agama. Aura dan karisma kiai masih benar-benar terasa. “Kalau sudah mondok di kiai-kiai, meskipun sebentar, sepertinya ilmu yang dimiliki menjadi peng-pengan alias dahsyat,” kata Munib.

Kembali ke Tebuireng, Wahid mulai mengenal huruf Latin. Ia juga mulai membaca buku berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda serta mempelajari matematika, ilmu bumi, dan pengetahuan umum. Dia juga berlangganan majalah tiga bahasa terbitan Bandung.

“Huruf Latin pada masa itu tak diajarkan di pondok,” kata Salahuddin Wahid, salah satu putra Wahid Hasyim. Yang ingin bisa menulis Latin, belajar bahasa Inggris atau Belanda, harus belajar sendiri. “Pesantren tidak mau mengajarkan bahasa asing karena waktu itu sedang melawan Belanda.”

Pada 1932, di usia 18 tahun, Wahid pergi ke Tanah Suci didampingi sepupunya, Muhammad Ilyas. Sembari menunaikan ibadah haji, mereka berdua diminta mendalami ilmu tafsir, hadis, nahwu, shorof, dan fikih. Dua tahun kemudian ia kembali ke Jombang.

Kehadirannya di pondok membawa pencerahan. Dia mengusulkan kepada ayahnya perombakan kurikulum pendidikan pesantren, dari klasikal ke tutorial. Ide itu sempat ditolak, tapi kemudian bisa diterima. Hubungan pondok dengan dunia internasional juga kian luas karena Wahid bisa membantu menerjemahkan surat-surat ke berbagai bahasa.

“Ayah saya yang memulai pendidikan non-agama di pesantren,” Salahuddin bercerita. “Beliau berlangganan majalah, memahami sesuatu, lalu membeli buku. Semua ilmu dia pelajari otodidaktik.”

Perombakan kurikulum diterima sang ayah dengan merestui berdirinya Madrasah Nizamiyah, yang tempat belajarnya di serambi Masjid Tebuireng dengan siswa pertama 29 orang. Abdul Karim Hasyim termasuk siswa pertama. Pelajaran menggunakan tiga bahasa: Arab, Belanda, Inggris.

Menurut Lily Wahid, Ilyas yang pertama kali memperkenalkan bahasa Belanda kepada Wahid. Pemahaman terhadap Belanda berubah: harus menguasai agar bisa membebaskan diri dari penjajah. “Ketika kami pindah ke Jakarta, ibu saya juga mengikuti kursus bahasa Belanda,” kata Lily.

Berbeda dengan Wahid, yang tak pernah bersekolah formal, Ilyas sempat duduk di bangku Hollandsch Inlandsche School, sekolah dasar Belanda. “Wahid Hasyim produk pengajaran ayahnya, tak pernah masuk sekolah Belanda,” kata Zamakhsyari Dhofier, 71 tahun, Rektor Universitas Sains Al-Quran, Wonosobo, Jawa Tengah.

Wahid sengaja tak dimasukkan ke sekolah Belanda karena KH Hasyim Asy’ari takut hal tersebut memicu kontroversi di kalangan ulama, yang ketika itu melawan kolonialis Belanda. Justru Ilyas, sepupu Wahid, yang dikirim ke sekolah Belanda. “KH Hasyim Asy’ari berstrategi, dari Ilyas inilah Wahid kelak bisa belajar soal Belanda tanpa menimbulkan kontroversi,” kata Dhofier.

KH Imam Tauhid, 87 tahun, abdi dalem keluarga Hasyim Asy’ari selama 32 tahun, yakin Wahid seorang wali. Ia selalu berpuasa sejak usia 12 tahun. Makan hanya sayuran, tempe-tahu jarang, ikan sama sekali tak pernah. Tiap malam ia melakukan salat tahajud.

Beliau bisa berjalan tanpa menapak tanah, kata Imam. Mobil cuma ditepuk langsung mogok. Kereta api yang ditumpangi santri dari Jakarta yang hendak ke Tebuireng tapi kebablasan, cuma ditepuk tangan saja, berhenti. Dia orang khos, kata Imam.Gus Wahid tak pernah lelah berkelana sambil belajar, dan sepanjang hidupnya melakukan tirakat.
Dikutip dari Majalah Tempo Online  http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/LK/mbm.20110418.LK136489.id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: