Karomah Wahid Hasyim

Mudin Penakluk Harimau
Abdul Wahid Hasyim dikenal suka mentraktir dan tidak membeda-bedakan teman. Memberontak dengan mengenakan celana panjang-bukan sarung-di pesantren.
PULUHAN santri dan warga Tebuireng berdesakan di masjid pondok pesantren. Mereka tengah menggelar pengajian yang rutin digelar setiap Jumat seusai salat isya. Suara mereka terdengar hingga ke dalam kasepuhan, yang berjarak sekitar 10 meter dari masjid. Kasepuhan adalah tempat bermukim keluarga besar Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Malam itu, 1 Juni 1914, suasana di dalam kasepuhan tak kalah ramai. Nafiqoh, istri kedua Hasyim, tengah menahan rasa sakit lantaran detik-detik kelahiran bayi yang dikandungnya makin dekat. Dia dikelilingi sejumlah kerabat dan pelayan dekat. Menjelang malam, dari dalam kasepuhan melengking tangis bayi. Nafiqoh melahirkan bayi lelaki. Air mata bahagia meleleh dari putri Kiai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan, Madiun, itu.
Hasyim memberi nama putranya Muhammad Asy’ari. Nama ini diambil dari nama ayah Hasyim. Ia mewariskan nama itu kepada sang bayi karena empat kakaknya semuanya perempuan. Tapi, sebulan kemudian, nama ini diganti. Asy’ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin lama makin kurus. Nama itu dianggap terlalu berat disandang sang bayi. Hasyim kemudian mengganti nama putra pertamanya itu dengan Abdul Wahid Hasyim. Nafiqoh memanggil anaknya itu dengan panggilan “Mudin”.
Menurut Imam Tauhid, kini 87 tahun, fisik Gus Wahid-demikian ia menyebutnya-biasa saja. Imam pernah menjadi abdi dalem kasepuhan Pesantren Tebuireng selama 32 tahun. “Dia tidak cakep, tapi makrifatnya tinggi,” katanya saat ditemui di rumahnya di Dusun Balongjambe, Pare, Kediri.
Wahid kecil memang memiliki kemampuan yang tak sama dengan anak lain. Sang ayah tak menyekolahkannya ke Hollandsch Indische School layaknya putra seorang tokoh pada zaman itu. Hasyim memang dikenal antisekolah yang didirikan penjajah. Ia pun memilih mengajar anak-anaknya sendiri. Karena cerdas, Wahid cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan. “Kalau saat itu bisa dihitung, nilai IQ ayah saya pasti tinggi,” kata Salahuddin al-Ayyubi, anak ketiga Wahid, yang kini memimpin Pesantren Tebuireng, dan biasa dipanggil Gus Solah.
Umur lima tahun Wahid sudah belajar membaca Al-Quran. Hasyim sendiri yang mengajar putranya itu setiap seusai salat zuhur dan magrib. Untuk pengetahuan agama lain, Wahid belajar di Pesantren Tebuireng pada pagi hari. Karena cepatnya ia menyerap ilmu yang diajarkan, pada umur tujuh tahun ia sudah mulai belajar “kitab”. Di antaranya kitab Fathul-Qarib, Minhajul Qawim, dan kitab Mutammimah. Hasyim memiliki kamar khusus untuk anak-anaknya belajar ilmu kitab itu. “Semua anaknya diperintahkan belajar di ruangan itu,” kata Abdul Hakam, 68 tahun, salah seorang cucu Hasyim yang pernah tinggal di kasepuhan.
Kendati demikian, bukan berarti Wahid tidak pernah bermain-main layaknya anak lain. Meski tergolong bocah pendiam, ia kerap bermain dengan teman sebayanya. Wahid juga kerap mengajak kakak dan adik-adiknya bermain bersama-sama. “Ia sangat perhatian sama adik-adiknya,” kata Imam. Meski sebagai anak kiai, yang dianggap memiliki derajat lebih tinggi, Wahid bermain dengan semua anak. “Dia tak pernah memilih-milih teman,” ujar Imam.
Gus Wahid juga suka mentraktir teman-temannya. Ia juga dikenal suka berbagi pisang goreng, makanan kesukaannya. Bila ibunya tidak membuat penganan itu, ia kerap membeli pisang goreng di warung sekitar pondok dan membaginya kepada kawan-kawannya. Tak seperti anak kebanyakan, Wahid kala itu kerap mendapat uang saku dari orang tuanya. Jika uang sakunya habis, sementara ia ingin jajan, biasanya ia menulis memo di atas secarik kertas yang kemudian ia tukarkan dengan makanan yang ia inginkan. “Nanti ayah atau ibunya yang akan membayar makanan berdasar memo itu,” kata Imam.
Seperti anak-anak lainnya, Wahid kerap dimarahi ayahnya jika bersalah. Berbeda oleh sang ayah, jika yang memarahi ibunya, biasanya ia lalu menangis. Imam mengenang bagaimana sang ibu kerap menenangkannya saat Wahid kecil menangis. “Kamu jangan suka nangis, karena nanti kalau sudah besar bakal jadi menteri,” kata Nafiqoh seperti ditirukan Imam. Ucapan yang kelak ternyata memang benar.
Wahid juga dikenal memiliki selera makan yang tidak macam-macam. Kegemarannya adalah makan nasi putih dan kulup (sayur-mayur yang direbus). Ia tak suka makan ikan, daging, atau tahu-tempe. Meski makanannya terkesan tak bergizi, ia terhitung jarang sakit. “Tubuhnya kuat karena sering bermain sambil olahraga,” kata Imam.
Saat bermain, Wahid gemar berlari ke sana-kemari. Ini pulalah yang dilakukannya saat ayahnya mengajar para santri. Dengan santainya Wahid berlari-lari dan menggelendot pada ayahnya. Tapi ia memang luar biasa. Sembari bermain seperti ini, ia menguping dan menyerap pelajaran yang disampaikan ayahnya kepada para santri itu.
Karena cepatnya ia menyerap ilmu itu pulalah, pada usia 12 tahun, setamat dari madrasah Tebuireng, ia sudah bisa mengajar. Murid pertamanya adiknya sendiri: Abdul Karim Hasyim. Sambil mengajar adiknya pada malam hari, biasanya ia belajar dan membaca buku-buku dalam bahasa Arab.
Wahid juga menyerap ilmu dari pesantren di luar Tebuireng. Ia, antara lain, pernah belajar di Pondok Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, juga Pesantren Lirboyo, Kediri. Pesantren ini dibangun teman ayahnya, Kiai Abdul Karim. Ia hanya tiga hari berada di pesantren ini. Era mencari ilmu dari pesantren ke pesantren ini dilakoni Wahid hingga usia 15 tahun.
Tempo sempat menemui Kiai Haji Aziz Masyhuri di Pesantren Al-Aziziyah di Dusun Denanyar, Jombang. Ia pernah menulis biografi Wahid Hasyim, yang dimuat dalam buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia. Ia berkisah Wahid kerap berpindah-pindah pesantren karena tak menemukan pesantren yang cocok. “Ia hanya menyerap apa yang hanya dianggapnya baik, setelah itu berkelana ke pesantren lain,” katanya.
Wahid juga dikenal memiliki khos (kekhususan) dalam dirinya. Menurut Imam, Wahid pernah mempertunjukkan kelebihannya itu dengan naik ke punggung harimau peliharaan ayahnya. Harimau itu dikurung di kandang di bawah pohon besar beberapa meter dari masjid kasepuhan. Imam sendirilah yang sehari-hari bertugas memberi makan harimau itu. “Harimau itu tak melawan saat Gus Wahid menungganginya,” kata Imam.
Meski dikenal sebagai anak yang sopan dan patuh kepada orang tua, Wahid remaja sempat menunjukkan pemberontakannya terhadap tradisi pesantren. Saat kecil, seperti yang lain, ia dikenal hanya suka bersarung dan mengenakan blangkon, busana “sehari-hari” warga pondok. Suatu ketika, saat remaja, ia membuat geger pesantren lantaran muncul bercelana panjang. Tingkah lakunya itu membuat Hasyim berang. Hasyim menegur putranya itu. Tapi Wahid berkukuh, menyatakan memakai celana tidak melawan agama. Sang ayah pun mengalah dan membiarkan anaknya tersebut bergaya dengan caranya sendiri.
Dikutip dari Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: