Dari Tebuireng untuk NKRI

DIA pergi pada usia teramat muda, saat republik ini masih membutuhkannya: 39 tahun. Di Cimindi, daerah antara Cimahi dan Bandung, di suatu siang berhujan, mobil Chevrolet itu kehilangan kendali. Di bangku belakang, duduk KH Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto, Sekretaris Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Di bangku depan, di samping sopir, duduk putra sulung kinasihnya, Abdurrahman Wahid, 13 tahun. Hari itu, Sabtu, 18 April 1953, mereka hendak mengunjungi sebuah acara yang digelar Nahdlatul Ulama Cabang Sumedang.
Dan kecelakaan itu pun terjadi. Chevrolet membentur truk yang datang dari arah berlawanan. Wahid terpental keluar, tersuruk di bawah truk. Demikian pula Argo. Adapun putranya, yang lantas dikenal dengan nama Gus Dur, tak kurang suatu apa.
Wahid dan Argo, yang langsung tak sadarkan diri setelah kecelakaan itu, baru bisa dibawa ke Rumah Sakit Borromeus, Bandung, sekitar empat jam kemudian. Esoknya, tanpa pernah sadar sedetik pun, Wahid berpulang. Sehari sebelumnya, pukul 6 sore, Argo meninggal.
Berpekan-pekan setelah penguburan Wahid, duka membayangi Pondok Pesantren Tebuireng, tempat dia dilahirkan dan dimakamkan. Kegiatan pendidikan seperti berhenti. Sepanjang siang dan malam, yang terdengar di penjuru pesantren itu hanya alunan doa dan bacaan surat-surat Al-Quran dari para santri untuk kiai yang sangat mereka hormati itu.

l l l KIAI WAHID, demikian dia biasa disapa, merupakan tokoh reformis, pembaru Pesantren Tebuireng sekaligus pendidikan Islam negeri ini. Pada usia yang terbilang muda, 20 tahun, setelah dikirim ayahnya menyantri ke sejumlah pesantren di Jawa Timur dan menuntut ilmu di Negeri Arab, ia menggagas perubahan sistem pendidikan di Tebuireng.
Wahid memasukkan pendidikan umum untuk kurikulum pesantren yang didirikan ayahnya, KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pada 1899 itu. Wahid berpendapat, penting bagi santri untuk memahami pengetahuan umum selain mendalami Quran, fikih, dan bahasa Arab. Ia juga mendorong santri banyak membaca dan berorganisasi.
Pemuda yang setiap hari menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk membaca ini-kebiasaan yang menurun, antara lain, kepada Gus Dur-ingin santri Tebuireng memiliki wawasan dan pengetahuan luas. Bagi Wahid, lulusan Tebuireng tidaklah mesti jadi ulama. Yang penting, mereka harus menjadi sosok manusia berwawasan yang bisa membangun dan mendidik masyarakat serta membangun lingkungannya.
Wahid, yang meniti karier dari bawah di organisasi Islam yang memiliki anggota terbanyak di negeri ini tersebut, melesat cepat. Pada usia 25 tahun, dia terpilih menjadi Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), sebuah wadah perkumpulan berbagai organisasi Islam di Indonesia. Di bawah Wahid, selain menuntut pemerintah Belanda mencabut status Guru Ordonantie 1925 yang membatasi aktivitas guru-guru agama, MIAI membentuk Kongres Rakyat Indonesia, komite nasional yang menuntut Indonesia berparlemen.
Kepiawaiannya dalam berorganisasi dan berpolitik serta komitmennya untuk memajukan negeri itulah yang membuat Wahid dipercaya Nahdlatul Ulama sebagai wakil di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, juga Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)-organisasi yang bersama Mohammad Natsir didirikannya pada 1947, tahun yang sama saat ia dipercaya memimpin Pondok Pesantren Tebuireng.
Di organisasi tempat berhimpunnya sejumlah tokoh politik Islam ini-antara lain KH Wahab Hasbullah, H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Mohammad Roem-ia menjadi ketua pertama setelah ayahnya, Hasyim Asy’ari, menolak jabatan itu dengan alasan kesehatan. Kendati pada 1950 Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi-sesuatu yang disayangkan Wahid-dia tetap menjalin silaturahmi dengan para tokoh Masyumi. Bagi Wahid, perbedaan politik bukanlah berarti bermusuhan. Inilah sikapnya yang membuat ia disegani dan dihormati.
Saat menjadi anggota panitia sembilan di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Wahid memegang peranan penting menjembatani pertentangan antara kelompok Islam dan nasionalis. Saat itu, wakil-wakil Kristen keberatan dengan pencantuman tujuh kata dalam Piagam Jakarta: Ketuhanan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Sukarno dan Hatta kemudian melobi Wahid, 31 tahun, yang saat itu juga anggota termuda Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Hatta yakin Wahid akan mengutamakan kepentingan bangsa dan tanah airnya. Tujuh kata itu akhirnya memang dihapus dan jalan mulus persatuan menuju Indonesia merdeka makin terbentang. Dengan peranannya dan pengaruhnya yang besar itulah tak aneh jika ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Agama dalam tiga kabinet.

l l l DENGAN berbagai warna dan kiprahnya itulah, tepat 58 tahun kematiannya pekan ini, kami menerbitkan “edisi” Wahid Hasyim ini. Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng (1947-1950) dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1947-1953) itu memang bukan sekadar tokoh Islam yang pantas dikagumi. Ia juga tokoh pluralisme sekaligus pejuang yang ingin melihat bangsa ini tumbuh menjadi bangsa besar dan bersatu.
Menulis tentang tokoh yang satu ini tidaklah mudah. Karena terbatasnya narasumber yang mengenal Wahid Hasyim dan sedikitnya buku tentang Wahid, kami kerap mengandalkan koran-koran tahun 1950-an. Selain itu, foto-fotonya terbilang langka. “Foto keluarga banyak yang hilang saat kami pindah-pindah rumah,” kata Salahuddin al-Ayyubi, anak ketiga Wahid, yang biasa dipanggil Gus Solah.
Untuk menurunkan edisi ini, selain meriset bahan-bahan tertulis, kami mewawancarai dan berdiskusi dengan tiga putra-putri Wahid: Aisyah, Salahuddin, dan Lily. Ketiganya mengaku sebenarnya Gus Dur-lah yang paling banyak tahu perihal ayah mereka ini. “Selain karena dia anak sulung, dia paling sering diajak Bapak ke mana-mana,” kata Lily. Kendati demikian, sejumlah cerita menarik seputar Wahid tetap kami dapat dari Aisyah dan dua adiknya itu. “Bapak pernah berjanji kepada Ibu, dia tak akan menikah lagi dan menjadikan ibu satu-satunya istrinya,” ujar Aisyah, anak kedua Wahid.
Kami juga mengontak dan mewawancarai sejumlah narasumber yang menulis tentang Wahid dan pemikirannya. Mereka antara lain Zamakhsyari Dhofier dan Achmad Zaini. Dhofier, kini 71 tahun, adalah penulis Dari Pesantren ke Pesantren, buku yang merupakan hasil penelitiannya tentang Nahdlatul Ulama pada 1977-1978. Dhofier kini menjabat Rektor Universitas Sains Al-Quran di Wonosobo. Adapun Zaini, dosen Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, menulis tesis tentang peran Wahid dalam perjuangan kemerdekaan dan pembaruan Islam saat mengambil program pascasarjana di McGill University, Montreal, Kanada.
Tentu saja tulisan ini tak lengkap tanpa mengunjungi tempat yang paling dicintai Wahid: Pesantren Tebuireng. Sekitar sepekan wartawan kami, Mustafa Silalahi, “menyantri” di sana, melakukan reportase dan mewawancarai sejumlah orang yang pernah mengenal dekat Wahid Hasyim, termasuk pelayannya yang masih hidup. Kami juga beruntung bisa mewawancarai salah satu murid Wahid yang masih hidup, Muchit Muzadi, 87 tahun, kakak kandung mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi.
Muchit pernah menjadi murid Wahid di Jombang pada 1937. “Dari Kiai Wahid, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tahu apa itu mesin ketik,” ujarnya. Dia mengenang, bersama sejumlah santri, dari balik jendela, kerap mengintip pemuda Wahid mengetik di sebuah bilik. Wahid saat itu memang sudah menulis berbagai artikel tentang Islam, yang dia sebarkan ke berbagai media.
Pemikiran dari Tebuireng itu pula yang dia wujudkan dan sumbangkan untuk republik ini.
dikutip dari. (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/04/18/LK/mbm.20110418.LK136486.id.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: