Metode Integrated

1.      Pengertian Metode Integrated
Sebenarnya metode ini adalah merupakan bagian terkecil dari model pembelajaran terpadu yang mengerucut menjadi beberapa model, diantaranya adalah model connected, model webbed, dan model integrated (model keterpaduan). Dan pembahasan dalam skripsi ini adalah model pembelajaran terpadu yang model integrated.


26

 

Di dalam pengertian metode integrated adalah tipe pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa bidang studi (Fogarty,1991:76).[1] Model ini juga termasuk pada teori pembelajaran Collaborative menekankan pada proses pembelajaran yang digerakkan oleh keterpaduan aktivitas (integrated activity) bersama baik intelektual, sosial dan emosi secara dinamis, baik dari pihak siswa maupun guru.[2] Teori ini didasarkan pada ide bahwa pencarian dan pengembangan pengetahuan adalah merupakan proses aktivitas sosial, di mana siswa perlu mempraktekkannya. Pendidikan di sini bukan proses di mana siswa hanya menjadi penonton dan pendengar yang pasif. Dalam metode integrated ini adalah upaya memadukan materi dari beberapa mata pelajaran yang disajikan dalam tiap pertemuan.[3] Dan menjadikan anak aktif atau mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran.

Di samping terdapatnya suatu teori yang menunjang, lembaga pendidikan juga harus bergeser untuk mengembangkan kultur pembelajaran yang holistik termasuk mengembangkan visi pendidikan yang jelas, konsisten, disertai dengan kepemimpinan yang dapat memberikan arahan, memajukan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, mengembangkan masyarakat pembelajaran, mendorong munculnya iklim belajar di manapun juga, dan secara sadar mengembangkan proses sosialisasi professional, baik di kalangan guru ataupun siswa. Kepemimpinan yang konsisten dan mampu memberikan arah yang diperlukan, sebab budaya masyarakat memang menghendakinya. Prinsip kepemimpinan tersebut memiliki implikasi bahwa kepemimpinan lembaga harus dilihat sebagai suatu keniscayaan, bahwa transformasi pendidikan mencakup seluruh hirarkis kelembagaan. Dengan demikian, transformasi pendidikan diarahkan untuk mengembangkan sejumlah peran kepemimpinan di sekolah, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk ambil peran, mendorong dan menghargai inisiatif siswa, dan memberikan insentif bagi keterlibatan siswa. Tujuan akhir transformasi pendidikan adalah menghasilkan siswa yang utuh: Kematangan intelektual, sosial, dan emosi.
Pada dasarnya tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif, sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif, yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud, guru seyogyanya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar, sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya, sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Upaya ini merupakan salah satu bentuk penanggulangan masalah belajar yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan yang integratif sebagai upaya yang mengoptimalkan perkembangan fungsi kognitif, afektif dan fisik serta intuitif secara terintegrasi.[4] Dalam metode integrated  ini berupa mata pelajaran terpadu yang menyatukan mata pelajaran yang berbeda ke dalam satu-kesatuan makna yang mengaitkannya dalam kehidupan siswa.[5] Kadang-kadang mata pelajaran ini disebut “Multidisipliner”, “Lintas kurikulum”. Mata pelajaran terpadu sesuai dengan kebutuhan otak untuk menyusun pola dalam menemukan makna. “Integrated” berarti mata pelajaran yang diciptakan dengan mengombinasikan satu atau disiplin ilmu yang berbeda. Kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat membentuk pribadi yang integrated, yakni manusia yang sesuai atau selaras dengan lingkungan sekitarnya.[6] Orang yang integrated hidupnya akan harmoni dengan lingkungannya, sikap yang harmoni akan memudahkan ia menghadapi situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya. Apa yang diajarkan di sekolah, disesuaikan dengan kehidupan anak di lingkungan sekitarnya.
2.      Prinsip Dasar Pembelajaran Integrated
Menurut Ujang Sukandi, dkk (2001:109), pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat  pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran.
Menurut Ujang Sukandi, dkk. secara umum prinsip-prinsip pembelajaran terpadu dengan diklasifikasikan menjadi: [7]
a.       Prinsip penggalian tema
Prinsip penggalian merupakan prinsip utama (fokus) dalam pembelajaran terpadu. Tema-tema yang saling tumpang tindih dan ada keterkaitan dengan menjadi target utama dalam pembelajaran. Dalam penggalian tema ini terdapat beberapa persyaratan, diataranya:
1)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, dan mudah untuk dipadukan dengan banyak mata pelajaran.
2)      Tema harus bermakna dan tema tersebut harus memberikan bekal untuk belajar selanjutnya.
3)      Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
4)      Tema yang berkembang harus mewadahi sebagian besar minat anak.
5)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar.
6)      Tema yang dipilih harus mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi).
7)      Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar
b.      Prinsip pengelolaan pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran akan optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses sebagai fasilitator dan moderator.  Menurut Prabowo [2000], bahwa guru dapat berlaku sebagai berikut:
1)      Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar.
2)      Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok.
3)      Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.
c.       Prinsip Evaluasi
Terdapat beberapa langkah-langkah positif dalam pelaksanaan evaluasi yang tedapat pada pembelajaran terpadu ini, diantaranya:
memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (Self evaluation/ self assesment ) di samping bentuk evaluasi lainnya.
b.      Prinsip Reaksi
Dampak pengiring (Nurturant effect) yang penting bagi pelaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam KBM. Karena itu guru di tuntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit melainkan ke suatu kasatuan yang utuh dan bermakna. Dalam hal-hal yang seperti ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan kepermukaan sesuatu yang dicapai melalui dampak penggiring.
Sedangkan keterpaduan yang juga di sampaikan Dalam bukunya Ujang Sukandi adalah:
1) Memiliki satu fokus tema yang menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa mata pelajaran.
2)   Memilih materi beberapa mata pelajaran yang mungkin saling terkait.
3)   Terjadi materi pengayaan horizontal dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam GBPP.
4) Tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum dan harus mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum.
5)   Selalu mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan pengetahuan awal.
6) Materi pelajaran yang dipadukan tidak perlu terlalu dipaksakan. Artinya, materi yang tidak mungkin dipadukan tidak usah dipadukan.[8]
3.      Tujuan-tujuan Metode Integrated
a)      Tujuan pendidikan nasional : Depdikbud, Bank dunia, Bappenas dan Bank Pembangunan Asia (1999), mengemukakan visi dan misi, serta tujuan pendidikan nasional secara makro dan mikro, yaitu bahwa tujuan pendidikan nasional dibagi menjadi dua bagian, yaitu secara mikro dan makro. Secara makro pendidikan nasional bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi-inovasi dalam pendidikan untuk menuju suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh. Sedangkan secara mikro pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab) berkemampuan komunikasi social (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, demokratif) dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri.
b)      Pembelajaran yang ada di sekolah dapat membantu anak dalam menghadapi masyarakat dan kehidupan luar.[9]
c)      Untuk memberi peluang siswa untuk membangun sinergi kemampuan sehingga tujuan utuh pendidikan (mandiri, peka dan bertanggung jawab) dapat dicapai.
d)     Memberi peluang siswa untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara utuh, yaitu kognitif, afektif, psikomotorik.
e)      Metode integrated  akan mempermudah anak ketika membangun gagasan/ pengetahuan baru. Karena materi yang disajikan selalu kait mengait satu sama lainnya.[10]
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengajar  sebelum menerapkan metode integrated ini ke dalam pengajaran, yaitu berupa perencanaan pengajaran dengan metode terpadu ini. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
1.      Apakah tema yang dipilih mampu menyatukan meteri pembelajaran yang dipadukan?
2.      Apakah materi yang dipilih mutakhir, dekat dengan pengalaman siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari?
3.      Apakah pengajaran terpadu ini tidak bertentangan dengan tujuan kurikulum?
4.      Apakah perencanaan ini sudah mempertimbangkan karakteristik siswa: minat, kemampuan, kebutuhan, pengetahuan awal?
4.      Beberapa Contoh Model Integrasi
Pada bagian ini, tema sudah perlu dirinci menjadi materi dan kegiatan pembelajaran yang akan dikaji. Rincian ini tentunya perlu mengacu pada perencanaan sebelumnya. Artinya, tema-tema yang dipilih sudah terikat dengan pembelajaran pada masing-masing mata pelajaran. Rincian dapat dilakukan dengan menguraikan materi itu sehingga keluasan dan kedalamannya menjadi lebih jelas. Contoh yang dikembangkan pada rincian tema ini sudah mengacu pada materi pembelajaran sewaktu penentuan tema. Dan menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam proses pembelajaran.
Sebelum pembahasan beralih pada langkah-langkah, maka peneliti terlebih dahulu ingin memaparkan beberapa model integrated yang dipakai ketika di lapangan. Beberapa model ini merupakan pengembangan pembelajaran terpadu dalam mengambil suatu topik dari suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Beberapa contoh model integrasi itu diantaranya adalah model integrasi berdasarkan topik. Kedua, model integrasi berdasarkan potensi utama. Ketiga, model integrasi berdasarkan permasalahan.[11]
a.       Model Integrasi Berdasarkan Topik 
Contoh tema di bawah ini bahwa secara sosiologis, kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi social di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan kreativitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.
Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.
b.      Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama.
Sebagai contoh “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin ilmu yang tergabung dalam satu tema.
Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan sebuah potensi utama dengan berbagai disiplin ilmu.
c.       Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu pemukiman kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah faktor ekonomi, sosial, budaya, juga terdapat faktor  historis kronologi dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/ norma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: