Akselerasi Belajar

A.    Pengertian Akselerasi
Program akselerasi menurut Sutratinah Tirtonegoro adalah cara penanganan anak supernormal dengan memperbolehkan naik kelas secara meloncat atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat.[1]
Depdiknas mendefinisikan program percepatan belajar (akselerasi) adalah sebuah pemberian layanan pendidikan sesuai potensi siswa berbakat, dengan memberi kesempatan mereka untuk menyesuaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih cepat dibandingkan teman-temannya.[2]
Program percepatan belajar adalah salah satu program layanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang oleh psikolog telah di identifikasi memiliki kemampuan intelektual umum pada taraf cerdas, memiliki kreatifitas dan keterikatan terhadap tugas di atas rata-rata, untuk dapat menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar mereka.[3]
Program percepatan juga bisa di artikan sebagai program untuk melayani dan mengakomodasi peserta didik yang cepat dalam belajar atau memiliki kemampuan di atas rata-rata sehingga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melalui masa belajar di sekolah dengan waktu yang relatif singkat.[4]
Sedangkan menurut Mukhtar program percepatan belajar adalah upaya pembinaan siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa secara eksaltasi (naik kelas secara melompat) atau akselerasi (penyelesaian progaram reguler dengan jangka waktu yang lebih singkat).[5]
Dari beberapa pengertian di atas dapat di ambil sebuah benang merah dari program percepatan belajar adalah sebuah upaya pelayanan pendidikan yang di berikan kepada anak yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata untuk menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat.
Pada dasarnya  bentuk pelaksanaan pendidikan bagi anak yang berprestasi atau diatas rata-rata (dalam istilah sutratina, anak supernormal) dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu.
1.      Acceleration (Percepatan)
2.      Segregation (Pengelompokan)
3.      Enrichment (Pengayaan)
Program  acceleration dapat dilaksanakan dengan cara masuk sekolah sebelum waktunya, naik kelas sebelum waktunya, merangkap kelas, meloncat kelas, menyelesaikan bahwa pelajaran dalam waktu yang singkat sesuai dengan kemampuan yang istimewa, menghilangkan bagian yang dianggap kurang penting atau yang sangat mudah karena sudah dapat belajar sendiri, sehingga dengan mempelajari buku dengan cara meloncat-loncat. Acceleration dapat berjalan praktis apabila sekolah itu mempergunakan sistem maju berkelanjutan dan sistam kredit, ini berarti anak dapat maju terus sesuai dengan kemampuan sendiri (cepat atau lambat). Anak yang tergolong  supernormal dapat maju terus tanpa menunggu temannya dan maju lebih cepat, sehingga dalam waktu singkat dapat mencapai jumlah kredit yang telah ditentukan.[6]
Segregation adalah pengelompokan atau pengasingan, siswa di sendirikan menjadi kelompok khusus, semacam ability grouping atau kelompok kecepatan.
1.      Kelas biasa ditambah kelas khusus, anak diatas rata-rata mengikuti secara penuh seluruh kegiatan di sekolahnya setelah itu mendapat pelajaran tambahan dalam kelas khusus.
2.      Mengikuti kelas biasa (reguler class) tetapi tidak penuh 100% (hanya sekitar 75 %) ditambah dengan mengikuti kelas khusus (special class), karena jumlah jam pelajaran, maka anak diatas rata-rata masih mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain yang dibutuhkan untuk pengembangan aspek-aspek kepribadian, karena jumlah belajar yang cukup lama dikelas khusus anak diatas masih memperoleh kesempatan bersaing dengan teman sesama diatas rata-rata.
3.      Secara penuh anak diatas rata-rata dimasukkan dengan kelas khusus, ini berarti guru-guru, kurikulum, metode pembelajaran, dan lain-lain komponen pendidikan dilaksanakan secara khusus. Maka dengan ini guru akan lebih mudah melakukan tugasnya karena menghadapi siswa yang sederajat tingkat kecerdasannya. Dan pihak siswa akan merasa ada persaingan dengan teman-teman yang seimbang kemampuannya sehingga dapat mempercepat pelajaran sesuai dengan kondisi mental.
4.      Alternatif  terakhir dengan mendirikan sekolah khusus untuk anak diatas rata-rata  agar mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri, kerana dapat bersaiang dengan anak lain yang juga sama-sama seperti dengan segala fasilitas yang diperlukan.[7]
Enrichment, dalam program ini siswa diberi pelajaran sebagai satu pengayaan. Bentuk pengayaan ini dapat di laksanakan dengan dua cara yaitu:
1.      Secara vertikal
Pada program ini siswa diberi kesempatan untuk memperdalam materi pelajaran yang di senangi. Hal ini di arahkan pada spesialisasi satu bidang tertentu sesuai minat siswa.
2.      Secara Horizontal
Siswa di beri kesempatan untuk memperluas pengetahuan tentang materi pelajaran yang di pelajari dengan tambahan pengayaan. Adapun materi yang di tambahkan dapat berupa memperluas kurikulum, memperluas materi pelajaran itu sendiri dan mengadakan kegiatan seperti library skill, penelitian, tugas praktek lapangan dll.[8]
Menurut Suharsimin Arikunto, bentuk pelaksanaan pengayaan ini dapat di lakukan dengan 2 cara: pertama, kegiatan pengayaan berhubungan dengan topik yang sedang dipelajari. kedua, kegiatan yang tidak berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.[9]
Pelaksanaan terhadap ke 3 teori di atas di lakukan secara parsial atau dengan jalan menggabungkan di antara ketiganya (kombinasi), jadi pelaksanaan akselerasi bukan berarti hanya menekankan pada percepatan pembelajaran tetapi tidak menuntut kemungkinan adanya penambahan atau pengayaan.
Adapun bentuk-bentuk penyelenggaraan program akselerasi adalah:
a.       Program khusus, dimana siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa tetap berada bersama-sama dengan siswa lainnya.
b.      Kelas khusus, dimana siswa yang belajar di sekolah tersebut adalah siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.[10]  
B.     Tujuan Akselerasi
Ada dua tujuan yang mendasari dikembangkannya program percepatan belajar bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa:[11] 
1.      Tujuan Umum:
a.       Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari kognitif dan afektifnya.
b.      Memenuhi hak asasi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya.
c.       Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik.
d.      Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan.
2.      Sementara itu program percepatan belajar memiliki tujuan khusus, yaitu:
a.       Menghargai peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat.
b.      Memacu kualitas/mutu siswa dalam meningkatkan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional secera berimbang.
c.       Meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran peserta didik.
d.      Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal.
Berdasarkan tujuan-tujuan diatas, sangat jelas bahwa program akselerasi ini ditujuan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang cerdas dalam hal pengetahuan. Selain itu diharapakan kualitas siswa mengalami peningkatan yang lebih berarti dan berdaya guna dalam mengembangkan bakat, minat, kemampuan dan kecerdasan peserta didik.
C.  Landasan-landasan Akselerasi
Kalau di lihat dari segi landasannya maka program akselerasi mempunyai 4 landasan yaitu:[12]
1.      Landasan Yuridis
Landasan untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa secara tegas telah dinyatakan sejak Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1983, yang menyebutkan: ”Demikian pula perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak yang berbakat istimewa agar mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal”.
Tekad ini berlanjut terus dan dipertahankan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu GBHN tahun 1988, yang berbunyi: ”Tingkat pertumbuhan pribadinya anak didik berbakat istimewa perlu mendapat perhatian khusus agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan”, GBHN tahun 1993 yang menyatakan ”Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa perlu mendapat perhatian khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya”; GBHN tahun 1998 menyebutkan bahwa : ”Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelajaran lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa mengabaikan potensi peserta didik lainnya”; selanjutnya GBHN tahun 1999 mengamatkan bahwa: ”Melakukan pembaruan kurikulum, berupa difersifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunan kurikulum yang berlaku nasoianal dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat, serta difertifikasi jenis pendidikan secara profesional.”
Demikian pula di dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional dalam pasal 8 ayat (2) menegaskan bahwa:” Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.” begitu pula dalam pasal 24 dinyatakan bahwa ”Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak sebagai berikut: (1) Mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (2) Mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri, maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan. (3) Menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Kesungguhan untuk mengembangkan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa ditekankan pula oleh presiden Republik Indonesia ketika menerima anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tanggal 19 Januari 1991, yang menyatakan bahwa: ”Agar lebih memperhatikan pelayanan pendidikan terhadap anak-anak yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar biasa”. 
Implementasi pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa diatur dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0489/U/1992, seperti dinyatakan dalam:
Pasal 16:
(1)    Siswa yang memiliki bakat istimewa dan kecerdasan luar biasa dapat menyelesaikan program belajar lebih awal dari waktu yang ditetapkan dengan ketentuan telah mengikuti pendidikan di SMU sekurang-kurangnya dua tahun.
(2)    Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
           Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional kembali menegaskan bahwa: ”Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (pasal 5 ayat 4). Begitu pula dalam pasal 12 ayat 1 dinyatakan bahwa: ”Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masinh dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: