METODE PEMBELAJARAN CROOSOVER GROUPS (KELOMPOK BERPINDAH SILANG)

1.      Pengertian Metode Pembelajaran Croosover Groups (Kelompok Berpindah Silang)
a)          Pengertian metode
Ada beberapa pengertian dari metode, dalam hal ini metode pembelajaran yang di berikan oleh para ahli, secara titeral metode berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kosa kata, yaitu “meta” yang berarti melalui dan “hodus” yang berarti jalan, jadi metode adalah “jalan yang dilalui “ Runes sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Noor Syam, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah: 
1.          Sesuatu prosedur yang di pakai untuk mencapai suatu tujuan
2.          Suatu teknik mengetahui yang di pakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu
3.          Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur
Istilah metodologi pengajaran sebenarnya sama dengan metodik yaitu:
“Suatu ilmu yang membicarakan bagaimana cara atau teknik menyajikan bahan pelajaran terhadap siswa agar tercapai suatu tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efesien” metode juga diartiakan sebagai “ cara mengajar untuk mencapai tujuan.”
Abdul Munir Mulkan, sebagaimana yang dikutip Samsul Nizar, mengemukakan bahwa metode pendidikan adalah “ suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau menstransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada anak didik” sementara itu al- Syaibany, menjelaskan bahwa metode pendidikan adalah:
“Segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang di ajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitarnya  dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang di kehendaki pada tingkah laku mereka”.
b)          Syarat-syarat pemilihan metode pembelajaran
Dalam penggunaan metode pendidikan islam yang perlu dipahami oleh seorang pendidik adalah:
1.      Bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakekat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan islam
2.      Pendidikan perlu memahami metode-metode instruksional yang actual yang ditunjukkan dalam al-Qur’an atau yang diedukasikan dari al-Qur’an dan dapat memberi motivasi (tsawab) dan disiplin (iqab)
3.      Pendidik harus bisa mendorong anak didiknya untuk menggunakan akal pikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupan sendiri dan alam sekitarnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ghasiyah : 17-21 :
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20) فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21)
Artinya   :   ”17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, 18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, 19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, 20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?, 21. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.”. (QS. Al-Ghasiyah : 17-21)
4.      Mendorong anak didik untuk menyelidiki dan mengkaji bahwa islam merupakan kebenaran yang haq
5.      Mendorong anak didik untuk mengamalkan ilmu pengetahuanya dan mengaktualisasikan keimanan dan ketakwaanya dalam kehidupan sehari-hari
6.      Memberi anak didik dengan praktek amaliah yang benar serta pengetahuan dan kecerdasan yang cukup
c)          Metode pembelajaran crossover group
Metode pembelajaran crossover groups (kelompok berpindah silang) ialah metode dimana anggota-anggota kelompok berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya secara bergantian selama diskusi berlangsung.
Metode crossover groups merupakan teknik dari diskusi kelompok kecil yang didasarkan pada prinsip-prinsip perwakilan dan pemfungsian yang demokratis. Metode ini memberikan kepada semua peserta suatu kesempatan untuk berbagi pengalaman mereka, gagasan mereka, mengajukan pertanyaan, mengkritik isu-isu semuanya yang tidak mungkin dilakukan dalam satu kelompok yang besar. Saling berdiskusi, membantu mengklasifikasi  dan memahami sudut-sudut pandang yang berbeda.
Diskusi kelompok kecil mempunyai beberapa keuntungan diantaranya :
1.      Membantu para anggota mengenali apa yang mereka lakukan dan tidak mengetahui dalam hubungan dengan anggota lain dim dalam kelompok tersebut.
2.      Membantu mereka mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka hadapi melalui pengalaman wawasan anggota yang lain.
3.      Memberikan kesempatan bagi anggota-anggota yang diam, malu dan terhambat untuk terbuka secara lambat dan berhubungan dengan anggota-anggota yang lain.
4.      Membantu membangun kohesivitas kelompok, meningkatkan keterlibatan para anggota dalam tugas dan proses kelompok.
5.      Para peserta mengalami suatu pemahaman akan kepemilikan dan kreativitas.
6.      Jangkauan pengalaman yang beragam memungkinkan kelompok tersebut untuk menantang pengalaman-pengalaman yang dominan dan berpikir mengenai gagasan yang baru ideal, dengan demikianlah perrumusan-perumusan yang lebih baru.[2]
Dengan menggunakan metode pembelajaran croosover groups siswa diajarkan empat strategi :
a.           Menyampaikan pendapat yaitu siswa menyampaikan pendapat, ide gagasan dalam forum diskusi kelompok sendiri.
b.          Mengajukan pertanyaan yaitu siswa mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada anggota kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi.
c.           Menjawab pertanyaan yaitu anggota kelompok menjawab pertanyaan dari anggota kelompok lain.
d.          Merangkum dan mencatat informasi-informasi penting.
2.      Prosedur Pelaksanaan Metode Pembelajaran Croosover Groups (Kelompok Berpindah Silang)
a.       Guru membagi materi menjadi beberapa sub tema.
b.      Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, yakni A, B, C, D, masing-masing kelompok berjumlah 5 siswa.
c.       Setiap anggota kelompok diberi nomor urut. Nomor anggota kelompok A adalah A1, A2, A3, A4, A5. kelompok B adalah B1, B2, B3, B4, B5. Kelompok C adalah C1, C2, C3, C4, C5. Kelompok anggota D adalah D1, D2, D3, D4, D5.
d.      Setiap kelompok mendapatkan materi yang berbeda untuk didiskusikan, seluruh anggota kelompok mencatat apa yang didiskusikan serta hasilnya di masing-masing kelompok.
e.       Setelah 10 menit seluruh anggota yang bernomor urut 5 di keempat kelompok itu pindah ke kelompok lainnya.
f.       Diagram proses perpindahan kelompok.
        Pada permulaan diskusi dimulai
Kelompok
:
A
B
C
D
Anggota
:
A1
B1
C1
D1
A2
B2
C2
D2
A3
B3
C3
D3
A4
B4
C4
D4
A5
B5
C5
D5
        Pada 10 menit kemudian
Kelompok
:
A
B
C
D
Anggota
:
A1
B1
C1
D1
A2
B2
C2
D2
A3
B3
C3
D3
A4
B4
C4
D4
D5
C5
B5
A5
g.      Dua puluh menit kemudian berganti anggota yang bernomor urut 4, dan seterusnya sehingga idealnya seluruh anggota mendapat giliran pindah kelompok lain.
h.      Setelah diskusi kelompok selesai dilanjutkan dengan diskusi pleno dan hasil masing-masing kelompok ditulis di papan tulis atau kertas lebar sehingga terlihat persamaan dan perbedaan tiap kelompok yang memberikan penjelasan.[3]
3.      Teori-Teori Yang Mendukung Metode Pembelajaran Croosover Groups
Diantara teori-teori belajar yang mendukung metode pembelajaran croosover groups adalah :
a.       Teori Vygostky
Teori Vygostky menekankan tiga ide utama yaitu :
1)      Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
2)      Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual.
3)      Bahwa peran utama guru adalah bertindak sebagai pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, membau atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu.
Dalam kegiatan belajar kelompok siswa dituntut untuk berinteraksi langsung dengan siswa yang lain agar menemukan ide-ide baru yang sebelumnya tidak ada dalam pengetahuannya. Siswa akan lebih menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah yang komplek.
Siswa harus dapat membangun pengetahuannya di dalam benaknya membangun arti sendiri dari apa yang mereka pelajari, bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Guru membantu dalam proses ini dengan cara mengajar dan membuat informasi menjadi sangat bermakna, dan relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
Guru dapat memberi tangga sehingga dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut, pembelajaran ini menekankan pada siswa sebagai aktif, strategi konstruktivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa.
b.      Teori Honey dan Mumford
Tokoh teori humanistik berpandangan bahwa belajar memiliki tahap-tahap dan menggolongkan orang yang belajar ke dalam empat macam golongan yaitu :
1.      Kelompok aktivis adalah orang yang senang melibatkan diri berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Orang tipe ini mudah diajak dialog, menghargai pendapat orang lain, dan mudah percaya kepada orang lain.
2.      Kelompok reflektor berlawanan dengan aktivis. Orang-orang reflektor sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan, pertimbangan baik-buruk, untung-rugi, selalu diperhitungkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu.
3.      Kelompok teoris adalah mereka yang memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya.
4.      Kelompok pragmatis adalah mereka yang mempunyai sifat-sifat praktis tidak suka panjang lebar dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil dan sebagainya.
c.       Teori belajar Jerome Bruner ”Belajar Penemuan”
Burner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang benar-benar bermakna. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan yaitu :
1.      Pengetahuan itu bertahan lama atau lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain.
2.      Hasil belajar penemuan mempunyai efektransfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya.
3.      Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: