Homeschooling

1.      Pengertian Homeschooling
Dalam bahasa Indonesia terjemahan yang biasanya digunakan untuk Homeschooling adalah “sekolah rumah”, istilah ini dipakai secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), untuk menyebutkan Homeschooling. Selain sekolah rumah, Homeschooling juga diterjemahkan dengan istilah sekolah mandiri.
Tak ada definisi tunggal mengenai Homeschooling karena model pendidikan yang dikembangkan di dalam Homeschooling sangat beragam dan bervariasi.


11

 

Menurut Sumardiono, pengertian umum Homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memiliki untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Pada Homeschooling orang tua bertanggung jawab secara aktif atas proses pendidikan anaknya. Yang dimaksud bertanggung jawab secara aktif adalah keterlibatan penuh orang tua pada proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dalam hal penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan, kecerdasan dan ketrampilan yang hendak diraih, kurikulum dan materi pembelajaran hingga metode belajar serta praktek belajar keseharian anak-anak.[1]

Menurut Yayah Komariah, pengertian umum Homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga dirumah atau tempat-tempat lain, dimana proses belajar  mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.[2]
Menurut A. Abe Saputra, homeschooling adalah alternatif pendidikan lain dari organisasi sekolah. Anak belajar di bawah pengawasan orang tuanya. Anak dan orang tuanya yang akan menentukan isi atau materi pelajaran mereka. Mereka pun memiliki control penuh akan isi pelajarannya. Perlu ditekankan, homeschooling bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. Kegiatan belajar mengajar agar berbeda dengan di sekolah. Orang tua pun tidak perlu selalu menjadi guru tetapi orang tua lebih berperan sebagai fasilitator. Tujuan pendidikan untuk anak adalah agar membuat anak cinta belajar bukan demi menciptakan anak jenius yang menguasai semua bahan  yang diajarkan.[3]
Untuk pembelajaran, keluarga Homeschooling dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di dunia nyata, seperti fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), maupun fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan). Selain itu keluarga homeschooling dapat menggunakan guru privat, tutor, mendaftarkan anak pada kursus atau klub hobi (komik, film, fotografi), dan sebagainya. Internet dan teknologi audio visual yang semakin berkembang juga merupakan sarana belajar yang biasa digunakan oleh keluarga homeschooling. [4]
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah, dilakukan oleh orang tua sebagai penanggung jawab utama atau keluarga atau tutor dalam suasana yang kondusif, lokasi dan waktunya disesuaikan dengan materi yang diajarkan dengan tujuan mengembangkan potensi anak yang unik secara maksimal.
2.      Sejarah Homeschooling
a.       Sejarah Homeschooling
Homeschooling (Hs) istilah ini mungkin jarang Anda dengar, tapi sebenarnya proses Homeschooling yang berarti sekolah rumah, sudah diterapkan hampir oleh seluruh keluarga. Bukankah setiap anak mendapatkan pendidikan dirumahnya? Bagaimana sang ibu mulai mengajarkan anak berbicara, berhitung, bahkan membaca? Sebenarnya, disitulah proses Homeschooling dimulai. Hanya saja, proses pendidikan orang tua di rumah itu umumnya tak berlangsung lama. Saat anak memasuki usia sekolah dasar, orang tua lebih banyak mengandalkan sistem sekolah umum untuk perkembangan pendidikan anaknya.[5]
Jadi pendidikan bukanlah suatu hal yang baru. Sebelum ada sistem pendidikan modern (sekolah) sebagaimana yang dikenal pada saat ini, pendidikan dilakukan dengan berbasis rumah, sistem magang adalah model pendidikan yang sangat dikenal oleh masyarakat. Demikian pula dengan belajar otodidak yang sampai sekarang masih dilakukan. Bahkan para bangsawan zaman dahulu biasanya mengundang guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya. Itulah jejak-jejak homeschooling pada masa dahulu.
Sejak perkembangan revolusi industri, terjadi proses sistematisasi pendidikan dan proses belajar. Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan serta usaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran selama berabad-abad menghasilkan sebuah evolusi sistem pendidikan yang kita kenal Sebagai sekolah sebagai institusi modern, sekolah adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan kelurga dalam mendidik anaknya secara sadar dan terencana walaupun sekolah menjadi institusi pendidikan yang terbukti memberikan manfaat bagi kemanusiaan, bagaimanapun proses pencarian pendidikan yang terbaik tak pernah berhenti. Berbagai filsafat dan pemikiran terus lahir, serta berinteraksi dengan kondisi sosial yang dialami oleh masyarakat. Sebetulnya, sudah lama bangsa kita mengenal konsep Homeschooling ini, bahkan jauh sebelum sistem pendidikan barat datang. Tengok saja di pesantren-pesantren diperkirakan mulai muncul pada abad ke-15 ketika pertama kali dikembangkan oleh Raden Rahmad alias Sunan Ampel, kemudian muncul pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah, dan pesantren Tuban oleh Sunan Bonang. Selain pesantren muncul pula pola semacam taman siswa yang didirikan pada tahun 1922. juga sekolah yang didirikan oleh Muhammad Syafi’i di kayutaman. Sekolah ini punya semboyan “cari sendiri dan kerjakanlah sendiri”. Siswa diberi keterampilan untuk membuat sendiri meja dan kursi yang digunakan bagi mereka belajar. Sayangnya, pemerintah Kolonial Belanda menghancurkan sekolah tersebut.
Begitu pula para pendekar, bangsawan atau seniman tempo dulu yang mendidik secara pribadi di rumah atau pedepokan masing-masing dari pada sekedar mempercayakan kepada orang lain. Tokoh-tokoh besar seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, atau Buya Hamka, juga mengembangkan cara belajar dengan sistem persekolahan di rumah, bukan sekedar agar lulus ujian kemudian memperoleh ijazah, namun agar lebih mencintai dan mengembangkan ilmu itu sendiri.[6]
Persekolahan di rumah ini semakin menjadi perhatian dalam dua tahun terakhir ini, antara lain sejak begitu banyaknya orang tua merasakan bahwa suasana pembelajaran di banyak sekolah sering kurang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Akhirnya banyak anak yang stress dan kehilangan kreativitas alamiahnya.
Melihat gambaran diatas, mulai berkembang berbagai gagasan dari para pendidik, bagaimana cara menciptakan sekolah yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan anak. Lalu memunculkan berbagai macam sekolah alternatif salah satunya homeschooling alias persekolahan di rumah. Secara etimologis, Homeschooling adalah sekolah yang diadakan di rumah, namun secara hakiki ia adalah sebuah sekolah alternatif yang menempatkan anak sebagai subyek (kurikulum dan sekolah adalah untuk anak) dengan pendekatan pendidikan secara at home. Dengan pendekatan ini anak merasa nyaman. Mereka bisa belajar sesuai keinginan dan gaya  belajar masing-masing, kapan saja dan dimana saja, sebagaimana ia tengah berada di rumahnya sendiri.
Saat ini sistem persekolahan di rumah juga bisa dikembangkan untuk mendukung program pendidikan kesetaraan. Khususnya terhadap anak bermasalah, seperti anak jalanan, buruh anak, anak suku terasing, sampai anak yang memiliki keunggulan seperti atlet atau artis cilik yang padat dengan kegiatan mereka.[7]
b.      Perkembangan Homeschooling
Saat ini jumlah keluarga yang melaksanakan Homeschooling terus mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ella Yulaenawati, Direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional ada sekitar 10-20 persen dari seluruh pendidikan alternative di Indonesia sekitar seribu sampai 1500, karena beberapa pesantren dan padepokan pencak silat pun bisa dikategorikan sebagai Homeschooling. Di Jakarta ada sekitar 600-an, Homeschooling tunggal sekitar 100,500 lainnya Homeschooling majemuk dan komunitas. Homeschooling tunggal tak banyak karena orang tua perlu kemampuan tinggi dalam hal pengetahuan, pendidikan dan tanggung jawab. Apalagi selain orang tua mengajar sendiri, kadang juga harus memanggil tutor. Biayanya besar. Lulusan Homeschooling yang cukup banyak itu terjadi Mei 2006 lalu, terutama dari Morning Star Academy jumlahnya sekitar 50-an orang.[8]
Beberapa tantangan bagi penyelenggaraan persekolahan di rumah, yaitu :
1)         Sulitnya memperoleh dukungan atau tempat bertanya.
2)         Kurangnya tempat sosialisasi dan orang tua harus terampil memfasilitasi proses pembelajaran.
3)         Evaluasi dan penyetaraan.
c.       Alasan Homeschooling
Ada banyak alasan bagi keluarga yang memilih Homeschooling yaitu :
1)      Menyediakan pendidikan moral atau keagamaan
Suatu keluarga mungkin berharap untuk mengikuti keyakinan keagamaan atau pendidikan tertentu, atau mengambil alih tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka sendiri. Dalam sekolahrumah orang tua leluasa memberikan tekanan materi pendidikan kita yang sesuai dengan acuan moral dan agamanya. Ini juga bisa menjadi jalan keluar bagi keluarga yang memandang banyak aspek agama yang tidak tersentuh dengan baik dalam materi pengajaran pendidikan di sekolah formal.
2)      Memberikan lingkungan sosial dan suasana belajar yang lebih baik
Tidak benar bila dikatakan bahwa sekolahrumah tidak memberi lingkungan sosial yang baik bagi seorang siswa, karena lingkungan pergaulannya yang terbatas. Justru di sekolahrumah mereka dapat bersosialisasi dengan lebih baik, karena tidak dibatasi dengan ”teman sekolah”, teman mereka dimana-mana, bahkan dengan usia yang berbeda. Sosialiasi juga bisa didapatkan bila kita bergabung dalam komunitas, dimana ada kegiatan-kegiatan yang mempertemukan mereka.
3)      Menyediakan waktu belajar yang lebih fleksibel
Waktu belajar yang tidak terikat membuat peserta didik leluasa untuk terus berada dalam bingkai belajar, kegiatan sekolahrumah bahkan bisa disesuaikan dengan waktu-waktu yang paling sesuai dengan materi yang diajarkan.
4)      Memberikan kehangatan dan proteksi dalam pembelajaran
Metode Homeschooling sangat baik diterapkan bagi mereka yang mengalami kendala fisik (anak yang sakit atau cacat) untuk bisa mengikuti sekolah umum. Justru di sekolahrumahlah mereka mendapatkan kehangatan dan hubungan kejiwaan yang tersemai baik untuk menunjang kegiatan belajar mereka.
5)      Menghindari penyakit sosial
Sekolah rumah bisa menjadi upaya filterisasi anak dari ragam penyakit sosial yang belakangan sudah sulit di kontrol. Merebaknya penggunaan obat terlarang di kalangan pelajar, pola hubungan pertemanan yang tercemar oleh hubungan oleh orang dewasa dan sebagainya.[9]


Alasan lain yaitu :
          Ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak
          Tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah regular
          Sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan
          Merasa keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak.
          Menginginkan hubungan keluarga yang  lebih dekat dengan anak
          Merasa sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau
          Anak-anak memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhi di sekolah umum.
          Sistem yang ada tidak mendukung nilai-nilai keluarga yang di pegangnya
          Merasa terpanggil untuk mendidik sendiri anak-anaknya.[10]
3.      Metode Homeschooling
a.       Pendekatan dan Metode Homeschooling
Ada beberapa macam metode homeschooling berkisar dari yang sangat terstruktur (seperti sekolah) sampai ke yang tidak tersetruktur yaitu:
1)      School at home
2)      Unit studies
3)      Charlotte masson atau the living book approach
4)      Classical
5)      Metode homeschool Waldorf
6)      Metode homeschool Montessori
7)      Unscholing atau  natural learning
8)      Eclectic.
Metode tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a.       School at home approach adalah model belajar seperti sekolah regular dengan menggunakan buku pegangan seperi sekolah, hanya saja belajarnya di rumah.[11]
b.      Unit studie approach adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendekatan ini banyak dipakai oleh orang tua Homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu, (matematika, bahasa IPA, IPS), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus, melalui sebuah tema yang di pelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented). Misalnya, dengan tema tentang rumah, anak-anak dengan belajar bentuk geometri (matematika), jenis-jenis rumah (sejarah), fungsi rumah (IPA), profesi pembangunan rumah (IPS), dan sebagainya.
c.       Charlotte masson atau the living book approach adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika) serta mengekspos anak dengan pandangan nyata, seperti berjalan-jalan mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari  informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.[12]
Dalam metode Charlotte Mason, anak membaca buku kemudian menceritakannya kembali dengan bahasanya sendiri. Hal ini memastikan bahwa mereka mengerti apa yang dibacanya. Metode ini juga menekankan nature note book. Anda keluar rumah, melakukan pengamatan dan mencatat dalam buku, dengan gambar bila perlu.[13]
d.      Classical
The classical approach adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut trivium. Pendekatan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literature (bukan gambar/image)[14]
Tiga tahap (trivium) itu adalah :
1)       Tahapan grammar (sampai usia 12 tahun) adalah saat anak menerima dan mengumpulkan informasi (pengetahuan). Anak menerima fakta, walaupun belum memahami namun sejalan dengan bertambahnya usia mereka, mulai mencerna fakta tersebut.
2)       Tahapan logic (usia 13-15 tahun) adalah saat pemahaman anak mulai matang. Mereka mulai mengerti sebab akibat pengetahuan membawa logika.
3)       Tahapan rethoric (usia 16-18 tahun) adalah saat anak bisa menggunakan pengetahuan dan logika untuk berkomunikasi, menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, berdiskusi dan berdebat (kebijakan). Setiap mata pelajaran  yang kita pelajari mempunyai tiga tahapan tersebut. Kita memberikan fakta, kita bantu anak untuk mengerti, kita uji mereka dalam pemahaman mereka.
e.       Metode Homeschool Waldorf
Konsep pengajaran Waldorf bertumpu pada anak secara keseluruhan (the whole child) yang meliputi kepala, hati dan tangan. Metode ini menekankan dongeng (story telling) dan seni (art). Rudolf Steiner (penggagas Waldorf) mengatakan bahwa metode ini bukan sistem pedagogi, melainkan sebuah seni, sehingga apa yang sudah ada pada manusia dapat dibangkitkan. Metode ini tidak berusaha untuk menanamkan materi intelektual kepada anak, tetapi membangkitkan kemampuan anak untuk mencari pengetahuan dan untuk menikmati proses belajar.[15]
f.       Metode Homeschool Montessori
Metode ini dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami. Mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
g.      Unschooling atau Natural Learning
Metode ini berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar. Jika keinginan itu difasilitatis dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari text book, tetapi dari minat anak yang di fasilitasi.
h.      The Eclectic Approach
Metode ini memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program Homeschooling yang sesuai, dengan mimilih atau  menggabungkan dari sistem yang ada.[16]
b.      Kurikulum dan Bahan Ajar
Selain pendekatan dan metode yang digunakan dalam belajar, setiap keluarga Homeschooling memiliki pilihan untuk menentukan kurikulum yang diacu dan bahan ajar yang digunakan. Kurikulum berisi sasaran-sasaran pengajaran yang ingin dicapai di dalam rentang waktu tertentu, sedangkan bahan ajar adalah materi praktis yang digunakan untuk pengajaran sehari-hari.[17]
Sebenarnya, kurikulum yang diapakai dalam sekolahrumah adalah kurikulum yang telah di susun oleh Depdiknas sesuai dengan tingkat pendidikannya. Bedanya hanya pada metode penyampaiannya saja. Jika di sekolah formal siswa dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum yang ada, maka disekolahrumah kebalikannya. Kurikulumlah yang menyesuaikan diri dengan keadaan siswanya. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang akan dipelajarinya. Baik dengan sistem klasikal ataupun mempelajari semua materi berdasarkan jenjang pendidikan, atau sistem tematik yang artinya siswa mempelajari satu pelajaran hingga tuntas. Semuanya bisa disesuaikan dengan kondisi dan minat siswa dengan tujuan agar mereka bisa menikmati proses belajar sesuai dengan selera dan target pemahaman dapat tercapai.[18]
Untuk memilih kurikulum dan bahan ajar, keluarga Homeschooling dapat memilih apakah mereka menggunakan bahan paket (bundle) atau bahan-bahan terpisah (unbundle).
Pada bahan terpaket (unbundle), keluarga Homeschooling menggunakan kurikulum dan bahan-bahan pelajaran yang sudah disediakan oleh lembaga yang menyediakan layanan tersebut. Bahan yang diberikan mulai kurikulum, teori, kegiatan, lembar kerja, tes, dan sebagainya.
Selain kedua pilihan tersebut, keluarga Homeschooling dapat mengembangkan kreativitasnya untuk menentukan kurikulum dan materi-materi yang digunakannya. Keluarga Homeschooling dapat menggabungkan antara membeli bahan pengajaran dan penggunaan materi yang ada di rumah, atau membuat sendiri materi pengajaran yang dibutuhkannya.
Pilihan itu sangat luas, tergantung kebutuhan dan keadaan setiap keluarga Homeschooling. Setiap keluarga Homeschooling memiliki kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi putra-putri mereka dengan kondisi keluarga yang ada.
Untuk materi ajar, keluarga Homeschooling dapat menggunakan buku-buku yang ada di toko buku. Keluarga Homeschooling dapat memilih buku yang paling disukai anak tanpa tergantung keharusan memilih buku dari penerbit tertentu. Bahkan, keluarga Homeschooling tidak harus membeli buku baru karena buku-buku lama pun masih dapat digunakan sepanjang materinya masih relevan.
Untuk belajar, para siswa Homeschooling dapat menggunakan bahan-bahan yang tersedia di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari didekatnya, misalnya: melakukan pengamatan di pasar, stasiun, jalan, sawah, kantor, bandara, dan sebagainya. Demikian pula kunjungan keberbagai tempat, mulai tempat rekreasi, tempat sosial (panti asuhan, rumah sakit), tempat kesenian (pameran, lukisan, teater), tempat bisnis (perkebunan, pabrik, restoran), dan sebagainya.
Jika kekurangan ide atau bahan pengajaran, pertemuan dengan sesama keluarga Homeschooling dan internet bisa menjadi sarana yang dapat digunakan untuk menggali ide dan kreativitas.[19]


4.      Model Homeschooling di Indonesia
a.       Homeschooling tunggal dan majemuk
Direktorat pendidikan kesetaraan Ditjen pendidikan luar sekolah Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan buku panduan yang diberi judul “komunitas sekolahrumah sebagai satuan pendidikan kesetaraan”, menurut buku tersebut, pada dasarnya format sekolahrumah dapat dibedakan menjadi: sekolah rumah tunggal dan sekolahrumah majemuk.
Sekolahrumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua atau wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.[20]
Format sekolahrumah tunggal biasanya dipilih oleh keluarga yang ingin memiliki fleksibilitas maksimal dalam penyelenggaraan Homesschooling. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas seluruh proses yang ada dalam Homeschooling, mulai perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengadministrasian hingga penyediaan sarana pendidikan.[21]
Menurut Seto Mulyadi dari Asosiasi Sekolahrumah Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Jawa Timur, Homeschooling majemuk adalah sekolah rumah yang dilaksanakan dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu. Sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan orang tua masing-masing. Selain untuk bersosialisasi, para keluarga juga bisa memikirkan kurikulum bersama.
Gabungan beberapa Homeschooling majemuk juga bisa menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok dan jadwal pembelajaran.[22]
Format sekolahrumah ini memberikan kemungkinan pada keluarga untuk saling bertukar pengalaman dan sumber daya yang dimiiki tiap keluarga. Sebuah keluarga dapat melakukan pertukaran keahlian untuk mengekspos anak-anak pada keahlian lain yang tak dimiliki oleh sebuah keluarga. Selain itu juga menambah sosialisasi sebaya (horizontal socialization) dalam kegiatan bersama diantara anak-anak Homeschooling.
Tantangan terbesar dari teori sekolahrumah majemuk adalah mencari titik temu dan kompromi atas hal-hal yang disepekati diantara para anggota sekolah rumah majemuk.[23]
b.      Komunitas Sekolahrumah
Komunitas sekolahrumah merupakan gabungan beberapa sekolah rumah majemuk yang menyusun dan menentukan silabus serta bahan ajar bagi anak-anak sekolah rumah.
Menurut panduan yang diterbitkan Depdiknas pertimbangan pelaksanaan komunitas sekolahrumah adalah untuk membuat struktur yang lebih lengkap dalam penyelenggaraan aktivitas pendidikan akademis untuk pembangunan akhlak mulia, pengembangan intelegensi, ketrampilan hidup dalam pembelajaran, penilaian dan kriteria keberhasilan dalam standar mutu tertentu tanpa menghilangkan jati diri dan identitas diri yang dibangun dalam keluarga dan lingkungannya.
Selain itu melalui komunitas sekolahrumah diharapkan dapat dibangun fasilitas belajar mengajar yang baik yang tidak diperoleh dalam format sekolahrumah tunggal atau majemuk, misalnya bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan laboratorium IPA atau bahasa, auditorium, fasilitas olah raga dan kesenian.
Komunitas sekolah rumah merupakan satuan pendidikan jalur non formal. Acuan mengenai eksistensi komunitas sekolahrumah terdapat dalam UU 20/2003 pasal 26 ayat (4).
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis.
Sebagai satuan pendidikan nonformal, komunitas sekolahrumah dapat berfungsi menjalankan pendidikan nonformal, termasuk menyelenggarakan ujian kesetaraan. Hal itu sejalan dengan UU 20/2003 pasal 26 ayat (6):
”Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan”.
Izin badan hukum yang menangani kepentingan dan keberadaan komunitas sekolahrumah, antara lain PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), PT atau Yayasan dan komunitas sekolahrumah.[24]
5.      Ujian Kesetaraan
Ujian kesetaraan bagi keluarga Homeschooling bersifat pilihan (optimal). Jika keluarga Homeschooling ingin agar hasil pendidikannya dapat diintegrasikan dengan sistem pendidikan nasional, siswa Homeschooling harus mengikuti ujian kesetaraan.
Jika keluarga Homeschooling ingin mengikuti ujian kesetaraan, keluarga Homeschooling harus mengintegrasikan kurikulum dan bahan-bahan pelajaran yang diujikan dalam ujian kesetaraan ke dalam program Homeschooling yang dilaksanakan.[25]
Dalam aturan hukum yang ada pada saat ini, pelaksanaan ujian kesetaraan diselenggarakan oleh lembaga pendidikan non formal, keluarga Homeschooling setingkat SD bisa menginduk pada program kejar paket A, setingkat SMP bisa menginduk pada program kejar paket C dengan standar penyelenggaraan sebagai berkut:
a.       Kumpulkan peserta didik sebanyak 15-20 orang
b.      Penyelenggara satu orang
c.       Tutor 2 orang (siapa saja yang bisa dan tidak perlu strata S 1)
d.      Laporan ke Dinas Pendidikan tingkat Kecamatan atau menginduk pada PKBM yang sudah ada. PKBM adalah program kegiatan belajar masyarakat yang dikelola oleh para ”relawan”
e.       Dana akan turun untuk penyelenggaraan tutor, dan siswa.
f.       Buku panduan mata pelajaran diberikan secara ”Cuma-Cuma”
g.      Ujian negara akan menghasilkan ijazah negara
h.      Tempat belajar bisa dimana saja
i.        Boleh memakai seragam apa saja.
Homeschooling masuk pada program paket ini sehingga ijazah yang diberikan ialah ijazah paket setara dan dapat melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya termasuk sekolah tinggi berdasarkan UU sistem pendidikan nasional No 20/2003.[26]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: