Verbal-Linguistic Intelligence (VLI)

a.      Definisi Intelligence (Inteligensi)
Terdapat banyak pengertian mengenai intelligensi yang dapat kita temui dalam berbagai kepustakaan. Beberapa ahli menekankan fungsi intelligensi untuk membantu penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Beberapa ahli lainnya menekankan struktur inteligensi dengan menggambarkan sebagai suatu kecakapan.
Vernon (1960) berusaha membuat kompromi pandangan yang berbeda-beda mengenai intelligensi dan merumuskannya sebagai kemampuan untuk melihat hubungan yang relevan diantara obyek-obyek atau gagasan-gagasan, serta kemampuan untuk menerapkan hubungan-hubungan ini ke dalam situasi-situasi baru yang serupa.[1] Selanjutnya, Vernon membagi kemampuan intelektual individu ke dalam suatu hierarki, seperti yang dapat kita lihat pada skema berikut ini:
BAGAN I
Kemampuan intelektual individu
Kemampuan intelektual umum

 

Kemampuan       Kemampuan memanfaatkan            Kemampuan memanfaatkan
 kel. mayor                 pendidikan verbal                            pendidikan teknik

 

kemampuan-   kemampuan   kemampuan    kelancaran      kemampuan     kemampuan      kemampuan
kemampuan     verbal            numerikal         pengguna-     menerima           menerima         mengguna-
spesifik                                                            an kata         interpretasi        informasi         kan alat-alat                         
                                                                          hubungan            mekanik
    
KETERANGAN:
(i)           Kemampuan intelektual umum yang dimaksud Sperman adalah bahwa elemen inteligensi yang terpenting adalah faktor “g”, yaitu kemampuan untuk menghasilkan hubungan-hubungan abstrak.
(ii)         Kemampuan-kemampuan kelompok  mayor merupakan tahap kekhususan berikutnya, mencakup kemampuan yang memanfaatkan pendidikan verbal dan teknik. Thurstone mengajukan lima macam kemampuan umum:
          Kemampuan untuk mengerti gagasan-gagasan yang dinyatakan melalui kata-kata;
          Kemampuan menangani persoalan-persoalan kuantitatif;
          Kemampuan memecahkan masalah secara logis;
          Kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan diantara objek-objek atau symbol secara cepat dan tepat.
          Kemampuan membayangkan pemutaran objek dan bentuk di dalam ruang, serta hubungan yang terjadi antara semuanya itu.
(iii)       Kemampuan-kemampuan kelompok minor yang diuraikan disini dapat disamakan dengan faktor-faktor kelompok yang di dalam struktur inteligensi yang diuraikan oleh Spearman adalah kemampuan verbal dan kemampuan untuk bekerja dengan angka.
(iv)       Kemampuan-kemampuan spesifik dapat disamakan dengan struktur intelek dari Guilford yang menyatakan bahwa kemampuan intelektual merupakan perpaduan dari apa yang disebutnya sebagai oprasi, isi dan produk.[2]
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat.[3] Kecerdasan merupakan ungkapan dari cara menjadikan modalitas belajar kita bermanfaat dalam masyarakat. sekolah, melalui guru mengatur anak dalam upaya mengembangkan kecerdasan mencapai kemanfaatan. Kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner tersebut sama dengan modalitas belajar dari bab samples. Dimana modalitas belajar adalah ungkapan dari rancangan sistem otak-pikiran yang mewakili kemampuan dasar kita untuk memperoleh dan menciptakan pengalaman.[4] Jadi modalitas belajar merupakan berbagai cara yang digunakan oleh sistem otak-pikiran untuk mengakses pengalaman (masukan) dan mengungkapkan pengalaman (keluaran). Dengan orang tua anak dapat belajar menghormati modalitas lewat pengalaman. Guru juga dapat mendorong tumbuhnya modalitas belajar dan membantu anak menghubungkan keterampilan dengan berkembangnya berbagai kecerdasan. Daftar modalitas yang dikemukakan oleh Bob Samples sama dengan daftar kecerdasan ganda Gardner. Seperti tabel berikut ini:
TABEL II
Hubungan Modalitas dan Kecerdasan
Samples                                                           Gardner
                                 Simbolis-Abstrak                                                Verbal-Linguistik
Matematika-Logis
                                     Visual-Spasial                                     Spasial
                                            Kinestetis                                     Jasmani-Kinestetis
                                              Auditori                                     Musikal           
                                               Sinergis                                     Personal
   Personal                                               Interpersonal
   Alamiah                                               Intrapersonal
Stenberg mendukung modalitas sinergis. Dia menggambarkan tiga kualitas kecerdasan yaitu:
Pertama, kecerdasan kontekstual; orang yang menunjukkan jenis kecerdasan semacam ini sangat mudah menyesuaikan diri. Mereka secara selektif membentuk lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Kedua, kecerdasan eksperinsial; Dalam bentuk ini pembelajar mampu melibatkan diri ke dalam pengalaman baru dan memahaminya. Bentuk kecerdasan ini tampaknya lebih responsive daripada adaptif.
Ketiga, kecerdasan komponensial; orang ini mengenali pola-pola kesaling terkaitan di dalam komponen pemikiran, pembelajaran dan pengetahuan.[5]
b.      Definisi Verbal-Linguistic Intelligence (VLI)
VLI (Verbal-Linguistic Intelligence) adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks.[6]
Di awal sejarah manusia, bahasa merubah spesialisasi dan fungsi otak manusia dengan menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan mengembangkan kecerdasan manusia. Ungkapan kata memungkinkan para nenek moyang kita untuk bergerak dari pemikiran konkrit ke pemikiran abstrak. Seperti halnya mereka telah mengalami kemajuan dalam menunjuk suatu obyek. Membaca telah memungkinkan manusia untuk mengetahui objek, tempat, proses dan konsep yang secara personal kita tidak mengalaminya, dan menulis dapat menyebabkan manusia untuk berkomunikasi dengan lainnya yang belum pernah saling bertemu. Kemampuan berpikir melalui kata-kata, manusia dapat mengingat, menganalisis, menyelesaikan masalah, merencanakan ke depan dan menciptakan sesuatu.
Verney, dan the National Association for the Education of Yaoung Children, telah menunjukkan arti penting dalam menciptakan lingkungan-lingkungan yang penuh dengan aktivitas bahasa dalam arti, para orang tua atau pengasuh lainnya melibatkakn anak-anak dalam interaksi verbal, misalnya bermain dengan kata-kata, bercerita dan bercanda, mengajukan pertanyaan, mengungkapkan pendapat, dan menjelaskan perasaan dan konsep-konsep.[7]
Jadi, dari sini dapat disimpulkan bahwa Verbal-Linguistic Intelligence merupakan suatu metode yang dipilih oleh guru dalam rangka menggali dan meningkatkan kecerdasan yang ada pada diri siswa. Dimana kecerdasan ini berupa kemampuan siswa dalam mengungkapkan pemikiran mereka melalui ungkapan bahasa. Bahasa tersebut terbagi menjadi dua yakni bahasa lisan dan bahasa tulisan. Sehingga dengan Verbal-Linguistic Intelligence ini pembelajaran dilakukan melalui proses membaca, berbicara, mendengar dan menulis secara efektif.
Di dalam budaya kita, kecerdasan di bidang bahasa atau linguistik sangat umum dijumpai dan sangat dibutuhkan. Kita semua suka bicara. Akan tetapi, hanya sedikit dari kita yang mampu memanfaatkan kata dan bahasa layaknya tongkat ajaib atau apabila perlu, seperti pedang. Kecerdasan di bidang bahasa bekerja bagaikan generator kata dan bahasa. Ini termasuk kepekaan dalam memahami struktur, arti, dan penggunaan bahasa baik tertulis maupun lisan.[8]
2.      Sifat-sifat VLI (Verbal-Linguistic Intelligence)
Dewasa ini kurikulum telah berkembang pesat, tapi membaca dan menulis, sejalan dengan menyimak dan berbicara, tetap merupakan alat yang esensial dalam mempelajari semua pelajaran.[9] Kita mengetahui bahwa orang-orang yang kurang dalam pendengaran, berbicara atau cacat penglihatannya akan mengembangkan bahasa dan keterampilan berkomunikasi melalui kecerdasan dalam bentuk lain. Sementara itu orang-orang yang memiliki kecerdasan verbal-linguistik yang bagus, memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a.       Mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna dan berbagai ungkapan kata.
b.      Menirukan suara, bahasa, membaca dan menulis dari orang lainnya.
c.       Belajar melalui menyimak, membaca, menulis dan diskusi.
d.      Menyimak secara efektif, memahami, menguraikan, menafsirkan dan mengingat apa yang diucapkan.
e.       Membaca secara efektif, memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan, dan mengingat apa yang telah dibaca.
f.       Berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara secara sederhana, fasih, persuasif, atau bergairah pada waktu-waktu yang tepat.
g.      Menulis  secara efektif, memahami dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan menggunakan kosakata yang efektif.
h.      Memperlihatkan kemampuan untuk mempelajari bahasa lainnya.
i.        Menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri.
j.        Berusaha untuk mengingatkan pemakaian bahasanya sendiri.
k.      Menunjukkan minat dalam jurnalisme, puisi, bercerita, debat, berbicara, menulis atau menyunting.
l.        Menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya tulis orisinil atau komunikasi oral.[10]
3.      Proses-proses belajar VLI (Verbal-Linguistic Intelligence)
Kecerdasan verbal-linguistik sangat berakar dalam perasaan kita mengenai kompetensi dan kepercayaan diri, makin banyak anak-anak latihan dalam kecerdasan ini di tempat yang kondusif, makin mudah mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan verbal ini, yang akan bermanfaat bagi mereka sepanjang hayat. Guru dapat memberikan model-model yang kuat melalui permainan kata-kata, berbagi karya tulis, sehingga mereka terlibat dalam diskusi dengan penuh antusias, menyediakan perjalanan lapangan ke produksi-produksi teater local, dan bercerita.
Peluang-peluang yang ekstensif untuk membaca, menulis dan berbicara secara individual memiliki pengaruh yang positif terhadap prestasi dan cenderung dapat dilakukan dalam kegiatan-kegiatan waktu luang. Minat mereka dapat terpupuk baik ketika guru atau orang tua menyarankan buku atau artikel-artikel yang berhubungan dengan minat mereka, serta harus diperkenalkan pada alasan lainnya dalam membaca.
Siswa memerlukan berbagai pengalaman dengan melibatkan kecerdasan verbal-linguistik seperti halnya. Latihan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis yang akan menimbulkan perkembangan siswa agar dapat menguasai keterampilan-keterampilan yang penting bagi kehidupan; berpikir, belajar, menyelesaikan masalah, berkomunikasi dan menciptakan, hal-hal yang baru.
a.      Mendengar untuk belajar
Bagi orang-orang yang bisa mendengar, suara manusia memberikan pengalaman pertama pada bahasa. Steil berpendapat bahwa mayoritas manusia merupakan pendengar yang kurang efisien. Setelah mendengar 10 menit, presentasi oral, kebanyakan siswa mendengar, memahami, mengevaluasi, dan menyimpan hanya setengah dari apa yang disampaikan. Mereka kehilangan 25% lainnya selama 48 jam berikutnya. Dengan kata lain, kebanyakan siswa hanya menyimpan sekitar ¼ dari apa yang mereka dengar, kecuali jika mereka telah mengembangkan keterampilan-keterampilan mendengar secara lebih efisien.[11]
Berikut ini beberapa teknik mendengarkan dalam VLI (Verbal-Linguistic Intelligence) yang efektif, yaitu:
1)      Kunci-kunci untuk mendengar yang efektif
Ketika siswa mendengar penjelasan, ceramah atau pembicara, mereka dapat menggunakan kelambanan waktu (time lag) mereka untuk mengidentifikasi tujuan pembicara, point utama, dan tema-tema inti. Mereka dapat mencatat poin-poin penting dengan memakai kata-kata sedikit mungkin, mengkaji ulang dan mengevaluasi apa yang disampaikan. Berikut ini ada 10 kunci untuk mendengar yang efektif.
TABEL III
10 Kunci Mendengar Efektif
  10 kunci mendengar yang efektif      Pendengar Lemah                    Pendengar Kuat
1
Temukan beberapa area minat
Menghilangkan mata pelajaran yang “kering”
Menggunakan peluang dengan bertanya: “Apa isinya untuk saya?”
2
Nilailaj isinya, bukan penyampaiannya
Menghilangkan jika penyampaiannya jelek
Menilai isi, melewati kesalahan-kesalahan penyampaian
3
Tahanlah semangat anda
Cenderung berargumen
Menyembuyikan penilaian sampai paham
4
Dengarkan ide-ide
Mendengar kenyataan
Mendengar tema inti
5
Bersikap fleksibel
Membuat catatan intensif dengan memakai hanya satu sistem
Membuat catatan lebih banyak. Memakai 4-5 sistem berbeda tergantung pembicara.
6
Bekerja saat mendengarkan
Pura-pura memperhatikan
Bekerja keras, menunjukkan keadaan tubuh yang aktif
7
Menahan gangguan
Mudah tergoda
Berjuang/menghindari gangguan, toleransi pada kegiatan-kegiatan jelek, tahu cara berkonsentrasi
8
Latihlah pikiran anda
Menahan bahan yang sulit, mencari bahan yang sederhana
Menggunakan bahan yang padat untuk melatih pikiran
9
Bukalah pikiran anda
Setuju dengan informasi jika mendukung ide-ide yang terbentuk sebelumnya
Mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda sebelum membentuk pendapat
10
Tulislah dengan huruf besar tentang fakta karena berpikir lebih cepat daripada berbicara
Cenderung melamun bersama dengan pembicara yang lemah
Menantang, mengantisi-pasi, merangkum, me-nimbang bukti, mende-ngar apa yang tersirat
2)      Mendengarkan cerita dan membaca nyaring
Bercerita dan membaca nyaring merupakan cara yang berguna dalam melibatkan minat dan mempermudah pembelajaran disemua pelajaran. Apalagi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam pasti akan sangat berguna. Bercerita merupakan cara yang kuat untuk memberikan wawasan yang bermacam-macam kepada siswa.
3)      Mendengarkan ceramah
Meskipun ada format ceramah-diskusi di kelas di masa mendatang, kita mengetahui bahwa ceramah masih efektif menyajikan informasi pada kelompok siswa yang lebih besar. Meskipun begitu, ceramah akan terus digunakan oleh siswa untuk menemukan cara terbaik dalam mendengar dan belajar dari ceramah-ceramah tersebut.
Berikut ini saran-saran untuk mengasah kemampuan mendengar para siswa, yakni:
a)      Untuk memulai ceramah, berikan judul pembicaraan dan mintalah siswa untuk menggunakan praktek-pratek mendengar yang aktif dengan menuliskan:
          Apa yang mereka ketahui tentang pokok persoalannya?
          Apa pertanyaan mereka dan bagaimana perasaan ketika mendengar ceramah?
b)      Latihan lainnya adalah meminta siswa untuk mendengarkan ceramah kecil tanpa membuat catatan, tapi setelah selesai ceramah siswa harus membuat peta pikiran.
c)      Guru bisa menyediakan listening guide dengan bagian-bagian kosong yang harus diisi sebagai informasi yang akan disampaikan. Ini berguna untuk membantu para siswa memfokuskan keterampilan mendengar mereka, berpikir dengan cara membuat struktur presentasi mereka mendatang. Bagannya sebagai berikut:
TABEL IV
Pedoman Mendengarkan
Pedoman mendengarkan
Nama siswa                          : _______________________________
Nama pembicara                   : _______________________________
Judul/topik                            : _______________________________
Ide pendahuluan                   : _______________________________
Poin utama yang pertama      : _______________________________
Rincian/contoh pendukung   : _______________________________
Poin utama yang kedua         : _______________________________
Rincian/contoh pendukung   : _______________________________
Poin utama yang ketiga         : _______________________________
Rincian/contoh pendukung   : _______________________________
Ide-ide kesimpulan               : _______________________________
Ide lain                                 : _______________________________
Pertanyaan yang muncul       : _______________________________
Kemudian, ketika ceramah dimulai mintalah siswa untuk:
ü  Membuat bagan/peta pikiran dengan poin-poin yang signifikan
ü  Garis bawahi ide-ide yang terpenting
ü  Buatlah catatan dengan cara tertentu, misalnya dengan asteris atau tanda bintang pada poin yang belum jelas atau yang menarik.
ü  Letakkan dalam pertanyaan-pertanyaan margin yang memerlukan jawaban. Setelah ceramah kecil selesai, mintalah siswa untuk menulis atau menjelaskan:
          Hal-hal baru apa yang mereka dapatkan
          Bagaimana topik ini berhubungan dengan apa yang baru saja mereka ketahui
          Relevansinya terhadap kehidupan mereka.
Jawaban apapun yang dibuat siswa setelah ceramah kecil, menunjukkan bahwa mereka membuat catatan jawaban kemudian.
4)      Guru sebagai story teller
Ketika sumber-sumber tak tersedia, atau ketika guru ingin menggali isi pembelajaran dengan berbagai cara, bercerita (story telling) menawarkan pilihan yang menarik bagi peserta didik. Topik atau pelajaran apapun menjadi hidup saat disampaikan dalam bentuk cerita, bahkan semua orang lebih mudah mengingat informasi jika disandikan dalam cerita.
a)      Cerita-cerita Mata Pelajaran
Dari mana cerita di kelas berasal? Seringkali dari pengalaman hidup kita sendiri. Mengingat reaksi-reaksi kita sebagai anak-anak ketika memasuki pelajaran sekolah, dapat memberi guru cerita-cerita kehidupan nyata, yang dibagikan bersama siswa yang sedang mempelajari isi yang serupa, mengambil isi pelajaran dan diolah untuk bahan pelajaran merupakan pilihan lain yang lebih mudah dibanding pilihan yang pertama. Dengan mengidentifikasi karakter-karakter kunci dan suatu tantangan untuk dilaksanakan, maka jalannya cerita dapat dikembangkan dengan cepat. Guru dapat merefleksikan isi rencana pelajaran dan pertimbangan karakter yang muncul untuk peluang-peluang bercerita. Disamping itu, para siswa seringkali bersemangat untuk menciptakan dan bercerita yang berhubungan dengan isi akademik.
b)      Dimensi-dimensi Budaya dalam Bercerita
Bercerita merupakan cara yang kuat untuk memberikan wawasan sejarah dan budaya yang bermacam-macam kepada siswa. Siswa lebih tertarik dengan metode bercerita semacam itu dibandingkan sejarah tertulis. Sebelum membaca dan menulis menjadi hal yang umum, maka cerita-cerita untuk menyampaikan sejarah dilakukan secara oral yang meliputi harapan, ketakutan nilai dan prestasi orang-orangnya.
c)      Sumber-sumber Bercerita dalam Multibudaya
Ada berbagai sumber yang tersedia bagi guru yang ingin memperkenalkan budaya lain melalui metode bercerita pada siswa. Ketika cerita-cerita multibudaya disampaikan, guru dapat meminta siswa untuk mendengar dan mengumpulkan informasi tentang berbagai budaya yang berbeda. Setelah mendengarkan cerita, guru dan siswa bisa membahas struktur dan pesan cerita, juga implikasi-implikasi budayanya. Disarankan membuat pertanyaan-pertanyaan seperti:
ü  Apa setting ceritanya?
ü  Nilai-nilai apa yang terkandung dalam cerita?
ü  Bagaimana bahasa yang dipakai dalam cerita?
ü  Adakah stereotype (peniruan/klise) yang ditekankan dalam cerita?
ü  Adakah stereotype pengurangan budaya dalam ceritanya?
Perpustakaan sekolah dan lokal biasanya banyak mengetahui berbagai macam sumber untuk bercerita. Mereka akan bersemangat sekali untuk mengidentifikasi cerita-cerita yang mengiringi studi apapun.
b.      Berbicara secara efektif
Berbicara secara efektif tidak hanya melibatkan kata-kata yang kita gunakan, tapi cara yang kita gunakan, nada suara, ekspresi wajah, sikap dan gerakan tubuh. Albert Mehrabin, penulis silent Messages menunjukkan bahwa hanya 7% apa yang kita sampaikan lewat kata-kata yang berhubungan dengan kata-kata yang kita gunakan, 38% berhubungan dengan nada suara, dan 55% dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Jika demikian adanya, keterampilan berbicara yang efektif melibatkan semua kecerdasan.[12]
Siswa bisa mendapatkan keuntungan dari pelatihan dan pengembangan keterampilan-keterampilan berbicara melalui latihan-latihan di bawah ini:
1)      Siswa sebagai tukang cerita (story teller)
Beberapa siswa akan senang hati menceritakan cerita-cerita yang dimiliki kepada teman sebayanya. Mendengarkan cerita melibatkan berbagai keterampilan mendengar, sedangkan berbicara memerlukan keterampilan linguistik. Para pendidik yang tertarik untuk memakai teknik bercerita di kelas perlu mempertimbangkan beberapa pedoman bercerita, sebagai berikut:
a)      Peragakan sendiri metode anda dalam bercerita
b)      Carilah storyteller yang ahli
c)      Bantulah siswa dalam mencari cerita, dari yang ada di kelas, mimpi, peristiwa di kelas dan keluarga. Cerita yang telah mereka ketahui.
d)     Ajarilah siswa keterampilan bercerita, misalnya:
ü  Memulai dengan pendahuluan yang menarik
ü  Kendalikan jumlah karakter yang ada
ü  Pastikan bahwa cerita mengandung image yang dapat “dilihat” atau dibayangkan oleh pendengar.
ü  Doronglah siswa untuk menggunakan simile (kiasan) dan metafora (perbandingan) bahasa.
ü  Hidupkan titik kunci dalam bercerita dengan memakai efek suara, tangan dan gerakan tubuh.
ü  Jagalah agar suara tetap jelas, ekspresif, dan mudah diikuti.
ü  Buatlah kontak mata dengan pendengar.
ü  Pikirkanlah apakah diperlukan adanya partisipasi pendengar atau tidak.
e)      Praktekkan kegiatan bercerita tersebut di depann seluruh kelas.
f)       Bagi stroryteller pemula, kecemasan dapat berkurang jika siswa menyampaikan cerita ke kelompok kecil yang terdiri atas empat atau lima anak, tidak langsung ke kelas besar.
2)      Diskusi Kelas
Diskusi kelas dapat ditemukan hampir di setiap pelajaran dan di semua tingkat. Ada beberapa logistik yang harus terpenuhi, misalnya pengaturan ruang fisik dan cara-cara yang melibatkan peran di dalam pembahan sebelum diskusi dimulai agar hasilnya positif dan memuaskan. Untuk mengatasi masalah atau persoalan-persoalan yang muncul diperlukan beberapa saran atau masukan untuk mengawali, melaksanakan, dan mengadakan tanya jawab diskusi dan melibatkan setiap orang selama proses berlangsung.
a)      Lima tahap diskusi kelas
Sebagian guru berasumsi, bahwa diskusi memerlukan lebih sedikit rencana dibandingkan ceramah atau kegiatan belajar kooperatif. Ketika berlangsung diskusi kelas, sebelumnya guru dapat merencanakan lima tahap berikut untuk memastikan dialog yang berarti dengan siswa, dan antarsiswa.
ü  Jelaskan tujuan diskusi; guru seharusnya menerangkan apa yang akan dibahas serta standar perilaku siswa yang seharusnya.
ü  Pertahankakn jalannya diskusi; proses semacam ini digunakan untuk menjaga jalannya diskusi dan mencegah adanya konstribusi berlebihan.
ü  Awasilah jalannya diskusi; siswa akan sering membawa persoalan yang tidak berhubungan dengan topik yang dibicarakan.
ü  Akhirilah diskusi; guru merangkum apa yang telah disampaikan, menghubungkan diskusi dengan pembelajaran kelas lainnya.
ü  Adakan tanya-jawab mengenai diskusi yang telah berlangsung.
b)      Melibatkan setiap orang dalam diskusi
Dalam diskusi kelas besar, banyak guru yang mengetahui, bahwa hanya sedikit siswa yang berpartisipasi aktif. Untuk mendorong partisipasi secara merata, Richards Arends menganjurkan strategi berikut ini:
ü  Satu siswa ditunjuk untuk memainkan peran sebagai monitor diskusi.
ü  Setiap siswa diberi tiga atau empat “talking taken”; tanda bukti bicara ini harus dilepas ketika dia menyampaikan konstribusinya.
ü  Sebuah teknik tambahaan yang dapat menyebabkan seseorang untuk berbicara pada waktunya.
3)      Menghafal
Ketika siswa diminta untuk menghafal pelajaran apapun perlu disadari bahwa pengulangan sendiri memiliki nilai yang kecil artinya kecuali diiringi oleh keterlibatan siswa aktif. Berikut strategi-strategi penting dalam menghafal:
a)      Siswa mengkaji dulu semua bahan yang harus dihafal.
b)      Siswa bisa mengelompokkan bagian yang harus diingat
c)      Isi pelajaran dapat dimusikalisasikan untuk memudahkan memori jangka panjang.
d)     Siswa dapat merekam apa yang harus dihafalkan.
e)      Sesi menghafal singkat lebih efektif daripada sesi menghafal lama.
f)       Buatlah jadwal meninjau ulang atas informasi yang tersimpan.
4)      Laporan
Seringkali siswa disuruh untuk membuat laporan di kelas. Di sekolah dasar, laporan berupa kegiatan “tunjukkan dan beritahu”. dan di sekolah menengah dimulai dengan menuliskan laporan kemajuan-kemajuan penelitian formal. Jenis laporan yang diberikan guru sangat bermacam-macam, baik dalam bentuk isi, format, dan kriteria penilaian.
Siswa perlu mengetahui secara eksplisit cara membuat format atas presentasi mereka. Pedoman yang tipikal atau khas dalam membuat laporan formal meliputi:
a)      Pilihlah topik yang sesuai dengan pendengar
b)      Aturlah presentasinya
c)      Rencanakan pendahuluan yang dapat menarik perhatian
d)     Gunakan macam-macam anekdot dan  contoh-contoh yang spesifik
e)      Libatkan pendengar dalam beberapa kegiatan, dan
f)       Rencanakan kesimpulan yang efektif.
Berikut ini saran-saran dalam membuat laporan secara oral, yaitu:
a)      Pilih kosakata yang tepat sesuai topik dan pendengarnya.
b)      Libatkan pendengar dengan kontak mata dan bahasa tubuh
c)      Gunakan pilihan karya yang jelas dan tata bahasa yang bagus.
d)     Hindari untuk berbicara dengan kalimat yang panjang
e)      Gunakan ekspresi yang efektif dan bervariasi
f)       Hindari pemakaian kata-kata “ehmmm” dan “ass” atau “e-e….”.
5)      Wawancara (interview)
Mewawancarai orang lain merupakan satu cara bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam mengumpulkan informasi secara lisan. Sebelum melakukan wawancara (interview), siswa harus dapat membedakan antara wawancara dan percakapan. Keduanya sama berbentuk komunikasi lisan, tapi percakapan terdiri atas pembicaraan informal atau pertukaran ide-ide dan topiknya menurut minat pembicara.
Sebaliknya, wawancara memiliki tujuan awal, pewawancara mencari informasi spesifik dan menghindari topik-topik yang tidak relevan.
c.       Membaca yang efektif
Walaupun belajar membaca merupakan proses yang kompleks, itu merupakan salah satu hal yang dapat dicapai oleh otak manusia. Sebagian besar kita belajar membaca pada usia enam atau tujuh tahun, dan dengan berkembangnya kemampuan mental di usia dewasa, kita bahkan mampu mengatasi tantangan-tantangan yang lebih besar. Berikut ini kiat-kiat jitu dalam mempersiapkan diri memulai membaca, yaitu:
1)      Mempersiapkan diri
2)      Meminimalkan gangguan
3)      Duduklah dengan sikap tegak
4)      Luangkan waktu beberapa saat untuk menenangkan pikiran
5)      Gunakan jari atau benda lain sebagai petunjuk
6)      Lihat sekilas bahan bacaan anda sebelum mulai membaca.[13]
Keterampilan-keterampilan dalam membaca dapat diajarkan dengan cara-cara yang menarik dan merangsang. Berikut ini saran dari Maffet dalam meningkatkan pemahaman membaca, yaitu:
1)      Guru membantu siswa dalam memperhatikan dan mengingat informasi bacaan apapun
2)      Dramatisasi dan diskusi kelompok kecil sangat berguna untuk mengajar siswa cara menarik inferensi.
3)      Siswa sebagai penulis dapat mengalami inferensi tindakan.
Meningkatnya jumlah perencanaan kurikulum dan guru dalam menggantikan buku teks dengan buku nyata yang menawarkan contoh-contoh tulisan terbaik di berbagai jenis kegiatan telah terbukti lebih menarik dan sesuai dengan minat siswa.
Berikut ini hal yang harus dilakukan guru. Sebagian guru telah mengembangkan motivator-motivator yang efektif untuk mendorong siswa agar dapat membaca, diantaranya:
1)      Pasanglah kutipan atau pertanyaan harian dan kosakata kurikuler mingguan untuk memperkaya perbendaharaan dan minat siswa dalam muatan akademik.
2)      Gantungkan kata-kata dan konsep yang dapat bergerak di langit-langit kelas
3)      Tambahkan nama atau label pada poster kelas, papan tulis dan kertas siswa
4)      Buatlah ruang tertentu untuk menggairahkan kegiatan membaca secara informal.
d.      Menulis yang efektif
Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika).[14] Berikut ini gambaran aktivitas yang ada di otak kanan dan kiri, yaitu:
GAMBAR I
Aktivitas Otak Kiri dan Kanan
Kiri = Logika                           Kanan = Emosi
          Perencanaan                        –    Semangat
          Outline                                                 –   Spontanitas
         –   Emosi
          Tata Bahasa                 Tulisan                                –   Warna
         yang baik
          Penyuntingan          memanfaatkan                –   Imajinasi
        kedua belahan
          Penulisan kembali     otak                             –   Gairah
          Penelitian                                  –   Ada unsur baru
          Tanda baca                         –   Kegembiraan

 

Guru dapat membaca deskripsi berikut mengenai empat kategori Britton dalam mengidentifikasi pendekatan menulis yang sesuai untuk pelajaran mereka:
1)      Kategori pertama; pemakaian kegiatan menulis secara mekanis.
2)      Kategori kedua; berhubungan dengan penggunaannya untuk informasi, misalnya: membuat catatan, mencatat pengalaman (dalam bentuk laporan atau diary), ringkasan, analisis, teori, atau tulisan persuasif.
3)      Kategori ketiga; meliputi penggunaan kegiatan menulis untuk keperluan personal, misalna diary dan jurnal, surat dan catatan.
4)      Kategori terakhir; merupakan penggunaan kegiatan untuk menulis imajinatif, misalnya untuk cerita atau puisi.
Meskipun penting bagi siswa untuk menulis secara akurat dan benar pada tugas-tugas yang berkaitan dengan kategori pertama, mereka juga harus memperhatikan upaya untuk meningkatkan jumlah pengalaman di ketiga kategori lainnya karena merupakan janji terbesar untuk melatih dan mengembangkan kecerdasan verbal linguistik.
Guru dan siswa dapat mengidentifikasi cara-cara yang tepat untuk merespon tulisan siswa lainnya, berikut ini beberapa saran yang bisa membantu:
1)       Mendengar dengan teliti dan mendalam ketika tulisan sedang dibacakan.
2)       Mencatat yang menarik mengenai tulisan tersebut, membuat isi, tata cara, tema, nada, kosakata, bentuk dan efek umumnya.
3)       Mencatat cara-cara perbaikan, sekali lagi dengan membuat saran yang spesifik.
4)       Dalam mengembalikan laporan pada penulisannya, sebaiknya selalu diawali dengan komentar yang positif.
5)       Sebagai penulis, dengarlah baik-baik dan buatlah catatan yang bisa digunakan untuk merevisi tulisan yang dibuat.[15]

[1]Slameto, Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 129
[2]Ibid., 130
[3]Bob Samples, Revolusi Belajar untuk Anak, (Bandung: Kaifa, 2002), 141
[4]Ibid, 117
[5]Ibid., 143
[6]Linda Campbell, Bruce Campbell, Dee Dicklason, Multiple Intelligences, (Depok: Inisiasi Press, 2002), 2
[7]Ibid., 11
[8]Laurel Schmidt, Jalan Pintas Menjadi 7 Kali Lebih Cerdas, (Bandung: Kaifa, 2002), 34
[9]Linda Campbell, Bruce Campbell, Dee Dicklason, Multiple Intelligences, (Depok: Inisiasi  Press, 2002), 12
[10]Linda Campbell, Bruce Campbell, Dee Dicklason, Multiple Intelligences, ……., 13
[11]Linda Campbell, Bruce Campbell, Dee Dicklason, Multiple Intelligences, ……., 16
[12]Ibid.,  21
[13]Boby Deporter, Quantum Learning, (Bandung: Kaifa, 1999), 179
[14]Boby Deporter, Quantum Learning, ……., 255
[15]Linda Campbell, Bruce Campbell, Dee Dicklason, Multiple Intelligences, .…., 34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: