Strategi Pembelajaran Quantum Quotient (QQ)

1.      Pengertian Strategi Quantum Quotient (QQ).
Kata Quantum berasal dari pakar fisika modern pada abad 20. kemudian berkembang secara luas merambat kebidang-bidang kehidupan manusia, salah satunya, Quantum digunakan dalam bidang pembelajaran, sedangkan Quotient adalah kecerdasan yang yang meliputi pengembangan tiga aspek : intelektual, emosional dan spiritual.
Intelektual berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan pemikiran rasional, logis dan matematis. Emosional berarti berkaitan dengan emosi pribadi dan antar pribadi guna evektivitas individu dan organisasi. Sedangkan spiritual berkaitan dengan segala sesuatu yang melampaui entelektuak dan emosional.


Strategi Quantum Quotient merupakan teknik yang dapat membantu melejitkan intelektual, emosional dan spiritual. Quantum Quotient digunakan pada tugas belajar yang berbeda yang merupakan proses atau tahnik memori.[1]Dari banyak penelitian terbukti bahwa strategi Quantum Quotient jelas dapat meningkatkan daya serap.

Cara-cara yang digunakan dalam peningkatan daya serap ini adalah suatu teknik yang menuntut kamampuan otak untuk menghubungkan kata-kata, ide dan khayalan.[2]Sedangkan Quantum Quotient merupakan suatu metode untuk membantu IQ, EQ dan SQ, selain itu membantu mengingat dalam jumlah besar informasi yang melibatkan tiga unsur yaitu : pengkodean, pemeliharaan dan menyerap kembali.[3]
Strategi Quantum Quotient ini merupakan cara untuk pengkodean sehingga membantu proses penyimpanan dan menyerap kembali baik dalam ingatan jangka panjang maupun jangka pendek, karena sistem tersebut memungkinkan kita menyimpan informasi di dalam memori sehingga mampu memperoleh kembali bila dibutuhkan.
Dalam teknik Quantum Quotient atau kecerdasan Quantum fungsi otak kanan diahtifkan karena anak dilatih untuk membuat suatu cerita, berimajinasi, lagu atau irama atau gambar, sehingga suatu materi menjadi sesuatu yang unik dan menarik dan menyenangkan. Dengan demikian anak akan lebih mudah dan lebih cepat dalam menghafal, sama seperti pada waktu berkemah, maka akan lebih memudahkan untuk mengatur peralatan-peralatan yang banyak, yang pada awalnya memang dibutuhkan banyak waktu dan usaha namun kalau sudah sekali dilakukan maka proses retrieval (mendapatkan informasi kembali yang dibutuhkan akan lebih mudah). Informasi organisasi tersebut terjadi baik diingatan jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam ingatan jangka pendek (short term memory) kapasitasnya dapat kita perluas kalau kita melakukan chanking terdapat informasi yang baru masuk, sedangkan dalam ingatan jangka panjang kapasitasnya berhubungan dengan skema organisasi subyek. Dengan demikian penkodean informasi dalam katagori-katagori dapat mempermudah proses mengingat kembali.
Namun ada beberapa pengkodean dalam menerima suatu informasi dan setiap orang mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam mengingat informasi, misalnya secara visual yaitu dengan gambar, struktur benda, peta dan kata tertulis dibandingkan dengan instruksi yang diberikan secara lisan, sebaliknya yang memiliki kecenderungan dengan audiotori lebih suka memproses informasi melalui telinga dan mereka lebih mudah menampilkan kembali ingatan irama, jingel, puisi, sajak, dam hampir semua orang mempunyai kecenderungan kinestik, artinya, kita belajar lebih baik jika kita melakukan, merasakan, mengalami sesuatu dalam bentuk nyata.[4]
Sebagaimana yang dijelaskan pada latar belakang masalah, bahwa strategi Quantum Quotient (QQ) adalah merupakan strategi yang mampu mengoptimalkan seluruh potensi diri secara seimbang, sinergi, dan komprehensif yang meliputi kecerdasan intelektual (IQ) kecerdasan emosional ( EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).[5]
Awal langkah Quantum Quotient (QQ) andalah mengembangkan kecerdasan intelektual yang meliputi pengenalan potensi otak manusia yang sangat besar : 100 milyard sel aktif sejak lahir, serta pengembangan otak kiri yang berfikir urut, persial, dan logis dengan otak kanan yang berfikir acak, holistik dan kreatif. Kemudian mengaktifkan lapisan otak reptile (instinctive), lapisan mamalia (feding) dan lapisan neo-cortex (berfikir tingkat tinggi). Otak sadar dan bahwa sadar juga merupakan bagian penting untuk optimasi intektual.
Berikutnya adalah melangkah kemulti intelligence yang meliputi kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Sebelum kita melanjutkan pembahasan terlebih dahulu penulis membahas tentang kecerdasan intelektual (IQ) kecerdasan intektual (IQ) adalah syarat minimum kopetensi.
Di sini penulis mengambil contoh dari beberapa strategi yang berhubungan dengan kecerdasan intelektual (IQ), yakni tentang ingatan.
Ingatan adalah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya berpusat dalam otak.[6] Winkel mengatakan bahwa ingatan adalah suatu aktifitas kognitif di mana manusia menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau.[7] Demikian juga yang diungkapakan Abu Ahmadi bahwa ingatan adalah suatu daya yang dapat menerima, menyimpan, dan memproduksi kembali kesan-kesan, tanggapan dan pengertian.[8] Dengan demikian ingatan itu tidak hanya kemampuan untuk menyimpan apa yang pernah dialami pada masa lampau, namun juga termasuk kemampuan untuk menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali, kemampuan mengingat ini tidak hanya diperlukan dalam proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tapi juga dalam proses berpikir, kemampuan kognitif dan kemampuan-kemampuan yang lain. Dengan kata lain bahwa, kecakapan kognitif menurut seorang anak untuk mempunyai beberapa keahlian yang tepat, salah satunya adalah daya ingat yang baik. Namun, tidak semua ingatan yang baik dimiliki oleh setiap anak, hal ini disebabkan karena memori atau ingatan kita dipengaruhi oleh: sifat seseorang, alam sekitar, keadaan jasmani, keadaan rohani (jiwa) dan umur manusia.[9]
Menurut Atkinson dkk (1987) Proses mengingat dibagi dalam tiga tahapan yaitu :
a.       Memasukkan.
Dalam tahap memasukkan, kesan-kesan diterima dan di pelajari baik secara spontan atau disengaja maupun sadar atau tidak sadar.
Pada tahap memasukkan ini, terjadi pula proses enconding. Enconding adalah proses perubahan informasi menjadi simbol-simbol atau gelombang-gelombang listrik tertentu sesuai dengan perangkat organisme yang ada.
b.      Menyimpan.
Setelah enconding selesai dilakukan baru dapat dilakukan penyimpanan selama waktu tertentu, pada tahap ini terjadi penyimpanan beberapa catatan, kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman sebelumnya.
c.       Mengeluarkan Kembali.
Tahap ini merupakan tahap untuk mengingat kembali (Remembering) atau memperoleh kesan – kesan pengalaman yang telah disimpan dalam ingatan batasan tersebut menunjukkan bahwa informasi tidak hanya disimpan saja, tetapi harus dapat dipanggil kembali, terjadi proses kelupaan.
Gambar 1.1
            Skema Proses Mengingat
                  Memasukkan                                                            Mengeluarkan Kembali

            Menyimpan
Kecerdasan Emosi (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Menurut Howard Gardner kecerdasan Emosi (EQ) terdiri dari dua kecakapan yaitu: intrapersonal Intelligence dan Inrapersonal Intelligence. Demikian juga dengan pendapat tokoh spiritual terbesar, pendiri filsafat Illuminasi, yakni Syihabuddin Suhrawardi Al- Maqtul, “….beliau Aristoteles mulai berbicara kepada saya dalam sebuah penampakan tentang gagasan bahwa manusia harus melakukan penyelidikan pertama-tama mengenai (masalah) pengetahuan tentang realitas dirinya, dan selanjutnya, menyelidiki (pengetahuan orang lain) yang berada di luar (realitas dirinya)”.[10]
Jadi kecerdasan Emosi (EQ) sangat berpengaruh sekali dalam proses belajar mengajar. Untuk itu kecerdasan Emosi harus di kembangkan oleh setiap siswa. Begitu pula seorang pendidik  harus mengetahui begaimana cara yang terbaik untuk mengukur kecerdasan Emosi (EQ) seseorang atau dirinya sendiri. Menurut Daniel Goleman salah satu cara terbaik untuk mengukur EQ seseorang yakni dengan kerangka kerja yang terdiri dari lima kategori utama yaitu:
1).    Kesadaran diri, meliputi : kesadaran emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri.
2).    Pengaturan diri, meliputi : pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada, adaptif, komitmen, inisiatif dan optimis.
3).    Motivasi, meliputi : dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif, dan optimis.
4).    Empati, meliputi : memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman, dan kesadaran politis.
5).    Keterampilan sosial, meliputi : pengaruh komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja tim.
Setelah mengetahui cara mengukur EQ, maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan EQ, agar kegiatan belajar mengajar dapat berhasil dengan baik. Demikian pula di sini cara yang terbaik untuk menerapkan dan mengembangkan EQ adalah sebagai berikut :
Menurut John Gottman adalah:[11]
1).    Menyadari Emosi Anak.
Seorang pendidik harus dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anak didiknya. Karena seringkali siswa mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara-cara yang membingungkan, contoh dalam suatu kelas meskipun pelajaran sudah dimulai masih ada saja dari beberapa siswa yang ngobrol sendiri, mainan, pukul-pukul bangku, dan lain-lain.
Intinya adalah karena setiap siswa mempunyai alasan bagi emosi mereka, ketika setiap kali pendidik merasa bahwa hatinya berpihak pada anak tersebut, maka dia akan merasakan apa yang sedang di rasakan oleh anak tersebut.
2).    Mengakui Emosi Sebagai Kesempatan.
Setelah seorang pendidik mengetahui emosi anak didiknya, kemudian mengetahui pengalaman-pengalaman negatif yang pernah di alami, maka seorang pendidik harus dapat membangun kedekatan dengan anak-anak mereka. Dan membantu menangani perasaan mereka.
3).    Mendengarkan Dengan Empati.
Pendidik harus bisa bersikap dengan penuh perhatian, berbicara dengan santai. Dan dengan mengamati petunjuk fisik emosi anak.
4).    Mengungkapkan Nama Emosi.
Menolong anak memberi nama emosi sewaktu emosi itu mereka alami dan semakin tepat jika seorang anak tersebut dapat mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata, maka kita dapat membantu mereka mencamkannya betul-betul di otaknya, misalnya, apabila ia sedang marah, boleh jadi ia juga merasa kecewa.
5).    Membantu Menemukan Solusi.
Proses ini memiliki lima tahap :
a).    Menentukan batas-batas.
b).    Menentukan sasaran.
c).    Memiliki pemecahan yang mungkin.
d).   Mengevaluasi pemecahan yang disarankan berdasarkan nilai-nilai keluarga.
e).    Menolongnya memilih satu pemecahan.
6).    Jadilah Teladan.
Menurut kaca mata Quantum Teaching, keteladanan adalah tindakan paling ampuh dan efektif yang dapat di lakukan oleh seorang pendidik. Keteladanan dapat mempengaruhi perilaku dan tindakan tanpa banyak kata-kata. Siswa pada umumnya lebih senang melihat teladan dari pada banyak diceramahi panjang lebar.
Kecerdasan spiritual (SQ) menurut Danah Zohar adalah “kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar. Inilah kecerdasan yang kita gunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, melainkan juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru”.[12]
Menurut Sinetar “kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, theisness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian”.
Sementara menurut, Khalil Khavari, kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi non material kita-ruh manusia.
Sedangkan menurut Pak Muh (Muhammad Zuhri) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk “berhubungan” dengan Tuhan.
Dr. Dimitri Mahayana menunjukkan beberapa ciri orang yang ber- SQ tinggi, beberapa diantaranya adalah :
a).    Memiliki prinsip dan visi yang kuat.
b).    Mampu melihat kesatuan dalam keragaman.
c).    Mampu memaknai setiap sisi kehidupan dan.
d).   Mampu mengelola, bertahan dalam kesulitan dan penderitaan. [13]
2.      Teknik-Teknik Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum).
Strategi Quantum Quotient merupakan suatu metode yang meliputi pengembangan tiga aspek : intelektual, emosioan dan spiritual.
Dengan menerapkan beberapa teknik Quantum Quotient (kecerdasan Quantum) akan membantu untuk melejitkan intelektual, emosional dan spiritual.
Untuk itu dalam proses untuk  melejitkan intelektual, emosional dan spriritual dengan mudah, maka teknik Quantum Quotient menggunakan prinsip asosiasi (penghubung) dengan sesuatu yang lain. Teknik Quantum Quotient (kecerdasan Quantum) yang akan dibahas berikut yang akan melejitkan intelektual, emosional dan spiritual, hanya dengan sedikit usaha diantaranya :
a.       Teknik menghafal cepat.
Menghafal adalah proses menyimpan data kememori otak.[14] Kemampuan menghafal manusia sangat besar sekali, menurut Tony Buzan, kapasitas memori otak adalah 10800 (angka 10 diikuti 800 angka 0 dibelakangnya), bila memori untuk menghafal seluruh atom dialam semesta maka kapasitas memori masih bersisah banyak sekali, kita harus bisa membedakan istilah menghafal dengan daya serap adalah kemampuan menyerap kembali data-data yang telah tersimpan dimemori.
Sebagian besar orang memiliki persoalan didaya serap menghafal, teknik menghafal cepat di sini merupakan cara menghafal lebih cepat sekaligus meningkatkan daya serap.
Dalam teknik menghafal cepat terdapat beberapa metode yang dapat membantu menghafal cepat.
1).    Sistem control.
Cara menggunakan sistem control adalah dengan membuat cantolan, mengasosiasikan dengan materi yang dihafal, mengimajinasikan secara kreatif.[15]
Misalnya apabila kita ingin menghafal 10 Tokoh berikut tanpa bertukar :
                                                1.      Nabi Muhammad.
                                                2.      Isaac Newton.
                                                3.      Nabi Isa (yesus).
                                                4.      Budha gautama.
                                                5.      Kong Hu Chu.
                                                6.      St. Paul.
                                                7.      Ts’ai Lun.
                                                8.      Johann Guttenberg.
                                                9.      Christoper Colombus.
                                            10.      Albert Einstein.
2).    Menyanyi/kata penanda.
Sistem kata penanda adalah alat mengingat dengan mengasosiasikan menggunakan obyek kongkrit, sistem kata penanda ini sangat membantu dalam mengingat angka, kata penanda dapat berupa kata-kata yang anda ciptakan sendiri atau kata-kata yang sudah dikenal dimasyarakat, seperti : kata penanda dari lagu dua mata saya, jadi, dua adalah  mata, satu adalah mulut, hidung adalah satu  dan seterusnya.[16]
3).    Gerakan.
Menghafal sambil melakukan gerakan sangat membantu mengahtifkan memori, otak kita memiliki satu pusat kecerdasan yang disebut bodily – kinestethyc intelligence – kecerdasan gerak.[17]
Gerakan dapat membuat otot-otot lebih rileks, santai dan juga membangkitkan semangat, mengusir kemalasan dan kejenuhan.
Teknik gerakan ini sangat membantu untuk menghafal suatu ungkapan yang harus sama persis, tepat tanpa ada kesalahan kata demi kata, umumnya sangat bermanfaat untuk menghafal ungkapan-ungkapan dalam bahasa asing, misalnya : mengajarkan anak ketika mengerjakan sholat.
4).    Konsonan kreatif.
Konsonan kreatif ini digunakan untuk menghafal sesuatu yang berhubungan dengan angka-angka, nomor telepon, nomor rekening, kode rahasia dan lain-lain.[18]Cara menguasai konsonan kreatif ini sangat sederhana, mula-mula gantilah angka-angka yang akan dihafal dengan konosonan (huruf mati). Dari konsonan ini kemudian kita bentuk kata atau kalimat yang menarik sehingga mudah dihafal dan diingat, misalnya :
1.      Satu           – Tu                  : T
2.      Dua           – Dua               : D
3.      Tiga           – Ga                 : G
4.      Empat        – Pat                 : P
5.      Lima          – Ma                 : M
6.      Enam         -Nam               : N
7.      Tujuh         – Ju                  : J
8.      Delapan     – Lapan            : L
9.      Sembilan   – Bilan             : B
10.  Kosong      – Kosong         : K
Misalnya kita disuruh menghafalkan nomor telepon berikut : Budi : 442809.
Prosesnya adalah sebagai berikut :
Kita buat konsonan dari nomor telepon menjadi PPDLKB. Kemudian kita membuat kalimat yang menarik PaPaDuLuKoBoy
b.      Teknik berpikir kreatif.
Dalam berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat diantaranya :
          Kreatifitas melibatkan respon atau gagasan yang baru.
          Memecahkan persoalan secara realistic.
          Kreatifitas merupakan usaha untuk mempertahankan in-sight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin.[19]
Ketika berpikir kreatif, jenis berpikir evaluatif adalah sangat membantu dalam kreativitas karena menyebabkan kita menilai gagasan-gagasan secara kritis.
c.       Teknik membaca cepat.
Membaca memiliki beranega ragam arti, antara lain adalah : menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya.[20]
Menurut Quarish Shihab dalam Tafsirnya (Pustaka Hidayah 1997), membaca itu mencakup telaah alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak.[21]
Sedangkan menurut Tony Buzan membaca adalah hubungan timbal balik individu secara total dengan informasi simbolik. Membaca biasanya merupakan aspek visual belajar, dan berisi tujuh langkah berikut : pengenalan, asimilasi, intra-integrasi, ekstra-integrasi, penyimpanan, mengingat dan komunikasi.[22]
Salah satu cara mempercepat membaca dengan pertama melompat belakang dan regresi dapat dihilangkan, dengan hanya mempertimbangkan kata-kata yang perlu, kata-kata yang perlu dipertimbangkan kira-kira 10 persen, sisanya dapat diperkirakan dengan cerdas, kedua, waktu untuk setiap fiksasi dapat mendekati yang detik, ketiga, ukuran fiksasi dapat diperluas.
d.      Teknik berhitung cepat.
Dalam teknik berhitung cepat terdapat beberapa cara diantaranya Alkhawarizmi, Trachtenberg, Onde-onde melenium, sempoa dan sapu tangan yang semuanya ini adalah cara menghitung cepat yang sangat membantu dalam berhitung cepat.
Contoh Alkhawarizmi, Trachtenberg kuadrat dua angka.
Bila angka satuannya berupa angka 5 dikerjakan dengan cara sebagai berikut : 152 = 225 dari 1 x (1+1) = 2 dan 52 = 25 menjadi 225.
3.      Langkah-Langkah Penggunaan Strategi Quantum Quotient Dalam Pendidikan Agama Islam (PAI).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quantum Quotient mampu melejitkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, serta mampu membantu kita menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan di sekolah, berbagai macam strategi Quantum Quotient diperlukan untuk mengerjakan tugas yang berbeda-beda, oleh karena itu kita tidak dapat mengklaim adanya strategi yang terdapat di Quantum Quotient yang dapat digunakan untuk melejitkan intelektual, emosional dan spiritual justru dalam menggunakan strategi Quantum Quotient harus memutuskan teknik apa yang paling cocok dan efektif untuk tugas pembelajaran yang harus dihadapi.
Untuk itu, dalam pembelajaran PAI tepatnya pada materi al-Qur’an, akhlak dan fiqih yang paling cocok dan efektif menggunakan teknik menghafal cepat, yang meliputi, sistem control, menyanyi gerakan dan konsonan kreatif, teknik berpikir kreatif, teknik membaca cepat dan teknik menghitung cepat adalah sebagai berikut :
a.       Teknik menghafal cepat.
Teknik membaca cepat di sini dapat diperoleh dengan beberapa cara diantaranya : sistem cantolan, menyanyi atau kata penanda, gerakan dan konsonan kreatif.
1).    Untuk sistem cantolan.
a).    Kita membuat cantolan.
b).    Mangasostasikan dengan materi yang dihafal.
c).    Mengimajinasikan secara kreatif.
d).   Mengulanginya bila diperlukan.[23]
Misalnya bila kita ingin menghafal 10 tokoh berikut dengan urut tanpa tertukar :
                                                  1.        Nabi Muhammad.
                                                  2.        Isaac Newton.
                                                  3.        Nabi Isa (yesus).
                                                  4.        Budha gautama.
                                                  5.        Kong Hu Chu.
                                                  6.        St. Paul.
                                                  7.        Ts’ai Lun.
                                                  8.        Johann Guttenberg.
                                                  9.        Christoper Colombus.
                                                  10.    Albert Einstein.
Dalam contoh ini, cantolan yang dapat kita gunakan adalah angka itu sendiri, kemudian kita buat cantolan sebagai berikut :
1.      Ratu.                              
2.      Gua.
3.      Raga.
4.      Tempat.
5.      Trima.
6.      Senam.
7.      Baju.
8.      Balapan.
9.      Camilan.
10.  Sesepuh.
Kita akan mudah menghafal cantolan ini karena suku terakhirnya senada dengan angka : tu, ua, ga, pat, ma, nam, ju, pan, lan, luh.
Langkah berikutnya adalah membuat asosiasi antara cantolan dengan 10 tokoh dunia, gunakan otak kanan kita yang kreatif.
Ratu-Muhammad 
Gua-newton        
Raga-Yesus
Tempat-Budha
Trima-Kong Hu Chu
Senam-Paul
Baju-Ts’ai Lun
Balapan-Guttenterg
Camilan-Colombus
Sesepuh-Einstein
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Seorang Ratu yang cantik sekali ingin masuk Islam, ia menemui Nabi Muhammad.
Ratu itu dulunya tinggal di Gua yang terdapat berton-ton batu yang tersusun sesuai dengan rumus Newton.
Dibantu yang bertonton itu terdapat salib, yang ada raganya Yesus. Mung ia dulunya beragama Kristen.
Setelah masuk ke Gua lebih dalam lagi ditemukan tempat bertapa gaya Budha.
Tetapi ia mengatakan “saya terima kasih atasan sokongan Kong Hu Chu dan pelajaran  senamnya”.
Ia suka senam dengan teman gaulnya yaitu Paul.
Anehnya, kalau senam di sekitar alun-alun itu pakai baju kertas buatan Tsa’i Lun.
Setelah itu, mereka balapan pai mesin seabeng buatan Guttenberg.
Ada anak nakal, balapan sambil bawa camilan dan naik bus, Columbus.
Sampai ia terdampar di Amerika ketemu
sesepupuhnya yang berkumis tebal, berambut   jabrik sedang masuk angina, Einstain.
Setelah itu sekarang marilah kita ringkas sistem cantol 10 tokoh dunia di atas agar lebih efisien, tetapi cukup kita fokuskan pada kata-kata kunci sebagai berikut :
Ratu                – Islam                         – Muhammad
Gua                 – berton-ton                 – Newton
Raga                – salib                           – Isa (Yesus)
Tempat            – bertapa                      – Budha
Trima kasih      – sokong                      – Kong Hu Chu
Senam             – gaul                           – Paul
Baju kertas      – sekitar alun                – Tsa’i Lun
Balapan           – mesin scabreg            – Guttenberg
Camilan           – naik bus                     – Columbus
Sesepuh           – masuk angina            – Einstein
2).    Menyanyi atau kata penanda.
Pada teknik menyanyi ini, menuntut seorang guru untuk bersifat kreatif. Seorang guru harus mengerti materi apa yang tepat dijadikan lagu atau irama agar siswa mudah untuk menyerap pelajaran yang telah disampaikan. Misalnya menghafal sifat wajib bagi Allah dan nama-nama Malaikat yang kesemuanya itu lebih tepat menghafal jika dilagukan.
3).    Gerakan.
Teknik menghafal cepat menggunakan gerakan ini sangat membantu untuk menghafal sesuai ungkapan yang harus sama, persis, tepat tanpa ada kesalahan kata demi kata. Teknik ini biasanya dipakai dalam materi Fiqih bab sholat, yang mana dubutuhkan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab dengan tepat tanpa ada kesalahan sedikitpun. Biasanya siswa disuruh mempraktekkan gerakan-gerakan sholat beserta bacaannya.
Sesuai dengan 5 prinsip Quantum Learning yakni :
1.      Ucapkan everything speaks (segalanya berbicara) : sambil menggerakkan kedua tangan ke atas kepala, kemudian menggerakkan tangan kiri ke sebelah kiri, tangan kanan ke sebelah kanan membentuk gerakan lingkaran besar melambangkan keseluruhan. Everything, selanjutnya, tempatkan tangan kanan di dekat jari tangan seakan-akan mewakili bibir berbicara, speaks.
2.      Ucapkan Everything is on purpose (segalanya memiliki maksud) : gerakkan tangan seperti langkah pertama di atas : Everything, selanjutnya tempatkan tangan kiri di depan dada dada mengadah ke atas lalu gerakan tangan kanan seolah-olah menaruh sesuatu di atas tangan kiri, is on purpose.
3.      Ucapkan acknoeledge every effort (hargai setiap usaha) : bertepuk tanganlah : acknowledge, lalu kepalkan tangan kanan di kanan, tangan kiri di kiri seolah-olah sedang berusaha lari, every effort.
4.      Ucapkan experience before label (alami sebelum menamai) : kepalkan kedua tangan seolah-olah berusaha lari : experience lalu taruh tangan kiri di depan dada tengah ke atas disusul tangan kanan telungkup 15 cm di atas tangan kiri seolah-olah memberi tahu panjang sesuatu : before label.
5.      Ucapkan if it’s worth learning, it’s worth celebrating (jika sudah layak dipelajari, layak pula dirayakan) : gunakan telunjuk kanan untuk kepala bagian kanan seolah-olah sedang berpikir keras : if it’s worth learning, kemudian lambaikan kedua tangan tinggi-tinggi seolah-olah sedang merayakan kemenangan : it’s worth Celebrating.[24]
b.      Teknik berpikir kreatif.
Langkah-langkahnya :
1.      Sibukkan diri anda mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
2.      Berpikir empat arah – lihatlah berbagai sudut.
3.      Alternatif – hasilkan ide sebanyak-banyaknya.
4.      Desain kombinasi baru – carilah kombinasi terbaik dari semua ide.
5.      Ukur – tetapkan kombinasi terbaik.
6.      Terapkan.[25]
Teknik berpikir kreatif ini biasanya digunakan dalam pembelajaran Fiqih.
c.       Teknik membaca cepat.
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
1.      Bacalah hanya kata-kata yang penting yaitu judul dan sub judul, kemudian catatlah yang diperoleh dari langkah pertama dalam bentuk peta pikiran.
2.      Renungkanlah apa yang telah diperoleh dari langkah pertama, praktekkanlah dengan cerdas hubungan antara masing-masing sub judul dengan judulnya, kemudian perkirakan dengan cerdas pula apa yang dibahas dalam masing-masing sub judul.
3.      Bacalah kembali hanya kata-kata yang perlu, yaitu satu kalimat pertama untuk setiap paragrap. Karena ide pertama setiap paragrap ada dikalimat utama yaitu kalimat utama masing-masing paragraph.
4.      Renungkanlah kembali apa yang telah kita peroleh.
5.      Bacalah bagian bacaan yang menurut kita perlu atau menarik.
6.      Lengkapilah peta pikiran.[26]
d.      Teknik berhitung cepat.
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
Untuk teknik berhitung cepat di sini seorang guru harus lebih pandai dalam memilih materi apa yang cocok dalam menerapkan teknik berhitung cepat, karena dalam teknik berhitung cepat di sini banyak sekali alternative untuk menyelesaikan satu persoalan.
B.     Kajian Tentang Prestasi Belajar
1.      Pengertian Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI).
Prestasi belajar pendidikan Agama Islam adalah sebuah rangkaian kalimat yang terdiri dari tiga kata, yakni, prestasi, belajar dan pendidikan Agama Islam (PAI), yang mempunyai arti yang berbeda-beda, berikut ini pembahasan dari masing-masing kata, antara lain yaitu :
“Prestasi berarti hasil usaha”.[27]Sedangkan menurut istilah prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok prestasi tersebut.[28]
Sedangkan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalamannya.[29]Sendiri dari interaksi dengan lingkungan.
“Prestasi belajar” adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.[30]Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau simbol yang dapat mencerminkan hasil yang telah dicapai oleh siswa atau anak dalam pereode tertentu, misalnya tiap semester yang dinyatakan dalam raport.[31]
Sedangkan pendidikan Agama Islam (PAI) di sini lebih pada pendidikan yang bersumber pada ajaran Islam. Hakikat pendidikan mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah anak didik melalui ajaran Agama Islam.[32]Sedangkan pendidikan Agama Islam (PAI) diartikan sebagai proses pembimbing, mengarahkan dan mengajarkan anak untuk mencapai tujuan yang tetapkan yaitu menanmkan taqwa serta menegakkan kebenaran sesuai dengan ajaran Agama Islam.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan mengenai pengertian”prestasi belajar pendidikan Agama Islam (PAI)”, yakni perubahan yang terjadi pada siswa sebagai suatu bimbingan seorang guru untuk mencapai tujuan yang ditetapkan yang dinyatakan dalam bentuk angka. Huruf maupun simbol yang merupakan cerminan dari hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam waktu tertentu yang dinyatakan dalam raport.
Adapun dalam al-Qur’an yang terdapat dalam surat Al-Qhqaf ayat 19 yang berbunyi :
 وَلِكُلِّ دَرَجَتٌ مِمَّاعَمِلُوْاوَلِيُوَفِيْهِمْ اَعْمَلَهُمْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُوْنَ.
Artinya : “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka, serta mereka tiada dirugikan”.[33]
            Pada ayat tersebut sudah dijelaskan dinyatakan bahwa prestasi seseorang disesuaikan dengan amalan-amalan yang telah dikerjakan, dan Allah tidak mengurangi balasan dari pekerjaan mereka karena prestasi yang dicapai itu berkat usaha mereka sendiri.
            Begitu juga bagi seorang siswa  diwajibkan untuk meningkatkan prestasi belajarnya, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Jenis-Jenis Prestasi.
Dalam sistem pendidikan Nasional atau rumusan pendidikan mempunyai beberapa tujuan, baik itu beberapa tujuan, baik itu tujuan kurikulumnya maupun tujuan instruksional, pada penelitian ini menggunakan klasifikasi hasil belajar (prestasi belajar).
Prestasi belajar menurut Benyamin Bloom secara garis besar dibagi 3 ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotorik.
a.       Ranah kognitif.
Pada ranah ini mempunyai beberapa tingkatan, yaitu :[34]
1).    Pengetahuan (knowledge).
2).    Pemahaman (comprehension).
3).    Penerapan (application).
4).    Penguraian (analysis).
5).    Pemanduan (syntesis).
6).    Penilaian (evaluatif).
Perubahan yang terjadi pada ranah kognitif ini tergantung pada tingkat kedalaman belajar yang dialami oleh siswa. Dengan pengertian bahwa perubahan yang terjadi pada ranah diharapkan seorang siswa mampu melakukan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapinya sesuai dengan bidang studi yang dihadapinya.
b.      Ranah affektif.
Adapun jenis katagori dalam ranah ini adalah sebagai hasil dari belajar yang mulai dari tingkat dasar sampai yang kompleks, yaitu :
1).    Menerima rangsangan (receving).
2).    Merespon rangsangan (responding).
3).    Menilai sesuatu (valuing).
4).    Mengorganisasi nilai (organization).
5).    Menginternalisasikan (mewujudkan) nilai-nilai (characteazion by value or value compleks).
Pada ranah afektif ini harapkan siswa mampu lebih peka terhadap nilai dan etika yang berlaku, dalam bidang ilmunya perubahan yang terjadi cukup mendasar, maka siswa tidak hanya menerimanya dan memperhatikan saja, melainkan mampu melakukan satu sistem nilai yang berlaku dalam bidang ilmunya.[35]
Pada tipe belajar ini ditampak pada siswa pada berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai dan teman di kelas dan kebiasaan di lingkungan yang baik.
c.       Ranah psikomotorik.
Dalam ranah psikomotorik ini erat sekali dengan ketrampilan yang bersifat konkret, walaupun demikian tidak terlepas dari kegiatan belajar yang bersifat konkret, walaupun demikian tidak terlepas dari kegiatan belajar yang bersifat mental (pengetahuan dan sikap). Dalam hal ini belajar merupakan tingkah laku yang nyata dan dapat dialami.
Dari araian di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar khususnya pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sebuah proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku seseorang yang sesuai dengan tujuan pendidikan Agama Islam (PAI). Baik yang meliputi aspek kognitif, affektif dan psikomotorik, maupun aspek-aspek yang lain sehingga perubahan sifat yang terjadi pada masing-masing aspek tersebut tergantung pada tingkat kedalaman belajar.
3.      Kriteria Prestasi Pendidikan Agama Islam (PAI).
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar mengajar yang telah dilakukannya dan untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar, maka digunakan kriteria penilaian sebagai acuan tingkat keberhasilan sejalan dengan kurikulum yang telah ditentukan saat ini sebagai berikut :
a.       Istimewa.
Apabila seluruh pelajaran yang dapat dikuasai oleh siswa.
b.      Baik sekali.
Apabila 80-90 % pelajaran yang diajarkan dapat dikuasi oleh siswa.
c.       Baik.
Apabila 70-80 % pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
d.      Cukup.
Apabila 60-70 % pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
e.       Kurang.
Apabila 60 % ke bawah pelajaran dapat dikuasai oleh siswa.
Dengan melihat kriteria terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran yang prosentase keberhasilan siswa, sebelum mencapai tujuan instruksional khusus, dapat diketahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dicapai oleh siswa dan guru.[36]
4.      Penilaian Proses Belajar Mengajar.
Menurut Nana Sudjana, bahwa penilaian proses belajar mengajar memiliki kriteria, yaitu :
a.       Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum.
Kurikulum adalah program belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek :
1).    Tujuan-tujuan pengajaran.
2).    Bahan pengajaran yang diberikan.
3).    Jenis kegiatan yang dilaksanakan.
4).    Cara melaksanakan jenis kegiatan.
5).    Peralatan yang digunakan untuk masing-masing kegiatan, dan.
6).    Penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan.
b.      Keterlaksanaannya oleh guru.
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat dilihat dalam hal :
1).    Mengkodisikan kegiatan belajar siswa.
2).    Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar.
3).    Waktu yang disediakan untuk waktu belajar mengajar.
4).    Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa.
5).    Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa.
6).    Menggeneralisasikan hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar mengajar berikutnya.
c.       Keterlaksanaannya oleh siswa.
Dalam hal ini dinilai sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar mengajar dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti, keterlaksaan siswa dapat dilihat dalam hal :
1).    Memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
2).    Semua siswa turut melakukan kegiatan belajar.
3).    Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
4).    Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
5).    Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.
d.      Motivasi belajar siswa.
Keberhasilan dalam belajar mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar  yang ditunjukkan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat dalam hal :
1).    Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
2).    Semangat siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
3).    Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
4).    Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
5).    Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
e.       Kearifan para siswa dalam kegiatan belajar.
Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keahtifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, keahtifan siswa dapat dilihat dalam hal :
1).    Turut dalam melaksanakan tugas belajarnya.
2).    Terlibat dalam pemecahan masalah.
3).    Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.
4).    Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5).    Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
6).    Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
7).    Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis.
8).    Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
f.       Interaksi guru-siswa.
Interaksi guru dengan siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbale balik atau hubungan dua arah antara siswa dan guru dan atau siswa dengan siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat dalam hal :
1).    Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.
2).    Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual maupun secara kelompok.
3).    Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan sumber belajar.
4).    Senantiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator belajar.
5).    Tampilnya guru sebagai pemberi jalan ke luar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya.
6).    Adanya kesempatan mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh siswa.
g.      Kemampuan atau ketrampilan guru mengajar.
Ketrampilan atau kemampuan guru mengajar merupakan puncak guru yang professional sebab merupakan penerapan semua kemampuan yang telah diikutinya dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar dll, beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain adalah :
1).    Menguasai bahan pengajaran yang disampaikan kepada siswa.
2).    Terampil berkomunikasi dengan siswa.
3).    Mengusai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan siswa.
4).    Terampil menggunakan berbagai alat dan sumber belajar.
5).    Terampil menggunakan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan.
h.      Kualitas hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Salah satu keberhasilan proses belajar mengajar dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain adalah :
1).    Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.
2).    Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan intruksional oleh para siswa.
3).    Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan intruksional minimal 75 dari jumlah intruksional yang harus dicapai.
4).    Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya.[37]
5.      Evaluasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI).
Evaluasi adalah suatu tindakan yang digunakan untuk menentukan suatu nilai :
Jenis evaluasi ada 3 macam, yaitu :
1).    Evaluasi harian yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan setiap hari pada saat sebelum atau sesudah materi pelajaran disampaikan.
2).    Ulangan yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan setiap selesai materi satu atau dua bab yang disampaikan.
3).    Ulangan akhir semester yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir semester yang ditandai dengan pembagian raport.
Namun evaluasi atau penilaian yang dilakukan pada pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya 3 macam ini saja namun ada 3 tambahan, yaitu :
4).    Evaluasi hafalan yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan pada materi-materi hafalan.
5).    Evaluasi praktek yaitu kegiatan evaluasi yang dilakukan pada materi PAI yang harus dipraktekkan dalam suatu kegiatan.
6.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) dari siswa itu sendiri.
Sebagai ciri dilakukan ahtifitas belajar adalah adanya perubahan, baik perubahan dalam pengetahuan, kecakapan atau tingkah laku yang menuju tercapainya tujuan pendidikan Agama Islam yang dicita-citakan, karena prestasi belajar merupakan keberhasilan seseorang dalam belajar. Maka faktor-faktor yang mempengaruhi belajar akan berpengaruh juga terhadap prestasi yang dicapai seseorang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain :
a.       Faktor-faktor dari dalam pelajar (internal).
1).    Faktor jasmani.
Kondisi fisik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi siswa dalam proses belajar PAI, siswa yang dalam kondisi sehat jamaninya akan berbeda dengan siswa yang tidak sehat jasmaninya, karena belajar memerlukan kecakapan, keterampilan dan kemampuan berpikir, selain itu ketidak sempurnaan panca indera juga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, misalnya : cacat mata, telinga dan sebagainya. Karena kualitas panca indera merupakan syarat bagi suatu proses pembelajaran adalah pendengaran dan penglihatan.
2).    Faktor psikologis.
a).    Bakat.
Bakat juga merupakan faktor internak yang banyak mempengaruhi prestasi belajar siswa, setiap bakat inilah yang dapat memungkinkan siswa berkembang sesuai dengan keinginannya, setiap manusia memiliki bakat yang berbeda-beda, untuk mengembangkan bakat yang dimiliki, seorang harus mendapatkan bimbingan dan pengarahan yang efektif sebab kalau tidak, maka bakat tersebut tidak dapat berkembang.
b).    Kecerdasan.
Setiap individu yang lahir memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, kecerdasan dapat mempengaruhi cara berpikir dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai masalah yang dihadapi, oleh karena itu siswa akan berhasil jika dalam dirinya ada dorongan untuk belajar.
c).    Minat.
Minat adalah suatu gejala psikis yang ada pada seseorang yang direalisasikan dengan senang dan menunjukkan perhatian dengan perasaan dan perhatian yang berpusat pada suatu obyek. Sehingga seseorang tersebut mempunyai kecenderungan untuk melakukannya dan belajar dapat berjalan dengan baik bila disertai oleh minat.
d).   Motivasi.
Motivasi adalah dorongan dari dalam yang menimbulkan kekuatan individu untuk bertingkah laku guna memenuhi kebutuhan seseorang (siswa) akan  berhasil dalam belajar jika pada dirinya terdapat dorongan atau keinginan untuk belajar.
b.      Faktor-faktor dari luar pelajar (eksternal).
1).    Keluarga.
Keluarga adalah Ayah, Ibu dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah, seemua kondisi yang ada di dalam keluarga seperti tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup kurangnya perhatian orang tua  keanak, akrab tidaknya hubungan orang tua keanak atau antara Ayah dan Ibu dan lain sebagainya. Yang semua itu dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak, begitu juga dengan kondisi rumah serta kedaan cuaca.
2).    Sekolah.
Keadaan sekolah seperti tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar seperti kualitas guru, metode pengajaran, kesesuaian kurikulum, keadaan sarana dan prasarana dan sebagainya.
3).    Masyarakat.
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar jika kondisi masyarakat tidak mendukung pendidikan maka prestasi belajar akan menurun. Contohnya jika disekitar tempat tinggalnya terdiri dari orang-orang yang mendukung pendidikan yang rata-rata anaknya bersekolah dan baik moralnya, hal ini dapat memotivasi anak-anak untuklebih giat belajar. Dan sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan banyak anak yang tidak baik moralnya jarang yang bersekolah serta banyaknya pengangguran. Hal ini akan mengurangi semangat belajar atau masyarakat yang tidak menunjang sehingga motivasi belajar berkurang.
4).    Lingkungan sekitar.
Keadaan lingkungan tempat tinggal, juga sangat penting dalam mempengarui  prestasi belajar, keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.
C.    Pengaruh Strategi Quantum Quotient Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di SMPN 3 Gilang Sidoarjo.
Pendekatan strategi Quantum Quotient sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran, strategi Quantum Quotient merupakan salah satu cara dalam mencerdasan kegiatan intelektual, emosional dan spiritual siswa serta mempunyai peranan penting yang cukup besar dalam menentukan keberhasilan program pendidikan dan pangajaran.
Dengan menggunakan strategi Quantum Quotient pada proses belajar mengajar, siswa diharapkan lebih mampu meningkatkan prestasi belajar pendidikan Agama Islam. Teknil Quantum Quotient lebih meningkatkan penggunaan belahan otak kanan sebagaimana diketahui bahwa belahan otak kanan berkaitan erat dengan aktifitas-aktifitas kreatif yang menggunakan irama, musik, warna, gambar serat emosi subyek.[38]Sehingga proses pembelajaran menjadi sesuatu yang unik dan menyenangkan.
Mempelajari sistem Quantum Quotient bukan berarti menggantikan proses pembelajaran itu sendiri, Quantum Quotient hanyalah sebagai pelengkap, proses pembalajaran juga merupakan saran untuk mempermudah penguasaan pembelajaran. Di dalam strategi Quantum Quotient terdapat teknik membaca cepat, teknik berpikir kreatif dan teknik menghitung cepat.
Strategi Quantum Quotient ini dapat membantu siswa  pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Karena strategi Quantum Quotient merupakan sarana untuk mempermudah dalam penguasaan pelajaran. Dengan menggunakan beberapa teknik Quantum Quotient yang ada serta sedikit usaha dapat memperkuat menghafal cepat, membaca cepat pada materi pelajaran, sehingga dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dapat lebih efektif dan efisien serta lebih menarik perhatian siswa dengan begitu prestasi belajar siswa lebih meningkat. Dengan kata lain dengan menggunakan strategi Quantum Quotient dapat meningkatkan kecerdasan IQ, EQ, SQ sehingga siswa dapat menggunakan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran yang ada dan nilai hasil belajar siswa dapat meningkat lebih baik.
Penggunaan strategi belajar Quantum Quotient dalam proses belajar mengajar dapat membangkitakan dan minat baru bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa, karena penggunaan strategi belajar ini sangat membantu terhadap keefektifan proses pengajaran dan penyampaian isi pelajaran.
Untuk mengetahui apakah strategi belajar sebagai salah satu strategi pembelajaran yang mampu mempengaruhi prestasi belajar, maka perlu diketahui terlebih dahulu mengenai bagaimana sebenarnya proses balajar mengajar dapat dihubungkan antara critera proses belajar mengajar dapat mempengaruhi proses belajar dengan menggunakan strategi Quantum Quotient.
Namun demikian, peranan strategi belajar dalam proses belajar mengajar tidak akan terlihat bila dalam penggunaan tidak sejalan dengan isi dan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, karena itu tujuan pengajaran haruslah dijadikan pangkal acuan untuk menggunakan strategi belajar. Apabila diabaikan maka, maka strategi belajar bukan lagi sebagai alat bantu proses belajar mengajar, melainkan sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi Quantum Quotient mempunyai arti penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI).

[1] Kenneth L. Higbee, Your Memory, (Semarang: Dahara Prize, 2003), 157.
[2] Jean Marie Stine, Mengoptimalkan Daya Pikir, (Jakarta: Pustaka Delapratasa, 1997), 79.
[3] Karen Markowith, Eric Jensen, Otak Sejuta Bigabyte, (Bandung: Kaita, 2002), 72.
[4] Karen Markowitz, Eric Jenseen, Otak Sejuta, …….., 40.
[5] Agus Nggermanto, Quantum Quotient, (Bandung: Nuansa, 2005), 151.
[6] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 72.
[7] Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1987), 42.
[8] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 26.
[9] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, …., 26.
[10] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 2000), 30.
[11] John Gpttman, Kecerdasan Emosional : Kiat-Kiat  Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia, 1998), 81.
[12] Hidayat Nafaat Maja, Intelegensi Spritual, (Parenial Press, 2001).
[13] Agus Nggermanto, Quantum ,…., 34.
[14] Ibid, 55.
[15] IR. Agus Nggermanto, Quantum, ………, 59.
[16] Karen Margowitz, Eric Jensen, Otak Sejuta, ….., 83.
[17] IR. Agus Nggermanto, Quantum, ………, 64.
[18] IR. Agus Nggermanto, Quantum, ………, 67.
[19] IR. Agus Nggermanto, Quantum, …..…, 73.
[20] Ibid, 77.
[21] Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Pustaka Hidayah, 1997), 87.
[22] IR. Agus Nggermanto, Quantum,………, 78.
[23]  IR. Agus Nggermanto, Quantum, ……, 60.
[24] IR. Agus Nggermanto, Quantum, ……, 65.
[25] Colin Rose, Kuasai Lebih Cepat, (Bandung: Kaifa, 2002), 178.
[26] Colin Rose, Kuasai Lebih Cepat, …., 180.
[27] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksioanl Prinsip -Teknik-Prosedur, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991), 3.
[28] Saiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), 19.
[29] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,  (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990), 84.
[30] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:  Balai Pustaka, 2002), 895.
[31] Sutratina Tirtonegoro, Anak Supernormal dan Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1984), 48.
[32] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 31.
[33] Depag RI, al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Surabaya: Surya Citra Aksara, 1993), 25.
[34] Nana Sudjana, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990), 22-23.
[35] Muhibbin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media Karya Anak Bangsa, 1996), 71-72.
[36] Moh. Uzer Usman, Lilis Setiawati, Upaya optimalisasi Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), 1.
[37] Nana Sudjana, Penilaian Hasil, ……, 60-62.
[38] Colin Rose Malcolm S. Nicholl, Accelered Learning, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2003, 54.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: