PROGRESSIVISME

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

A.  Paradigma Progressivisme 
Dalam berbagai hal, pendidikan memang merupakan aspek terpenting dalam melakukan perubahan. Dengan kata lain, dengan pendidikan yang cukup serta kualitas manusia yang memadai maka akan tercipta produk manusia yang bermutu, atau dalam Islam di sebut sebagai Ulul Albab.[1] Dan hal itu tidak akan mudah terwujud manakala pendidikan sendiri sebagai sarana serta proses untuk melakukan hal tersebut belum mempunyai satu paradigma jelas dalam perkembangannya.
Banyak sekali paradigma pendidikan yang telah dilontarkan oleh beberapa orang. Namun, paradigma mana yang relevan untuk masa depan pendidikan terutama bagi masa depan pendidikan Islam dan khusus lagi bagi pendidikan di Indonesia perlu analisis spekulatif berdasarkan keadaan obyektif masyarakat masa depan, yakni masyarakat madani yang kedudukannya di tengah masyarakat global. Menurut Gibson; masa depan memiliki kriteria khusus yang ditandai dengan adanya hiper kompetisi, suksesi revolusi teknologi serta dislokasi dan konflik sosial, yang akan menghasilkan satu keadaan yang non linier dan sangat tidak dapat diperkirakan dari keadaan masa lampau dan masa kini. Masa depan hanya dapat dihadapi dengan kreativitas meskipun posisi keadaan sekarang memiliki peranan penting untuk memicu kreativitas kita itu.[2] Dan semua itu dalam pencapaiannya tentunya tak bisa dilepaskan dari peran pendidikan, sehingga diperlukan satu konsep yang matang dalam merealisasikan nya. 
1.   Pengertian Paradigma Progressivisme
Pada prinsipnya paradigma progressivisme terdiri dari dua suku kata yaitu: paradigma dan progressivisme. Paradigma berasal dari bahasa Inggris Paradigm[3] yang berarti: model pola, contoh. Dalam kamus ilmiah populer paradigma dapat diartikan sebagai contoh, tasrif, teladan, pedoman, dipakai untuk menunjukkan gugusan sistem pemikiran bentuk kasus dan pola pemecahannya.[4] Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia paradigma diartikan sebagai kerangka berpikir, model teori ilmu pengetahuan.[5] Sehingga paradigma dapat pula dianggap sebagai cara pandang, konstruk berpikir atau kerangka berpikir.[6] 
Sedangkan progressivisme mempunyai kata dasar yang berasal dari bahasa Inggris yakni: “progress” yang mempunyai arti kemajuan[7] Dalam kamus sosiologi dan kependudukan dijelaskan bahwa progressive: progresif adalah gerakan yang berusaha memperbaiki masyarakat dengan mengadakan perubahan-perubahan positif dalam lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi. Progressivisme sendiri diartikan sebagai kemampuan berpolitik yang mencerminkan sikap tindak liberalistis, yang selalu berkeinginan melakukan aksi-aksi yang spontan atau segera.[8] Pada prinsipnya progressivisme merupakan kata yang mempunyai makna mendalam bagi diri seseorang demi kemajuan dan perbaikan dalam segala hal
Dengan adanya kedua kata di atas, maka paradigma progressivisme merupakan salah satu pola pikir, cara pandang seseorang yang lebih mengedepankan aspek perubahan dan kemajuan. Dalam arti cara pandang yang selalu berorientasi pada kemajuan dan perbaikan dalam segala hal
2.      Dasar dan Tujuan Progressivisme
Progressivisme mempunyai satu konsep yang digunakan sebagai dasar yaitu konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar, dapat menghadapi, serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan dan mengancam adanya manusia itu sendiri. Berhubungan dengan hal itu progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bersifat otoriter, baik yang timbul dari zaman dahulu maupun pada zaman sekarang[9]
Dalam hal ini jelas bahwa dasar yang digunakan progressivisme adalah konsep perubahan, dan semua itu tak bisa dilepaskan dari peran manusia itu sendiri sebagai subyek yang melakukan perubahan. Karena bagaimana pun manusia diciptakan telah memiliki potensi-potensi untuk selalu melakukan perubahan.
Sedangkan tujuan yang hendak dicapai oleh progressivisme adalah lahir dan terciptanya manusia yang mempunyai orientasi dan cita-cita perubahan ke depan lebih baik dan lebih maju. Semua itu merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai, sesuai dengan karakteristik dan sifat dari pada aliran ini sendiri, yaitu lebih menekankan dan mengutamakan pada perubahan dan kemajuan.
3.      Latar Belakang
Dalam hal ini adanya paradigma progressivisme tak bisa dilepaskan dari aliran progressivisme. Progressivisme ditampilkan sebagai aliran filsafat pendidikan yang digunakan sebagai basis epistemologis bagi pengembangan pendidikan partisipatoris. Setidaknya ada beberapa alasan munculnya aliran progressivisme tersebut, Pertama, ia kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul dalam zaman dahulu maupun zaman sekarang.  Kedua, inti perhatiannya adalah pada kemajuan atau progress. Ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang oleh progressivisme merupakan bagian-bagian utama dari kebudayaan. Ketiga, pengalaman adalah ciri dinamika hidup. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sebagai ciri berikutnya yang Keempat, progressivisme tidak hanya mengakui ide-ide, teori-teori atau cita-cita sebagai hal yang ada, tetapi yang ada itu harus dicari artinya bagi kemajuan atau bagi maksud-maksud yang baik yang lain. Kelima, progressivisme mengharuskan manusia dapat memfungsikan jiwanya untuk membina hidup yang banyak persoalan dan yang silih berganti ini.[10]
4.      Perkembangan Aliran Progressivisme Dalam Pendidikan
Perkembangan progressivisme dapat ditarik jauh ke belakang sampai pada zaman Yunani purba, meskipun baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad 19. Namun akar perkembangan progressivisme dapat dilacak hingga tokoh-tokoh filosof Yunani seperti:
1)      Heraklitus (544-484 SM). Akar progressivisme dalam filsafat Heraklitus dapat terbaca pada salah satu pemikirannya yaitu: “sifat yang terutama dalam realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini, semuanya berubah-ubah kecuali asas perubahan itu sendiri”. Dengan berpijak pada konsep “segala sesuatu berubah”, dapat dimaknai bahwa dengan perubahan itu akan tercipta kemajuan atau progresivitas.
2)      Jean Jaques Rousseue (1721-1778 M), ia yakin bahwa manusia yang lahir sebagai makhluk yang baik, artinya kebaikan berada dalam manusia melulu, karena kodrat yang baik dari para manusia. Karena itu pastilah ia menghendaki kemajuan.
3)      Hegel, ia mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam proses perubahan dan penyesuaian yang tak ada hentinya.
Dalam abad ke 19 dan 20, tokoh-tokoh progressivisme terutama terdapat di Amerika Serikat. Thomas Paine dan Thomas Jefferson, memberikan sumbangan karena mereka percaya akan demokrasi dan penolakan terhadap sikap dogmatis, terutama dalam agama. Chales S. Peirce, mengemukakan teori pikiran dan hal berpikir, bahwa, “pikiran itu hanya berguna/berarti bagi manusia apabila pikiran itu “bekerja” yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi pikir tidak lain dari pada membiasakan  manusia untuk berbuat. Perasaan dan gerak jasmaniah (perbuatan) adalah manifestasi-manifestasi yang khas dari aktifitas manusia, dan kedua hal itu tidak dapat dipisahkan, perasaan dan perbuatan menjadi abstrak dan menyesatkan manusia”. Adapun tokoh progressivisme yang lebih terkenal, bahkan paling terkenal saat ini adalah John Dewey.[11]
5.  Pandangan Aliran Progressivisme dalam Pendidikan
Aliran progressivisme boleh dikatakan telah banyak berbuat dan melakukan inisiatif buat mengadakan rekonstruksi bagi dunia pendidikan modern dalam abad kedua puluh ini. Di dalam dunia pendidikan progressivisme banyak meletakkan tekanan dalam masalah kebebasan dan kemerdekaan kepada peserta didik. Di sekolah-sekolah progressivisme, kemerdekaan buat para siswa ini sangat diutamakan sekali. Mereka didorong dan diberanikan buat memiliki dan bertindak melaksanakan kebebasan mereka, baik secara fisik maupun dalam cara mereka berpikir.
Mereka diberikan kemerdekaan buat berinisiatif dan percaya kepada diri sendiri, sehingga si peserta didik itu dapat berkembang pribadinya dengan wajar dan dapat pula memperkembangkan minat dan bakat yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat dan terbentur kepada halangan dan juga rintangan yang dibuat oleh tangan orang lain. Kebebasan yang demikian itu merupakan predikat buat dapat menerima kenyataan, adanya perbedaan kepribadian setiap orang dan adanya watak dan juga bakat yang menonjol yang memberikan corak dan ciri kepada setiap pribadi si peserta didik.[12]
Karena progressivisme bercirikan atas penolakan segala bentuk otoritarianisme dan absolutisme. Disamping itu progressivisme juga menaruh kepercayaan penuh terhadap kuasa manusia dalam menentukan hidupnya. Faktor kebebasan penuh yang dimiliki oleh manusia menjadi ciri khas manusia progressivisme. Sederhananya, dalam konteks pendidikan progressivisme, manusia dipandang sebagai penentu atau pelaku aktif atas nasib dan hidupnya sendiri. Dengan kekuatan potensi-potensi yang dimilikinya, manusia bisa menentukan nasibnya sendiri. Tak ada kekuatan lain yang bisa mempengaruhi nasib dan hidupnya, kecuali dirinya sendiri.[13]
Dan diantara beberapa pandangan aliran progressivisme yang dapat dirangkum dan disederhanakan adalah sebagai berikut:
1.      Mengenai Pengalaman
Semua pendidikan sejati terjadi lewat pengalaman akan tetapi hal itu tidak berarti semua pengalaman bersifat edukatif. Setiap pengalaman bersifat salah didik kalau pengalaman itu mempunyai dampak mencacatkan proses pertumbuhan pengalaman selanjutnya. Tetapi bila pengalaman tersebut dapat meningkatkan ketrampilan, dapat mengubah seluruh kualitas pengalaman selanjutnya dan dapat menyebabkan memperoleh pengalaman yang lebih kaya di masa depan, itulah yang disebut dengan pengalaman yang bersifat edukatif.[14]
John Dewey menekankan tentang pentingnya prinsip kategori kontinuitas atau rangkaian kesatuan pengalaman. Menurut dia pada hakekatnya prinsip itu berdasarkan kebiasaan, andaikata kebiasaan itu ditafsirkan secara biologis ciri dasar dari kebiasaan yaitu bahwa setiap pengalaman yang diperagakan dan dialami, mengubah orang yang bertindak dan menjalani pengalaman tersebut. Sementara modifikasi nya mempengaruhi kualitas seluruh pengalaman berikutnya. Prinsip ini meliputi pembentukan berbagai sikap, yaitu sikap emosional dan intelektual meliputi semua kepekaan terhadap dasar kita dan segala cara menanggulangi dan menanggapi semua situasi yang kita jumpai dalam hidup. Dari sudut pandangan ini, prinsip kontinuitas pengalaman berarti bahwa setiap pengalaman mengambil sesuatu dari semua pengalaman yang berlangsung sebelumnya dan dengan cara tertentu mengubah kualitas semua pengalaman yang menyusul.[15]
2.      Mengenai Pengetahuan
Progressivisme tidak menyetujui adanya generalisasi baik apriori, aposteriori. Pengalaman sebagai suatu unsur utama dalam epistimologi adalah semata-mata bersifat khusus dan partikular.[16] Sedangkan konsep pengetahuan menurut aliran progressivisme yang dapat penulis rangkum adalah:  Pertama, fakta yang masih murni (belum diolah atau disusun) belum merupakan pengetahuan. Kedua, pengetahuan bukanlah kompilasi unsur-unsur atau fakta yang ditangkap oleh indera. Ketiga, progressivisme adalah teori pengetahuan, karena untuk memperolehnya progressivisme menggunakan metode induktif, rasional dan empirik. Jadi pengalaman sebagai unsur utama dalam epistimologi adalah semata-mata bersifat khusus atau partikular.
Keempat, progressivisme membedakan antara pengetahuan dengan kebenaran. Bagi progressivisme pengetahuan merupakan rangkaian kesan-kesan dan penerangan-penerangan yang terhimpun dari pengalaman yang siap untuk digunakan. Sedangkan kebenaran adalah hasil tertentu dari usaha untuk mengetahui, memiliki dan mengarahkan beberapa segmen pengetahuan agar dapat menimbulkan petunjuk dan penyelesaian. Kelima, nilai pengetahuan manusia harus di uji coba, maksudnya teori tersebut harus diuji dalam kehidupan praktis. Sehingga benar tidaknya tergantung pada hasil praktek. Keenam, teori pengetahuan dari aliran pragmatisme merupakan strategi selanjutnya dari konsepsi kurikulum progressivisme.[17]
3.      Mengenai Nilai
Pandangan progressivisme tentang nilai adalah sebagai berikut:
1)      Bagi aliran ini, nilai tidak timbul dengan sendirinya tetapi ada faktor lain yang merupakan prasyarat yaitu bahasa.
2)      Penggunaan bahasa sebagai salah satu sarana ekspresi tentu telah mendapat pengaruh yang berasal dari golongan, kehendak, perasaan dan kecenderungan masing-masing pengguna bahasa tersebut.
3)      Nilai mempunyai kualitas sosial.
4)      Nilai juga bersifat individual.
5)      Sifat perkembangan nilai tergantung dua hal yaitu: untuk diri sendiri (dalam arti kebaikan intrinsik) dan untuk lingkungan yang lebih luas dalam arti kebaikan instrumental).
6)      Sifat perkembangan nilai berawal dari hubungan timbal balik antar dua sifat intrinsik dan instrumental yang menyebabkan adanya sifat perkembangan dan perubahan pada nilai.
7)      Teori nilai aliran progressivisme juga memberikan nilai tambah kepada beberapa aspek dari tujuan pendidikan.[18]
4.      Mengenai Belajar
Aliran ini memandang bahwa konsep dari belajar bertumpu atau berpijak dari peserta didik sendiri. Karena aliran ini beranggapan bahwa peserta didik mempunyai satu kelebihan yaitu mempunyai kecerdasan dan akal. Dan dengan kedua hal tersebut-lah nantinya peserta didik akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan hidupnya. Sedangkan yang menjadi tugas utama dari pendidikan adalah membimbing serta mengarahkan peserta didik tersebut dalam mengembangkan potensi kecerdasan dan akal yang telah dimiliki.[19]
5.      Mengenai Kurikulum
Pendidikan dipandang dari segi pengalaman, oleh karena itu pelajaran apa saja, entah itu aritmatika, sejarah geografi, atau salah satu dari ilmu pengetahuan, semuanya harus berasal dari berbagai materi yang pada mulanya terdapat dalam lingkup pengalaman kehidupan sehari-hari. Dengan demikian menurut aliran ini kurikulum yang baik adalah kurikulum yang dapat memberikan cara dan sarana yang dapat menghubungkan anak didik dengan pengalamannya. Sedangkan sifatnya harus fleksibel agar kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhan pendidikan peserta didik yang berbeda-beda.[20]
6.      Mengenai Pendidikan
Pendidikan itu harus didasarkan pada pengalaman yang selalu merupakan pengalaman hidup aktual seorang individu. Dengan menjalankan pendidikan seperti itu maka pendidikan akan dapat mencapai sasaran baik untuk pribadi pelajar sendiri maupun untuk masyarakat.[21]
Menurut aliran ini, pendidikan mempunyai dua segi yaitu: psikologis dan juga sosiologis. Dari sisi psikologis, pendidik harus mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada peserta didik yang akan dikembangkan. Sedangkan dari sisi sosiologis pendidikan harus mengetahui kemana tenaga-tenaga itu diarahkan dan dibimbingnya.[22]
7.      Tentang Kebenaran
Aliran progressivisme memandang bahwa kebenaran memainkan peranan utama dalam mencapai kecerdasan di dalam susunan dunia ini. Kebenaran dipandang sebagai alat pembuktian. Dalam hal ini kebenaran juga berkaitan erat dengan pengalaman juga dengan pengetahuan.[23] Kebenaran adalah hasil tertentu dari pada pengetahuan, hasil pemilihan alternatif-alternatif dalam proses pemecahan masalah.[24] Senada dengan hal tersebut, kebenaran adalah hasil tertentu dari usaha untuk mengetahui, memiliki, dan mengarahkan segmen pengetahuan agar dapat memunculkan petunjuk atau penyelesaian pada situasi tertentu yang mungkin keadaannya kacau.[25] 


[1] Menurut  A.M. Saefuddin, Ulul Albab adalah pemikir, intelektual yang memiliki ketajaman analisis terhadap gejala dan proses alamiah dengan metode induktif dan deduktif, serta intelektual yang membangun kepribadiannya dengan dzikir dalam keadaan apapun dan situasi apapun, sehingga mampu memanfaatkan gejala, proses, dan sarana alamiah ini untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia. Lihat H. Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum, Hingga Redefinisi Islamisai Ilmu Pengetahuan), (Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, 2003), Cet I, hal. 268
[2] H. Djohar, Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan, (Yogyakarta: LESFI, 2003), hal. 85.
[3] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, An English-Indonesian Dictionary,  di edit dan di revisi oleh John U. Wolff dan James T. Collins bekerjasama dengan Hassan Shadily,  (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), Cet. XX,  hal. 417.
[4] Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001), hal. 566.
[5] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet. 2, hal. 729.
[6] Paul Suparno menjelaskan bahwa paradigma merupakan suatu skema konseptual yang dengannya seorang ilmuwan memandang persoalan-persoalan dalam disiplin ilmu tertentu. Persoalan yang sedang diteliti dan metode yang digunakan untuk memecahkan persoalan itu terutama ditentukan oleh paradigma yang relevan. Untuk lebih jelasnya lihat Paul Suparno,Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.
[7] John M. Echols dan Hassan Shadily, Opcit., hal. 450.
[8] Hartini Dan Karta Sapoetra, Kamus Sosiologi Dan Kependudukan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 329
[9] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan; Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta, 1994), Cet. VIII, hal. 28.
[10] Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif, Menimbang Konsep Fitrah dan Progressivisme John Dewey,(Yogyakarta: Safiria Insani Press bekerjasama dengan Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (MS UII), 2004), Cet. I, hal. 7-8.
[11] Ibid, hal. 40-42
[12] H. B. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1987), hal. 146.
[13] Mu’arif, Wacana Pendidikan Kritis; Menelanjangi Problematika, Meretas Masa Depan Pendidikan Kita, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005), Cet. I, hal. 44-45
[14] John Dewey, Pengalaman Dan Pendidikan judul asli Experience And Education, alih bahasa John de Santo, (Yogyakarta: Kepel Press Puri Arsita A-6, 2008), hal. 12-13 Cet. II
[15] Ibid, hal. 24.
[16] Muis Sad Iman, Opcit, hal. 49
[17] Ibid, hal. 49-50
[18] Ibid, hal. 50-52
[19] Ibid, hal. 53
[20] John Dewey, Opcit, hal 72-26
[21] Ibid, hal. 95.
[22] Muis Sad Iman,Opcit, hal. 55.
[23] Ibid. hal. 59
[24] Mohammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hal. 237.
[25] Imam Barnadib, Opcit., hal 30.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: