Metode Pembelajaran Metafora

1.         Pengertian metode metafora
Menurut bahasa (etimologi)  kata amtsal berupa bentuk jamak dari lafal matsal. Sedang kata matsal, mitsil, dan matsil adalah sama dengan kata syabah, syibih, dan syabih, baik dalam lafal maupun dalam maknanya.[1]
Menurut bahasa, arti lafal amtsal  ada tiga macam:
1.      Bisa berarti perumpamaan, gambaran, atau perserupaan.
2.      Bisa diartikan kisah atau cerita, jika keadaannya amat asing dan aneh.
3.      Bisa juga berarti sifat, atau keadaan atau tingkah laku yang mengherankan pula.
Contohnya seperti dalam ayat 15 surat Muhammad:
Artinya: ‘’Apakah perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.’’
 
Ayat tersebut bisa diartikan perumpamaan surga, atau gambaran, sifat, atau keadaan surga yang sangat mengherankan.
Imam Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasysyaf  juga memberikan arti kata matsal dengan arti perumpamaan, sifat, dan kisah, tetapi para ulama ahli Ilmu Bayan menambahkan arti yang keempat terhadap lafal matsal, yaitu diartikan dengan majazi murakkab.
Menurut istilah (termilnologi), para ulama memberikan beberapa macam definisi Amtsalil Qur’an, antara lain sebagai berikut:
a.         Ulama ahli ilmu adab mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut:
Amtsal (perumpamaan) dalam ilmu adab ialah ucapan yang banyak disebutkan yang telah biasa dikatakan orang yang dimaksudkan untuk menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan keadaan sesuatu yang akan dituju”.
Maksudnya, amtsal itu ialah menyamakan hal yang akan diceritakan dengan asal ceritanya (asal mula). Contohnya seperti “banyak panahan yang tidak ada pemanahnya. Maksudnya, banyak musibah yang terjadi dari orang yang salah langkah. Orang pertama yang menceritakan ungkapan tadi ialah Al-Hakim bin Yaghuts, yang menggambarkan bahwa orang yang salah itu kadang-kadang menderita musibah. Karena itu, maka haruslah ada persamaan antara arti yang diserupakan itu dengan asal ungkapan ini sebagai asal ceritanya, yakni bahwa banyak kejadian atau musibah yang terjadi tanpa sengaja.
b.         Istilah ulama ahli ilmu bayan mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut:
Perumpamaan ialah bentuk majaz murakkab yang kaitannya/konteksnya ialah persamaan”.
Maksudnya, amtsal ialah ungkapan majaz atau kiasan yang majmuk, di mana kaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah karena adanya persamaan atau keserupaan.
c.    Para ulama yang lain memberikan definisi matsal ialah mengungkapkan suatu makna abstrak yang dapat dipersonifikasikan dengan bentuk yang elok dan indah.
                      Maksudnya, matsal itu ialah menyerupakan hal-hal yang abstrak disamakan dengan hal-hal yang konkret. Contohnya seperti: Ilmu itu seperti cahaya.
Dalam perumpamaan ini, ilmu yang abstrak itu disamakan dengan cahaya  yang konkret, yang bisa diindera oleh mata. Perumpamaan dalam bentuk ini, tidak disyaratkan harus adanya asal cerita.
d.      Ulama ahli tafsir mendefiniskan amtsal, sebagai berikut:
Matsal ialah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang mengena di dalam jiwa, baik dengan bentuk tasbih, ataupun majaz mursal (ungkapan bebas).”
Ta’rif amtsal yang didefinisikan ulama ahli tafsir ini relevan dengan yang terdapat dalam Al-qur’an.
Contoh matsal dalam bentuk tasybih dhimni (perumpamaan yang terselubung), ialah seperti dalam ayat 12 surat Al-Hujurat:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضَكُمْ بَعْضًا أَيُحِّبُ أَحَدُكُمْ أَنْ َيْأُكَلَ لَحْمَ َأخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِ
ْهُتُمُوْهُ (الحجرة:12)
Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya”.[2]
M. Rosyid Ridho dalam “Al-Manar” menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “al-amtsal” adalah perumpamaan baik berupa ungkapan, gerak, maupun melalui gambar-gambar. Sebaliknya, dalam konteks pendidikan islam, metode metafora lebih mengarah pada perumpamaan dalam segi ungkapan belaka.[3]
Dalam menerangkan nasehat-nasehat yang hendak disampaikan, Nabi membuat perumpamaan sesuatu yang dapat disaksikan oleh manusia, berada di bawah kesadaran indra manusia dan dalam rengkuhan tangan-tangan mereka agar nasehat beliau lebih mengena dalam lubuk batin telaga jiwa dan lebih mengakar dalam pikiran.[4]
Metode metafora yang tujuannya adalah dalam tafsir al-manar, Sayyid Rasyid Ridho mananggapi ayat “ perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api …” (Al-Baqarah : 17) dengan mengatakan “al-matsal, al-mitsil, dan al-matsil  serupa dengan  asy-syabah, asy-syibih dan asy-syabih  dalam hal metrum dan maknanya dalam kalimat. Al-matsal diambil dari ungkapan matsula asyai matsulan artinya jika sesuatu itu berdiri dengan jelas maka sesuatu itu disebut matsil.[5]
Kadang-kadang ada juga ungkapan tamsilus syai artinya “ Penyipatan dan penyingkapan hakikat sesuatu melalui metafora atau makna majasi melalui penyerupaan”.
Pemikiran Rasyid Ridho diakhiri dengan pandangan berikut ini:Jika tujuan pemberian contoh itu untuk memberikan pengaruh, maka balaghoh atau kefasihan bicara menuntut pemberian contoh pada sesuatu yang hendak dihinakan atau dijauhkan dari manusia, melalui percontohan dengan kondisi perkara yang biasanya dihinakan dan biasanya manusia pun menjauhi perkara tersebut“.
 Dengan demikian, diserupakanlah sesuatu yang hendak dihinakan dengan perkara-perkara yang sudah dimaklumi kehinaan, seperti penyerupaan sembahan-sembahan dan penolong-penolong kaum musyrikin dengan sarang laba-laba, sebagaimana firman Allah :
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَولِياَءَ كَمَتَلِ العَنكَبُوت اتَّخَذَت بَيتاََ وَإِنَّ أَوهُنَّ البُيُوتِ لَبَيت  العَنكَبُوت لَوكَانوُا يَعلَمُون
Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat


rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” .(QS. Al-Ankabut :41)[6]
Pada dasarnya, bagi orang-orang yang berakal, perumpamaan itu sudah sangat jelas. Namun, sebagian kaum yahudi, nasrani, dan musyrikin hanya mampu mencela tanpa mampu memahami kandungan al-qur’an tersebut. Mereka akan senantiasa mencari-cari alasan seraya mengatakan : “Sangatlah tidak layak bagi Allah untuk mencontoh nyamuk dan laba-laba”. Dan sebagian dari mereka pun mengatakan : “Itu sih bukan contoh yang layak dikemukakan”. Untuk itu, Allah membantah mereka melalui firman-Nya ini :
إنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِ أَنْ يَضْرِ بَ مَثَلاً مَّا بَعوُضَةً فَمَافَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُ مِنْ رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَدَاللَّهُ بِهَذَا مَثَلاَ…….   (البقرة : 26 )    
Artinya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?…..(Al-Baqarah: 26)[7]
Dari uraian diatas, dapatlah disimpulkan bahwa perumpamaan-perumpamaan yang terdapat didalam al-Qur’an ataupun di dalam bahasa, mempunyai banyak makna:[8]
1.         Menyerupakan suatu perkara yang hendak dijelaskan kebaikan dan keburukannya, dengan perkara lain yang sudah wajar atau sudah diketahui secara umum ihwal kebaikan dan keburukannya,seperti menyerupkan kaum musyrikin yang mengambil pelindung selain Allah dengan sarang laba-laba yang rapuh dan lemah.
2.         Menceritakan suatu keadaan dari berbagai keadaan dan membandingkan keadaan lain yang sama-sama memiliki akibat dari keadaan tersebut, untuk menandaskan perbedaan diantara keduanya.
3.         Menjelaskan kemustahilan adanya keserupaan antara dua perkara, yang oleh kaum musyrikin dipandang serupa. Misalnya, bahwa Tuhan mereka memilki persamaan dengan Al-Khaliq sehngga mereka menyembah keduanya secara bersamaan. Untuk kondisi seperti itu, Allah SWT memberikan perumpamaan seperti berikut ini :
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmuperumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah.” (Al-Hajj:73)
2. Tujuan
Tujuan dari perumpamaan itu adalah tujuan moral dan pendidikan, yang dapat diringkas menjadi enam tujuan :
a)      Perumpamaan dapat mendekatkan gambaran yang diumpamakan dalam pikiran pendengar
b)      Merasa puas dengan satu gagasan tertentu, sehingga kepuasan itu menjadi satu argumen yang kokoh lewat gambaran yang mirip.
c)      Memberikan motif dengan cara memperindah atau menakut-nakuti
d)     Memiliki hasrat atau keinginan yang pada gilirannya akan memiliki ketetapan hati untuk menerima apa yang disarankan
e)      Untuk memuji atau mencela juga untuk mengagungkan atau menghinakan
f)       Mengasah otak dan menggerakkan potensi pemikiran atau timbul kesadaran untuk merenung dan tafakkur.
2.         Macam-macam  metafora
Macam-macam metafora itu ada tiga macam:[9]
a.    Amtsalil Qur’an yang jelas yaitu perumpamaan yang di dalamnya terdapat lafal amtsal (lafal yang menunjukkan kepada persamaan atau perumpamaan). Matsal jenis ini banyak terdapat di dalam Al-qur’an. Contohnya seperti dalam ayat 17 surat Al-Baqarah:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِيْ اسْتَوْ قَدَ نَارًا فَلَمًَا اَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَاللهُ بِنُرِهِمْ
وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمَاتِ لاَيُبْصِرُوْنْ. صُمًٌ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُوْن
 (البقرة: 17)
Artinya: “Perumpamaan mereka (kaum munafikin) adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang lurus). ‘’[10]
Dalam ayat tersebut, Allah mengumpamakan orang-orang munafik seperti api yang menyala yang di dalamnya ada unsur kehidupan. Begitu pula Al-qur ‘an diturunkan, pertama untuk menyinari hati dan keduanya untuk menghidupkannya. Allah menyebutkan keadaan orang munafik juga di dalam dua hal, mereka diumpamakan menghidupkan api untuk menyinari dan memanfaatkannya agar dapat berjalan dengan sinar api tadi. Tetapi sayang mereka tidak bisa memanfaatkan api itu, karena Allah telah menghilangkan cahayanya, sehingga masih tinggal panasnya saja yang akan membakar badan mereka, sebagaimana mereka tidak menghiraukan seruan Al-qur’an, dan hanya pura-pura membacanya saja.
b.    Al-Amstasul kaminah, yaitu perumpamaan terselubung, yang di dalamnya tidak terdapat lafal tamtsil tetapi artinya menunjuklkan kepada arti
perumpamaan yang indah, singkat dan padat, sehingga mengena kalau dinukilkan kepada yang menyerupainya.
Jadi, sebenarnya Al-qur ‘an sendiri tidak menjelaskan sebagai bentuk perumpamaan terhadap makna tertentu. Tegasnya macam ini ialah merupakan matsal (perumpamaan) maknawi yang tersembunyi, bukan matsal lafdhi yang jelas. Contohnya: seperti bentuk-bentuk berikut:
1)   seorang ulama mengatakan bahwa orang Arab tidak mengucapkan sesuatu perumpamaan, kecuali tentu ada persamaannya di dalam Al-qur’an.
Ada seorang Arab berkata: “sebaik-baik urusan adalah yang ditengah”. Lalu ditanyakan, mana persamaannya di dalam Al-qur’an ? Dijawab dengan: Kamu akan mendapatkannya dalam ayat sebagai berikut:
اِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ (البقرة: 68)
Artinya: “Bahwa sapi betina itu yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu”.[11]
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخاَفِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً (الاسراء110)
Artinya: “ Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat, dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”[12]
2)   Kalau ada ucapan: “sebagaimana kamu meminjam, maka sebegitulah kamu akan ditagih. Maka akan didapatkan pula di dalam Al-qur’an perumpamaan yang seperti di atas dalam ayat-ayat sebagai berikut:
ثُمَّ يُجْزَبِهِ الجَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُوْرًا (الاسراء:63)
Artinya : ‘’ Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”[13]
وَالًَذِيْنَ إِذَََا اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُزْا وَكَانَ بَيْنَ ذَالِكَ قَوَامَا
(الفرقان: 69)
Artinya:’Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir, tetapi di tengah-tengah antara yang demikian. ‘’[14]
مَنْ يَعْمَلُ سُوْءًا يُجْزَبِهِ (النساء:123)
Artinya: ‘’Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.’’[15]
3)    Ungkapan: orang mukmin itu tidak boleh terperosok dalam satu lubang sampai dua kali, juga ada perumpamaannya dalam Al-qur’an, yaitu dalam ayat 64 surat Yusuf:
Artinya: “Ya’qub berkata: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu,kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu. Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.
c.    Al-amtsalul mursalah adalah beberapa jumlah kalimat  yang bebas tanpa lafal tasybih, atau beberapa ayat Al-qur’an yang berlaku sebagai perumpamaan. Contohnya:
أَلأَنَ حَصْحَصَ الحَقًُ (يوسف: 51)
Artinya:sekarang jelaslah kebenaran itu.”[16]
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَي شَكِلَتِهِ (الاسراء:216)
Artinya: “Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”.[17]
3.         Sighat-Sighat Amtsalil Qur’an
Dari keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa sighat-sighat amtsal itu ada bentuknya, sebagai berikut:
a)      Sighat tasbih yang jelas (tasybih as-syarih), yaitu sighat atau bentuk perumpamaan yang jelas, di dalamnya terungkap kata-kata matsal (perumpamaan).
اِنَّمَا مَثَلَ الْحَيَوةِ الدُّ نْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَهُ مِنَ السَّمَاءِ (يونس:24)
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit[18]
Dalam ayat tersebut jelas tampak lafal al-matsal yang berarti perumpamaan.
b)      Sighat tasybih yang terselubung (tasybih ad-dhimni), yaitu sighat atau bentuk perumpamaan yang terselubung atau tersembunyi, di dalam perumpamaan itu tiak terdapat kata al-matsal, tetapi perumpamaan itu diketahui dari segi artinya.
Contohnya seperti dalam ayat 12 surat Al-Hujurat :
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضَكُمْ بَعْضًا أَيُحِّبُ أَحَدُكُمْ أَنْ َيْأُكَلَ لَحْمَ َأخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِ
ْهُتُمُوْهُ (الحجرة:12)
Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya”.[19]
Dalam ayat tersebut tidak terdapat kata-kata al-matsal (perumpamaan), tetapi arti itu jelas menerangkan perumpamaan, yaitu mengumpamakan menggunjing orang lain yang disamakan dengan makan daging bangkai teman sendiri.
c)      Sighat majaz mursal, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan yang bebas, tidak terikat dengan asal ceritanya.
d)     Sighat majaz murakkab, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan ganda yang segi persamaannya diambil dari dua hal yang berkaitan, di mana kaitannya adalah perserupaan yang telah biasa digunakan dalam ucapan sehari-hari yang berasal dari isti’arah tamtsiliyah. Contohnya dalam Al-qur’an:
 كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارُا (الجمعة:5)
Artinya: “Seperti keledai yang membawa buku-buku tebal”.[20]
Di sini keadaan keledai yang tidak bisa memanfaatkan buku dengan baik, padahal dia yang membawa buku yang tebal-tebal itu.
e)      Sighat isti’arah tamstiliyah, yaitu dengan bentuk perumpamaan sampiran atau lirik (perumpamaan pinjaman). Bentuk ini hampir sama dengan majaz murakkab, karena memang merupakan asalnya. Contohnya dalam Al-qur’an seperti dalam ayat 24 surat Yunus:
كََانَ لَمْ تَغْنَ بِاْلاَمْسِ (يونس:24)
Artinya: “Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin”.[21]
4.         Kelebihan dan kekurangan
Adapun kelebihan metode ini antara lain sebagai berikut:[22]
1.    Memudahkan pemahaman mengenai suatu konsep. Untuk memahami makna spiritual suatu perkara, manusia itu cenderung menyukai penyerupaan persoalan-persoalan abstrak pada perkara-perkara yang konkrit. Pada dasarnya hikmah kenabian itu telah mencapai tahap kejelasan yang menakjubkan, misalnya saja tatkala Rasulullah saw, berlalu di sebuah pasar dan melihat orang-orang yang sedang memperebutkan berbagai keuntungan dan kepentingan yang semata-mata bersifat duniawi, sehingga mengundang beliau untuk menjelaskan kerendahan nilai dunia itu kepada mereka.
            Demikianlah, Rasulullah saw, mengumpamakan nilai dunia disisi Allah dengan nilai anak kambing yang mati ini, kepada para sahabat yang menyertai beliau.
            Disini Rasulullah saw, telah menggunakan beberapa metode pendidikan:
Ø Metode dialog khitabi yang bersifat peringatan
Ø Menggunakan alat peraga sebagai alat Bantu menangkap dan     memahami persoalannya dengan jelas.
Ø Pemberian perumpamaan bagi mereka dimana Rasulullah saw mengumpamakan kehinaan dunia dalam pendangan Allah, dengan kehinaan anak kambing ini.
2.    Mempengaruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Abduh sebagai berikut:
“Penggunaan kata dharb dimaksudkan untuk mempengaruhi dan membangkitkan kesan, seakan-akan sipembuat perumpamaan menyentik telinga pendengar dengannya,sehingga pengaruh sentuhan itu meresap menembus qalbunya sampai kedalam lubuk jiwanya”.
Pemilihan musyabbah bih (yang diserupakan dengannya) amat besar Pengaruhnya terhadap pembangkitan kesan dan pesan yang diharapkan. Pemilihan perumpamaan laba-laba, umpamanya, dapat menimbulkan rasa jijik dan hina terhadap orang-orang musyrik,serta mengungkapkan kelehan akal dan kehinaan pikiran mereka. Begitu juga Pemilihan keledai untuk diibaratkan pada orang yang membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkannya, sebagaimana firman Allah SWT ini:
 “perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka kitab Taurat, namun mereka tidak memikulnya (mereka dibebani untuk mengamalkannya, tetapi tidqak mengamlkannya apa yang ada di dalamnya) adalah bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi perunjuk kepada kaum yang dholim”. (Q.S.62 Al-jum’ah: 5)
     Pada saat yang sama, pembangkitan berbagai perasaan tersebut bertemu dengan timbulnya perasaan senang terhadap kandungan makna keimanan yang terdapat di dalam diri mukmin serta rasa mulia sebagai hamba Allah. Rasa senang dan rasa diri mulia itu lahir karena orang mukmin menyadari bahwa ia akan selamat dari bencana yang menimpa kaum musyrikin dan kafirin. Orang mukmin pun menyadari pula bahwa mereka terhindar dari dari kaum tersebut berkat petunjuk yang diberikan Allah kepadanya.
3.    Mendidik akal supaya berfikir benar dan menggunakan qiyas (sillogisme) yang sehat dan logis. Pada dasarnya, hampir setiap perumpamaan bersumber pada analogi melalui penyebutan premis-premis. Selain itu, perumpamaan pun menggiring akal pada kesimpulan yang kerap tidak dirinci dalam Al-Qur’an. Tatkala Allah memberikan perumpamaan untuk kebenaran dan kebatilan, Dia menyifatinya dengan air, banjir, buih, seseuatu yang bermanfaat dan menetap di bumi, serta seseuatu yang musnah.kemudian, Allah memandang cukup untuk mengisyaratkan kesimpulan sekilas melalui firman-Nya ini :
“…………Demikian Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (Q.S.Ar-ra’d : 17).
Dengan demikian, Allah telah memberikan kebebasan kepada akal manusia untuk menyingkap tabir konsep bahwa kebenarasn itu kekal, sedangkan kebatilan itu akan hilang musnah seperti seperti musnahnya buih seusai banjir. Manusia yang mampu menyingkapkan misteri ayat tersebut akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dari kemampuan berpisah dengan kebatilan. Bagaimanapun, seperti yang Allah firmankan:
“ ……Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun….” (Q.S. Al-Hajj: 73)
4.         Menggerakkan perasaan, menghidupkan naluri yang selanjutnya menggugah kehendak dan mendorongnya untuk melakukan amal yang baik dan menjauhi segala kemungkaran. Hal ini dapat diupayakan dengan cara menyajikan perumpamaan Qurani didalam berbagai kondisi kehidupan dan kegiatan sekolah yang relevan. Untuk maksud itu perlu diterik kesimpulan dari berbagai perumpamaan tersebut diatas untuk kemudian dituangkan dalam bentuk perilaku yang baik dengan cara membangkitkan kehendak dan tekad para pelajar, yang diarahkan kepada tingkah laku yang sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang tersirat dalam aneka perumpamaan al-Qur’an itu. Perumpamaan Qur’ani dan nabawi itu merupakan alat pendidikan (yang bersifat retorik, emosional, dan rasional) yang efektif, kuat pengaruhnya, mengandung makna yang agung serta banyak faidahnya. Kelemahan di dalam menggunakan metode metafora, pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan berceramah atau membaca teks

[1] Abdul Djalal.H.A, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), 309
[2] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 963
[3] Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung, Trigenda Karya, 1993), 260
[4] Ustman Qodri, Muhammad Sang Guru Agung, (Yogyakarta: Diva Press, 2003), 46
[5] Abdurrahman An-Nahrawi, Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah Dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insani Press, 1996), 251
[6] Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, 666
[7] Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, 774
[8] Abdurrahman An-Nahlawi, 352-354
[9] Abdul Djalal.H.A, 315-320
[10] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 10
[11] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 15
[12] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 430
[13] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 425
[14] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 578
[15] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 113
[16] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 347
[17] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 423
[18] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 304
[19] yayasan penterjemah Al-Qur’an, 963
[20] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 931
[21] Yayasan penterjemah Al-qur’an, 350
[22] M. Samsul Ulum & Triyo Supriyatno, Tarbiyah Quraniyah, (Malang: UIN Press, 2006), 104

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: