Postmodernisme dan Kritik Ideologi Ilmu Pengetahuan Modern

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

A. Antaran;Dunia Terus Bergeser
Dunia terus mengalami sebuah proses yang tiada henti menuju perubahan demi perubahan. Paradigma perubahan selalu diawali dan dipandu oleh ilmu pengetahuan yang merupakan ranah kognitif manusia. Bersumber pada ranah perubahan kognitif selanjutnya menuju tahap perubahan nilai (afeksi ) dan pada titik tertentu membentuk sebuah skill (performance) pada diri manusia dalam bentuk perilaku sikap sosial dalam kebudayaannya. Maka pergeseran paradigma kognitif dalam hal ini ilmu pengetahuan secara simultan akan melahirkan pergeseran yang signifikan pada ranah-ranah yang lain. Disinilah secara kasat mata pergeseran kehidupan manusia terus mengalami gelombang yang tiada pernah berhenti, laksana gelombang  peradaban yang terus bergerak nampak tiada bertepi.
Gelombang peradaban yang abadi tersebut dibingkai oleh hasrat manusia yang terus bersemayan dalam diri. Manusia senantiasa merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan pengetahuan pada periode-periode sebelumnya. Secara teologis, pengetahuan animisme, bergeser menuju dinamisme dari dinamisme menuju ke politeisme, dan politeisme menuju konsep monoteisme. Menyangkut paradigma ilmu pengetahuan, dari teosentris, ke empirisme, dari empiris ke rasionalisme, dari rasionalisme ke positivisme, dari positivisme ke materialisme, dari materialisme ke idealisme dan pada tataran tertentu intuisionisme juga mendapat posisinya sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Berbagai simbol telah diciptakan manusia untuk dilekatkan mewakili bahasa manusia dalam menyebut pergeseran paradigma pemikiran dan pengetahuan manusia dari waktu ke waktu[1].
Kerangka pikir atas pergeseran pengetahuan manusia mengacu pada sebuah freame besar yakni masa kuno/klasik, masa pertengahan, masa modern dan postmodern. Secara siginifikan masa klasik dan pertengahan di barat, wacana pikir dan rasionalisme manusia, belum mendapatkan porsi yang signifikan. Pada masa modern rasio manusia seolah-olah sebuah kendaraan yang sangat daksyat mengantarkan manusia pada sebuah kehidupan yang seolah-olah nyaman dan penuh kemapanan. Dengan perkembangan teknologi yang terstruktur sedemikian rupa. Disinilah modernisme dicirikan dengan gerakan rasionalisme yang begitu gencar. Rasionalisme telah menggiring manusia pada sebuah masa pencerahan yang disebut dengan mainstream pemikiran modernisme dan fakta sosialnya disebut modernitas. Setelah berjalan sekian dekade kemapanan dan kenyamanan paham modernisme mendapat kritik dan pergeseran paradigma. Pergeseran pemikiran modernisme itu mendapat kritik yang cukup signifikan yang merupakan mainstream gerakan postmodernisme dengan segala lingkup dan permasalahannya. Disinilah  paper ini akan mencoba memberikan paparan yang komprehensip berkaitan dengan Postmodernisme dan kritik ilmu pengetahuan modern.
B. Postmodernisme; Pengertian dan Konseptualisasi
Pencetus pemikiran postmodernist, pertama kali adalah Arnold Toynbee pada tahun 1939. sedangkan Charles Jencks[2], menegaskan juga bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol  Frederico  de  Onis.  Dalam  tulisannya  Antologia  de  la  poesia  espanola  e hispanoamericana (1934),   Yang memperkenalkan   istilah   postmodernisme untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme[3]. Toynbee dianggap sebagai  pencetus istilah  tersebut  dibuktikan dengan bukunya yang terkenal berjudul Study of History. Pada tahun 1960, istilah postmodernisme berhasil menembus benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. Semisal  J. Francois Lyotard, adalah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul “The Post-Modern Condition” sebagai kritikan atas karya “The Grand Narrative” yang dianggap sebagai dongeng hayalan hasil karya masa Modernitas[4]. Berdasar konseptualisasi ini –jika disepakati– maka sekarang (tahun 2011)  “kita” berada dalam  zaman postmodern. Suatu zaman, di mana pramodern dan modern telah dilewati.
Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/ sistematisasi[5], universalisasi tunggal dan kemajuan saints[6]. Postmodern memiliki ide cita-cita, ingin meningkatkan kondisi sosial, budaya dan  kesadaran akan semua realitas serta perkembangan dalam berbagai bidang. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan sentralisasi dan universalisasi ide di berbagai bidang ilmu dan teknologi, dengan pengaruhnya yang mencengkram  kokoh dalam bentuknya globalisasi dunia.
Prinsip  postmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, antara simbol dan realitas, antara universal dan peripheral dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijunjung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional[7]. Jadi postmodern secara umum adalah proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang.[8] Postmodernisme merupakan intensifikasi (perluasan konsep)  yang dinamis, yang merupakan upaya  terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar (meta naratif), dan penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, dan lain-lain. Postmodern dalam bidang filsafat diartikan juga segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya dan berusaha untuk menemukan bentuknya yang kontemporer.[9]
Postmodernisme jika diperhadapkan dengan modernisme, memiliki posisi yang beragam. Disatu sisi modernisme  dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Bahkan mengantarkan manusia ke jurang ketimpangan.  Atas dasar kritik ini,  maka perlu gerakan dan ide-ide baru yang disebut dengan postmodernisme. Sedang sebagian lagi beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas[10]. Perbedaan pendapat dua kelompok mengenai pemahaman Post-modernisme cukup berbeda secara signifikan. Satu konsep mengatakan bahwa modernisme berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradoks yang kontras. Sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, seperti pijakan tangga yang satu dengan tangga berikutnya secara berurutan. Dalam konsep ini kita tidak dapat masuk jenjang tangga postmodernisme tanpa melalui tahapan tangga modernisme.[11]
Di tengah perdebatan dua konsep di atas, terdapat pendapat ketiga yang ingin menengahi dua pendapat yang kontradiktif tadi. Kata “Post” dalam sebutan postmodernisme  bukan hanya berarti “setelah” (masa berikutnya), postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari nalar intelektual manusia yang terus bermetamorfosis. Disinilah postmodernisme muncul sebagai sebuah ide ke dalam kancah perdebatan dengan berbagai lingkup Diskursus dan dengan segala dimensinya.
C. Lingkup Discourse[12] dan Dimensi Postmodernisme
Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyakat kontemporer. Postmodern adalah suasana intelektual yang bersifat Ide atau ”isme” postmodernisme. Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernisme. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universalisme ilmu pengetahuan modern. Postmodem menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten yang merupakan bagian identitas dasar yang membuat kokoh dan tegaknya modernisme. Kaum postmodernis mengkritik dan menggantikan semua itu dengan sikap menghargai kepada perbedaan dan penghormatan kepada yang khusus (partikular dan lokal). Lalu membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains. Metode ilmiah ini merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang seolah-olah lebih baik pada masa-masa awal masa pencerahan. Metode ilmiah telah mengantarkan modernisme dalam bentuk praktisnya berbagai teknologi.
Dari paparan ini dimaksudkan bahwa ciri  dari postmodern adalah melingkupi hal-hal secara konseptual ide yang meliputi[13]: Pertama Ide yang menghendaki penghargaan besar terhadap alam ini sebagai kritik atas gerakan modernisme yang mengeksploitasi alam. Kedua Ide  yang menekankan pentingnya bahasa (Hermeneutik, Filologi)  dalam kehidupan manusia dengan segala konsep dan analisanya yang kompleks, ini sebagai antitesa atas kondisi modernisme atas kuasa tafsir oleh mesin birokrasi ilmu pengetahuan. Ketiga, Ide besar untuk mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi yang muncul dari perkembangan modernisme. Dengan alasan bahwa semua itu telah melahirkan konstruksi manusia sebagai obyek yang mati dalam realitas kehidupannya. Sehingga menjauhkan manusia dari humanismenya itu sendiri. Keempat, ide pentingnya inklusivitas dalam menerima  tantangan agama lain atas agama dominant sehingga terbuka munculnya ruang dialogis. Ini muncul sebagai akibat menjamurnya dan tumbuhkembangnya realitas modernis yang menempatkan ideologi sebagai alat pembenar masing-masing. Kelima sikap yang cenderung permisive dan menerima  terhadap ideologi dan juga agama lain dengan berbagai penafsiran. Keenam,secara kasuistik munculnya ide pergeseran dominasi kulit putih di dunia barat. Keenam, merupakan ide-ide cemerlang yang menjadi daya dorong  kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial yang tersisihkan. Ketujuh Ide tentang tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia secara menyeluruh.
Ciri yang cukup dominan dari postmodern yang telah disebutkan diatas adalah mengacu pada ide besar untuk mengurangi kekaguman dan memberikan kritik terhadap ilmu pengetahuan, dan teknologi, ini berarti menunjukan adanya pergeseran yang siginifikan atas era modernitas menuju era postmodernisme.  Realitas yang cukup jelas bagi gerakan postmodernisme adalah sikapnya dalam memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan”, khususnya yang menyangkut  pengetahuan sosial. Ia memperkarakan tentang “Apa itu pengetahuan yang benar” secara genealogis dan arkeologis. Artinya, dengan melacak bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan mengembangkan diri selama ini. Kategori-kategori konseptual dengan segala macamnya misalnya tentang  “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”, ”gender” dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan. Hal ini membawa implikasi tumbuhnya gerak mekanisme-mekanisme terselubung sebagai aparatus kekuasaan. Yakni kekuasaan untuk “mendefinisikan” siapa kita, untuk menjelaskan posisi dan kedudukan kita, untuk menggambarkan kita dan mereka, untuk mendeskripsikan yang superior dan inferior dan lain-lain. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan adalah agen-agen kekuasaan yang demikian itu. Meski kekuasaan itu tidak selalu negatif-repressif melainkan juga kadang  positif-produktif (menciptakan kemampuan dan peluang baru). Akan tetapi  secara umum kuasa ilmu pengetahuan telah memaksa kita memahami kemodernan bukan lagi sebagai pembebasan. Modernitas atas kuasa ilmu pengetahuan ternyata  sebagai proses kian intensif dan ekstensifnya pengawasan (surveillance), lewat “penormalan”, regulasi dan disiplin untuk masing-masing posisi.
Untuk itulah kehidupan dunia harus diselamatkan dari proses kolonialisasi ilmu pengetahuan. Postmodernisme dengan gerakan postkolonialismenya menggempur habis-habisan jerat kuasa pengetahun yang bersembunyi atas nama bendera modernisme. Disinilah bisa kita temukan watak menonjol dari era postmodernisme mengandung kecenderungan diantaranya; mengangkat konsep pluralisme, Mengacu nilai yang bersifat A Historis, penekanan pada konsepsi empiris dalam arti konsep fenomenologi dialektis, dan Penekanan pada nilai individualitas diri manusia sebagai sang otonom sehingga postmodernisme menolak nilai-nilai absolutisme, universalitas, dan homogenitas.[14] Watak utama postmodernisme tersimpul dalam konsep kritik ideologi besar atas ilmu pengetahuan yang disebut dengan dekonstruksi yang dipelopori oleh Derrida . Konsep dekonstruksi Derrida ini merupakan penyempurnaan dari ide destruksi yang dipelopori oleh Heidegger. Meski diantara derrida ada sejumlah persamaan dan perbedaannya dalam memandang realitas sebagai sebuah inspirasi pemikiran manusia.
D.  Persoalan – Persoalan Postmodernisme
Beberapa kecenderungan umum yang mendasari gerakan postmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka konseptualisasi, muculnya gerakan postmodernisme  adalah persoalan – persoalan yang menyangkut hal – hal sebagai berikut: pertama,  segala ‘realitas’ adalah konstruksi semiotis, artifisial dan ideologis. Kedua, sikap Skeptis dan kritis diri terhadap segala bentuk keyakinan tentang ‘substansi’. Ketiga, Realitas bisa ditangkap dengan banyak cara (pluralisme). Keempat, segala  ‘sistem’ konotasi otonom dan tertutup, diganti dengan ‘jaringan’, ‘relasionalitas’ ataupun ‘proses’ yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis. Kelima, segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses dalam interelasinya dengan  bebagai aspek, tidak hanya sebagai oposisi biner (either-or ) dengan dua sisi saja. Keenam, segala hal harus dilihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya, emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dan sebagainya.  Ketujuh, segala hal dan pengalaman yang selalu dimarginalisasi oleh pola ilmu pengetahuan modern dikembalikan ke tengah menjadi fream pemikiran.[15] Misalnya, gender, feminisme kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama.
Dalam diskusi lanjutan seringkali kata postmodernisme dan postmodernitas diperdebatkan. Walaupun sebenarnya konseptualisasi ini cukup bisa dimengerti bahwa modernisme berarti isme pemahaman tentang ranah ide kognitif. Sementara Postmodernitas, merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan realitas sosial masyarakat post-industri. Sedangkan postmodernisme dimengerti sebagai wacana pemikiran baru yang menggantikan modernisme. Postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep (isme-isme) modernisme seperti adanya subyek yang sadar diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier[16]  
Persoalan-persoalan postmodernisme muncul, merupakan gaya atau gerakan di dalam sastra, seni lukis, seni plastik, dan arsitektur. Gerakan ini memperhatikan aspek-aspek aesthetic reflection dari modernitas. Sementara itu postmodernitas dimengertinya sebagai tatanan sosial baru yang berbeda dengan institusi-institusi modernitas. Postmodernisme prinsipnya adalah sejajar dengan istilah “modernitas yang teradikalisasi” (radicalized modernity) untuk menggambarkan dunia kita yang mengalami perubahan hebat dan sedang melaju kencang tak bisa lagi dikendalikan. Suatu dunia yang mrucut (runaway world). Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah “modernitas yang sadar diri[17]
Postmodernisme memang  bagaikan rimba belantara, postmodernisme  suatu istilah yang “memayungi” segala aliran pemikiran yang satu sama lain seringkali tak persis saling berkaitan. Dalam postmodernisme gagasan-gagasan seperti “filsafat”,“rasionalitas”, dan “epistemologi” dipertanyakan kembali secara radikal. Problem persoalan postmodernisme adalah problem keterbatasan bahasa, khususnya keterbatasan fungsi deskriptif bahasa yang sangat terbatas. Bahasa haruslah dilihat melalui fungsi transformatifnya. Muncullah metafor mula-mula diperkenalkan oleh Ricoeuryang dapat menjadi titik terang untuk melihat persoalan-persoalan yang diajukan oleh postmodernisme. Metafor tidak menunjukkan suatu kebenaran absolut, melainkan suatu “kebenaran yang bertegangan” (tensional truth)[18].
Postmodernitas harus dimengerti sebagai gaya berpikir yang curiga terhadap pengertian klasik tentang kebenaran, rasionalitas, identitas, obyektivitas, curiga terhadap ide kemajuan universal atau emansipasi, curiga akan satu kerangka kerja, grand narrative atau dasar-dasar terdalam dalam penjelasan. Berlawanan dengan norma-norma pencerahan ini, postmodernitas melihat dunia sebagai yang kontigen, tak berdasar, tak seragam, tak stabil, tak dapat ditentukan, seperangkat kebudayaan yang plural atau penafsiran yang melahirkan skeptisisme terhadap obyektivitas kebenaran, sejarah dan norma-norma, kodrat yang terberikan serta koherensi identitas. Postmodernisme juga dimengerti sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan sesuatu dalam perubahan jaman ini ke dalam suatu seni yang diwarnai oleh ketakmendalaman, ketakterpusatan, ketakberdasaran; seni yang self-reflexive, penuh permainan, ekletik, serta pluralistik. Seni semacam ini mengaburkan batas antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘pop’, antara seni dan hidup harian. Demikian inilah segala aspek yang mennjadi persoalan-persoalan dalam mendiskusikan posmodernisme.
E. Kritik Postmodernisme  atas Ideologi Ilmu Modern
Postmodernisme merupakan suatu fenomena yang  menggejala dalam kancah ide dan pemikiran. Kelahiran postmodernisme merupakan akumulasi konkret atas kritik modernisme yang dirasakan kurang memenuhi tuntutan inteletual dalam menyelesaikan problem-problem sosial dan kemanusian. Di tengah pemikiran dan ide postmodernisme yang carut marut, minimal dapat dikemukakan sejumlah kritik ideologis yang diajukan oleh pemikir postmodernis atas gerakan modernisme,yang mencakup hal-hal sebagai berikut :[19]
Pertama, penafian atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism). Para penganut postmodernisme beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi plural. Oleh karenanya, perlu dirubah dengan cara berpikir dari “totalizing” menuju “pluralistic and open democracy” dalam segala aspek kehidupan. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran seorang postmodernis. Ini jelas sangat berbeda dengan konsep metode ilmiah dan gejala ilmu pengetahuan modern yang menitikberatkan pada konseptualisasi dan universalisasi teori. Misalnya kita mengenal konsep induksi, deduksi, silogisme dan lain sebagainya yang menjadi acuan pokok untuk menemukan ide universal akan sebuah pengetahuan modern. Disinilah postmodernisme berpendapat semuanya itu hatus ditinggalkan dan ditinjau ulang.
Kedua, penekanan adanya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus yang tiada henti. Hal itu sebagai solusi dari konsep yang permanen dan mapan yang merupakan hasil dari kerja panjang modernisme. Postmodernis memberikan kritik bahwa hanya melalui proses berpikirlah  yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain. Postmodernisme menolak segala bentuk konsep fundamental —bersifat universal—yang bernilai sakralitas seolah menempati posisi sebagai tumpuan atas konsep-konsep lain. Manusia postmodernis diharuskan selalu kritis dalam menghadapi semua permasalahan, termasuk dalam mengkritisi prinsip-prinsip dasar – dasar pengetahuan modern yang dianggap baku dan mapan.
Ketiga, semua jenis ideologi harus dikritisi dan ditolak. Selayaknya dalam konsep berideologi, ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi agama sekalipun.
Keempat, setiap eksistensi obyektif dan permanen harus diingkari. Atas dasar pemikiran relativisme, manusia postmodernis ingin membuktikan tidak adanya  tolok ukur sejati dalam penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran,kebenaran agama sekaligus. Ini tentu sangat berbeda dengan paradigma modernisme pada ilmu pengetahuan modern yang sangat menekakan obyektifitas dalam prosesdur ilmiah untuk mendapatkan kebenaran. Ungkapan Nietzsche(1844-1900),  God is Dead[20]. Atau ungkapan lain seperti “The Christian God has ceased to be believable”, terus merebak dan semakin digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, Sebagai bukti atas usaha propaganda mereka yang mengusung tema konsep nihilisme dalam filsafat posmodernisme[21].
Kelima, semua jenis epistemologi harus dibongkar. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap postulat—yang bersifat prinsip—yang berkaitan dengan keuniversalan, kausalitas, kepastian dam sejenisnya akan diingkari. Berbeda halnya pada zaman Modernis, semua itu dapat diterima oleh manusia modernis. Ini mengandung arti bahwa  rencana postmodernisme adalah dalam rangka mengevaluasi kembali segala pemikiran yang pernah diterima pada masa modernisme, dengan cara mengkritisi dan menguji ulang. Meskipun pada prakteknya sulit sekali untuk menemukan kerangka epistemologi yang jelas dari gaya pemikiran posmodernisme itu sendiri.
Keenam, postmodernisme memiliki ide besar melakukan pengingkaran penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai fakta dan realitas serta ilmu pengetahuan. Jika dilihat secara spintas, postmodernist cenderung menerapkan metodologi berpikir “asal comot” dengan mainstream pemikiran yang kurang jelas dan tidak beraturan. Postmodernisme seolah tampak menghalalkan segala cara sehingga cenderung bebas nilai. Namun ini perlu disadari bahwa postmodernisme hakekatnya Postmodernisme ingin membuka berbagai penafsiran baru atas kekakuan yang diciptakan oleh paham modern. Era postmodernisme adalah era pemikiran dengan pola penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran filosofis. Posmodernist tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat. Hal ini dilakukan untuk menentang kaum tradisional yang tidak memiliki pemikiran maju karena mengacu pada satu asas pemikiran saja. Postmodernisme mengakui bahwa apa yang ada sekarang ini adalah apa yang disebut dengan post philosophy, puncak perbedaan dengan filsafat modernis. Dengan jenis filsafat inilah, mereka ingin meyakinkan kaum intelektual bahwa dengan berpegangan prinsip tersebut dapat meraih berbagai hal yang menjadi impian dalam kehidupan era kontemporer[22].
Demikian inilah poin-poin penting kritik ideologis ilmu pengetahuan modern yang digencarkan oleh kaum posmodernisme. Dari paparan tersebut tema besar yang diusung oleh kaum posmodernisme adalah kerangka dekonstruktif (perombakan total) atas kuasa ilmu pengetahuan modern yang berbasis rasionalisme, obyektivitas, strukturalis, sistematisasi, totalisasi, universalisasi dan mengenyampingkan nilai – nilai lain yang justru cukup siginifikan mempengaruhi realitas. Hal –hal lain inilah yang dipikirkan oleh postmodernisme sehingga menjadi isu sentral dalam merumuskan kerangka konseptual ide dan pemikirannya.
F. Teori-Teori dan Teroritikun Postmodernisme
       Teori sosial postmodern mengalami keterpecahan pendapat dan aliran diantara masing-masing tokohnya. Berkaitan dengan masalah ini  posisi utama tokoh-tokoh teoritikus sosial postmodern dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut [23]
·        Pertama, disebut sebagai postmodernis ekstrem, yang berpendapat bahwa masyarakat modern telah digantikan oleh masyarakat postmodern. Jean Baudrillard adalah pemikir yang sering dikategorikan sebagai kelompok ini, karena ia percaya bahwa masyarakat telah berubah secara radikal. Paul Virilio juga termasuk pemikir yang sering dikategorikan dalam kelompok ini.
·        Kedua adalah postmodernis moderat, yang mengungkapkan bahwa perubahan memang telah terjadi, dan postmodernitas tumbuh-berkembang bersama dengan modernitas.  Contoh dari tokoh ini adalah Frederic Jameson, Ernesto Laclau, Chantal Mouffe [1985], David Harvey [1989] serta para feminis  postmodern seperti Nancy Fraser, Donna Haraway dan Linda Nicholson.
·        Ketiga disebut sebagai posisi teoritis, Kelompok ini berpendapat: ketimbang mempersoalkan modernitas dan postmodernitas sebagai era kesejarahan atau waktu, lebih baik melihat modernitas dan postmodernitas sebagai kekuatan yang selalu menjalin hubungan seiring sejalan satu sama lain. Dengah menempatkan postmodernitas secara  berkesinambungan berupaya untuk selalu menunjukkan keterbatasan–keterbatasan modernitas. posisi ketiga ini dapat dianggap sebagai alternatif di luar sikap yang mendudukkan modernitas dan postmodernitas dalam kategori waktu. Representasi terpenting dari aliran ini tak lain adalah Jean-Francois Lyotard.[24]
            Disamping klasifikasi teoritikus postmodernisme tersebut diatas, maka perlu rincian secara lebih konkret.walaupun untuk menemukan kekonkretan itu sendiri dalam wacana posmodernisme sangat suli. Ini menyangkut luasnya bidang kajian yang dicakupnya. Mulai dari seni, arsitektur, musik, film, sastra, sosiologi, antropologi, komunikasi, teknologi bahkan sampai pada fashion Namun diyakini bahwa paradigma teori postmodern terdapat sejumlah teori yang menjadi unsur pembangun dari kokohnya postmodernisme sebagai sebuah gerakan pemikiran dan ide gagasan di tengah-tengah masyarakat.[25] Teori – teori tersebut adalah   yaitu pertama teori dekonstruksi (Derrida), Kedua, teori estetika resepsi (Jauzz), Ketiga, teori multikultural (Storey), Keempat, teori intertekstual (Kristeva), Kelima, teori hipersemiotik/hiperealitas (Baudrillard), Keenam teori hegemoni (Gramsci), dan ketujuh Teori konsep postkolonial (E.Said)[26]. Berikut penjelasan dari  masih-masing teori dan sejumlah tokohnya.
            Teori dekonstruksi sebagai teori posmodernisme yang memandang realitas sebagai ciptaan, atau ciptaan kembali. Teori ini memposisikan realitas yang akan diketahui atau dipahami sebagai realitas hasil ciptaan atau hasil ciptaan kembali[27]. Disinilah dikatakan bahwa realitas itu sebagai realitas dekonstruksi, yang secara paradigmatis merupakan hasil dekonstruksi postmodernisme atas modernisme. Teori dekonstruksi Derrida berposisi sebagai teori utama dalam membentuk postmodernisme. Konsepsi  dasar pemikiran dekonstruktif ini adalah ide pemikiran yang menempatkan segala realitas sebagai  ditentukan oleh tanda. Tanda tidak memungkinkan untuk dapat menjelaskan segala suasana  nya secara utuh untuk itu perlu di gempur dan dipertanyakan kembali secara kritis.[28]
            Teori estetika yang mengabstraksikan keindahan yang bersifat konvensional mengenai estetika realisme (modernisme) Barat. Konsep teoretis estetika postmodernisme sampai saat ini yang pernah ada antara lain estetika parodi, simulasi atau duplikasi, kitsh, pastis (pastiche), camp, skizofrenia.   Secara teori, teori estetika yang selaras dengan konsep dekonstruksi adalah teori estetika resepsi Hans Robert Jauzz, yang sesungguhnya merupakan bentuk penerapan dari konsep estetika yang di dalam teori dekonstruksi Derrida baru muncul secara implisit. [29] mendiskusikan tentang flasafaj keindahan sangat kompleks. Mengandung nalar intersubyektif yang sangat luar biasa. Estetika senantiasa disusun dan ditentukan oleh sejumlah variabel yang sangat selaras dengan konsep-konsep konotasi,metaforis simbolis dan lain sebagainya.[30]
            Teori multikultural memuat konsep bahwa dalam hidup ini banyak kultur, dan juga kode budaya. Kode budaya multikultur itu tidak saja berupa keaanekaragaman kode budaya belaka, yang berdiri masing-masing kode budaya dan kultur, akan tetapi juga sebagai kode budaya yang—sebagai proses komunikasi sosial dalam konteks silang budaya—telah pula menjadi kode dan milik semua kultur. Kode budaya telah diterima, dipahami, dan telah menjadi milik semua kultur ini tidak lain merupakan kode multikultur. Teori multikultural ini hakekatnya merupakan bentuk penerapan dari konsep pemikiran utama dalam teori dekonstruksi yakni pluralisme[31].
            Teori interteks Julia Kristeva memiliki pandangan bahwa teks (fakta) tidak otonom (berdiri sendiri) dan individual (terpisah, terisolir), akan tetapi ada dalam hubungan adanya teks-teks (fakta-fakta) lain. Sifat interteks itu tidak saja secara antarteks (berhubungan antara teks dengan teks yang di luar), tetapi juga intrateks (berhubungan antara teks dengan teks yang sama-sama berada dalam satu teks). Teori ini juga merupakan bentuk aplikasi dari konsep teori implisit yang terdapat dalam teori dekonstruksi Derrida, yaitu konsep teori trace (jejak, bekas, atau silsilah) dan present-abscent (kehadiran-ketidakhadiran).[32] Hal ini diterapkan dalam memandang dan memposisikan realitas postmodern.[33]
            Teori hipersemiotik atau disebut juga hiperealitas Baudrillard—dengan mendasarkan diri pada Umberto Eco—ini menegaskan bahwa realitas adalah palsu, bohong. Dalam hubungan dengan realitas yang diciptakan, hal itu berarti, realitas sengaja dipalsukan demi suatu kepentingan tertentu. Dalam konteks penelitian ini, pemalsuan realitas itu dipandang dalam dua dimensi. Pertama, realitas dipalsukan penguasa yaitu demi kepentingan politik kekuasaannya, dan kedua, realitas palsu itu wujud sebagai realitas palsu pula oleh pihak penentang rezim penguasa.
            Jika pemalsuan realitas oleh rezim penguasa memiliki tujuan melanggengkan kekuasaan, pemalsuan oleh penentang kekuasaan bertujuan membongkar (mendekonstruksi) realitas palsu penguasa sebagai usaha menciptakan (atau mengembalikan) realitas yang seungguhnya yang dianggap sebagai realitas yang benar. Jika pemalsuan oleh rezim penguasa merupakan cara perwujudan politik kekuasaannya, maka pemalsuan oleh penentangnya merupakan cara pembongkaran politik kekuasaan rezim penguasa tersebut.[34]     
            Teori hegemoni (dan dominasi) Gramsci, juga merupakan bentuk penerapan dari salah satu konsep teoretis implisit dalam teori dekonstruksi Derrida, tepatnya konsep pemikirannya yang secara postmodernis menentang metanarasi[35] yang dimiliki modernisme sebagai realitas universe (semesta) yang menguasai realitas narasi-narasi kecil—karena dianggap the others. Teori hegemoni oleh Gramsci dirumuskan sebagai teori pelaksanaan politik kekuasaan otoritarianisme, totalisme, sentralisme suatu rezim penguasa secara konstitusional untuk mencapai tujuan pengukuhan kekuasaan di samping kelancaraan pelaksanaan kekuasaan. Namun, meskipun pelaksanaannya konstitusional, berada di bawah (legitimasi) Undang-undang, diasumsikan masih muncul unsur-unsur tertentu yang mengganggu kelancaran kekuasaan, sebagai manifestasi ketidakpuasaan politis, maka oleh Gramsci teori ini dilengkapi dengan teori dominasi, yakni teori pelaksanaan kekuasaan secara militer untuk menumpas dengan kekerasan unsur-unsur pengganggu jalannya kekuasaan, yang berposisi menjadi pelengkap pelaksanaan kekuasaan hegemoni yang konstitusional. Teori ini merupakan pengungkap atau pembongkar realitas hegemoni (dan dominasi) politik kekuasaan suatu rezim penguasa.[36]
            Melalui fenomena hegemoni sebagai indikasi keberadaan fenomena konflik  postmodern Sesuai dengan teori dekonstruksi yang dipergunakan sebagai teori utama, dan sesuai dengan paradigma postmodernisme yang melandasi sistem berpikir keseluruhan wacana postmodernisme ini, konflik tersebut sesungguhnya merupakan konflik perlawanan dan perjuangan (sebagai konflik dekonstruksi) kelompok inferior terhadap superior.
            Konflik itu tidak lain adalah konflik postkolonial, yakni dekonstruksi kelompok inferior terhadap cara-cara kekuasaan kolonialisme modern pihak superior sebagai koloni penguasa modern, dengan tujuan membongkar dan menghentikan kolonialisme kekuasaan tersebut, dan menggantikannya dengan cara-cara kekuasaan demokratis postmodern (postdemokrasi). Didasarkan atas fenomena itu maka teori konflik yang dipergunakan dalam analisis teori konflik postkolonial yang dikembangkan oleh Edward Said (dan Foucault) terutama atas konsep teoretis konflik politik dan kekuasaannya. Sebab, pada hakekatnya konflik tersebut merupakan pertentangan antara postmodernisme dengan modernisme. Secara spesifik, teori konflik postkolonial ini mendukung teori dekonstruksi dalam mengungkap fenomena konflik wacana modernisme dan postmodern sebagai konflik postkolonial.[37]
            Sebagai inti substansi dari paparan diatas kita bisa menemukan sebuah pemahaman yang lebih komprehensip. Diyakini bahwa awal kelahirannya postmodernisme merupakan kritik para teoritikus terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanism dari manusia sendiri. Modernisme berbasis materialism dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Posmodernisme merespon terhadap inti pilsafat modernism. Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah tidak bisa dibenarkan. Penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang rumit. Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan disiplin netral seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan berkompetisi  dalam birokrasi kuasa pengetahuan. Teoritikus lain semisal Baudrillard merasa curiga terhadap peran media massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. “Apakah kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa mengatakan hal itu? Inilah seolah-olah bahasa yang dapat diwakili untuk menjelaskan kecurigaan Boudrillard. Bahkan ia curiga bahwa perang teluk hanyalah drama layar kaca, tidak benar-benar terjadi. ” Peperangan modern adalah peperangan cyber,”. Menurut kaum postmodernis semua fenomena modernisme adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan dari agenda kapitalisme. Baudrillard melihat kapitalisme sebagai sesuatu yang mengubah manusia menjadi benda[38]. Demikian inilah kritik fundamental atas ideologi pengatahuan modern yang dilakukan oleh Postmodernisme.         Kelompok posmodernisme meyakini bahwa kemajuan modernisme yang tidak terbendung telah membikin dunia kacau balau yang mengakibatkan  dampak – dampak problem kemanusiaan yang tiada berujung. Misalnya Pertama, Pandangan dualistik yang membagi seluruh kenyataan menjadi subyek dan obyek, spiritual dan material, manusia dunia, dsb., telah mengakibatkan
obyektivisasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena. Hal ini telah menyebabkan krisis ekologi global dunia; Kedua, Pandangan modern yang bersifat obyektivitas dan positivitis akhirnya  menjadikan manusia seolah obyek juga, dan masyarakatpun direkayasa sebagai mekanistik mesin. Akibatnya masyarakat cenderung menjadi tidak  manusiawi; Ketiga  Dalam modernisme ilmu-ilmu positif-empiris diwajibkan menjadi standar kebenaran tertinggi. Sehingga nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Dampaknya timbullah disorientasi moral religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental, dst.: Keempat, Gerakan Materialisme. Materialisme secara ontologis selalu diiringi pula dengan materialisme praktis, yaitu bahwa hidup pun menjadi keinginan yang tak habis-habisnya untuk memiliki dan mengontrol  hal-hal material. Kelima, Gerakan Militerisme. Norma-norma religius dan moral di era modern tak lagi berdaya, membendung perilaku manusia, maka norma umum obyektif pun cenderung hilang juga. Akibatnya, kekuasaan yang menekan dengan ancaman kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengatur manusia. Ungkapan paling gamblang dari hal  ini adalah militerisme dengan persenjataan nuklirnya telah memporak porandakan peradaban manusia. Inilah fenomena masyarakat modern yang paling mengerikan.
            Maka disinilah posisi strategis semangat postmodernisme untuk menyelamatkan manusia dengan segala dunianya dari kekacauan dunia yang lebih parah. Meskipun juga pada tahap tertentu ide-ide besar tentang posmodernisme itu sendiri juga merupakan gaya pemikiran yang penuh kekacauan. Diakui  bahwa postmodenisme pada dasarnya mengalami absurditas secara definisi dan konseptual. Tetapi secara substansi postmodernisme secara umum mengajarkan sebuah dasar pemikiran yang menempatkan sensibilitas budaya secara proporsional dan tanpa nilai absolut.
            Dalam kerangka  menyandingkan paradigma modernisme dan postmodernisme diperoleh sebuah ilustrasi sebagai berikut:[39]

Modernism                                         Postmodernism

Purpose (Tujuan)            digeser  sebagai                Play (Permainan)
Design (Rencana)           digeser  sebagai               Chance (Kesempatan)
Hierarchy (Hirarki)         digeser  sebagai               Anarchy (Anarkhi)
Centring (Berpusat)        digeser  sebagai               Dispersal (Tersebar)
Selection (Seleksi)         digeser  sebagai               Combination (Kombinasi)
Dengan memperhatikan bagaimana kata-kata yang penggunaan symbol bahasaa oleh modernisme bernuansa yang kuat akan kemampuan kuasa mekanistik birokratis subyek pemikir untuk menganalisa, menyusun, mengontrol dan menguasai. Sedangkan, yang berada di bawah kategori simbol-simbol posmodernisme berindikasi kekuatan yang sama diantara subyek ketidakmampuan (inability) dari subyek pemikir untuk menguasai atau mengontrol –sehingga mereka harus meninggalkan segala sesuatu sebagaimana adanya dalam keberagaman. Demikian inilah titik perbandingan secara konseptual modernisme dan era posmodernisme.
 G. Kesimpulan
            Perubahan dan pergeseran adalah nafas kehidupan manusia. Perubahan demi perubahan telah terjadi dan dialami oleh realitas pengetahuan manusia. Sejak zaman kuno, pertengahan, modern dan posmodernisme pemikiran manusia memiliki karakteristiknya masing-masing. Masing – masing periode memiliki kecenderungan yang berbeda – beda sesuai dengan dialektika nalar yang dikembangkan oleh manusia dalam menghadapi realitasnya.
            Berkaitan dengan postmodernisme  mengandung sejumlah  konseptualisasi yang kompleks. Postmodernisme memiliki pengertian yang cukup ambigu. Postmodernisme merupakan gabungan dan peleburan dari berbagaia gaya pemikiran filosofis. Yang kesemuanya dirangkum dan diikat oleh sebuah nalar unik dan seolah – olah tiada batasan  dengan rambu-rambu yang konkret dan jelas. Kerangka konseptual itu misalnya ruang diskursive yang dikaji, persoalan-persoalan yang dicoba ditemukan jawabannya oleh kaum posmodernisme dan teori-teori posmodernisme yang dilontarkan oleh para teoritikus ilmu pengetahuan. Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/ sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan saints.
            Tend pemikiran dan ide postmodernisme dapat di rasakan gaungnya, khhususnya wacana pemikiran ilmu sosial. Teori-teori konseptual yang menggiring era postmodernisme mendapat perhatian signifikan dalam kancah perdebatan keilmuan ketika di kalangan masyarakat dan akademisi disibukkan dengan diskusi yang menyangkut tema-tema teori dekonstruksi (Derrida), teori estetika resepsi (Jauzz), teori multikultural (Storey), teori intertekstual (Kristeva),  teori hipersemiotik/hiperealitas (Baudrillard), teori hegemoni (Gramsci), dan Teori konsep postkolonial (E.Said).
            Ciri  dari postmodern adalah melingkupi hal-hal secara konseptual ide melakukan kritik ideologi iolmu pengetahuan modern yang meliputi: pengangkatan derajad martaba manusi. bahasa semoitotik Hermeneutik, Filologi  sebagai language game.  merupakan ide-ide cemerlang yang menjadi daya dorong  kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial yang tersisihkan. Ide tentang tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia sehingga hal- hal yang mapan dan permanen  harus di dekonstruksi. Wallahu a’alam bis syawab
DAFTAR PUSTAKA
Benhabib, Seyla, Epistemologies of Postmodernism:A Rejoinder to Jean – Francois Lyotard,Autum:Telos press, JSTOR,1984
Bertens,  Hans, The Idea Of The Postmodern Canada,USA:Routledge: 1995
Calhoun, Craig, Postmodernism as Pseudohistory:Continuitis In the Complexities of Social Action,Chapel Hill: University of North Carolina.1992
Derrida, Jacques , Writing and Difference, Translated, with an introduction and additional notes, by Alan Bass,London :Routledge, 2001
Djelantik, A.A.M, ESTITIKA:Sebuah Pengantar, Bandung:Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia, 1999.
Habib, M. A. Rafey, A History of Literary Criticism From Plato to the Present; (Main Street, Malden,USA: Blackwell Publishing, 2005
Hassan, Ihab , The Dismemberment of Orpheus: Toward a Postmodern Literature,New York: Oxford University Press, 1982
Jencks,Charles, The Language of Post-Modern Architecture, 4th ed. ,London: Academy Editions, 1984
Lash, Scoot , Sosiologi Postmodernisme, Jakarta:Kanisius,2004
Leahy, Louis, Manusia Sebuah Misteri;sintesa filosofis makhluk paradoks,Jakarta: Gramedia, 1985
Lyotard, Jean , The Postmodernisme and Condition, A Report on Knowledge, Oxford:Manchester University press,1984
Norris, Christopher , Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida, Yogyakarta:Arruss, 2003
O’Donnel, Kevin,  Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius,2009
Peterson, Nancy J. , History,Postmodernism, and Louise Erdrich’s T racks , Autum;JSTOR,2008.
Richhard , Karua Harland,Superstrukturalisme;Pengantar komprehensip kepada semiotika, strukturalisme dan poststrukuralisme, Yogyarta;Jalasutra, 2006.
Rosenberg,Alex, Philosophy of Science;A Contemporary Introduction, New York:Routledge, 2005
Siswanto,Joko, Sistem- system Metafisika Barat,Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998
Slocombe, Will, Postmodern Nihilism: Theory and Literature New york: Routledge, 2006
Sugiharto, Bambang, Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.,Yogyakarta: Kanisius. 2000.
Turner, Bryan S, Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas,Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2000.


[1]     Masing – masing tokoh menyebutkan model pergeseran konsep mereka tentang pergeseran pemikiran sangat beragam. Meski terkadang tidak berurutan secara kronologis disinilah yang menjadikan sejumlah aliran-aliran  pemikiran dalam filsafat semakin berkembang. Aliran tersebut melingkupi rasionalisme, empirisme, materiaslisme, posistivisme, idealisme, pragmatisme,  eksistensialisme, perenialisme dan lain sebagainya. Masing – masing aliran memiliki model gaya dan karakter pemikiran yang berbeda sesuai dengan kecenderungan masing-masing. Masing –masing aliran muncul sebagai reaksi atas aliran yang lain yang dianggap terdapat anomali dan krisis sehingga diperlukan paradigma baru dalam menyelesaikannya. Secara lebih dalam berkaitan dengan pergeseran paradigma  positifisme ke postpositifisme baca tulisan  Alex  Rosenberg, Philosophy of Science;A Contemporary Introduction (New York:Routledge,2005) hal 146-168   dan juga buku kecil Seri posmodernisme Karangan Ziauddin Sardar, Thomas Kuhn dan Perang Ilmu, Penerjemah Sigit Djatmiko(Yogyakarta:Jendela, 2002) hal. 13- 64
[2]     Untuk memahami konsep utuh narasi  Charles Jencks, tersimpul dalam karyanya The Language of Post-Modern Architecture, 4th ed. (London: Academy Editions, 1984) ..
[3]     Joko Siswanto, Sistem- system Metafisika Barat,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998) 159
[4]     Seyla Benhabib, Epistemologies of Postmodernism:A Rejoinder to Jean – Francois Lyotard (Autum:Telos press, JSTOR,1984) hal.111
[5]     Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri;sintesa filosofis makhluk paradoks (Jakarta: Gramedia, 1985) 271
[6]     Disini lain muncullah Gerakan anti strukturalis yang disebut dengan gerakan poststrukturalis dan beberapa penulis menyebutkan dengan superstrukturalis. Konsep ini berkembang sebagai gerakan ingin melakukan kritik serius atas pemikiran strukturalis kaum modernis yang telah melumpuhkan nalar kreatif manusia yang hidup dalam kancah kontemporer. Aliran poststrukturalisme mengandung arti sebuah gerakan filsafat yang merupakan reaksi terhadap strukturalisme dan membongkar setiap klaim akan oposisi berpasangan,hierarki berjenjang, dan validitas kebenaran universal dan kemudian mengajukan konsep baru dengan menjunjung tinggi permainan bebas tanda serta ketidakstabilan makna dan kategorisasi intelektual.  Untuk mendapatkan gambaran lebih utuh baca Karua Richhard Harland,Superstrukturalisme;Pengantar komprehensip kepada semiotika, strukturalisme dan poststrukuralisme, (Yogyarta;Jalasutra, 2006)
[7]     Bambang Sugiharto,. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.(Yogyakarta: Kanisius. 2000) hal 20
[8]     Scoot Lash, Sosiologi Postmodernisme( Jakarta:Kanisius,2004) hal 21
[9]     Ibid, hal.179
[10]    Bryan S. Turner, Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas. (Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2000)…
[11]    Akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernism Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism.
[12]    Dalam sebuah konsep dikatakan diskursus, mengandung arti  yakni mekanisme cara mendapatkan pengetahuan,beserta praktek sosial yang menyertainya, bentuk subyektifitas yang  terbenttuk darinya, relasi berbagai kekuasaan yang ada dibalik pengetahuan dan praktek sosial tersebut serta saling keterkaitan diantara semua aspek.                                     
[13]    Craig Calhoun, Postmodernism as Pseudohistory:Continuitis In the Complexities of Social Action,(Chapel Hill: University of North Carolina.1992) hal.4 ,A previous version of this paper was presented to the session “Beyond Polarization: New Strategies of Theoretical Discourse,” World Congress of Sociology, July 9-14, 1990, Madrid, Spain
     
[14] Joko Siswanto, Sistem- system Metafisika Barat,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998) 160-162
[15] Hans Bertens,  The Idea Of The Postmodern (Canada,USA:Routledge: 1995)  88
[16] Bambang Sugiharto, ibid
[17] Bambang Sugiharto, ibid
[18] Bambang Sugiharto, ibid
[19] Scoot Lash, Sosiologi ….. hal 65-123
[20]    F. Budi Hardiman, Filsafat Modern;Dari Machiavelli sampai  Nietche ( Jakarta:Gramedia, 2007) hal. 256 – 282
[21]    Will Slocombe, Postmodern Nihilism: Theory and Literature (New york: Routledge, 2006) hal. 114-147
[22]    Jean Lyotard,, The Postmodernisme and Condition, A Report on Knowledge(Oxford:Manchester University press,1984) hal.51  disini secara khusus pada bab 13 Lyotard memberi ulasan cukup luas bahwa  postmodernisme merupakan sebuah gaya  pemikiran dan penelitian yang tidak ada keteraturan.
[23]    Contoh lain mengenai tipologi teoritikus sosial termasuk tipologi Rosenau (1992) distingsi antara pemikir postmodern yang skeptis dan afirmatif dan tipologi Kumar (1995) perbedaan antara postmodernisme reaksi dan resistensi.
[24]    Christopher Norris, Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida (Yogyakarta:Arruss, 2003) Hal.7
[25]    Konsep ini dirangkum dari berbagai sumber dan konsep yang berhasil dilacak.
[26]    M. A. Rafey Habib, A History of Literary Criticism From Plato to the Present; (Main Street, Malden,USA: Blackwell Publishing, 2005) Hal. 555-760, Dalam buku ini cukup lengkap dan komprehensip untuk mendapatkan gamabaran jelas filsafat masa plato sampai dengan era kontemporer sehingga buku ini sangat tebal + 800 Halaman, dibagi dalam 8 bab
[27]    Jacques  Derrida,Writing and Difference, Translated, with an introduction and additional notes, by Alan Bass  (London :Routledge, 2001), 351
[28]    Untuk memperkuat konsep dekonstruksi silahkan membaca sumber bacaannya antara lain karya Derrida (1976), Norris (2003), Ritzer (2003), Piliang (2003), Storey (2003), Grenz (2001), Kutha Ratna (2004a; dan 2004b), Barker (2004), Shimogaki (1993), Selden (1993), Appignanesi (1999), Hardiman (1994), dan Caputo (1997).
[29]    Pengetahuan teori estetika resepsi Jauzz ini bersumber pada Junus (1990), Teeuw (1990), Selden (1993), Kutha Ratna (2004a, 2004b), Fokkema dan Kunne-Ibsch (1998),  dan Barker (2004).
[30]    A.A.M, Djelantik, ESTITIKA:Sebuah Pengantar (Bandung:Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesiam 1999) 153-162
[31]    Sumber pengetahuan mengenai teori multikultural yang digunakan antara lain Storey (2003), Ritzer (2003), Bagus (2003), Barker (2004), Gandhi (2001), Agung (2003), Cribb (2001), Mudana (2003), Musianto (2003), Sparingga (2003), dan Parimartha (2003).
[32]    Nancy J. Peterson,History,Postmodernism, and Louise Erdrich’s T racks (Autum;JSTOR,2008) hal. 984
[33]    Pengetahuan teori Interteks ini bersumber pada Junus (1990), Kutha Ratna (2004a, 2004b), Barker (2004), Selden (1993), Luxemburg (1990), Egleton (1990), dan Teeuw (1990).
[34]    Teori hipersemiotik (hiperealitas) Baudrillard ini bersumber pada para tokoh miosalnya  Piliang (2003; 2004), Ritzer (2003), Maliki (1999), Barker (2004), dan Umberto-Eco (2001).
[35]    Grand Naratives (Meta-narasi) adalah teori-teori atau konstruksi dunia yang mencakup segala hal  dan  menetapkan  kriteria  kebenaran  dan  objektifias  ilmu  pengetahuan.  Dengan konsekuensi bahwa narasi-narasi lain diluar narasi besar dianggap sebagai narasi nonilmiyah
[36]    Teori hegemoni (dan dominasi) Gramsci ini didasarkan pada sumber pemikir dan karya tokoh-tokoh seperti  Gramsci (2000), Simon (2000), .Sugiono (1999), Illich (2001), Barker (2004), Giddens (2003), Dahrendorf (1986), Storey (2003), dan Said (1995).
[37]    Teori konflik ini bersumber pada referensi Viswanathan (2003),E. Said (1996; 2002), Gandhi (2001), Ritzer (2003), Vattimo (2003), termasuk Sanderson (2003).
[38]    Kevin O’Donnel, Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius,2009 ) hal. 42 -113
[39]    Ihab Hassan, The Dismemberment of Orpheus: Toward a Postmodern Literature (New York: Oxford University Press, 1982) 267-268

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: