ANALISIS WACANA

1. Pendahuluan
In the world of human beings, you won’t find a language by it self—the Dutch language strolling the canals, or the English language having a nice cup of tea, or the German language racing madly along the autobahn. You only find discourse.
Robert de Beaugrande (1997:36)

Membayangkan dunia tanpa wacana ibaratnya seperti membayangkan dunia tanpa bahasa, yang berarti membayangkan sesuatu yang tidak terbayangkan. Dalam kehidupannya, manusia selalu membahasakan dan mewacanakan sesuatu yang melibatkan bunyi dan bentuk lingual dan dimaknai berdasarkan pengalaman serta situasi tempat bunyi dan bentuk lingual itu dipergunakan.
Membahasakan dan mewacanakan mengacu pada bahasa untuk fungsi komunikasi. Bahasa yang direalisasikan berupa bunyi dan tulisan dimaknai oleh manusia dalam peristiwa komunikasi. Dengan demikian, wacana digunakan untuk memahami dunia, orang lain , dan diri sendiri. Arti dan makna akan ada bila ada yang menggunakan dan memaknai. Sebuah kata, misalnya, akan bermakna bila ada yang mengungkapkan dan menginterpretasikannya .
Wacana itu sendiri diartikan sebagai unit bahasa yang lebih  besar dari kalimat . Analisis wacana berarti menganalisis unit bahasa yang lebih tinggi dari kalimat–wacana. Unit itu dapat berupa paragaraf, yang terdiri atas beberapa kalimat, atau hanya satu kalimat saja. Misalnya, ketika seorang ibu menasehati anaknya yang melakukan kesalahan dapat mengutarakannya dalam suatu wacana lisan yang panjang dan mungkin saja diulang-ulang terus dalam hari itu bahkan dalam beberapa hari berturut-turut. Namun, si ayah yang tidak banyak bicara hanya mengatakan
(1)  Jan     diulang mancoreng kaniang ayah  jo         arang baliak!
 Jangan diulang   mencoreng   kening   Ayah   dengan  arang  lagi!
‘Jangan mengulangi kesalahan yang memalukan Ayah itu lagi.’

Konteks: Dituturkan oleh seorang bapak yang meminta anaknya untuk tidakmengulangi perbuatan yang sama.
diiringi pandangan mata yang penuh arti dan intonasi yang tegas sehingga anaknya menyadari kesalahan yang telah dilakukan.
Jadi, sebuah wacana bisa terdiri atas satu kalimat saja, tidak harus terdiri atas beberapa kalimat karena memaknai sebuah wacana tidak terlepas dari konteks dan faktor-faktor di luar kebahasaan yang mempengaruhi makna sebagaimana halnya contoh (1).
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Brown dan Yule  dan Hatch  yang mengatakan menganalisis wacana berarti menganalisis penggunaan bahasa  sesuai fungsinya. Dalam menganalisis wacana, deskripsi lingual sebuah bahasa tidak dapat dipisahkan dengan tujuan dan fungsi bentuk lingual tersebut yang memang dirancang sedemikian rupa untuk dipergunakan oleh manusia dalam berkomunikasi. Seperti pada contoh (1), ujarannya dimaknai si anak sesuai dengan keinginan si ayah. Kesesuaian makna ini membutuhkan proses interaksi yang cukup lama yang diakumulasikan sehingga menjadi pengertian bersama.  Pengertian bersama ini diwujudkan dalam simbol-simbol kebahasaan yang dapat berbentuk kata atau frasa, kalimat tidak lengkap, nada suara atau intonasi, bahkan isyarat non verbal yang familiar dan/atau tidak familiar dengan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, ujaran (1) yang disampaikan dengan intonasi dan ekpresi nonverbal tertentu tidak kalah mendalamnya dibandingkan dengan wacana yang panjang dan bertele-tele, seperti yang disampaikan oleh si ibu.
Hal ini pulalah yang membuat wacana berbeda dengan teks. Djawanai , mengatakan teks dan wacana merupakan dua hal yang berbeda karena yang pertama mengacu kepada hasil–dipandang sebagai produk yang mengenyampingkan pertimbangan teks itu dibangun–, sedangkan yang kedua mengacu kepada proses, yaitu proses pemilihan dan pemanfaatan bunyi (hierarki fonologis), pemilihan kata (hierarki referensial), sampai kepada satuan kabahasaan yang besar dan proses  gramatik/sintaktik, semantik, dan pragmatik (hierarki gramatikal)  sebagai upaya pengungkapan makna.  Agar dapat memahami dan menganalisis sebuah wacana, diperlukan pemahaman terhadap konsep-konsep dasar analisis wacana tersebut. Oleh sebab itu, tulisan singkat ini akan membicarakan beberapa konsep tentang analisis wacana, yaitu asumsi, presupposisi, inferensi, implikatur, dan konteks. Konsep-konsep dasar ini akan dijelaskan sedemikian rupa serta aplikasinya pada sebuah bahasa daerah, yaitu Bahasa Minangkabau.

2. Konsep Dasar Analisis Wacana dan Aplikasinya
a. Asumsi
    Seorang peserta tutur, baik sebagai sebagai penutur maupun mitra tutur, menyimpan segudang asumsi dalam pikiran mereka. Asumsi mengenai dunia tempat tinggalnya, asumsi mengenai kelompok sosial tertentu, asumsi mengenai dirinya sendiri, atau  asumsi mengenai pengalaman hidupnya.
     Asumsi ini akan selalu bekerja dalam setiap gerak hidupnya. Tatkala seseorang bertemu dengan orang lain, asumsinya akan langsung bekerja, apakah dia pernah bertemu atau belum dengan orang ini, kalau belum pernah dia akan menilai penampilan orang itu, dari mana asalnya, dari kelas sosial apa, umurnya kira-kira berapa, dan lainnya.
    Jucker  dan Muhadjir   berpendapat asumsi merupakan dugaan yang berdasarkan pada lingkungan kognitif. Asumsi muncul sebagai usaha untuk mengenali sesuatu melalui pengalaman pribadi (kognisi). Jadi, dalam asumsi terdapat  proposisi universal yang self evident benar dan tidak memerlukan  pembuktian. Asumsi akan perlu dibuktikan jika kebenaran sedang dicari. Setelah dilakukan pembuktian asumsi akan berubah menjadi postulat (pernyataan tentang sejumlah sesuatu yang memiliki hubungan),  berlanjut kepada tesis (pernyataan yang  telah diuji kebenarannya lewat evidensi atau secara empiris), dan terakhir menuju sebuah teori (konstruksi pernyataan integratif  yang di dalamnya terkandung asumsi, postulat, dan sejumlah tesis)
      Dalam kaitannya dengan peristiwa tutur,  lingkungan kognitif  yang dibawa oleh peserta tutur akan terus berkembang selama peristiwa komunikasi berlangsung dan terkait  dengan  apa yang disebut oleh Searle  sebagai latar belakang dan jaringan. Latar belakang (background) terdiri atas keyakinan dan asumsi yang mendasar untuk dijadikan sebagai interpretasi sebuah tuturan, sedangkan jaringan (network) terdiri atas keyakinan proposisi yang diperlukan untuk memahami sebuah tuturan. Dalam praktiknya, kedua istilah ini tidak pernah dipisahkan, justru selalu digunakan  bersamaan. Dari contoh yang diberikan Searle
(2)  George Bush intends to run for president
dikatakan penutur berasumsi bahwa mitra tutur  juga memiliki keyakinan kalau  Amerika merupakan negara yang berbentuk republik dan  selalu melaksanakan pemilihan presiden sekali empat tahun. Pengalaman penutur yang sering melakukan diskusi politik dengan mitra tutur membuatnya  yakin akan asumsi tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan asumsi merupakan  dugaan yang menjadi dasar dalam penarikan kesimpulan.
    Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau ada sebuah pepatah yang mengatakan manggarik lauak dalam lubuak lah jaleh jantan jo batinonyo ’bergerak ikan dalam kolam sudah diketahui jantan atau betina’. Artinya, seorang Minangkabau akan cepat menangkap sesuatu yang tersirat dari sebuah ujaran. Ketika penulis menyampaikan hal ini kepada seorang non-Minangkabau, dia langsung berasumsi bahwa orang Minang adalah orang yang berpikiran negatif (negative thinking). Asumsi ini belum bisa dikatakan benar atau salah sebelum dilakukan pembuktian yang empirik. Saat berasumsi, orang ini menarik kesimpulan bedasarkan pengalaman pribadi dan pembuktian dari dirinya sendiri. Asumsi ini akan berbeda dari meraka yang memiliki pengalaman berbeda pula. Terbukti ketika penulis menyampaikan hal yang sama kepada beberapa teman non-Minangkabau lain, asumsi mereka adalah orang Minangkabau selalu bersikap bijaksana karena segera dapat memahami maksud yang secara literal tidak terucap.
  
 b. Presuposisi
    Presuposisi atau praanggapan digambarkan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
a.    Presuposisi merupakan pengetahuan bersama (common ground) antara penutur dan mitra tutur sehingga tuturan tidak perlu diutarakan. Sumber presuposisi adalah pembicara karena pembicara berpresuposisi bahwa pendengar memahami apa yang dipresuposisikan .
b.    Sebuah kalimat dikatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (yang dipresuposisi) mengakibatkan kalimat yang pertama (yang mempresuposisi) tidak dapat dikatakan benar atau salah .
    Dari kedua pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam presuposisi terdapat truth condition/semantics tradition karena sebuah ujaran dipresuposiskan tergantung kepada struktur kalimat yang digunakan. Oleh karena itu,  semakin erat hubungan peserta tutur semakin banyak pula tuturan yang tidak diutarakan secara verbal karena mitra tutur sudah bisa mempresuposisikan tuturan tersebut dengan benar sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran penutur.
Lebih jelasnya, presuposisi dapat dilihat pada contoh berikut ini:
(3)  A:  Tia, buekkan Uda kopi, ciek!
     Tia, bikinkan Uda kopi, satu!
    ‘Tia, tolong buatkan Saya segelas kopi!’

       B:   Yo, Da?
     Ya, Da?
    ‘Iya, Da?’

Konteks: Seorang suami meminta istrinya untuk membuatkan segelas kopi.
Ujaran (3) disampaikan oleh seorang suami kepada istrinya. Si suami biasa meminum kopi yang tidak terlalu manis, tidak terlalu kental, dan porsinya pun tidak banyak. Biasanya aktivitas minum kopi dilakukan di diteras belakang runag, sembari membaca buku. Presuposisi A tentang takaran kopi yang biasa diminum dan tempat pelaksanakan minum kopi ternyata benar. Apabila tidak, B tidak akan segera menjawab dengan Iya. Barangkali akan ada beberapa pertanyaan, seperti Manis atau pahit? atau Satu cangkir besar atau cangkir kecil?,  atau Dimana diletakkan? Justru karena sudah mengetahui kebiasaan suaminya itulah si istri segera membuatkan kopi dan membawanya ke teras belakang tersebut.

c. Inferensi
     ‘Inference…process which the reader (hearer) must go through to get from the literal meaning of what is written (or said) to what the writer (speaker) intended to convey .
     Inferensi merupakan sebuah kesimpulan yang sering harus dibuat seorang mitra tutur karena dia tidak mengetahui apa makna sebenarnya yang dimaksudkan oleh penutur. Jalan pikiran penutur bisa saja berbeda dengan jalan pikiranmitra tutur, bisa saja inferensi yang dibuat mitra tutur meleset atau salah. Oleh karena itu, mitra tutur perlu membuat inferensi-inferensi lagi agar apa yang dimaksud penutur dapat ditangkap secara jelas oleh mitra tutur.
    Agar sebuah inferensi diperoleh dengan benar, diperlukan inferensi yang bersifat pragmatik bukan logis saja, disamping inferensi yang berdasarkan pengetahuan sosiokultural.
    Inferensi akan sangat bermanfaat saat digunakan untuk menjembatani dua ujaran yang terkait tetapi kurang jelas keterkaitannya. Misalnya
(4)  A: Awak pai  jalan-jalan minggu muko, mah.
          Kita    pergi jalan-jalan   minggu depan,  mah.
         ‘Kita pergi berdarmawisata minggu depan.’

      B:  Saik   randangnyo gadangan  setek, yo!
      Potong rendangnya   dibesarkan  sedikit, ya!
           ‘Daging rendangnya dipotong agak besar.’

Konteks: Seorang gadis memberitahukan temannya tentang rencana organisasi mereka untuk berdarmawisata.

    Inferensi yang mungkin menjembatani dua ujaran tersebut adalah
      C:  Mereka pergi berdarmawisata dan membawa nasi bungkus berlaukkan rendang.

    Inferensi seperti (C) mudah dibuat karena B sudah mengetahui kebiasaan organisasi mereka yang selalu membawa bekal nasi bungkus pakai rendang setiap berdarmawisata. Inferensi ini akan lebih mudah lagi diambil oleh orang yang berasal dari Minangkabau karena rendang adalah makanan khas daerah itu, seperti halnya gudeg di Yogya atau ketoprak di Jakarta. Itulah sebabnya pengetahuan sosiokultural yang berhubungan dengan keterkaitan kedua ujaran di atas sangat diperlukan.
    Menurut Haviland dan Clark  menetapkan suatu asumsi penghubung (bridging assumption) , seperti (4C), cukup sulit dan memakan waktu. Selanjutnya, asumsi penghubung dikatakan bisa menjadi mata rantai yang hilang (misssing link) yang diperlukan untuk membuat ujaran (4A) dan (4B) menjadi jelas. Contoh lainnya dapat dilihat pada data berikut.
(5)  A:  Naiklah!
            Naiklah!
           ‘Masuklah ke dalam rumah!’

      B: Bara   buah  janjangnyo ko, Tek?
           Berapa buah   tangganya     ini, Tek?
           ‘Ada berapa tangga yang dimiliki rumah ini, Tek?’

Konteks: Dituturkan oleh seorang bibi yang meminta keponakannya untuk mampir.

    Missing link dari kedua ujaran di atas adalah
      C: Rumah itu memiliki tangga.

    Missing link bisa terjadi secara otomatis dan non-otomatis. Otomatis dan tidak otomatisnya sebuah missing link  didasari oleh struktur ujaran.  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini.

A. Inferensi sebagai Hubungan yang Non-Otomatis
    Sebuah teks bisa saja dihubungkan oleh missing link yang formal, namun seorang mitra tutur sering harus membuat sendiri inferensi tersebut. Contoh (5) merupakan missing link karena ada hubungan otomatis yang terjadi antara kedua ujaran.  Berbeda dengan data (4) yang bukan missing link karena  mitra tutur harus mencari sendiri hubungan yang sifatnya non-otomatis.  Hubungan yamg sifatnya non-otomatis seperti pada (4C) dikatakan benar-benar merupakan inferensi karena dibutuhkan usaha interpretatif di pihak mitra tutur.
B. Inferensi sebagai Pengisi Kesenjangan atau Ketiadaan Kontinuitas
    dalam Interpretasi.

    Inferensi merupakan hubungan yang diciptakan oleh penutur  dan mitra tutur untuk memahami dan menginterpretasikan wacana yang kurang lengkap. Semakin kurang lengkap sebuah wacana, semakin banyak usaha mitra tutur untuk membuat inferensi.  Dalam hal ini, konteks sangat berperan penting. Konteks itu ada dalam pikiran penutur dan mitra tutur. Waren et al   mengatakan untuk sampai pada inferensi sebagai pengisi kesenjangan yang terdapat dalam peristiwa tutur, seorang mitra tutur harus menggunakan pertanyaan siapa, apa, dimana, dan kapan. Misalnya,
(6)    a. Urang lah  eboh mandanga kaba Padang ka dapek Tsunami.                          Orang   sudah ribut  mendengar   kabar Padang  akan dapat   Tsunami.
               ‘Masayarakat ribut mendengar berita Padang akan dilanda Tusnami.’

b. Urang Awak nan barado di parantauan lah manalepon ka Padang maminta dunsanaknyo untuak maninggaan kota Padang.
Orang Awak yang berada di perantauan telah menelpon ke Padang meminta saudara mereka untuk meninggalkan kota Padang.
Masyarakat Minangkabau di perantauan meminta keluarga mereka untuk segera meninggalkan kota Padang.

     c. Jalan ka Bukittinggi, Padang Panjang, jo  ka Solok macet.
        Jalan    ke  Bukittinggi,  Padang Panjang,    dan ke  Solok macet.
       ‘Jalan menuju Bukittinggi, Padang Panjang, dan Solok macet.’

    d. Tiket pesawat pun sarik.
        Tiket pesawat pun susah.
        ‘Susah untuk mendapatkan tiket pesawat.’

    Tuturan (a)-(d) merupakan cerita yang disampaikan oleh seorang masyarakat Minang kepada temannya yang menetap di Jakarta.  Bagi mitra tutur yang mengetahui adanya isu Tsunami yang akan melanda kota Padang tidaklah sukar memahami cerita di atas. Dengan pengetahuannya mengenai siapa, apa, dimana, dan kapan peristiwa itu terjadi, mitra tutur dapat menginferensikan bahwa siapa mengacu kepada masyarakat Minang yang berdomisili baik di Padang maupun di luar Padang yang keluarganya menetap di Padang,  apa yang terjadi diinferensikan dengan isu Tsunami, masyarakat ribut dan kacau karena semuanya ingin segera meninggalkan kota Padang ke tempat yang lebih tinggi, yaitu Bukittinggi, Padang Panjang, dan Solok. Bagaimananya diinferensikan dengan menggunakan kendaraan pribadi dan menggunakan pesawat terbang bagi mereka yang  menuju  pulau Jawa.
       
d. Implikatur
    Grice   memandang implikatur sebagai sebuah tuturan yang dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut . Sebuah implikatur dengan tuturan yang mengimplikasikannya bukanlah merupakan konsekuensi mutlak (absolute consequence). Misalnya,
(7) A: Da, ado telepon.
          Da,  ada   telepeon.
          ‘Da, ada telepon.’

      B:  Sadang di kamar mandi.
            Sedang di kamar mandi.
           ‘Saya sedang berada di kamar mandi.’

Konteks: Seorang istri memberitahu suaminya bahwa ada seseorang yang ingin   berbicara dengan si suami melalui pesawat telepon.
    Secara eksplisit, tuturan (7A) tidak sinkron dengan respon yang diberikan dalam (7B). A menginformasikan B bahwa ada seseorang yang sedang menunggu di ujung telepon untuk berbicara dengan B, tetapi B menjawabnya dengan mengatakan kalau dia sedang berada di kamar mandi. Ujaran (B) mengimplikasikan sesuatu, yaitu dia tidak dapat menjawab telepon. Si istri yang sudah mengetahui kebiasaan suaminya segera memberi tahu penelepon untuk menelepon kembali karena saat itu suaminya sedang berada di kamar mandi dan belum bisa dihubungi. Implikatur ujaran (7B) dengan mudah ditangkap oleh A karena kesamaan pemahaman dan pengetahuan terhadap ujaran.
    Ilustrasi implikatur yang lain dapat dilihat berikut ini.
(8)  A:  Lah   masak aia, Ma?
     Sudah masak  air,  Ma?
     ‘Sudah masak air, Ma?’

       B:  Ka babuekkan uda kopi lai?
     Akan dibuatkan Uda kopi lagi?
             ‘Uda mau dibikinkan kopi?’

Konteks: Dituturkan oleh seorang kakak yang meminta adiknya untuk membuatkan segelas kopi.

    Mengetahui kebiasaan kakaknya yang selalu minum kopi sebelum berangkat ke kantor, si adik memahami implikatur yang dimaksudkan kakaknya. Dengan menggunakan prinsip kooperatif, seperti yang diungkapkan Grice dengan maksim kerjasamanya,  ditambah dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, B segera ke dapur untuk membuatkan kopi yang didahului oleh pertanyaan penegas apakah kopi akan segera dibuatkan. Dengan demikian dapat dikatakan implikatur akan mudah dipahami bila peserta tutur telah saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

e. Konteks
    Konteks  merupakan konsep yang dinamis, bukan statis. Oleh karena itu, konteks dimaknai Mey  sebagai
 the surroundings…that enable the participants in the communication process to interact, and that make the linguistic expressions of their interaction intelligible.

Konteks adalah lingkungan disekitar tuturan yang memungkinkan peserta tutur untuk berinteraksi dalam peristiwa komunikasi dan membuat bentuk lingual kebahasaaan yang digunakan dalam interaksi itu dapat dimengerti.
Istilah konteks pertamakali dikemukakan oleh seorang Antropolog, Malinowski , yang sedang melakukan penelitian Bahasa Kiriwinia, di Kepulauan  Trobriand, di gugusan pulau Pasifik Selatan. Di sinilah Malinowski  mengemukakan istilah konteks situasi, yaitu lingkungan di sekitar teks. Pemikiran Malinowski ini kemudian dilanjutkan oleh Firth  yang menghubungkan ide-ide  ini untuk tujuan kebahasaan.  Ada empat pokok pandangan Firth mengenai konteks:
a.    Peserta tutur (participants) dalam situasi: orang-orang yang terlibat dalam peristiwa komunikasi.
b.    Tindakan peserta tutur: aktivitas yang dilakukan, baik berupa tindakan tutur (verbal action) maupun tindakan yang bukan tutur (non-verbal action).
c.    Ciri-ciri situasi lainnya yang relevan: benda-benda dan kejadian-kejadian sekitar, sepanjang hal itu memiliki sangkut paut tertentu dengan hal yang sedang berlangsung.
d.    Dampak-dampak tindakan tutur: bentuk-bentuk perubahan yang ditimbulkan oleh hal-hal yang dituturkan oleh peserta tutur dalam peristiwa komunikasi.
Dalam penelitian di bidang etnografi komunikasi, Hymes  mengajukan seperangkat konsep yang berkaitan dengan  konteks ini dalam sebuah akronim SPEAKING.
Setting atau  Scene berkaitan dengan tempat dan waktu diutarakannya ujaran. Apakah ujaran itu diutarakan dalam situasi formal atau non-formal; apakah di ruang rapat atau di pasar; dan sebagainya.
Participants bersangkutan dengan peserta tindak tutur, yakni penutur dan mitra tutur, penyapa dan tersapa, pengirim dan penerima.
Ends berhubungan dengan tujuan atau hasil yang hendak dicapai oleh orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tutur. Dalam sidang pengadilan, misalnya, hakim, jaksa, dan pembela memiliki tujuan yang berbeda dalam percakapan.
Act of Sequence menunjukkan bentuk dan isi sesuatu yang dibicarakan, kata-kata yang diucapkan, dan bagaimana hubungannya dengan topik yang dibicarakan. Misalnya, kuliah, pidato kenegaraan, dan percakapan sehari-hari adalah bentuk wacana yang berbeda karena  jenis bahasa dan hal yang dikomunikasikan juga berbeda.
Key berhubungan dengan nada suara, keadaan si pembicara, dan faktor-faktor emosional yang mempengaruhi tuturan, apakah serius, lucu, atau marah. Situasi emosi tutur sering ditandai dengan tingkah laku, gerak-gerik, dan sebagainya.
Instrumentalities berkaitan dengan saluran (channel) atau media yang digunakan untuk menyampaikan pesan, apakah melalui televisi, telepon, atau surat kabar.
Norms of Interaction (norma interaksi) mengacu kepada norma-norma kebahasaan yang dianut oleh peserta tutur. Norma-norma ini berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Norma-norma ini akhirnya dapat mempengaruhi alternatif pilihan yang dituturkan penutur. Misalnya, dalam  bahasa Minangkabau terdapat suatu aturan agar anggota masyarakatnya selalu bertutur dengan menjaga raso dan pareso. Raso  dan  pareso merupakan sikap yang selalu menjaga rasa dan perasaan mitra tutur agar tidak tersinggung oleh tuturan yang diujarkan . Oleh karenanya, di Minangkabau dikenal istilah Kato Nan Ampek yang berfungsi sebagai tuntunan untuk bertutur agar raso  dan pareso ini selalu dapat dijaga dalam peristiwa komunikasi. Kato Nan Ampek itu terdiri atas Kato Mandaki ‘Kata Mendaki’, yaitu  tuturan yang disampaikan kepada mitra tutur yang usia atau status sosialnya lebih tinggi dari mitra tutur; Kato Manurun ‘Kata Menurun’, yaitu tuturan yang disampaikan kepada mitra tutur yang usia dan status sosialnya lebih rendah dari penutur; Kato Mandata ‘Kata Mendatar’, yaitu ujaran yang disampaikan kepada mitra tutar yang sebaya atau sederajat status sosialnya; dan Kato Malereang ‘Kata Melereng’, yaitu ujaran yang disampaikan kepada mitra tutur yang dihormati atau disegani. Inti dari Kato Nan Ampek  ini adalah siapa yang menjadi mitra tutur dan dalam situasi yang bagaimana tuturan itu diujarkan. Singkatnya, Kato Nan Ampek juga dapat menjadi konteks yang mengatur norma tutur masyarakat Minangkabau.
Genre berhubungan dengan tipe wacana yang digunakan untuk berkomunikasi, misalnya  wacana surat dinas, perundang-undangan, percakapan dengan telepon, dan sebagainya.
Kedelapan konsep Hymes ini dikembangkan oleh Poedjosoedarmo  dengan tiga belas komponen tuturnya, yaitu (1) Pribadi si penutur (O1), (2) Anggapan penutur terhadap kdudukan sosial dan relaisnya dengan orang yang diajak bicara (O2), (3) Kehadiran orang ketiga (O3), (4) maksud atau kehendak si penutur, (5) warna emosi si penutur, (6) Nada suasana bicara, (7) Pokok pembicaraan, (8) Urutan bicara, (9) Bentuk wacana, (10) Sarana Tutur, (11) Adegan Tutur, (12) Lingkungan Tutur, dan (13) Norma kebahasaan lainnya.
Studi pragmatik sebagai studi penggunaan bahasa dalam komunikasi melihat konteks  sebagai semua latar belakang pengetahuan (back knowledge) yang dipahami  bersama oleh  penutur dan mitra tutur . Dengan adanya pemahaman bersama terhadap sebuah ujaran, maksud yang ingin disampaikan seorang penutur dengan jelas dapat ditangkap mitra tutur.
Dalam bahasa Minangkabau, sebagaimana yang disampaikan di atas, untuk menjaga budaya tutur yang  dikenal dengan norma menjaga raso jo pareso, seorang  penutur haruslah hati-hati memilih bentuk tuturan sehingga mitra tutur tidak malu dan kehilangan muka. Bentuk tersebut akan disesuaikan dengan konteks peristiwa tutur yang disebut dengan kato nan ampek.  Contohnya,
(9)  A: Ndak baa     diansua-ansua mambasuah tangan lai,  Sutan.
    Tidak apa-apa diangsur-angsur mencuci         tangan   lagi, Sutan.’
    ‘Silahkan dicuci tangannya, Sutan!’

Konteks:  Dituturkan oleh seorang bapak yang meminta menantunya untuk memulai mencuci tangan.
    Tuturan (9) disampaikan oleh seorang bapak kepada menantunya. Dalam konsep Kato Nan Ampek  peristiwa tutur di atas terjadi dalam konteks kato malereang, yaitu terjadi antara penutur, mertua, dengan mitra tutur, menantu. Kedua peserta tutur ini saling menyegani karena dalam masyarakat Minangkabau menantu adalah urang sumando yang posisinya sangat riskan. Riskan artinya, sebagai orang yang datang (dalam budaya Minangkabau yang bersifat matrilinial, seorang laki-laki akan tinggal di tempat perempuan setelah menikah. Walaupun pasangan ini telah memiliki rumah sendiri dan tinggal di rumahnya tersebut, menantu laki-laki tetap dikatakan sebagai orang yang datang bila berada di rumah orang tua si istri) posisi menantu laki-laki diibaratkan sebagai tunggua di ateh tungku’ debu sisa pembakaran yang menggunakan tungku’ yang bila terkena angin sedikit kencang akan segera terbang. Dengan demikian,  seorang mertua akan sangat hati-hati tatkala berkomunikasi dengan menantunya, apalagi  bila orang itu baru saja menjadi menantunya, begitu juga sebaliknya.
    Dalam ujaran (9), penutur menggunakan bentuk permintaan yang halus. Walaupun modus kalimat yang digunakan adalah imperatif, permintaan di atas tidak dinilai kurang sopan karena ada piranti kebahasaan lainnya yang memperhalus ujaran tersebut, seperti  sapaan Sutan  yang merupakan gelar adat dalam masyarakat Minangkabau. Penggunaan  sapaan berupa gelar adat mengindikasi bahwa penutur memang menghormati mitra tutur. Berbeda dengan sapaan yang hanya menyebut nama atau dengan panggilan seperti, oi  atau ang (sapaan untuk orang laki-laki yang lebih muda dari penutur tetapi bersifat agak kasar dan bisanya sering dipakai oleh penutur yang tingkat pendidikannya rendah). Disamping itu, secara keseluruhan, ujaran (9) yang berarti silahkan mencuci tangan tidaklah bermakna literal. Dalam konteks ujaran, peserta tutur makan dengan menggunakan sendok. Jadi,  yang dimaksudkan penutur adalah ajakan untuk memulai makan, bukan sekedar mencuci tangan.
    Ujaran-ujaran seperti (9) bagi mitra tutur non-Minangkabau agak susah dimaknai. Bahkan dalam pengamatan penulis, masyarakat Minangkabau, khususnya generasi muda, juga sering salah dalam menangkap maksud ujaran-ujaran yang tersirat (penulis cenderung menyebutnya dengan ujaran bersayap karena maksud yang terkandung dalam ujaran berbeda dengan apa yang terucap secara literal ). Contoh,
(10) A: Yo, rancak tu, anak gadih pagi-pagi memang main dulu ndaknyo.
    Ya, bagus     itu, anak  gadis   pagi-pagi   memang  main dulu hendaknya.’
    ‘Memang seperti itulah seharusnya anak perempuan, main dulu di pagi     hari.’

       B: Iyo, Buk. Kami kalau pagi-pagi ko olahraga dulu. Bia badan sehat.
    Iya,  Buk.  Kami kalau pagi-pagi   ini  olahraga dulu.   Biar badan sehat.’
    ‘Iya, Buk. Setiap pagi kami memang selalu berolahraga supaya badan      sehat.’

Konteks: Seorang ibu mengomentari sikap mahasiswa KKN di sebuah desa yang telah bermain bulutangkis di pagi hari, bukannya membersihkan rumah.
    Dalam tuturan (10) penutur memuji tindakan mitra tutur yang sudah main (main yang dimaksud oleh penutur adalah berolahraga bulutangkis) di pagi hari. Namun, berdasarkan konteks, apa yang dimaksud penutur tidaklah seperti apa yang diujarkannya. Konteksnya adalah dalam budaya masyarakat Minangkabau, seorang anak perempuan hendaklah terlebih dulu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring atau membersihkan rumah, bukannya bermain. Oleh karena itu, pujian di atas bermakna sebagai sebuah sindiran. Sayangnya, mitra tutur tidak menangkap  maksud tersebut. Ini terlihat dari respon yang diberikan bahwa sudah menjadi kebiasaan mereka untuk selalu berolahraga setiap pagi. Dengan demikian dapat dikatakan peristiwa komunikasi gagal dilakukan. Kegagalan peristiwa komunikasi ini dikarenakan oleh ketidakmampuan mitra tutur dalam memahami konteks . Seandainya mitra tutur menyadari bahwa peristiwa tutur itu terjadi di pedesaan yang masih kental dengan adat dan budayanya dan disampaikan oleh seorang ibu yang juga adalah orang yang beradat (orang yang mengerti dengan adat istiadat dengan baik). Mereka ini kebanyakan berasal dari kelompok yang masih memiliki turunan darah bangsawan), respon yang diberikan tidaklah seperti (9)B, barangkali mereka akan menghentikan permainan itu dan segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan.     Peserta tutur seperti (9)B dikategorikan sebagai orang yang Ndak tau di nan ampek ‘ Tidak tahu dengan Kata Nan Empat’. Jika seseorang telah disebut demikian, mereka dianggap sebagai orang yang tidak beradat dan dapat dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Kesimpulan
Pemahaman akan konsep-konsep dasar dalam analisis wacana dapat menjadi starting point  untuk memahami dan menganalisis wacana. Konsep-konsep ini berimplementasi pada konteks. Konteks harus dipahami secara mutual. Artinya, baik penutur maupun mitra tutur memiliki sharing knowledge terhadap konteks. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa konteks memegang peranan penting, bahkan menjadi ‘juru kunci’ dalam peristiwa komunikasi. Tanpa konteks komunikasi berpotensi untuk gagal.   

4. Daftar Kepustakaan

Brown, Gillian dan George Yule. 1983. Discourse Analysis. Cambridge:Cambridge University Press
Djawanai, Stephanus. 1987. ‘Beberapa Catatan Mengenai Teori Tagmemik’.  Dalam Soenjono Dardjowodjojo. Linguistik:Teori dan Terapan. Prosiding dari Simposium Linguistik 1985. Lustrum V Unika Atmajaya. Jakarta:Arcan
Djawanai, Stephanus. 2000. ‘Analisis Wacana: Dari Teks ke Wacana’. Bahasa. Edisi Pertama Maret . Solo:Universitas Negeri Solo.
Grice,H.P.  1975. ‘Logic and Conversation’. Dalam P.Cole and J.L. Morgan. Syntax and Semantics 3. New York: Academic Press.
Gazdar, Gerald. 1979. Pragmatics, Implicature, Presupposition,and Logical Form. New York: Academic Press.
Halliday, M.A.K dan Ruqaiya Hasan.  1985. Language, Context, and Text:Aspect of Language in A Social-Semiotic Perspective. Australia:Deakin  University
He, Agnes Weiyun. 2001. ‘Discourse Analysis’. Dalam Mark Aranoff dan Miller Janie Ress. The Handbook of Linguistics. USA:Blackwell Publishers
Hymes, Dell. 1972. ‘Models of Interaction of Language and Social Life’. Dalam John J. Gumperz dan Dell Hymes. Directions in Sociolinguistics. USA: Holt, Rinehart and Winston,Inc.
Jucker, Andreas H. 1991. ‘Conversation:Structure or Process?’. Dalam John R Searle et al. (On) Searle on Conversation. Amstredam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.
Kartomihardjo    , Soeseno. 1993. ‘Analisis Wacana dengan Penerapannya pada Beberapa Wacana’. Dalam Bambang Kaswanti Purwo. Pellba 6. Jakarta:Lembaga Unika Atmajaya
Leech, Geoffrey N. 1983.  Principles of Pragmatics. USA: Longman
Mey, Jacob L.  1994. Pragmatics. Oxford:Blackwell Publishers
Muhadjir, Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif.  Yogyakarta:Rake Sarasin
Poedjosoedarmo, Soepomo. 1985. ‘Komponen Tutur’. Dalam Soenjono Dardjowidjojo. Perkembangan Linguistik Indonesia. Jakarta:Arcan
Rafik-Galea, Shameem. 2005. ‘Disourse Awareness and Issues in EST Material Design’. Dalam Soetino Sugiharto. Indonesian JELT. Vol.1. No.1. Jakarta:Unika Atmajaya
Revita, Ike. 2006. ‘Cyberspace dan Filsafat bertutur Masyarakat Minangkabau’. Dalam Simposium Internasional Dies Natalis ke- 60 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. 16-17 Maret 2006.
Revita, Ike,  Hanafi, Oktavianus. 2003. ‘Tindak Tutur dalam Bahasa  Minangkabau (Sebuah Kajian dari Aspek Sosial Budaya)”. Tidak dipublikasi. Padang:Universitas Andalas
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta:Andi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: