Strategi Belajar Dengan Catatan Pinggir

  1. Pengertian Strategi belajar
Strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, sebagaimana dikutip Wina sanjaya dari J.R.David, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.[1] Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[2]
Dalam pengertian yang umum dan populer, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Singkat perkataan, belajar dalam pengertian umum atau populer adalah suatu upaya yang dimaksudkan untuk menguasai sejumlah pengetahuan. Para penulis buku psikologi belajar, umumnya mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil sebuah pengalaman.
Strategi-strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses-proses berpikir yang digunakan oleh siswa dengan mempengaruhi apa yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Menurut Michael Pressley yang dikutip oleh Muhammad Nur menyatakan bahwa strategi-strategi belajar adalah operator-operator kognitif meliputi strategi-strategi belajar dan diatas proses-proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan suatu tugas (belajar). Strategi-strategi tersebut merupakan strategi-strategi yang digunakan siswa untuk memecahkan masalah belajar tertentu. Sebagai contoh, siswa sering ditugasi untuk mengerjakan tugas-tugas belajar tertentu seperti mengisi suatu lembar kerja dalam pelajaran membaca atau mencari bahan sumber untuk suatu laporan tertulis.
Untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar ini memerlukan keterlibatan dalam proses-proses berpikir dan perilaku tertentu, seperti menskim atau membaca sepintas judul-judul utama, meringkas dan membuat catatan, di samping itu juga memonitor jalan berpikir diri sendiri. Dengan demikian, agar dapat menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut, siswa harus menggunakan beberapa strategi belajar. Nama lain untuk strategi-strategi belajar adalah strategi-strategi kognitif, sebab strategi-strategi tersebut lebih dekat pada hal belajar kognitif daripada tujuan-tujuan perilaku.[3]
  1. Jenis-jenis Strategi Belajar
Strategi belajar itu banyak jenisnya. Menurut Arends, terdapat empat jenis strategi belajar, yaitu strategi mengulang, strategi elaborasi, strategi organisasi dan strategi metakognitif.
a.       Strategi mengulang
Agar terjadi pembelajaran, siswa harus melakukan tindakan pada informasi yang baru dengan cara menghubungkan informasi yang baru dengan pengetahuan awal. Strategi yang digunakan untuk proses pengkodean ini disebut dengan strategi mengulang (rehearsal strategies). Strategi mengulang ini terdiri dari strategi mengulang sederhana dan strategi mengulang kompleks.
Sebenarnya kita semua sudah mengenal dengan baik strategi mengulang yang paling dasar, yaitu sekadar mengulang dengan keras atau dengan pelan informasi yang ingin kita hafal. Strategi ini disebut strategi mengulang sederhana. Misalnya, menghafal nomor telepon atau menghafal daftar belanjaan yang akan dibeli, dengan mengulang informasi secara terus menerus akan membantu infomasi sederhana tetap dalam memori jangka pendek. Namun kalau hanya dengan mengulang dan mengucapkan maka tidak banyak membantu apabila melibatkan informasi yang lebih kompleks. Seorang pelajar tidak dapat mengingat seluruh kata atau ide dalam sebuah buku hanya dengan membaca buku itu keras-keras. Penyerapan bahan yang lebih kompleks memerlukan strategi yang lebih dari strategi mengulang sederhana, yaitu strategi mengulang kompleks. Strategi mengulang kompleks itu terdiri dari strategi menggarisbawahi dan membuat catatan pinggir.
Menggarisbawahi ide-ide kunci dapat membantu siswa belajar lebih banyak dari suatu teks karena beberapa alasan. Pertama, menggarisbawahi secara fisik menemukan ide-ide kunci, oleh karena itu membuat pengulangan dan penghafalan lebih cepat dan lebih efisien. Kedua, proses pemilihan apa yang digarisbawahi membantu dalam menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada.
Membuat catatan pinggir dan catatan lain membantu melengkapi menggarisbawahi. Siswa dapat melingkari kata-kata yang ia tidak tahu, menggarisbawahi definisi-definisi penting, memberi nomor, membuat daftar suatu kejadian, mengidentifikasi kalimat yang membingungkan lalu membuat catatan-catatan atau komentar-komentar yang diingat.
b.      Strategi elaborasi
Strategi elaborasi adalah strategi dengan melakukan suatu proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan semakin bermakna. Strategi elaborasi ini terdiri atas membuat catatan dari keterangan guru, analogi (perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaan ciri-ciri suatu benda) dan PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite dan Review).
c.       Strategi Organisasi
Strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Contoh dari strategi organisasi ini antara lain outlining (membuat kerangka garis besar), mapping (pemetaan konsep) dan mnemonics. Tujuan strategi belajar ini membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut.
d.      Strategi Metakognitif
Strategi metakognitif berhubungan dengan berpikir siswa tentang berpikir mereka sendiri dan kemampuan mereka menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan tepat. John Flavel memberikan definisi yang lebih lengkap pada saat ia menulis bahwa metakognisi adalah “pengetahuan seseoarng berkenaan dengan proses dan produk kognitif orang itu sendiri atau segala sesuatu yang berkaitan dengan proses dan produk tersebut.[4]
  1. Pemilihan Strategi Belajar dalam Pembelajaran
Strategi-strategi belajar mengajarkan kepada siswa untuk belajar atas kemauan dan kemampuan diri sendiri. Dengan kata lain mengajarkan siswa untuk menjadi pebelajar yang mandiri. Menurut Arends terdapat empat langkah untuk menjadi pebelajar yang mandiri :[5]
a.       Secara cermat mendiagnosis suatu situasi pembelajaran tertentu
b.      Memilih suatu strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajar tertentu yang dihadapi.
c.       Memonitor keefektifan strategi tersebut.
d.      Cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalah tersebut terselesaikan.
Teori-teori yang melandasi pembelajaran dengan strategi belajar penting untuk diketahui karena teori-teori ini dapat membantu menjelaskan kapan strategi belajar tertentu seharusnya digunakan oleh guru dan mengapa guru bertindak menurut cara yang mereka lakukan tersebut. Adapun teori belajar tersebut adalah sebagai berikut[6] :
a.       Teori Vygotsky
Dukungan teoritis untuk strategi-strategi belajar salah satunya sebagaimana dikutip Margaret E.Bell Gredler dari Vigotsky yang menekankan pada tiga gagasan pokok, yaitu :
1)      Intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit serta mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang telah mereka ketahui
2)      Interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual
3)      Peran utama guru adalah bertindak sebagai pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Tiga alasan utama sebagaimana dikutip Margaret E.Bell Gredler dari Vigotsky atas pernyataan di atas adalah sebagai berikut :
1)      Membedakan berbagai pengetahuan, serta membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh dan diolah dalam sistem ingatan.
2)      Pentingnya pengetahuan awal dalam proses belajar.
3)      Membantu memahami apakah pengetahuan itu
b.      Teori Pemrosesan Informasi
Informasi secara terus menerus masuk ke dalam otak melalui indera. Sebagian informasi itu tersimpan di dalam memori dalam jangka waktu yang pendek dan kemudian dilupakan, namun ada juga yang tersimpan dalam jangka waktu yang panjang. Untuk mengetahui proses penerusan dan penyimpanan informasi tersebut, para ahli teori belajar kognitif mengemukakannya melalui teori pemrosesan informasi. Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak.
Otak itu bukan konsumen yang pasif dari informasi. Ia secara aktif memilih, menunjukkan perhatian, mengorganisasikan, mempersepsi, mengubah menjadi sandi dan mendapatkan kembali dari simpanan informasi. Kadang-kadang otak menghasilkan gambaran yang lengkap dari stimulus setengah angan-angan. Pada kali yang lain, otak mengupas pola ruang yang kompleks menjadi pola yang lebih sederhana.[7]
  1. Implementasi Strategi Belajar
Dalam menerapkan strategi belajar diperlukan suatu langkah-langkah yang sistematis agar strategi belajar tersebut dapat dilaksanakan dengan benar dan sebaik mungkin, sehingga tujuan dan hasil dari penerapan strategi belajar tersebut dapat tercapai dengan maksimal.
Informasi dalam suatu buku disusun dalam paragraf-paragraf. Tiap paragraf memuat suatu topik tertentu. Hal paling penting yang dikatakan penulis kepada pembaca tentang topik tersebut dinamakan ide utama paragraf tersebut. Mengenali ide utama dari suatu paragraf merupakan langkah kunci dalam membaca. Menemukan ide utama tersebut pada umumnya melibatkan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Nur:
Pertama, mengenali topik tersebut dengan melakukan tinjauan awal selintas secara cepat paragraf tersebut dengan membaca sepintas kalimat-kalimat untuk mengenali topiknya. Kedua, menemukan rincian yang mendukung, yaitu membaca dengan teliti paragraf tersebut untuk menemukan apa saja rincian pendukung, atau informasi khusus tentang topik tersebut yang terdapat dalam paragraf tersebut. Ketiga, mengenali ide utama yaitu dengan bertanya pada diri sendiri “ide utama apa yang dibuat penulis dengan menyajikan rincian-rincian tersebut?” Butir uatama itu merupakan ide utama paragraf tersebut. Kalimat yang mengarah pada ide utama itulah yang nantinya digarisbawahi.
Strategi balajar menggarisbawahi juga dapat membantu menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah ada. Setiap orang memiliki pengetahuan awal yang dapat dihubungkan dengan informasi baru. Hubungan itu penting karena membantu seseorang belajar informasi baru tersebut. Salah satu cara untuk membentuk hubungan tersebut adalah dengan menggunakan metode K-W-L.
K-W-L singkatan dari Know- Want- Learn (Mengetahui – Ingin- Belajar). Metode K-W-L tersebut membuat siswa berfikir tentang apa yang telah siswa ketahui tentang suatu topik dan apa yang ingin siswa ketahui tentang topik tersebut sebelum siswa membaca. Hal ini sama dengan menetapkan suatu tujuan sebelum siswa membaca. Pertalian terjadi saat siswa menghubungkan apa yang siswa ketahui pada saat siswa membaca dengan apa yang telah siswa ketahui.[8]
Strategi belajar membuat catatan-catatan pinggir dan catatan lain membantu melengkapi menggarisbawahi. Dalam membuat catatan, siswa kemungkinan akan lebih berhasil apabila siswa membuat catatan-catatan tersebut dengan cara yang baik dan benar. Dalam membuat catatan yang baik ini terdapat dua ciri : Pertama, Catatan tersebut singkat. Kedua, catatan tersebut terorganisasikan dengan baik.
Pada saat memutuskan informasi apa yang dimasukkan kedalam catatan perlu diperhatikan hal-hal penting seperti judul, ide-ide utama dan istilah-istilah kunci. Disamping itu kata-kata yang digunakan sesedikit mungkin dan catatan tersebut diorganisasikan dalam bentuk yang jelas. Salah satu pengorganisasian yang sering digunakan adalah dengan menggunakan garis besar isi bacaan.


     [1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran  Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarata: Rineka cipta, 2002), 5.
     [2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 124.
     [3] Muhammad Nur, Strategi-strategi Belajar (Surabaya : Unesa Pusat Sains dan Matematika Sekolah, 2004), 6-7.
     [4] Muhammad Nur, Strategi-strategi. 2004, 25-41.
     [5] Muhammad Nur, Strategi-strategi Belajar (Surabaya : Unesa Pusat Sains dan Matematika Sekolah, 2000), 29.
     [6] Muhammad Nur, Strategi-strategi. 2004, 9-10.
     [7] Margaret E. Bell Gredler, terjm. Munandir,  Belajar dan Membelajarkan (Jakarta : Rajawali, 1991), 237.
     [8] Muhammad Nur, Strategi-strategi Belajar (Surabaya : Unesa Pusat Sains dan Matematika Sekolah, 2004), 87.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: