Layla-Majnun Penggambaran Hakekat Cinta


Tiada kisaha cinta yang termasyhur dan abadi seperti kisah Layla-Majnun atau Qasy dan Layla. Dan tidak ada kajian dari sebuah roman yang begitu banyak, mendalam, dan terus berjalan dari generasi ke generasi seperti dalam kajian cinta Qays bin al-Mulawwah. Juga tiada hikayat yang memiliki demikian banyak versi seperti hikayat cinta si gila dari marga kabilah Bani Amir terhadap layla-nya. Dikisahkan dari sebuah keluarga dari kabilah bani amir hidup di lembah Hijaz, Arabiah, di antara Makkah al-Mukarromah. Pimpinan kabilah itu adalah lelaki yang sudah uzur bernama Syed Omri. Walau sudah tua, kekuasaannya begitu disegani laksana kekuasaan seorang raja, kata-katanya menjadi sabda dan perintahnya adalah titah yang tak seorang pun berani melawan. Demikian besar pergaruh kewibawaannya hingga namanya tersohor bukan hanya di negerinya sendiri, tapi sampai ke negeri-negeri lain.
Syed Omri menjadi kawan yang menyenangkan bagi kaum saudagar, hartawan, dan pangeran. Ia juga pelindung dari tempat berkeluh kesah bagi fakir miskin, tempat berseminya harapan bagi musafir kelana yang sesat arah dan tujuan. Pintu hartanya selalu terbuka untuk orang yang membutuhkan. Ia juga penegak keadilan bagi orang-orang tertindas yang meminta pengayoman.
Segala karunia Allah yang pernah diberikan kepada makhluk hidup dimiliki seluruhnya oleh Syed Omri. Ia adalah bintang kejora dari sekalian kepala kabilah di jazirah Arab. Ia bagai mutiara di antara bebatuan mulia.
Namun semua kebahagiaan dan amal baiknya belum mampu mengusir rasa gundah gulana yang bersemayam cukup dalam di hati. Kesedihan menjadi kawan di waktu siang dan menjelma menjadi mimpi buruk di malam hari. Sudah puluhan tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga dengan istrinya yang lembut dan cantik rupawan, namun hingga kini mereka belum dikaruniai seorang putera. Syed Omri terus meratap siang dan malam, memohon pada Allah azza wa jalla agar dikarunia seorang putera yang dapat meneruskan nasab keluarga.
Dan ketika sudah cukup waktu dan bulannya, istri Syed Omri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan rupawan bagai bintang kejora di antara bintang-gemintang di langit. Kulitnya kemerah-merahan, rambutnya ikal, matanya sejernih embun pagi ditambah dengan lesung pipit di pipinya yang membuat semua orang terpana.
Kelahiran Qays, nama bayi itu, membuat semangat hidup Syed Omri yang telah bertahun-tahun padam, kembali bergairah. Bayi itu benar-benar membawa berkah bagi orang tua, karena sekarang kehidupan Syed Omri dipenuhi oleh kesenangan dan kebahagiaan, namanya semakin harum di mata bani Amir. Kekuasaannya semakin bersinar, bagi kekuasaan Jamshid. Lelaki tua itu kini tak lagi tertarik untuk melakukan perjalanan jauh seperti kaumnya. Ia tidak tertarik melakukan perniagaan. Tiap detik waktunya dimanfaatkan untuk menimang si buah hati tersayang.
Hari berganti dan tahun berbilang. Qays tumbuh menjadi anak yang dapat dibanggakan orang tuanya. Tubuhnya bagai pilar-pilar kokoh, wajahnya tampan, dan suaranya merdu bagai buluh perindu.
Seperti halnya para orang tua, Syed Omri berharap kelak puteranya dapat dibanggakan. Sebagai pemimpin kabilah, Syed Omri ingin Qays tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan pandai, karena itu ia memberikan pendidikan yang terbaik untuk Qays.
Dan di daerah Badui hidup seorang lelaki tua yang bijaksana dan penyabar. Ia menjadi cahaya pengetahuan, menguasai berbagai disiplin ilmu, dari yang paling sederhana hingga yang paling sulit. Ia adalah guru terbaik di Jazirah Arab. Tak heran jika para bangsawan dan pangeran menitipkan anak mereka ke guru besar itu. Begitu pula Qays.
Di sekolah itu, Qays termasuk anak yang cerdas dan tekun. Ia dapat menerima pelajaran dengan cepat. Ia juga termasuk anak yang ringan tangan, gemar membantu kawan-kawannya yang tertimpa musibah dan kemalangan.
Di antara anak-anak dari berbagai kabilah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun. Gadis yang menjadi buah bibir dan penghias mimpi pemuda itu bernama Layla. Qays belum pernah melihat keindahan yang menakjubkan di bumi seperti keindahan paras Layla. Ketika pertama kali berjumpa dengannya, Qays seperti segelas minuman, semakin dipandang semakin haus. Sama halnya seperti Qays, kekaguman Layla kepada pemuda impiannya itu hanya mampu diungkapkan melalui syair. Cinta pun mengakar ke dalam hati keduanya. Tetapi mereka tidak ingin orang lain mengetahui hubungan itu. Dari waktu ke waktu kedua anak manusia ini masih malu-malu. Lidah mereka kelu, tak dapat terucap. Hingga hanya kedua mata mereka yang berbicara. Yah…..memang begitulah cinta….tiada  yang lebih indah selain khayal dan harapan.
Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh juga. Sepandai-pandai membungkus bangkai akhirnya tercium juga. Angin berhembus membawa kisah asmara pada keluarga si gadis. Kemarahan yang meluap sering membuat orang khilaf dan tidak berpikir panjang. Demikian amarah yang telah menguasai pikiran ayah Layla. Untuk menutupi rasa malu, Layla dikurung dalam rumah dan tidak boleh lagi pergi ke sekolah ataupun bergaul dengan kawan-kawannya.
Setelah Qays menyadari bahwa Layla dipingit orang tuanya, muncul rasa penyesalan karena tidak mampu menyimpan rapat rahasia mereka. Begitu juga Layla, di rumah pikirannya selalu membayangkan Qays.
Rupanya ulah Qays menyebut nama Layla dianggap telah mencemarkan nama gadis itu dan keluarganya. Layla telah dipingit, masa depan suram, sekarang apalagi yang harus dilakukan? Akhirnya karena tidak tahan dipermalukan, keluarga Layla sepakat untuk pindah ke lembah Hijaz.
Pagi hari, saat fajar belum merekah benar, Qays keluar rumah, berjalan dengan tergesa-gesa menuju gurun. Berkelana mengadu nasibnya. Dalam perjalanan orang-orang menganggapnya telah hilang ingatan. Dan lebih parahnya anak-anak mengikuti langkahnya dengan melempari batu dan oarang-orang memanggilnya dengan Majnun, si gila.
Setelah sampai di kampung Layla, ia menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dan ketika Qays dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia melihat seorang wanita tua yang menggantungkan rantai di leher. Nenek itu mengetuk pintu setiap rumah yang dijumpai untuk memohon sedekah. Dan si Majnun atau Qays, memperoleh gagasan segar.
Tiba-tiba pandangan Qays beralih ke salah satu sudut rumah. Di sana tampak bayang-bayang layla. Bukan, bukan bayangan, tapi Layla. Kedua insan yang hatinya saling terikat akan merasakan getaran jika kekasih hati mereka hadir. Setelah beberapa kali bertemu muka, dan ketahuan orang istana, akhirnya dengan berat hati mereka segera berlari kembali ke tempat masing-masing. Dan sejak saat itu bayangan Layla tidak pernah muncul lagi.
Dan setelah kepulangan Syed Omri dari kediaman rumah Layla, hati Syed Omri semakin sedih, hidupnya terasa hampa, tiada lagi harapan yang tersisa. Setelah itu, Syed Omri kembali ke Hijaz. Lelaki itu seperti kehilangan kekuatan untuk mendinginkan bara dalam hatinya. Sirna sudah semua, tiada lagi pelipur lara hati. Cahaya yang dia banggakan telah berubah menjadi kegelapan. Mimpi telah menjadi bayang-bayang mengerikan seiring dengan kepergian Qays yang tak dapat diketahui keberadaannya.
***
Tiba-tiba pikiran sehat Majnun kembali hinggap. Ia merasa sudah cukup lama tidak berjumpa dengan ayah dan ibunya. Ia merasa berdosa membiarkan mereka dalam kesedihan. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia berjalan menuju perkampungan Bani Amir. Setiba di rumah, Majnun mencium kaki ayahnya karena takut mendapat murka. Ia berkata, “kini aku datang ke hadapanmu memohon maaf dan ampunan. Engkau adalah ayahku, orang yang sepantasnya aku mintai ridlo.” Ayahnya lalu berkata, “wahai anakku, putus asa adalah penyakit. Seperti pepohonan yang tumbuh di musim semi, kebahagiaan akan muncul jika kita memiliki semangat dan harapan.”
Hanya beberapa hari Majnun bisa bertahan di rumah yang bergelimang kenikmatan, namun gelap dan senyap bagi teman tercinta. Ia tidak betah dan menjauhkan diri dari keramaian dunia. Ia kembali mengembara mencari cintanya, berjalan sendiri menuju gurun pasir, berkelana seperti bururng di angkasa, berlari ke sana ke mari untuk menemukan gairah cintanya.
Di saat lain ketika sedang duduk-duduk di taman, Layla mendengar anak muda dan orang tua melantunkan syair yang biasa dinyanyikan oleh Majnun. Setiap kata yang terucap menggetarkan hatinya, lalu sayap-sayap cinta yang terluka itu seperti memperoleh mu’jizat dapat terbang kembali.
Dalam naungan penderitaan itu Layla meyakini bahwa cintanya pada Majnun tetap abadi. Cinta itu telah berakar, tumbuh, dan berbuah. Dia percaya bahwa bunganya yang rahasia akan terjaga dengan aman, seaman harta karun yang tersimpan dalam menara, dan dijaga oleh prajurit tangguh.
Suatu hari Layla sedang berada di taman dekat rumpun bunga lili diiringi beberapa puteri. Sedang di sana tampaklah seorang pemuda gagah rupawan dari Bani Asad sedang berjalan-jalan menikmati cuaca indah. Ibnu Salam nama pemuda itu. Ia melihat di dalam taman, matanya tertuju pada cahaya kecantikan Layla yang bersinar. Rasa bahagia menerangi hati Ibnu Salam, bergegaslah ia ke rumah menemui kedua orang tuanya dan menyampaikan hasrat hatinya agar sang ayah meminangkan gadis yang telah mencuri cahaya matanya. Mendengar permintaan anaknya, tiada yang dapat dilakukan sang ayah kecuali menurutinya. Setelah itu berangkatlah kabilah Bani Asad menuju rumah Layla di lembah Nejd.
Setelah beruluk salam dan bermanis bibir, kemudian orang tua Ibnu Salam menyampaikan hajat kedatangannya. Kalimat ayah Ibnu Salam yang diucapkan dengan lemah lembut dan sopan itu membuat wajah ayah Layla berseri-seri, namun mereka masih diliputi kebimbangan. Terbesit keengganan di hati kedua orang tua itu untuk segera mengucapkan persetujuan. Dengan lemah lembuat ayah Layla menjawab, “apa yang tuan katakan sangat menggembirakan kami. Namun ada baiknya jika tuan bersabar sejenak. Jika tuan-tuan mengamati dengan seksama, maka akan tampak jika puteri kami belum matang benar. Tunggulah hingga tiba saat yang tepat.” Janji yang diucapkan ayah Layla itu telah menghibur kabilah Bani Asad. Mereka maklum dengan penundaan itu, bunga yang dipetik sebelum mekar tidak enak untuk dipandang dan belum mewangi. Kabilah Bani Asad pun berpamitan pada tuan rumah dan berjanji akan datang di kemudian hari.
Di gurun pasir yang liar, Majnun dikelilingi oleh binarang-binatang buas. Majnun merasa memperoleh kebebasan dengan berada di tengah-tengah gurun liar yang terasing. Di dekat gurun pasir tempat Majnun hidup, tinggal seorang kepala kabilah Arab yang gemar mengembara dan berburu di padang pasir atau hutan. Naufal nama bangsawan arab itu. Dialah pahlawan arab yang gagah berani. Bila di medan pertempuran ia seperti malaikat maut yang siap menhantar kematian musuhnya.
Suatu ketika saat Naufal berburu di padang pasir, Naufal bertemu dengan seorang laki-laki yang dikakinya penuh luka dan mengenakan jubah robek-robek. Naufal mendekati Majnun dengan hati-hati, seolah tidak ingin mengganggu ketenangannya. Kata-kata Naufal yang diucapkan lemah lembut itu bagaikan angin yang menghantarkan kesejukan di hati Majnun. Seiring berjalannya waktu mereka pun berbincang-bincang atas apa yang terjadi pada diri Majnun. Naufal berjanji untuk meminang dan mempersandingkan dirinya dengan Layla.
Keesokan harinya Naufal mengutus pasukannya untuk menyampaikan surat kepada ayah Layla. Surat tersebut menimbulkan kemarahan kabilah Bani Qhataibah. Serta merta ayah Layla menjawab surat dari Naufal. Membaca surat balasan dari ayah Layla, Naufal merasa tersinggung. Naufal pun sabar dan kembali menemui pemuka baru Qhataibah itu. Tapi ayah Layla tidak mau menerima Qays, dan di antara kedua kabilah tersebut terjadi peperangan antar kabilah. Hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah antar keduanya.
Perjalanan hidup manusia sama seperti pergantian musim. Hati Layla pun seperti tertekan badai musim gugur setelah melihat keadaan Qays. Semula ia berharap pertemuan dengan Qays dapat mengobati kesedihannya, tapi sia-sia semua. Tiada lagi yang tersisa. Qays membawa pergi segala harapan dan angan-angan liarnya. Tapi entah mengapa cinta Layla pada Qays tidak pernah sirna.
Cinta memang ajaib. Saat ajal menjelang pun seorang pecinta masih memikirkan orang yang dicintai. Ia rela mati asal kekasihnya bahagia. Sesaat kemudian, sambil berbaring di ranjang, Layla memanggil ibunya dan menceritakan semua yang ia rasakan. Sejak saat cinta menyapa kalbu, hingga kepergian Majnun setelah menikamkan belati kekecewaan dan kebingungan ke dalam hatinya, sampai nafasnya terhenti.
Tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa menolak ketentuan takdir. Jasad Layla diangkat pandu untuk dibawa ke pemakaman. Betapa banyak mata menangis mengiringi kepergiannya. Ia pergi begitu cepat padahal keharuman belum sepenuhnya ia tebarkan. Wahai bunga yang cantik itu kini rusak oleh kekelaman musim dingin.
Dan saat pusara Layla sudah terlihat di hadapannya, Majnun pun jatuh tersungkur dan air matanya mengalir membasahi tanah tempat ia terbaring. Majnun tetap melirik nisan Layla. Tangannya menengadah ke atas, berdoa pada pemilik kehidupan. Hingga suaranya semakin lama semakin lirih dan melemah. Dan laki-laki itu telah melakukan perjalanan terakhirnya. Siapakah manusia yang sanggup merasakan pernderitaan seperti yang dirasakan oleh Qays. Di hadapan singgasana pengadilan, semua manusia akan ditanya tentang amal perbuatan yang telah dilakukan, di mana perbuatan jahat akan dibalas dan kebaikan akan memakai makhkota dengan permata yang berkilauan.
Demikianlah legenda sejarah, di mana penderitaan mereka tetap dikenang. Mereka tidak bisa bersatu kerena selalu menjaga kesucian dan kepercayaan. Dan hanya tulang mereka yang bersatu dalam kematian.
Penuhi cawanmu dengan cinta yang tidak pernah berubah. Penuhi ia dengan cinta abadi. Cinta yang dimurnikan dengan penderitaan duniawi, sebab kelak akan mendapat berkah cahaya abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: