Pengajuan Masalah (Problem Posing)

1.      Pengertian Metode Problem Posing
Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. maka penguasaan materi saja tidaklah mencukupi. Salah satu langkah untuk strategi ini adalah harus menguasai berbagai teknik penyampaian materi dan juga dapat menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar sesuai materi yang digunakan oleh guru adalah untuk menyampaikan informasi kepada siswa agar mereka dapat memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap.Seorang guru yang menggunakan suatu metode diharapkan dapat memberikan kesenangan dan kepuasan pada anak didik yang merupakan salah satu faktor dalam memotivasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi.
Kemudian untuk mengetahui tentang pengertian metode problem Posing adalah sebagai berikut:

Suryanto  mengartikan bahwa kata “problem” sebagai masalah atau soal, sehingga pengajuan masalah dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari situasi yang diberikan.[1]
Silver mencatat bahwa istilah “menanyakan soal” biasanya diaplikasikan pada tiga bentuk aktivitas kognitif yang berbeda:
a.       Menanyakan per-solusi, dimana seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan.
b.      Menanyakan di dalam solusi, dimana seorang siswa merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan.
c.       Menanyakan setelah solusi, dimana seorang siswa memodifikasi tujuan dan kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal-soal baru.[2]
Dan yang diterapkan oleh obyek penelitian ini adalah pre-solusi, yaitu suatu bentuk menanyakan sebelum solusi.
Dalam penelitian ini, pengajuan soal diartikan sebagai perumusan/pembentukan soal atau pertanyaan dari situasi (informasi) yang disediakan. Gunanya sebagai penguatan terhadap konsep yang diajarkan dan memperkaya konsep-konsep dasar.[3]
  1. Pengajuan Masalah (Problem Posing) dan Relevansinya dalam Pembelajaran
Pengajuan masalah berkaitan dengan kemampuan guru memotivasi siswa melalui perumusan situasi yang menantang, sehingga siswa dapat mengajukan pertanyaan yang dapat diselesaikan dan berakibat kepada peningkatan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya memilih strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. sebagaimana definisi mengajar di negara-negara yang sudah maju: “teaching is the guidance of learning”. “Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar”. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa.[4] Hal ini sangat berkaitan dengan metode pengajuan soal. Pengajuan soal merupakan kegiatan yang mengarah pada sikap kritis dan kreatif. Sebab dalam metode pengajuan soal, siswa diminta untuk membuat pertanyaan dari informasi yang diberikan. Padahal bertanya merupakan pangkal semua kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta (berkreasi) dikatakan memiliki sikap kreatif, selain itu dengan pengajuan soal, siswa diberi kesempatan aktif secara mental, fisik dan sosial serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki dan juga membuat jawaban.
Pengajuan soal dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa, karena pengajuan soal merupakan sarana untuk merangsang kemampuan tersebut. dengan membuat soal, siswa perlu membaca informasi yang diberikan dan mengkomunikasikan pertanyaan secara verbal maupun tertulis. Menulis pertanyaan dari informasi yang ada dapat menyebabkan ingatan siswa jauh lebih baik. kemudian dalam pengajuan soal siswa diberikan kesempatan menyelidiki dan menganalisis informasi untuk dijadikan soal. Kegiatan menyelidiki tersebut bagi siswa menentukan apa yang dipelajari, kemampuan menerapkan penerapan dan perilaku selama kegiatan belajar. Hal tersebut menunjukkan kegiatan pengajuan soal dapat memantapkan kemampuan belajar siswa.
Komunikasi siswa yang terjadi di kelas dibagi dalam dua model, yaitu model reseptif dan model ekspresif. Model reseptif adalah model komunikasi siswa yang menggunakan lembar kerja dan latihan-latihan yang disediakan guru. Sedang model ekspresif adalah model komunikasi siswa menggunakan diskusi, menulis kreatif dan melakukan kegiatan-kegiatan. Pengajuan soal atau membuat sendiri pertanyaan merupakan salah satu cara komunikasi siswa dengan model ekspresif.
Model ekspresif lebih mendesak untuk diterapkan di dalam kelas, sebab dengan model tersebut siswa akan merasa tertarik dan merasa memiliki kegiatan belajar tersebut. Dengan demikian pembelajaran perlu diupayakan menerapkan model ini, disamping tidak meninggalkan model reseptif.
Pengajuan masalah menurut Brown dan Walter terdiri dari 2 aspek penting, yaitu accepting dan challenging, Accepting berkaitan dengan sejauh mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan oleh guru. Sementara challenging berkaitan dengan sejauh mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah atau soal.[5] Hal ini berarti bahwa pengajuan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan proses nalar mereka.
1)      Dari beberapa pandangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pengajuan masalah (problem Posing) merupakan reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respon dalam bentuk pertanyaan.
  1. Pengajuan Masalah (Problem Posing) Secara Kelompok atau Individu
Pengajuan masalah/soal dapat dilakukan secara kelompok atau  individu. Secara umum pengajuan masalah oleh siswa dalam pembelajaran, baik secara kelompok maupun individu merupakan aspek yang penting. Tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang dipelajarinya dapat dilihat melalui pertanyaan yang diajukannya.
a.       Pengajuan Masalah Secara Kelompok
Pengajuan masalah secara kelompok merupakan salah satu cara untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
Dimyati dan Mudjiono mengemukakan bahwa tujuan utama pembelajaran dengan cara berkelompok adalah untuk:
1)     Memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional.
2)     Mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong royong dalam kehidupan.
3)     Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian ke yang bertanggung jawab.
4)     Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada setiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok..[6]
Dalam kaitannya dengan bekerja sama dalam kelompok belajar, Goos, Galbraith dan Renshaw  memberikan 3 pengertian yang berbeda.
1)      Paralel activity, artinya siswa bekerjasama secara paralel dalam kelompok dengan sedikit pertukaran ide atau gagasan.
2)      Peer tutoring, artinya siswa mengerjakan soal secara bersama-sama dalam kelompok dan salah seorang siswa yang lebih pintar menjadi pengendali jalannya kerja sama.
3)      Collaboration yang meliputi Cooperative Learning Strategy (CLS). Strategi ini menuntut siswa bekerja sama dalam kelompoknya terhadap masalah yang sama dan tidak ada diantara mereka yang boleh mengerjakannya sendiri-sendiri.[7]
Pengajuan masalah melalui kelompok dapat membantu siswa dalam memikirkan ide secara lebih jauh antara sesama anggota di dalam kelompok. Dengan demikian pengajuan masalah secara kelompok dapat menggali pengetahuan, alasan, pandangan antara satu siswa dengan siswa yang lain.
b.      Pengajuan Masalah Secara Individu
Pengajuan masalah secara individu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas, dengan seorang guru sebagai fasilitator dan diikuti oleh semua siswa di dalam kelas. Selanjutnya, secara perorangan atau individu, siswa mengajukan dan menjawab pertanyaan tersebut baik secara verbal maupun tertulis berdasarkan situasi/informasi yang telah diberikan oleh guru
Sama halnya dengan pengajuan masalah (soal) secara kelompok. Pengajuan masalah secara individu juga memiliki kelebihan. Pertanyaan yang diajukan secara individu berpeluang untuk dapat diselesaikan (solvable) daripada terlebih dahulu dipikirkan secara matang, sungguh-sungguh dan tanpa intervensi pikiran dari siswa lainnya, dapat menjadi lebih berbobot. Selain itu aktivitas siswa berupa pertanyaan, tanggapan, saran atau kritikan dapat membantu siswa untuk lebih mandiri dalam belajar.
  1. Petunjuk Bagi Guru dan Siswa dalam Pembelajaran dengan Metode Problem Posing
Sebagaimana halnya dengan metode lain, metode pengajuan masalah/soal mempunyai pedoman dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini meliputi:
    1. Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Guru
         Posisi guru dalam pembelajaran dengan metode problem Posing (pengajuan masalah) adalah sebagai fasilitator. Selain itu, guru berperan mengantarkan siswa dalam memahami konsep dengan cara menyiapkan situasi sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Selanjutnya, dari situasi tersebut, siswa mengkonstruksi sebanyak mungkin masalah dalam rangka memahami lebih jauh tentang konsep tersebut. dalam pembelajaran ini yang harus dilakukan oleh guru adalah:
1)      Guru hendaknya selalu memotivasi siswa untuk mengajukan atau membuat soal berdasarkan materi yang telah diterangkan atau dari buku paket.
2)      Guru melatih siswa merumuskan dan mengajukan masalah, soal atau pertanyaan berdasarkan situasi yang diberikan.
b.      Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa
Student centered merupakan salah satu ciri dari metode pengajuan masalah/soal. Siswa seyogyanya berperan aktif mengajukan soal dan penyelesaiannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk siswa yang lain.
Secara khusus, Suryanto berpendapat:
1)      Siswa dibiasakan mengubah dan memvariasikan situasi yang diberikan menjadi masalah, soal atau pertanyaan yang baru.
2)      Siswa harus diberanikan untuk menyelesaikan masalah/soal yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
3)      Siswa diberi motivasi untuk menyelesaikan masalah, soal atau pertanyaan non rutin.[8]
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode problem Posing pada prinsipnya siswalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Penekanan belajar siswa aktif ini dalam dunia pendidikan terlebih di Indonesia kiranya sangat penting dan perlu.
Kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal, sebab mereka selalu berpikir, bukan menerima saja. Anggapan lama yang menyatakan bahwa anak itu tidak tahu apa-apa, sehingga pendidik harus mencekoki mereka dengan bermacam hal, kiranya tidak cocok lagi dengan prinsip metode problem Posing ini.
  1. Tujuan dan Manfaat Metode Problem Posing
Menurut pendapat beberapa ahli, yang dikutip oleh Tatag, mengatakan bahwa metode pengajuan soal (problem Posing) dapat:
a.       Membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap pelajaran sebab ide-ide siswa dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan performennya dalam pemecahan masalah.
b.      Membentuk siswa bersikap kritis dan kreatif.
c.       Dapat mempromosikan semangat inkuiri dan membentuk pikiran yang berkembang dan fleksibel.
d.      Mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
e.       Mempertinggi kemampuan pemecahan masalah, sebab pengajuan soal memberi penguatan-penguatan dan memperkaya konsep-konsep dasar.
f.       Menghilangkan kesan keseraman dan kekunoan dalam belajar.
g.      Memudahkan siswa dalam mengingat materi pelajaran.
h.      Memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.
i.        Membantu memusatkan perhatian pada pelajaran.
j.        Mendorong siswa lebih banyak membaca materi pelajaran.[9]
  1. Kebaikan dan Kelemahan Metode Problem Posing
Setiap metode tidak luput dari kebaikan dan kelemahan. Adapun kebaikan metode pengajuan masalah (problem Posing) antara lain:
a.       Mendidik murid berpikir kritis.
b.      Siswa aktif dalam pembelajaran
c.       Belajar menganalisa suatu masalah.
d.      Mendidik anak percaya pada diri sendiri.
Sedangkan kelemahannya:
a.       Memerlukan waktu yang cukup banyak.
b.      Tidak bisa digunakan di kelas-kelas rendah.
c.       Tidak semua murid terampil bertanya.

2 Responses

  1. literaturnya gx ada ya kk??
    gmna mau masukin ke skripsi ne klo gx ada utk daftar pustaka..
    mohon pencerahan…………..

  2. Usaha Sendiri Mbak>>>>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: