IQ, EQ dan SQ

 A.     Pengertian IQ, EQ dan SQ
Beberapa abad sebelum penemuan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional, IQ menjadi standarisasi terhadap kecerdasan dan ukuran keberhasilan seseorang dalam keilmuan dan kehidupan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, Daniel Goleman yang bergelut dalam bidang neurosains dan psikologi dengan kegigihannya akhirnya ia menemukan sebuah teori yang sangat menggegerkan dunia, yakni bahwa ukuran keberhasilan seseorang ternyata bukan ditentukan oleh tingkat rasionalitas atau IQ namun ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ). Dalam penelitian Daniel Goleman bahwa kesuksesan manusia lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional dan lainya ditentukan oleh IQ-nya.[1]
 Kecerdasan emosional merupakan kecerdasan yang lebih menekankan pada penguasaan dan pengendalian diri.[2]
Pengendalian diri dari sifat-sifat destruktif dengan mengatur potensi-potensi emosi seseorang. Seseorang yang hanya cerdas IQ bisa jadi ia mampu memecahkan persoalan-persoalan angka-angka yang rumit atau memecahkan persoalan-persoalan teori yang pelik, namun dengan IQ tidak bisa diandalkan untuk menghayati perasaan terhadap orang lain. Padahal hidup butuh orang lain, bekerja butuh orang lain, dan yang tidak bisa dihindari adalah interaksi dengan sesama. Dengan demikian butuh kerja sama, butuh berempati kepada orang lain. Orang yang mengejar IQ dengan memperoleh IQ sekian namun ia tidak cerdas emosi bisa jadi ia tidak akan sukses. Sebagai contoh seseorang yang berIQ tinggi, namun ia adalah seorang pemimpin yang pemarah, ia adalah seorang pemimpin yang tidak pernah menganggap orang lain penting, ia tidak pernah menghargai perasaan orang lain, bisa jadi ia akan dibenci oleh bawahannya atau koleganya, dan ia tak akan mampu bekerjasama dan hancurlah usahanya.
Kegagalan teori kecerdasan IQ yang dipersepsi bisa menjadikan seseorang sukses hidup didasarkan pula dari hasil survei di Amerika Serikat tahun 1918 tentang IQ, ditemukan paradoks membahayakan: “sementara skor IQ anak-anak makin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru turun. Lebih mangkhawatirkan lagi, data hasil survei besar-besaran tahun 1970 dan 1980 terhadap para orang tua dan guru. Mereka mengatakan “ Anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah-masalah emosi ketimbang generasi terdahulunya. Secara pukul rata, anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup dan cenderung cemas, implulsif dan agresif. [3]
Hal ini ditegaskan pula oleh Jeanne Segal dalam bukunya Melejitkan Kepekaan Emosional menyatakan:
“Saya katakan harganya terlalu mahal karena mengabaikan emosi membuat kita semua-setidaknya sampai tingkat tertentu- tidak memiliki ketrampilan yang kita butuhkan untuk menjalankan kehidupan yang sehat, memuaskan dan bermakna. IQ kita mungkin membantu kita memahami dan menghadapi dunia pada satu tingkat, tetapi kita membutuhkan emosi kita untuk memahami dan menghadapi diri kita sendiri dan pada gilirannya menghadapi orang lain. Tanpa kesadaran emosi tanpa kemampuan untuk mengenali dan menghargai perasaan kita serta bertindak jujur sesuai dengan perasaan tersebut, kita tidak dapat berhubungan dengan orang lain, kita tidak dapat berhasil di dunia ini (tak peduli seberapa cerdas kita) kita tidak dapat membuat keputusan dengan mudah dan kita sering terombang-ambing tanpa pernah bersentuhan dengan perasaan kita sendiri”.[4]
Lebih lanjut Jeanne Segel menyatakan
“Secara kultural orang Amerika (bersama banyak masyarakat Barat lainnya) telah diajari untuk menganggap kesadaran itu sendiri sebagai suatu aktivitas intelektual, bukan sebagai respon hati atau respon dari dalam. Kita belajar untuk tidak mempercayai emosi kita, kita diberi tahu bahwa emosi akan menyesatkan informasi yang oleh akal kita. Bahkan istilah emosional menunjukkan kelemahan, lepas kendali, bahkan kekanak-kanakan. “Jangan seperti bayi!…….kita cenderung membentuk citra diri kita secara keseluruhan di seputar kemampuan akal.”[5]
IQ dan EQ merupakan sumber daya sinergis, saling melengkapi satu sama lain, IQ tanpa EQ akan membuat seseorang mempunyai kemampuan akademik baik akan tetapi tidak membuat seseorang berhasil dalam kehidupannya. Wilayah EQ menyangkut hubungan pribadi antar pribadi, bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dam kemampuan beradaptasi sosial. Kecerdasan membantu mengenali beragam tindakan, tetapi tidak menggerakkan untuk bertindak, emosilah yang menggerakkan.[6]
Dari argumentasi-argumentasi ini, wajarlah kemudian para ilmuwan mencari dan menemukan seperti halnya Daniel Goleman yang menemukan adanya kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi sangatlah penting di dalam kehidupan khususnya di dalam interakasinya dengan orang lain. Para ahli sosiobiologi menunjuk keunggulan  perasaan disaat-saat kritis, setiap  emosi menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri, menuntun kearah yang baik ketika menanggapi suatu permasalahan dalam hidup. Nilai repertoar emosi dibuktikan oleh terekamnya nilai tersebut dalam sistem saraf sebagai bawaan dan kecenderungan otomatis perasaan manusia. Repertoar emosi terdapat dalam bagian otak manusia yang disebut amigdala.[7]
Kecerdasan emosional membuat seseorang mengenali dan menangani perasaan dengan baik dan mampu membaca sehingga bisa menghadapi perasaan orang lain dengan efektif sehingga akan mendapat keuntungan dalam berbagai aspek kehidupan seperti persahabatan, pekerjaan, organisasi politik, maka kemungkinan untuk sukses dalam hidupnya sangat besar, mampu menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas.[8] Kecerdasan emosional atau EQ dibutuhkan untuk dapat hidup bermasyarakat termasuk didalamnya menjaga keutuhan hubungan sosial, dan hubungan sosial yang baik akan mampu menuntun seseorang untuk memperoleh sukses hidup seperti yang diharapkan. Seseorang yang cerdas emosinya akan mampu mengendalikan perasaannya dan mampu berpikir positif serta mengarahkan energinya kearah yang posotif. EQ juga mencakup kemampuan untuk mengendalikan emosi berkaitan dengan kebutuhan psikofisik.[9]
Letupan ketakjuban akan EQ rupanya tak terlalu lama berlangsung, dunia kembali disentakkan oleh hasil akhir dari teori EQ dan IQ, bukankah semuanya hanya berorientasi materi semata-mata? Tiadakah teori lain, dengan cara pandang berbeda yang dapat melahirkan sebuah muara selain hanya materi? Bukankah hanya mengejar kebendaan, berarti hanya mencakup satu tujuan saja, yaitu amaliah duniawi yang fana yang berujung pada kekeringan.
Kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah, yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, yang semua pemikirannya ada dalam bukunya yang berjudul SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan diterjemahkan oleh Rahmani Astuti dkk. SQ Zohar di dasarkan dari penemuan ilmiah oleh Michael Persinger ahli saraf, pada awal tahun 1990-an, dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli saraf Universitas California VS Ramachandran yang menemukan eksistensi god spot dalam otak manusia-telah built in sebagai pusat spiritual yang terletak diantara jaringan saraf dan otak.[10]
Sedangkan bukti yang kedua adalah hasil riset ahli saraf Autria, wolf singer era 1990an, yang menunjukkan ada proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha untuk menyatukan serta memberi makna dalam pengalaman hidup. Suatu jaringan saraf yang secara literal “mengikat” pengalaman secara bersama untuk “hidup lebih bermakna”.[11] Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat value manusia tertinggi.
Fakta berikutnya adalah Neurolog dan Antropolog Harvard, Terrance Decon baru-baru ini menerbitkan penelitian baru tentang asal-usul bahasa manusia, dia membuktikan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang unik pada manusia, aktivitas yang pada dasarnya bersifat simbolik dan berpusat pada makna yang berkembang bersama dengan perkembangan yang cepat dalam cuping-cuping depan otak. Imajinasi simbolis ini berperan dalam evolusi sosial dan otak mendukung kemampuan kecerdasan yang disebut dengan SQ.[12] SQ mengambil lokasi terdalam dari kemanusiaan sehingga melahirkan orang-orang yang memiliki prinsip dan pandangan hidup yang kokoh, cinta dan kasih sayang, sanggup melewati penderitaan, menjadi embun yang menyejukkan kegarangan dan kegersangan hati, menjadi lentera bagi kegelapan perjalanan IQ ataupun EQ.[13]
SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain.[14] SQ memberi kita kemampuan membedakan, memberi rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, bergulat dengan ikhwal baik dan jahat. Sq mengintegrasikan semua kecerdasan, menjadikan mahluk yang utuh secara intelektual, emosional dan spiritual.[15]
Namun ironisnya SQ yang diteliti sebagai pusat makna tertinggi bagi manusia menurut para ilmuwan tersebut ternyata belum dan bahkan tidak menjangkau nilai-nilai ketuhanan. Pembahasannya baru sebatas tataran biologi-psikologi, tidak mengungkap hal yang bersifat transendental yang mengakar, yang pada akhirnya kembali berakibat pada kebuntuan.
Fakta-fakta ini makin memperkuat fenomena bahwa SQ yang perlahan namun pasti menempati ruang di hati manusia, walau bukan seorang spiritualis sekalipun. Namun temuan “God Spot” mereka baru sebatas hardware-nya saja (spiritual center pada otak manusia), belum ada software (isi dan kandungannya)nya. ESQ-lah yang diharapkan oleh Ary Ginanjar sebagai software-nya.

[1] Zakki Fuad, Emotional Quation dalam perspektif Al-Quran, Nizamia (Surabaya: Vol 7 nomor 1, 2004), 1 
[2] Abdul Wahid  Hassan, SQ Nabi Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah di Masa Kini, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006), 52.
[3] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangaun ESQ: Emotional Spiritual Quotient The ESQ Way 165: 1 Ihsan, 6 Rukun Iman dan 5 rukun Islam cet ke xxx, (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2006), 39.
[4] Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional: Cara Baru Praktis Untuk Mendayagunakan Potensi Instink dan Kekuatan Emosi Anda, (Bandung: Kaifa, 2000), 24.
[5] Ibid., 24.
[6] Ibid., 32.
[7] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting dari pada IQ, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 4.
[8] Ibid., 48.
[9] Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan, (Jakart: Pustaka Populer, 2003), 36.
[10] Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2001), 10.
[11] Ibid., 10.
[12] Ibid., 11.
[13] Abdul Wahid  Hassan, SQ Nabi…………….., 77.
[14] Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan…………………., 4.
[15] Ibid., 5.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: