Active Learning

1.      Pengertian Active Learning.
Kata active diadopsi dari bahasa inggris yang artinya “aktif, gesit, giat, bersemangat”[1], sedangkan Learning berasal dari kata learn yang artinya “mempelajari”[2] .
Dari kedua kata tersebut yaitu active dan learning dapat diartikan mempelajari sesuatu dengan aktif atau bersemangat dalam hal belajar.
Konsep active learning atau cara belajar aktif dapat diartikan sebagai aturan pembelajaran yang mengarah pada pengoptimalisasian pelibatan intelektual dan emosional siswa dalam proses pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memperoses proses belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. [3]
Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pengajaran yang diharapkan adalah keterlibatan secara mental (intelektual dan emosional) yang dalam beberapa hal diikuti dengan sebuah keaktifan fisik. Sehingga peserta didik benar-benar berperan serta dan berpartisipasi aktif dalam proses pengajaran, dengan menempatkan kedudukan peserta didik sebagai subyek dan sebagai pihak yang penting dan menerapkan inti dalam kegiatan belajar mengajar. [4]
          Pada hakekatnya konsep ini adalah untuk mengembangkan keaktifan proses belajar mengajar baik dilakukan guru maupun siswa. Jadi dalam Active Learning tampak jelas adanya guru aktif mengajar di satu pihak dan siswa juga aktif belajar di lain pihak. Konsep ini bersumber dari teori kurikulum yang berpusat pada anak (Child Centered Curiculum).
          Active learning merupakan sebuah strategi yang dirancang untuk membuat peserta didik belajar secara aktif. Pada intinya dalam strategi ini, pembelajaran lebih ditekankan pada pengalaman belajar yang melibatkan seluruh indera, seperti pernyataan Mel Siberman dalam bukunya Active Learning, yaitu : [5]
·          Apa yang saya dengar, saya lupa.
·          Apa yang saya dengar dan saya lihat, saya ingat sedikit.
·          Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham.
·          Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memeperoleh pengetahuan dan keterampilan.
·         Apa yang saya ajarkan pada orang lain saya kuasai.
Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik adalah perbedaan tingkat kecepatan berbicara para pengajar dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan.
2.      Prinsip dan Ciri-ciri Active Learning.
Dalam pembelajaran aktif (Active Learning) terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut dibagi dalam empat dimensi yaitu :
1.      Prinsip yang terlihat pada peserta didik.
a.       Keberanian untuk mewujudkan niat, keinginan serta dorongan yang terdapat pada anak dalam proses belajar mengajar.
b.       Keinginan dan keberanian untuk mencari kesempatan guna berpartisipasi dalam persiapan proses belajar mengajar.
c.       Dorongan ingin tahu yang besar pada peserta didik untuk mengetahui dan mengajarkan sesuatu yang baru dalam proses belajar mengajar.
2.      Prinsip yang terlihat pada guru.
a.       Adanya usaha mendorong, membina gairah belajar dan partisipasi siswa secara aktif.
b.       Kemampuan menjalankan fungsi dan peranan guru sebagai inovator dan motivator yang senantiasa menemukan hal-hal yang baru dalam proses belajar mengajar.
c.       Pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk belajar menurut cara dan keadaan masing-masing.
Hal ini juga dijelaskan dalam al-qur’an pada surat Al Baqarah ayat 286 yang berbunyi :
Artinya :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dan (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (mereka berdoa) : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami lakukan kesalahan. Ya Tuhan kami janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. (Qs Al Baqarah ayat 286)
Guru yang mempunyai keyakinan bahwa belajar itu merupakan proses aktif, mengetahui bahwa manusia belajar melalui proses bekerja sambil mengembangkan daya pikir semaksimal mungkin, guru meminta agar siswanya membaca, menyalin dan mendengarkan, mengikut sertakan siswa dalam berbagai kegiatan, diskusi, menyuruh mereka mengeluarkan pendapat, menyusun karangan, membuat laporan, atau mengungkapkan penafsirannya mengenai sesuatu masalah. Semua ini merupakan upaya guru untuk mengaktifkan murid agar mereka memperoleh pengalaman belajar dan merupakan bagian dari tanggung jawab guru pula. [6]
3.     Prinsip yang terlihat pada dimensi program pengajaran.
a.     tujuan pengajaran, konsep maupun pengajaran sesuai dengan kebutuhan, minat serta kemampuan peserta didik.
b.    Program cukup jelas, dapat dimengerti siswa dan menantang sisiwa untuk melakukan kegiatan belajar.
4.      Prinsip yang terlihat pada situasi belajar mengajar.
a.       Adanya komunikasi antara guru dengan murid, murid dengan murid yang intim, hangat dan produktif.
b.    Adanya kegairahan dan kegembiraan  belajar dikalangan peserta didik. [7]
5.     Dari segi sarana belajar.
a.     Ada sumber-sumber belajar bagi peserta didik.
b.    fleksibelitas waktu untuk kegiatan belajar.
c.    Dukungan dari berbagai jenis media pengajaran.
d.   Kegiatan belajar peserta didik tidak terbatas dalam kelas (ruang kelas) tetapi juga diluar kelas.
Kegiatan pengajaran dalam konteks active learning atau cara belajar aktif selalu melibatkan peserta didik secara aktif untuk mengembangkan kemampuan dan penalarannya merancang penelitian seperti memahami, mengamati, menginterpretasikan konsep, merancang penelitian, melaksanakan penelitian, mengkomunikasikan hasilnya dan seterusnya, dengan mengikuti prosedur atau langkah-langkah yang teratur dan urut.
              Adapun beberapa ciri-ciri yang harus tampak dalam proses belajar aktif (active learning) , yaitu :
1.     Situasi kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara bebas tetapi terkendali.
2.     Guru tidak mendominasi pembicaraan, tetapi lebih banyak memberikan rangsangan berpikir kepada siswa dalam memecahkan masalah.
3.      Guru menyediakan dan mengusahakan sumber belajar bagi siswa.
4.     Kegiatan belajar siswa bervariasi.
5.      Hubungan guru dengan siswa sifatnya harus mencerminkan hubungan manusiawi.
6.      Adanya keberanian siswa untuk mengajukan pendapatnya melalui pertanyaan atau pernyataan.
7.      Guru senantiasa menghargai pendapat siswa.
         3.   Kerangka penerapan Active Learnig.
Terdapat lebih dari seratus tips untuk membantu memulai, mengatur dan menjalankan kegiatan belajar aktif. Termasuk didalamnya adalah cara-cara membentuk kelompok, mendapatkan partisipasi, menciptakan tata ruang-ruang kelas, menjalankan diskusi dan lain-lain.
Dan teknik-teknik ini terbagi menjadi tiga bagian sebagai berikut :
a.       Bagaimana membuat peserta didik aktif sejak dini.
Dalam memulai pelajaran, sangat penting untuk membuat peserta didik aktif sejak awal. Berbagai kegiatan pembuka struktur (pembelajaran) dibuat agar peserta didik lebih mengenal, menggerak-gerakkan, mengajak pikiran mereka dan memancing perhatian mereka dalam mata pelajaran. Dengan menambah sebuah latihan pembuka terhadap perencanaan pengajaran merupakan langkah pertama yang mempunyai banyak keuntungan.
Pada saat-saat awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai yaitu sebagai berikut : [8]
Ø  Membangun Tim (Team Building).
Strategi awal ini akan membantu peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan membantu semangat Tim dengan sebuah kelompok yang telah mengenal satu sama lain dan saling bergantung.
Ø  Penegasan : Pelajarilah sikap, pengetahuan dan pengalaman para peserta didik.
Ø  Keterlibatan belajar seketika : menciptakan perhatian / minat awal dalam mata pelajaran.
Ketika ketiga tujuan tersebut diatas tercapai, akan membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkan kemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif.
b.     Bagaimana membantu peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap secara aktif.
Pada bagian sebelumnya merupakan “pembangkit selera” untuk belajar aktif, maka bagian ini merupakan “jalan Masuknya” (enter). Teknik-teknik pada bagian ini dirancang untuk menghindari atau memperkuat petunjuk dibawah pimpinan pengajar. Pendidikan pada semua jenjang pendidikan adalah tentang memperoleh pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skills) dan sikap (Attitude). Belajar (pengetahuan) kognitif meliputi mendapatkan informasi dan konsep, ia tidak hanya dengan memahami pelajaran namun juga dengan menganalisa dan menerapkannya terhadap berbagai situasi baru. Belajar (sikap) afektif melibatkan pengujian dan klarifikasi perasaan dan preferensi. Para peserta didik dilibatkan dalam memulai diri mereka sendiri dan hubungan personalnya terhadap pelajaran. Bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh bisa membuat semua berbeda di dunia. Akankah hal itu dilakukan secara aktif atau pasif ?
                        Ada beberapa strategi yang digunakan dalam bagian ini yaitu sebagai berikut :
Ø  Pengajaran kelas penuh (Full Class-Learning).
Bagian ini berkaitan dengan cara-cara membuat pengajaran yang dibimbing oleh guru lebih interaktif. Ada berbagai strategi dalam menyajikan informasi dan ide yang mendorong peserta didik secara mental. Seperti Listening Team, kegiatan ini merupakan sebuah cara membantu peserta didik yang didasarkan dengan materi yang diberikan. [9]
Ø  Diskusi menggairahkan (Stimulating Discussion)
Bagian ini mengeksplorasi cara mengintensifkan dialog dan debat tentang masalah-masalah pokok dalam pelajaran. Ada berbagai strategi yang mendorong partisipasi peserta didik aktif, menyebar, seperti Town Meeting (rapat kota), rapat diskusi ini sangat cocok untuk kelas-kelas besar. Dengan membuat suasana mirip dengan sebuah rapat kota, maka seluruh kelas bisa menjadi terlibat dalam diskusi. [10]
Ø Pertanyaan jitu (Prompting Question)
Bagian ini menguji cara membantu peserta didik agar mau menayakan berbagai pertanyaan. Ada berbagai strategi yang memungkinkan peserta didik merumuskan pertanyaan-pertanyaan tajam yang menjelaskan apa yang telah diajarkan pada peserta didik, salah satunya adalah Planted Questions (Pertanyaan yang telah ditanam), teknik ini memungkinkan guru untuk memberikan informasi sebagai jawaban atas pertanyaan yang pernah diberikan kepada peserta didik yang dipilih. [11]
Ø Belajar Kolaboratif (Collaborative Learning).
Bagian ini menyajikan cara merancang tugas-tugas belajar yang dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil peserta didik. Berbagai strategi dirancang untuk membuat peserta didik bekerja sama dan saling bergantung, seperti The Study Group (kelompok belajar), teknik ini memberikan peserta didik tanggung jawab untuk mempelajari materi pelajaran dan menjelaskan isinya dalam kelompok tanpa kehadiran pengajar. [12]
Ø  Pengajaran Teman Sebaya (Peer Teaching)
Bagian ini membahas cara-cara untuk memungkinkan para peserta didik saling mengajar. Salah satu dari strategi ini adalah Every One Is a Teacher Here (setiap peserta didik adalah pengajar). Ini merupakan sebuah strategi yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini memberi kesempatan peserta didik bertindak sebagai pengajar terhadap peserta didik lain. [13]
Ø  Belajar Mandiri (Independent Learning).
Bagian ini berkaitan dengan kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik secara individu dan privat. Misalnya “Action Learning” (belajar Tindakan). Belajar tindakan memberi kesempatan kepada siswa untuk menjalani dari awal suatu kehidupan nyata yang mensetting apllikasi topik dan isinya yang dipelajari atau didiskusikan di kelas. [14]
Ø  Belajar Aktif (Affective Learning).
Bagian ini berkaitan dengan para peserta didik yang menguji perasaan-perasaan, nilai dan sikap mereka. Misalnya “Role Models” model-model peran. Aktivitas ini adalah cara yang menarik untuk menstimulasi diskusi tentang nilai-nilai dan sikap.[15]
Ø  Pengembangan Keterampilan (Skill Development)
Bagian ini berkaitan dengan mempelajari dan memperaktekkan keterampilan baik yang teknis maupun yang non teknis. Misalnya “Modelling The Way” (Mempola Cara). Teknik ini memberi kesempatan untuk berlatih, melalui demonstrasi, keterampilan khusus yang diajarkan di kelas. [16]
c.     Bagaimana belajar agar tidak lupa ?
Sebagian pengajar menyampaikan materi mereka hingga saat-saat akhir waktu pelajaran, semester atau kursus studi. Mereka berpikir bahwa pada menit terakhir mereka dapat menjejalkan lebih banyak informasi dan meliput topik dan materi yang masih menjadi agendanya.
Nilai menutupi beberapa materi perlu dicurigai, mengajar sampai akhir sering menyebabkan penyembunyian, penyamaran dan penghamburan. Sebaliknya ketika belajar aktif ada kesempatan untuk memahami. Ketika waktu digunakan untuk mengkonsolidasikan apa yang telah dipelajari, ada kesempatan untuk retensi (penyimpanan).
Ada beberapa tindakan positif untuk penutupan yang tidak dilupakan. Hal ini dibagi dalam 4 kategori, yaitu sebagai berikut :
Ø Strategi meninjau (Reviewing Strategies)
Bagian ini berkaitan dengan cara-cara membantu peserta didik mengingat ulang apa yang telah mereka pelajari, mengetes pengetahuan dan kemampuan sekarang misalnya :”index Card Match” (Permainan Kartu Indeks). Ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan quiz kepada kawan sekelas. [17]
Ø Penilaian diri (Self Assesment)
Bagian ini berkaitan dengan cara-cara membantu peserta didik menilai apa yang sekarang mereka ketahui, apa yang dapat mereka lakukan sekarang dan sikap apa yang seharusnya mereka pegangi. Misalnya “Gallery of Learning” (galeri belajar). Aktivisasi ini merupakan cara untuk menilai dan menanyakan apa yang telah peserta didik pelajari setelah rangkaian pelajaran studi.[18]
Ø  Perencanaan masa depan (future planning)
Bagian ini berkaitan dengan cara membantu peserta didik mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan untuk menggunakan apa yang telah mereka pelajari. Misalnya “Follow Up Question” (Pertanyaan Lanjutan). Ini merupakan strategi pandai untuk meningkatkan kesadaran peserta didik tentang pelajaran yang lama setelah pelajaran selesai. [19]
Ø  Sentimen akhir
Bagian ini berkaitan dengan cara membantu peserta didik mengenang tentang pengalamannya bersama dan mengungkapkan pertanyaan (apresiasi). Misalnya “The Final Exam”(ujian akhir). Ini merupakan cara menyenangkan untuk mengenang aktivitas-aktivitas yang terjadi di kelas. [20]

[1] Jhon M. Echlos dan Hassan Shadlly, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Gramedia, tt), 9
[2] Ibid, 352
[3] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), 115
[4] Ahmad Rohani HM, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : PT. Asdi Mahasatya, 2004), 61-62
[5] Malvin L.Silberman, Active Learning : 101 Strategies to Teach Any Subject, (Jakarta ; Yapendis : 1996), 1-2
[6] Zakiyah Darajat Dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), 60
[7] Syafrudin Nurdin dan Safsirudin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta : Liputan Press, 2003), 122-127.
[8] Mel Silbermen, Active Learning : 101 Strategies to Teach Any Subject, (Jakarta Yapendis, 1996), 40
[9] Ibid, 101
[10] Ibid, 124
[11] Ibid, 139
[12] Ibid, 146
[13] Ibid, 163
[14] Ibid, 183
[15] Ibid, 202
[16] Ibid, 216
[17] Ibid, 232
[18] Ibid, 256
[19] Ibid, 269
[20] Ibid, 281

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: