KETELADANAN SEBAGAI STRATEGI PEMBELAJARAN

A.    Pengertian Keteladanan


18

 

Keteladanan dalam pendidikan merupakan bagian dari sejumlah metode yang paling ampuh dan efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual, dan sosial. Sebab, seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya  akan ditiru, disadari atau tidak, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, inderawi, maupun spiritual. Meskipun anak berpotensi besar untuk meraih sifat-sifat baik dan menerima dasar-dasar pendidikan yang mulia, ia akan jauh dari kenyataan positif dan terpuji jika dengan kedua matanya ia melihat langsung pendidikan yang tidak bermoral. Memang yang mudah bagi pendidik  adalah mengajarkan berbagai teori pendidikan kepada anak, sedang yang sulit bagi anak adalah mempraktekkan teori tersebut jika orang yang mengajar dan mendidiknya tidak pernah melakukannya atau perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya.[1]

Keteladanan berasal dari kata dasar “teladan” yang berarti sesuatu atau perbuatan yang patut ditiru atau dicontoh.[2] Dalam bahasa Arab diistilahkan dengan “uswatun hasanah” yang berarti cara hidup yang diridlai oleh Allah SWT. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan telah dilakukan pula oleh nabi Ibrahim dan para pengikutnya.[3]
Jadi yang dimaksud dengan keteladanan dalam pengertiannya sebagai uswatun hasanah adalah suatu cara mendidik, membimbing dengan menggunakan contoh yang baik yang diridloi Allah SWT sebagaimana yang tercermin dari prilaku Rasulullah dalam bermasyarakat dan bernegara.
1.      Landasan Teologis tentang Keteladanan
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut wawasan keilmuan yang sumbernya berada di dalam Al-Qur’an dan hadits. Sebagaimana yang diutarakan oleh Prof. DR. Oemar Muhammad At-Toumy Al-Saibany, bahwa penentuan macam metode atau tehnik yang dipakai dalam mengajar dapat diperoleh pada cara-cara pendidikan yang terdapat dalam Al-Qur’an, Hadist, amalan-amalan Salaf as Sholeh dari sahabat-sahabat dan pengikutnya.[4]
Dalam Al-Qur’an banyak mengandung metode pendidikan yang dapat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Metode tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum muslimin untuk membuka hati manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islam. Diantara metode-metode itu yang paling penting dan paling menonjol adalah:
a.       Mendidik dengan hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi
b.      Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
c.       Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi
d.      Mendidik dengan memberi teladan
e.       Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mau’idloh (peringatan)
f.       Mendidik dengan membuat targhib (senang), dan tarhib (takut).[5]
Adapun mendidik dengan memberi keteladanan memiliki dasar sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang dasar-dasar pendidikan antara lain:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).[6]
Ayat di atas sering diangkat sebagai bukti adanya keteladanan dalam pendidikan. Muhammad Qutb, misalnya mengisyaratkan sebagaimana yang dikutip oleh Abudin Nata dalam bukunya  Filsafat Pendidikan Islam bahwa: “Pada diri  Nabi Muhammad Alloh menyusun suatu bentuk sempurna yaitu bentuk yang hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung”. [7]  Keteladanan ini dianggap penting, karena aspek agama yang terpenting adalah akhlaq yang terwujud dalam tingkah laku (behavior). Untuk mempertegas keteladanan Rasulullah, Al-Qur’an lebih lanjut menjelaskan akhlaq Nabi yang disajikan tersebar dalam berbagai ayat di dalam Al-Qur’an. Dalam surat Al- Fath bahwa sifat Nabi SAW beserta pengikutnya itu bersikap keras terhadap orang-orang kafir akan tetapi berkasih sayang pada mereka, senantiasa ruku’ dan sujud (sholat), mencari keridloan Allah. Pada ayat lain dijelaskan bahwa diantara tugas yang dilakukan Nabi adalah menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada agama Allah dengan izinnya dan untuk menjadi cahaya yang meneranginya. (QS. Al-Ahzab: 45-46).
Dalam ayat lain juga disebutkan dalam serangkaian doa:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
 “Mereka berdoa: wahai Tuhan kami berikanlah kepada kami keluarga dari turunan yang menjadi cahaya mata (menyenangkan hati), jadikanlah kami teladan (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqon: 74).[8]
2.      Landasan Psikologis tentang Keteladanan
Secara psikologis manusia butuh akan teladan (peniruan) yang lahir dari ghorizah (naluri) yang bersemayam dalam jiwa yang disebut juga dengan taqlid. Yang dimaksud peniruan disini adalah hasrat yang mendorong anak, seseorang untuk meniru prilaku orang dewasa, atau orang yang mempunyai pengaruh.[9] Misalnya dari kecil anak belajar berjalan, berbicara, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Setelah anak bisa berbicara  ia akan berbicara sesuai bahasa dimana lingkungan tersebut berada. Pada dasarnya peniruan itu mempunyai tiga unsur, yaitu:
a.       Keinginan atau dorongan untuk meniru
b.      Kesiapan untuk meniru
c.       Tujuan meniru.[10]
Sedangkan menurut Prof. Dr. Abd. Aziz Al Quussy, pada dasarnya peniruan itu mempunyai 2 unsur. Menurut beliau adanya unsur ketiga sudah pasti jika ada unsur pertama dan unsur kedua. Karena unsur ketiga merupakan bertemunya unsur pertama dan kedua.[11]
Untuk lebih jelasnya penulis uraikan satu persatu dari beberapa unsur di atas:


a.       Keinginan atau Dorongan Untuk Meniru
Pada diri anak atau pemuda ada keinginan halus yang tidak disadari untuk meniru orang yang dikagumi (idola) di dalam berbicara, bergaul, tingkah laku, bahkan gaya hidup mereka sehari-hari tanpa disengaja. Peniruan semacam ini tidak hanya terarah pada tingkah laku yang baik saja, akan tetapi juga mengarah pada tingkah laku yang kurang baik. seperti contoh: akhir-akhir ini ada kejadian gara-gara ingin kuat dan gagah seperti pegulat idola mereka di “Smack Down” yang disiarkan oleh salah satu TV swasta,  banyak anak menjadi korban. Mulai cidera, patah tulang, hingga ada yang meninggal.[12] Oleh karena itu, orang tua, pendidik, pemimpin, dituntut selalu membimbing (memberi teladan) bagi anaknya, anak didiknya, bagi orang yang dipimpinnya. Bagaimana jadinya, jika para orang tua, pendidik, pemimpin tidak bisa menjadi panutan bagi anak, anak didiknya, ummatnya . Dalam hal ini Alloh berfirman:
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ (67) رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68)
Dan mereka berkata : ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al-Ahzab: 67-68).[13]


b.      Kesiapan Untuk Meniru
Setiap tahapan usia mempunyai kesiapan dan potensi untuk meniru. Karena itu Islam tidak mewajibkan bagi anak kecil untuk melaksanakan sholat sebelum mencapai usia 7 tahun (baligh), tetapi tidak melarang anak untuk meniru gerakan-gerakan sholat yang pernah ia lihat ataupun bacaan dalam sholat. Pada prinsipnya, orang tua, guru, pemimpin harus mempertimbangkan potensi anak sewaktu kita akan mengarahkan atau membimbing mereka. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa Alloh tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Ayat yang menerangkan hal tersebut adalah :
لاَ يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَت
Alloh tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (Al-Baqoroh : 286).[14]
Salah satu contoh yang melahirkan kesiapan manusia untuk meniru, adalah situasi masa. Dalam keadaan atau kondisi krisis karena adanya suatu bencana, orang berusaha mencari jalan keluar untuk melepaskan diri dari krisis yang menimpanya. Pada saat itulah manusia butuh pemimpin yang dipandang mampu dan dapat ditiru dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Biasanya orang yang ditiru adalah orang yang mempunyai pengaruh, orang yang di pimpin akan meniru pemimpinnya, anak meniru orang tuanya, murid akan meniru gurunya.
c.       Tujuan Untuk Meniru
Setiap peniruan tentu mempunyai tujuan yang kadang-kadang diketahui oleh pihak yang meniru dan kadang-kadang tidak diketahui. Peniruan yang tidak diketahui dan tidak disadari oleh pihak-pihak yang meniru merupakan peniruan yang hanya sekedar ikut-ikutan, sedangkan peniruan yang di sadari dan di sadari pula tujuannya, maka peniruan tersebut tidak lagi sekedar ikut-ikutan, tetapi merupakan kegiatan yang disertai dengan pertimbangan. Seperti peniruan seseorang dalam mencapai perlindungan dari orang yang dipandangnya lebih kuat. Dengan tujuan akan memperoleh kekuatan seperti yang di miliki oleh orang tersebut. Menurut An-Nahlawi peniruan yang demikian, dalam istilah pendidikan Islam di sebut dengan “ Ittiba” (patuh). Dan Ittiba’ yang paling tinggi adalah Ittiba’ yang di dasarkan atas tujuan dan cara.[15] Sehubungan dengan konsep ini, Alloh SWT telah berfirman :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى الله عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ الله وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf :108).[16]
3.      Landasan Yuridis
Adalah dasar pelaksanaan yang berasal dari perundang-undangan pemerintah yang dapat dijadikan pegangan dalam pelaksanaannya. Sebagaimana yang tercantum pada Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada Bab III pasal (4) ayat (4) yang berbunyi:
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran”[17]
4.      Keteladanan Dalam Pendidikan
Dalam dunia  pendidikan banyak ditemukan keragaman bagaimana cara mendidik atau membimbing anak, siswa dalam proses pembelajaran formal maupun non formal (masyarakat). Namun yang terpenting adalah bagaimana orang tua, guru, ataupun pemimpin untuk menanamkan rasa iman, rasa cinta pada Allah, rasa nikmatnya beribadah shalat, puasa, rasa hormat dan patuh kepada orang tua, saling menghormati atau menghargai sesama dan lain sebagainya. Hal ini agak sulit jika di tempuh dengan cara pendekatan empiris atau logis.
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan, seorang pendidik dapat saja menyusun sistem pendidikan yang lengkap, dengan menggunakan seperangkat metode atau strategi sebagai pedoman atau acuan dalam bertindak serta mencapai tujuan dalam pendidikan.[18] Namun keteladanan seorang pendidik sangatlah penting dalam interaksinya dengan anak didik. Karena pendidikan tidak hanya sekedar menangkap atau memperoleh makna dari sesuatu dari ucapan pendidiknya, akan tetapi justru melalui keseluruhan kepribadian yang tergambar pada sikap dan tingkah laku para pendidiknya.[19]
Dalam pendidikan Islam konsep keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cermin dan model dalam pembentukan kepribadian seorang muslim adalah ketauladanan yang di contohkan oleh Rasulullah. Rasulullah mampu mengekspresikan kebenaran, kebajikan, kelurusan, dan ketinggian pada akhlaknya. Dalam keadaan seperti sedih, gembira, dan lain-lain yang bersifat fisik, beliau senantiasa menahan diri. Bila ada hal yang menyenangkan beliau hanya tersenyum. Bila tertawa, beliau  tidak terbahak-bahak. Diceritakan dari Jabir bin Samurah: “beliau tidak tertawa, kecuali tersenyum.” Jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan, beliau menyembunyikannya serta menahan amarah. Jika kesedihannya  terus bertambah beliau pun tidak mengubah tabiatnya, yang penuh kemuliaan dan kebajikan.[20]
Berkaitan dengan makna keteladanan, Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa keteladanan mengandung nilai pendidikan yang teraplikasikan, sehingga keteladanan memiliki azas pendidikan sebagai berikut:
a.       Pendidikan Islam merupakan konsep yang senantiasa menyeru pada jalan Alloh. Dengan demikian, seorang pendidik dituntut untuk menjadi teladan dihadapan anak didiknya. Karena sedikit banyak anak didik akan meniru apa yang dilakukan pendidiknya (guru) sebagaimana pepatah jawa “guru adalah orang yang digugu dan ditiru”. Sehingga prilaku ideal yang diharapkan dari setiap anak didik merupakan tuntutan realistis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-sunnah.
b.      Sesungguhnya Islam telah menjadikan kepribadian Rasulullah SAW sebagai teladan abadi dan aktual bagi pendidikan. Islam tidak menyajikan keteladanan ini untuk menunjukkan kekaguman yang negatif atau perenungan imajinasi belaka, melainkan Islam menyajikannya agar manusia menerapkannya pada dirinya. Demikianlah, keteladanan dalam Islam senantiasa terlihat dan tergambar jelas sehingga tidak beralih menjadi imajinasi kecintaan spiritual tanpa dampak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.[21]
Dapat disimpulkan bahwa, dalam penerapan pendidikan Islam, hendaknya mencontoh pribadi Rasulullah SAW dan beliau-beliau yang dianggap representatif. Sebagaimana telah difirmankan dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الله وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثِيرًا (21)
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Alloh dan hari akhir dan dia banyak mengingat Alloh”. (Al-Ahzab: 21).[22]
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan beliau”. (Al-Mumtahinah: ayat 4).[23]
Ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa keteladanan itu selalu dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan tak terkecuali dalam pendidikan.
B.     Rasulullah Sebagai Sumber Keteladanan
Telah diketahui bersama bahwa Alloh SWT mengutus nabi Muhammad SAW agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam merealisasikan sistem pendidikan Islam. Setiap prilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari merupakan prilaku Islami yang bersumber dari Al-Qur’an. Aisyah ra sendiri pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Dengan demikian sebagai muslim, hendaknya menjadikan Rasul sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Karena keagungan keteladanan yang sempurna hanya dimiliki Rasulullah pembawa risalah abadi, kesempurnaannya menyeluruh dan universal, baik yang berhubungan dengan masalah ibadah, atau yang menyangkut kepatuhan atau kesabaran. Ini semua perlu diteladani dengan harapan agar kita menjadi manusia yang bermental islami yang seluruh aspek kejiwaannya didasari dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dan Hadits.
Kesanggupan mengenal Allah adalah kesanggupan paling awal dari manusia. Ketika Rasulullah bersama Siti Khodijah sedang mengerjakan sholat, sayyidina Ali masih kecil datang dan menunggu sampai selesai, kemudian beliau bertanya: “Apakah yang sedang Anda lakukan?”. Dan Rasul pun menjawab: “Kami sedang menyembah Alloh, Tuhan pencipta alam semesta”. Lalu Ali spontan menyatakan ingin bergabung. Hal ini menunjukkan bahwa keteladanan dan kecintaan yang kita pancarkan kepada anak, serta modal kedekatan yang kita bina dengannya, akan membawa mereka mempercayai pada kebenaran prilaku, sikap dan tindakan kita. Dengan demikian, menabung kedekatan dan cinta kasih dengan anak, akan memudahkan kita nantinya membawa mereka pada kebaikan-kebaikan.
Bagaimana tips mendidik ala Nabi SAW ? Setidaknya ada tiga cara bagaimana mendidik anak menurut Nabi SAW, yaitu:[24] Metode mendidik dengan memberi keteladanan (perbuatan), metode yang berpengaruh terhadap akal, metode yang berpengaruh terhadap kejiwaan
Rasulullah merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin beliau ajarkan melalui tindakannya, kemudian menterjemahkan tindakannya  ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Alloh, bagaimana bersikap sederhana, apa yang beliau katakan tentang kejujuran, keadilan, toleransi, bagaimana duduk dalam sholat, do’a, dan lain sebagainya. Semuanya ini beliau lakukan dulu dan kemudian baru mengajarkannya kepada orang lain. Sebagai hasilnya, apapun yang beliau ajarkan diterima dengan segera di dalam keluarganya dan oleh para pengikutnya, karena ucapan beliau menembus ke dalam hati sanubari mereka.
Di dalam keluarga Rasulullah terdapat perasaan keterpesonaan permanen. Orang-orang yang memperoleh tatapan sekilas darinya dapat merasakan keindahan surga dan kengerian neraka. Beliau gemetar selama  sholat, menggigil karena takut neraka dan terbang dengan sayap keinginan akan surga. Perilaku beliau memberi inspirasi dan berkah kepada setiap orang di sekelilingnya. Anak-anak dan istri-istri beliau juga merasa kagum dan takut manakala beliau berkhotbah, memberi perintah, dan apa-apa yang mereka alami dan dilakukan  serta memberi contoh melalui tindakan mereka. Andaikan semua ahli pendidikan berkumpul dan menyatukan semua pengetahuan mereka tentang pendidikan, mereka tidak bisa seefektif Nabi.[25]
Keteladanan inilah yang nampaknya menjadi sarana yang paling efektif dalam menyampaikan materi pendidikan beliau.  Beliau tampil sebagai contoh kongkrit dari semua materi dakwah dan pendidikan yang beliau sampaikan. Murid-murid beliau tidak pernah lagi bertanya seperti apa contoh kongkrit dari kejujuran, kesederhanaan, toleransi, dan lain sebagainya. Karena mereka dapat menyaksikan semua itu secara langsung, pada guru mereka sendiri, yaitu Rasulullah. Keteladanan yang beliau tampilkan. Adalah betul-betul menjadi langkah dan strategi pendidikan yang amat manjur dan jitu untuk menularkan semua kecerdasan yang beliau miliki. Sebab, semua yang beliau tampilkan baik berupa perbuatan ataupun perkataan mampu menyedot perhatian besar para peserta didiknya sehingga dengan penuh kesadaran yang tinggi mereka ingin untuk meniru dan melaksanakan apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh beliau.
Beliau telah sukses menampilkan dirinya sebagai sosok yang memang pantas ditiru dan diteladani. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan akan selalu membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Dalam proses interaksi inilah akan terjadi saling mempengaruhi, karena secara psikologis manusia terutama anak-anak memiliki kecenderungan atau naluri meniru orang lain. Di samping itu, secara psikologis pula, seseorang membutuhkan tokoh teladan dalam kehidupannya. Semua itu disadari atau tidak akan mempengaruhi kepribadian seseorang.[26]
Dalam mendidik para sahabat, Rasulullah memiliki berbagai metode agar para sahabat mengerti tentang berbagai hal khususnya pengetahuannya tentang agama. Adapun metode dan contoh yang dikaitkan dengan keteladanan beliau dapat disarikan sebagai berikut:
a.            Metode Yang Berpengaruh Terhadap Akal
1.      Kisah
Sesungguhnya cerita atau kisah memiliki pengaruh yang sangat besar bagi jiwa pendengarnya lantaran di dalamnya terkandung pentahapan dalam pengurutan berita, membuat kerinduan dalam pemaparannya, dan membuang pemikiran-pemikiran  yang bercampur dengan emosi kemanusiaan. Cerita juga bertahap dari satu posisi ke posisi lain yang dapat memikat emosi dan pikiran pendengar sehingga dimungkinkan adanya interaksi dan larut dalam kisah yang               didengarnya pada akhirnya ia sampai pada titik klimaks, kemudian mengurai sedikit demi sedikit. Titik penerang dalam peristiwa berada pada cahaya yang menyelamatkan posisi cerita dan mengalihkannya ke kondisi yang tenang dan teratur atau mengambil posisi kemanusiaan sebagai akibat dari interaksi pikiran dan kejiwaan bersama dengan adegan-adegan peristiwa itu.[27]
Penyampaian pesan-pesan (mendidik) yang beliau lakukan melalui cerita lebih di maksudkan sebagai upaya beliau agar para peserta didiknya bisa banyak belajar dari sejarah kehidupan orang-orang yang mendahului mereka, baik tentang kesuksesan ataupun kegagalan, tentang kebaikan dan keluhuran mereka dan lain sebagainya. Jika cerita tersebut mengandung kebaikan atau kesuksesan, maka mereka diharapkan bisa meniru dan meneladani apa yang telah mengantarkan mereka pada kesuksesan tersebut. Begitu juga sebaliknya.[28] Yang penting untuk di catat adalah bahwa kisah-kisah yang beliau sampaikan adalah bersandar pada fakta riil yang pasti yang pernah terjadi di masa lalu. Jauh dari khurafat dan mitos. Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan keyakinan sejarah pada diri anak, juga menambahkan spirit pada diri anak untuk bangkit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan mendalam.[29]
2.      Dialog dan Rasionalisasi
Seperti halnya akal dan kemampuan manusia yang berbeda kadar pemahaman dan tingkat kecerdasan, berbeda pula kadar kerelaan terhadap perintah Allah dan larangan-Nya, ada diantara mereka yang tidak puas dengan dalil, kecuali setelah jelas hikmah dari syari’at tersebut namun ada pula mereka yang merasa cukup dan puas dengan dalil itu.
Pada umumnya begitu pula yang terjadi pada murid, diantara mereka ada yang tidak puas dengan kaidah-kaidah dan asas yang telah diistilahkan oleh ulama’ kecuali jelas hikmahnya. Ada juga diantara mereka yang tidak bisa mencapai kepahaman sempurna kecuali setelah kaidah ataupun masalahnya dijelaskan dengan dialog dan rasionalisasi.[30]
3.      Pengamalan Praktis
Rasulullah SAW pernah melihat anak yang sedang menguliti kambing, namun salah dalam mengerjakannya. Lalu Rasulullah menyingsingkan lengan dan mulai menguliti kambing itu di hadapannya. Iapun memperhatikan Rasulullah menguliti kambing. Ia mengfungsikan akal dan memusatkan perhatiannya pada pengajaran yang diberikan oleh Rasulullah. Melalui pengalaman nyata dan praktis di dalam mendidik anak seperti ini, wawasan anak akan terbuka dan pengetahuannya semakin luas.[31]
4.      Berbicara Langsung
Bahasa adalah alat komunikasi antar manusia. Dan telah dimaklumi tingkat perbedaan dalam cara-cara orang berbicara. Ada yang berbicara panjang lebar padahal informasinya sedikit. Seperti apakah ucapan Rasulullah SAW? Sebagaimana yang diriwayatkan Sayyidina Aisyah: bahwa Rasulullah tidak berbicara dengan sambung menyambung (nyerocos) seperti yang kalian lakukan, akan tetapi pembicaraan Rasulullah terpisah dengan jeda. Jika seseorang menghitung kata-katanya tentu ia dapat menghitungnya. Sedangkan jika Rasulullah SAW mengucapkan satu kalimat beliau mengulanginya sebanyak tiga kali agar dapat diingat.[32]
5.      Perumpamaan
Untuk lebih memudahkan diterima, dicerna dan dipemahami pesan pendidikan yang hendak disampaikan kepada peserta didiknya beliau seringkali memberikan perumpamaan-perumpamaan yang dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari mereka atau secara umum sudah dikenal oleh mereka. Ini untuk mempermudah pemahaman terutama peserta didiknya yang berada dalam taraf intelektual yang sedang. Sehingga mereka bisa lebih mudah untuk mengingat isi pesan yang disampaikan, terutama ketika sedang ingat kepada perumpamaan yang dipakai. Dalam banyak kasus pendidikan yang berlangsung antara Beliau dan peserta didiknya, Beliau tidak langsung menjawa atau memberikan penjelasan atau persoalan yang diajukan atau sedang dibahas bersama peserta didiknya dengan  memakai bahasa yang komplit atau verbal. Beliau seringkali memberikan penjelasan dengan memakai pendekatan perumpamaan.[33]
b.            Metode Yang Berpengaruh Terhadap Kejiwaan
1.      Motivasi
Metode pemberian motivasi adalah salah satu faktor  yang dapat membangkitkan semangat dan keinginan belajar. Jiwa manusia pada hakekatnya selalu ingin mengetahui sesuatu yang baru. Jadi, dorongan dan motivasi yang diberikan kepada peserta didik dapat membuatnya sangat bersemangat dan memiliki keinginan yang kuat untuk mencari dan meneliti apa yang hendak diketahuinya.[34]
2.      Ancaman
Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang bersifat memotivasi dimana ayat yang demikian tak satupun yang tidak diikuti dengan ancaman. Motivasi dan ancaman adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain.[35] Motivasi dan ancaman merupakan bagian dari metode kejiwaan yang sangat menentukan dalam meluruskan anak. Ini merupakan  cara yang sangat jelas dan gambling dalam pendidikan ala Nabi SAW.  Beliau sering menggunakannya dalam menyelesaikan masalah anak disegala kesempatan.[36]
3.      Mengembangkan Potensi dan Bakat
Pendidik yang sukses adalah dia yang mampu menemukan sejumlah potensi dan bakat terpendam yang ada pada diri peserta didiknya, kemudian menyalurkan bakat tersebut dengan cara yang tepat. Karena setiap orang memiliki kemampuan dan keahlian tertentu, meski berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada perbedaan pada manusia, kecuali sebatas perbedaan tingkat kemampuan atau keahlian. Dengan kata lain, perbedaan yang ada hanya sebatas perbedaan tingkatan atau kuantitas, dan bukan perbedaan kualitas.[37]
C.    Arti Penting Keteladanan Seorang Guru
Di dalam proses pembelajaran seorang pendidik memiliki peran penting dalam mensukseskan keberhasilan dalam pembelajaran. Mendidik tidak hanya sekedar memenuhi prasyarat administrasi dalam proses pembelajaran, tetapi perlu totalitas. Artinya ada keseluruhan komponen yang masuk di dalamnya. Lebih khusus lagi adalah kepribadian seorang guru.
Kepribadian seorang guru sangatlah penting terutama di dalam mempengaruhi kepribadian siswa. Karena guru memiliki status seseorang yang di anggap terhormat dan patut di contoh. Selain itu, guru adalah seorang pendidik. Pendidikan itu sendiri memiliki arti menumbuhkan kesadaran kedewasaan. Bahkan di dalam Islam arti pendidikan itu sangat beragam. Ada tiga pengertian secara garis besar perdebatan ilmuwan tentang arti dan asal usul kata pendidikan dalam Islam. 
a.       Kata at-Ta’lim (التعليم ), merupakan masdar dari kata Allama (علم) yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan.[38] Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
وَعَلَّمَ ءَادَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31)
Dan Allah mengajarkan kepada Adam segala nama, kemudian Allah berkata kepada Malaikat: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu benar”. (Q.S. 2:31).[39]
Dari ayat di atas, pengertian pendidikan yang dimaksud mengandung makna yang terlalu sempit. Pengertian at-Ta’lim hanya sebatas proses pentransferan seperangkat nilai antar manusia. Ia dituntut untuk menguasai nilai yang ditransfer secara kognitif dan psikomotorik, akan tetapi tidak dituntut pada domain afektif.[40] Namun secara implisit juga menanamkan aspek afektif, karena kata at-Ta’lim juga ditekankan pada prilaku yang baik. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ الله ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ اْلآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5)
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta ditetapkannya tempat bagi beredarnya bulan supaya kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Alloh tidak menciptakan yang sedemikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang yang mengetahui. (Q.S. 10:5).
Dari ayat di atas, menurut Abdul Fattah Jalal: “akan berpencaran ilmu-ilmu lain bagi kemaslahatan manusia sendiri tanpa terlepas pada nilai ilahiyah. Kesemuanya itu dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dan beliau berpendapat bahwa istilah at-Ta’lim lebih cocok dalam penunjukan pengertian pendidikan, karena cakupannya lebih luas dibanding dengan istilah lain yang dipergunakan.[41]
b.      Kata at-Tarbiyah (التربية), merupakan masdar dari kata rabba  (رب) yang berarti mengasuh, mendidik, dan memelihara.[42]
Dalam lexicology Al-Qur’an, penunjukan kata tarbiyah yang merujuk pada pengertian pendidikan secara implisit tidak ditemukan. Namun penunjukannya dapat dilihat dari istilah lain: al-Rabb, Rabbayani, Nurabbi, dan Robbaniy. Sayyid Qutb menafsirkan istilah at-Tarbiyah sebagai upaya pemeliharaan jasmaniyah peserta didik dan membantunya dalam rangka menumbuhkan kematangan sikap mental sebagai pancaran akhlaqul karimah pada diri peserta didik.[43] Dari pandangan tersebut, memberikan pengertian bahwa istilah at-Tarbiyah mencakup semua aspek pendidikan, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik baik yang mencakup aspek jasmaniah maupun rohaniah.
c.       Kata at-Ta’dib (التأديب), merupakan masdar dari kata Addaba (أدب) yang dapat diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlaq atau budi pekerti peserta didik. Orientasi kata at-Ta’dib lebih terfokus pada upaya pembentukan pribadi yang berakhlaq mulia. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
أدبنى ربى فأحسن تأدبى (الحديث)
Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik”.
Menurut Muhammad Naqib al-Attas, penggunaan kata at-Ta’dib lebih cocok digunakan dalam pendidikan Islam. Karena pengertian yang dikandungnya mencakup semua wawasan ilmu pengetahuan, baik teoritis maupun praktis yang terformulasi dengan nilai-nilai tanggung jawab dan semangat ilahiyah sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Khaliqnya. Serta merupakan bentuk esensial dari pendidikan Islam dan sekaligus mencerminkan tujuan hakiki pendidikan Islam, sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.[44]
Dari pengertian dengan menggunakan istilah-istilah tersebut di atas, serta keragaman argumentasi para pakar dalam menunjukkan istilah pendidikan. Yang terpenting menurut penulis di sini adalah bagaimana upaya pendidik dalam membimbing anak didik untuk menjadi orang yang berkualitas dengan berlandaskan nilai-nilai agama. Sehingga nantinya anak didik dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh serta menjadikannya sebagai pandangan hidup di dunia dan di akhirat. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam kontek Islam dengan menggunakan   istilah “Tarbiyah”, “Ta’lim”, dan “Ta’dib” harus dipahami secara bersama-sama. Karena ketiga istilah itu mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain.
Kenapa orang memerlukan pendidikan? Setidaknya ada tiga alasan  seseorang memilih pendidikan Pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda, dengan tujuan agar nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai intelektual, seni, politik, ekonomi, dan sebagainya. Upaya pentransferan nilai ini dikenal dengan pendidikan. Kedua, dalam kehidupan manusia sebagai individu, memiliki kecenderungan untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya seoptimal mungkin.  Untuk maksud tersebut, manusia perlu suatu sarana. Sarana tersebut adalah pendidikan. Ketiga, konvergensi[45] dari keduanya lewat pendidikan.[46]
Adapun tujuan pendidikan itu sendiri sebagaimana tercermin dari tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) bahwa :
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[47]
Dalam Islam tujuan pendidikan secara normatif meliputi tiga aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan. Pertama, dimensi spiritual, yaitu iman, taqwa dan akhlak mulia (yang tercermin dalam ibadah dan mu’amalah). Dimensi spiritual ini tersimpul dalam suatu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak manusia akan berada dalam kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Rasulullah SAW merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin, sebagaimana sabda beliau :
 “Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Pendidikan akhlak dalam Islam tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam yaitu ketaqwaan, dan beribadah kepada Allah SWT.
Kedua, dimensi budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini secara universal menitik beratkan pada pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan faktor dasar (bawaan) dan faktor ajar (lingkungan) dengan berpedoman kepada nilai-nilai keislaman. Faktor dasar dikembangkan dan ditingkatkan kemampuan melalui bimbingan dan pembiasaan berfikir, bersikap dan bertingkah laku menurut norma-norma Islam. Sedangkan faktor ajar dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan norma-norma Islam seperti teladan, nasehat, anjuran, ganjaran, pembiasaan, hukuman dan pembentukan lingkungan serasi.
Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada kemajuan, yaitu  cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, profesional, inovatif, dan produktif. Dimensi kecerdasan dalam pandangan psikologi merupakan sebuah proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreatifitas, dan praktis. Kecerdasan apapun bentuknya, baik IQ-SQ dan lain-lain saat ini diukur dengan tes-tes prestasi di sekolah dan bukan prestasi di dalam kehidupan. Dulu kecerdasan itu diukur dengan membandingkan usia mental dengan usia kronologis, tetapi saat ini test IQ membandingkan penampilan individu dengan rata-rata bagi kelompok dengan usia yang sama. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan.[48]
Dengan pengertian dan tujuan pendidikan tersebut, sekiranya dapat dipahami bahwa pendidikan adalah sebagai wujud transformasi ilmu tidak hanya sekedar pengetahuan tetapi juga nilai. Hal inilah letak penting seorang guru dalam menanamkan nilai-nilai kepada siswa. Oleh karena itu, para pendidik hendaknya bercermin pada diri Rasulullah dalam berakhlaq, yakni berakhlaq mulia dan kesantunan yang tinggi. Karena sikap seperti inilah sarana yang paling baik dalam mengajar dan mendidik. Karena seorang murid biasanya akan bersikap sebagaimana sikap gurunya. Ia akan lebih meniru sikap seorang guru dari pada sikap orang lain. Jika seorang guru memiliki sikap terpuji, maka sikapnya itu akan berdampak positif bagi muridnya. Dalam jiwanya akan terpatri hal-hal baik yang tidak akan dilakukan meski dengan berpuluh-puluh nasehat dan pelajaran. Dari sini dapat dipahami rahasia sabda Nabi:
ما من شيئ فى الميزان أثقل من حسن الخلق
Tidak ada yang lebih berat timbangannya dari pada sikap yang baik”.

Hal tersebut disebabkan karena sikap yang baik adalah bagaikan sihir yang dapat menggerakkan hati dan jiwa, serta menebarkan rasa cinta pada setiap individu masyarakat. [49]


[1] Abdulloh Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam : Kaidah-Kaidah Dasar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), 1-2.
[2] W.J.S. Purwadarmintha, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993),  1036.
[3] M. Sodiq, Kamus Istilah Agama, (Jakarta: CV. Sientarama, 1988), 369.
[4] Oemar Muhammad At-Toumy Al-Saibany, Falsafah Pendidikan Islam, alih bahasa oleh Hasan Langulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 587.
[5] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: Diponegoro, Cet. 3, 1996), 283.
[6] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an………,627.
[7] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 95.
[8] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an………, 703.
[9] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip…, 367.
[10] Ibid, 368-371.
[11] Abdul Aziz Al-Qussyy, Ilmu Jiwa, Prinsip-Prinsip Dan Implementasinya Dalam Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 1, 1976), 279.
[12] Jawa Pos, Metropolis, Minggu 3 Desember 2006, 29.
[13] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an Tarjamah Indonesia, (Jakarta: Sari Agung, 2002), 840.
[14] Ibid, 88.
[15] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, Dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insan Press, 1996), 266.
[16] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an Tarjamah Indonesia, 460.
[17] Undang-Undang RI N0 14 tahun 2005 Tentang Guru, Dosen, Dan No 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2006), 103.
[18] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif  Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), 142.
[19] Hadhari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1993), 216.
[20] Ahmad Umar Hasyim, Menjadi Muslim Kaffah: Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, (Jogjakarta: Mitra Pustaka,2004), 29.
[21] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah Dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 263.
[22] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an Tarjamah Indonesia, 827.
[23] Ibid, 1118.
[24] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi (panduan lengkap pendidikan anak disertai teladan kehidupan para salaf), penerjemah: Salafudin Abu Sayyid, (Solo: Pustaka Arafah, 2006), 453.
[25] M. Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasulullah Saw. Di Terjemahkan Oleh: Tri Wibowo Budi Santoso, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2002), 197-198.
[26] Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi: Aplikasi Strategi Dan Model Kecerdasan Spiritual Rasulullah Di Masa Kini, (Jogjakarta: IRcisoD, 2006), 186-188.
[27] Ustman Qodri, Muhammad Sang Guru Agung,……., 19.
[28] Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi…………………, 208.
[29] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi,……, 486.
[30] Fuad Bin Abdul Aziz Al-Syahlub, Quantum Teaching, 38 Langkah Belajar Mengajar EQ Cara Nabi SAW, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2005), 91.
[31] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi,……, 508.
[32] Najib Kholid Al-Amir, Mendidik Cara Nabi, Terj. M. Iqbal Haitami, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 35-36.
[33] Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi…………………, 198-200.
[34] Fuad Asy Syalhub, Guruku Muhammad, terj. Oleh Nashirul Haq,………., 124.
[35] Utsman Qodri, Muhammad Sang Guru Agung,……………………, 110.
[36]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi,……………, 525.
[37] Najib Kholid Al-Amir, Mendidik Cara Nabi,………………….., 62.
[38] Ibnu Manzhur, Lisan Al Arab Juz 9, (Mesir: Dar Al Misriyah, 1992), 370.
[39] TIM DISBINTALAD, Al-Qur’an Tarjamah Indonesia, (Jakarta: Sari Agung, 2002), 9.
[40] Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), 86.
[41] Abdul Fattah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, Terj. Oleh Herry Nur Ali, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), 27-31.
[42] Ibnu Manzhur, Jilid V, Op.cit.  98.
[43] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Dhilal Al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, Juz I, tt), 15.
[44]  Sayyed Muhammad al-Naqieb al-Attas, The Concept Of Education In Islam: A Frame Work For An Islamic Philosophy Of Education In Islam, Terjm. Oleh Haidar Bagir, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996), 60.
[45] Konvergensi: Perpaduan, Keterpaduan,  untuk mencapai satu titik pusat (tujuan yang di inginkan).
[46] Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), 85.
[47] Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 Tentang Guru, Dosen, dan No 20 tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Bandung : CV. Nuansa Aulia, 2006), 102
[48] Said Agil Husain Al-Munawar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press, 2005), 7-10
[49] Fuad Asy Syalhub, Guruku Muhammad, terj. Oleh Nashirul Haq………. 23-24.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: