Contextual Teaching and Learning (CTL)

1.      Pengertian
Masalah proses pembelajaran yang terjadi selama ini mendorong para ahli pendidikan khususnya untuk mencari solusinya, diantaranya dengan menerapkan pembelajaran kontekstual, pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan, karena filosofi yang mendasarinya sudah dikembangkan sejak tahun 1916 oleh John Dewey yaitu sebuah filosofi belajar yang menekankan kepada pengembangan minat dan pengalaman siswa, pembelajaran kontekstual sendiri dikembangkan oleh the Washington state consortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 22 sekolah  dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat,

salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari 6 Propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan pembelajaran kontekstual di Amerika Serikat melalui Direktorat SLTP Depdiknas.[1]

Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disingkat pembelajaran Kontekstual sejauh ini telah banyak berkembang di negara-negara maju, namun dengan nama yang berbeda-beda, seperti di negara Belanda berkembang dengan nama Realistic Mathematics Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika Serikat berkembang dengan nama Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Dan di Micingham berkembang dengan nama Connected Mathematics Project (CMP) yang bertujuan mengintegrasikan ide matematika ke dalam apa yang dipelajarinya dengan baik dan mudah.[2] Orang-orang yang telah menggunakan istilah-istilah seperti Experiential Learning Reald World Education, Active Learning, dan Learner Countered Instruction dengan maksud untuk menyampaikan ide yang serupa dengan CTL.[3]
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan  baru ketika ia belajar.[4] Alan Blanchard memberikan definisi CTL merupakan suatu konsepsi yang membantu guru menghubungkan konten materi ajar dengan situasi-situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja. Selain itu CTL juga merupakan suatu reaksi terhadap teori yang pada dasarnya behavioristik yang telah mendominasi pendidikan selama puluhan tahun.
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan Pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar, sehingga pembelajaran selain lebih bermakna juga lebih menyenangkan, siswa akan belajar lebih keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru dan selanjutnya siswa akan memanfaatkan kembali pemahaman pengetahuan dan kemampuannya itu dalam berbagai konteks di luar sekolah untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun dengan berbagai kombinasi dan struktur kelompok.[5]
Pengertian-pengertian di atas pada dasarnya sama bahwa pembelajaran kontekstual terjadi jika siswa mampu mengaitkan apa yang sedang diajarkan dengan masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja. Ini berarti pula bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya, pembelajaran kontekstual ini dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna tanpa harus mengubah tatanan kurikulum yang ada, karena Pembelajaran kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran.
Dalam Pembelajaran kontekstual yang lebih dipentingkan adalah proses pembelajaran dan hasilnya, bagaimana pembelajaran di sekolah dikontekskan ke dalam situasi dunia nyata sehingga hasil belajar dapat lebih diterima dan berguna bagi siswa bilamana mereka meninggalkan sekolahnya. Dalam konteks ini, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Mereka menyadari bahwa apa yang dipelajarinya bermanfaat bagi hidupnya nanti dan berupaya untuk menggapainya. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti, namun mereka tetap membutuhkan guru sebagai pengarah dan pembimbing, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberikan informasi, guru mengolah kelas sebagai suatu team yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa sebagai anggota kelas, sesuatu yang baru tersebut adalah pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru, dengan konsep ini hasil pembelajaran dikatakan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pengetahuan dikembangkan oleh manusia, karena pengetahuan bukan seperangkat fakta, konsep atau kaidah-kaidah yang siap untuk diambil. Manusia harus menciptakan atau membangun pengetahuan tersebut dengan cara mengaitkan dengan dunia nyata mereka, apapun yang kita ketahui, kita telah membuatnya, pengetahuan bersifat terkaan dan bisa berubah-ubah, artinya pengetahuan bersifat dinamis (tidak pernah stabil), ketika pengetahuan itu dikonstruksi oleh manusia yang selalu mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Pemahaman-pemahaman yang telah dikumpulkan oleh manusia sifatnya sementara dan tidak lengkap, pengetahuan berkembang melalui pembongkaran atau pembeberan. pemahaman akan terjadi lebih dalam dan kuat jika diuji  dengan sesuatu yang baru, dan juga jika pengetahuan atau ketrampilan itu  diperluas  dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit-demi sedikit.
Dalam pembelajaran kontekstual, belajar yang efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari “Guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”, siswa tidak hanya diberi pengetahuan-pengetahuan tapi siswa dibantu untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan pengalaman siswa.
2.      Tujuan
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disingkat pembelajaran Kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain dan dari satu konteks ke konteks yang lainnya. Lee (1999) mendefinisikan transfer adalah kemampuan untuk berfikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui penggunaan pengetahuan awal. Ia dapat berkonotasi positif jika belajar atau pemecahan masalah ditingkatkan melalui penggunaan pengetahuan awal dan akan berkonotasi negatif jika pengetahuan awal secara nyata mengganggu proses belajar. Transfer juga dapat terjadi di dalam suatu konteks melalui pemberian tugas yang berkait erat dengan materi pelajaran atau antara dua atau lebih konteks dimana pengetahuan diperlukan dalam situasi tertentu dan kemudian digunakan dalam konteks yang lainnya.[6]
3.    Komponen-komponen Pembelajaran CTL dan Penerapannya Di Kelas
Pendekatan CTL memiliki 7 komponen utama yaitu:  Konstruktivisme (Constructivism), penemuan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Sebuah proses dikatakan menggunakan pendekatan CTL apabila telah menerapkan beberapa komponen tersebut. Depdiknas memberikan batasan tentang prinsip-prinsip CTL tersebut.[7]
3.1.      Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia  sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan dasar itu, pembelajaran dikemas menjadi proses merekonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Dalam pandangan konstruktivisme, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan, untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi program tersebut dengan:
a.       Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
b.      Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
c.       Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
3.2.      Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL, pengetahuan dan kemampuan atau ketrampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri, guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
Siklus inquiry:
a.       Observasi
b.      Bertanya
c.       Mengajukan dugaan
d.      Pengumpulan data
e.       Penyimpulan
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inquiry):
a.       Merumuskan masalah (dalam mempelajari apapun).
b.      Mengamati atau melakukan observasi
c.       Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya.
d.      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, audien yang lainnya.
3.3.      Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Questioning merupakan strategi pembelajaran berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan berfikir siswa, bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
a.       Menggali informasi, baik administratif maupun akademis.
b.      Mengecek pemahaman siswa
c.       Membangkitkan respon kepada siswa
d.      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
e.       Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
f.       Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g.      Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h.      Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3.4.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran berasal dari hasil kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya.
Metode pembelajaran dengan teknik learning community ini sangat membantu proses pembelajaran dikelas, prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam:
a.       Pembentukan kelompok kecil
b.      Pembentukan kelompok besar
c.       Mendatangkan ahli ke dalam kelas
d.      Belajar dengan kelas sederajat
e.       Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
f.       Bekerja dengan masyarakat.
3.5.      Pemodelan (Modeling)
Komponen CTL yang selanjutnya adalah pemodelan, maksudnya dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, disitu ada model yang bisa ditiru. Model ini bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar.
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seseorang bisa ditunjukkan untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata, model juga dapat didatangkan dari luar. Seseorang penutur ahli berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi model dalam berbicara, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
3.6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa saja yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya, refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas atau pengetahuan yang baru diterima.
Dengan begitu siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi, realisasinya berupa:
a.       Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu.
b.      Catatan atau jurnal buku siswa
c.       Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran itu
d.      Diskusi
e.       Hasil karya.
3.7.      Penilaian Sebenarnya (Authentic assessment)
Adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasi bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru bisa segera mengambil tindakan tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar.
Penilaian authentic menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa itu tidak hanya dari guru tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.
Karakteristik authentic assessment:
a.       Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
b.      Bisa digunakan untuk formatif dan sumatif
c.       Yang diukur ketrampilan dan performance, bukan mengingat fakta.
d.      Berkesinambungan
e.       Terintegrasi
f.       Dapat digunakan sebagai feed back.[8]
Assessment tidak harus selalu diakhir proses pembelajaran, tetapi dilakukan secara bersama-sama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran, selain dari hasil penilaian, juga dilihat dari proses pembelajaran. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn), bukan ditekankan pada bagaimana diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir proses pembelajaran.
Guru yang ingin melihat perkembangan hasil belajar PAI siswa, harus mengumpulkan data dari perilaku siswanya dikelas maupun diluar kelas, bukan hanya dari hasil mengerjakan soal tes PAI, proses pengambilan data seperti inilah yang dimaksud dengan authentic assessment.
Hal-hal yang dapat dijadikan dasar menilai prestasi siswa antara lain: proyek/kegiatan dan laporannya, PR, kuis, Karya siswa, Prestasi atau penampilan siswa, Demonstrasi, jurnal, hasil tertulis, dan lain-lain.
4.                            Pendekatan dalam Pembelajaran CTL
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru, sehubungan dengan itu, maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada 7 hal:
4.1.      Belajar Berbasis Masalah (Problem Based Instruction), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran, dalam hal ini siswa terlibat penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran, pendekatan ini mencakup pengumpulan inferensi yang berkaitan dengan pertanyaan dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.
4.2.      Pengajaran authentic (Authentik instruction), yaitu pendekatan yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks yang bermakna. Ia mengembangkan ketrampilan berfikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata.
4.3.      Belajar berbasis inquiry (Inquiry based learning) yang membutuhkan strategi pelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4.4.      Belajar berbasis proyek (Project based learning) yang membutuhkan suatu pembelajaran yang komprehensif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah authentic termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran dan melaksanakan tugas bermakna lainnya, pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dan mengkonstruksi (membentuk) pembelajarannya dan merealisasikan  dalam produk nyata.
4.5.      Pembelajaran berbasis kerja (Work based learning) yang memerlukan suatu pendekatan-pendekatan dalam pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di dalam tempat kerja, jadi dalam hal ini tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
4.6.      Belajar Jasa Layanan (service learning) yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut. Jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dan pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek atau tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
4.7.      Belajar kooperatif (cooperative learning), yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.[9]
5.    Strategi dalam Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
The Nortwest Regional Education Laboratory USA mengidentifikasikan adanya 6 kunci dasar dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
5.1.       Pembelajaran bermakna: Pemahaman, relevansi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa di dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat atau isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupannya dimasa mendatang, prinsip ini sejalan dengan pembelajaran bermakna (meaning full learning), yang diajukan oleh Ausuble.
5.2.      Penerapan pengetahuan adalah kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi di masa sekarang ataupun di masa depan.
5.3.      Berfikir tingkat tinggi, siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berfikir kreatifnya dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
5.4.      Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standart lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
5.5.      Responsif terhadap budaya, guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan dan kebiasaan siswa, teman pendidik dan masyarakat tempat ia mendidik, ragam individu dan budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara dan mengajar guru, setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan di dalam pembelajaran kontekstual, yaitu individu siswa, kelompok siswa sebagai tim atau keseluruhan kelas, tatanan sekolah dan besarnya tatanan komunitas kelas.
5.6.      Penilaian authentic, adalah penggunaan berbagai strategi penilaian, misalnya penilaian proyek atau tugas terstruktur, kegiatan siswa, pedoman observasi akan merefleksikan hasil belajar sesungguhnya.[10]
Dalam pembelajaran kontekstual diperlukan strategi pembelajaran sebagai berikut:
a.       Menekankan pada pemecahan masalah; pembelajaran kontekstual dapat dimulai dengan suatu simulasi atau masalah nyata, masalah yang dimaksud adalah yang relevan dengan keluarga siswa, pengalaman sekolah, tempat kerja dan masyarakat yang memiliki arti penting bagi siswa.
b.      Mengakui kebutuhan pembelajaran terjadi diberbagai konteks, misalnya di rumah, masyarakat dan tempat kerja.
c.       Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran siswa, sehingga mereka menjadi pelajar mandiri (self regulated learners). Untuk itu melalui pembelajaran kontekstual, siswa harus diperkenankan menjadi uji coba (trial and error), menggunakan waktu dan struktur materi untuk refleksi dan memperoleh dukungan yang cukup serta bantuan untuk berubah dari pembelajaran yang dependen menjadi pembelajaran yang independen.
d.      Bermuara pada keragaman konteks hidup yang dimiliki siswa, kerja sama team dan aktifitas kelompok (group) belajar di dalam proses pembelajaran kontekstual sangatlah menghargai keragaman siswa, memperluas perspektif dan membangun ketrampilan interpersonal (yaitu berfikir melalui berkomunikasi dengan orang lain).
e.       Mendorong siswa untuk belajar dari sesamanya dan bersama-sama atau menggunakan group belajar interdependent. Siswa akan dipengaruhi dan sekaligus berkontribusi terhadap pengetahuan dan kepercayaan orang lain, group belajar atau komunitas pembelajaran akan terbentuk di dalam tempat kerja dan sekolah kaitannya dengan sesuatu usaha untuk bersama-sama memakai pengetahuan, memusatkan pada tujuan pembelajaran dan memperkenalkan semua orang tua belajar dari sesamanya. Dalam hal ini guru harus bertindak sebagai fasilitator, pelatih dan pembimbing akademis.
f.       Menggunakan penilaian authentic.
Menurut Center For Occupational Research And Development (CORD) terdapat 5 strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual yang disingkat REARCT, yaitu:
1)      Relating; belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
2)      Experiencing; belajar ditentukan pada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention).
3)      Applying; belajar bila mana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
4.      Cooperating; belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama.
5.      Transferring; belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi konteks baru.
Untuk tujuan efektifnya pembelajaran di dalam proses pembelajaran kontekstual, semua strategi tersebut harus dipergunakan secara bersama-sama, walaupun di dalam prakteknya dimungkinkan tidak diperlukan perubahan yang drastis dari semua guru.
Penggunaan terus menerus dan refleksi dari pembelajaran kontekstual menyebabkan perluasan dan pendalaman pengetahuan guru termasuk perubahan organisasi sekolah. kepala sekolah, komite sekolah, orang tua, anggota masyarakat lainnya harus mendukung proses pembelajaran kontekstual dalam rangka meningkatkan kemungkinan keberhasilannya.[11]
6.    Perbedaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan Pendekatan Tradisional (Behaviorisme/Strukturalisme).[12]
No.

PENDEKATAN CTL

PENDEKATAN TRADISIONAL

1.
Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
Siswa adalah penerima informasi secara pasif.
2.
Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
Siswa belajar secara individual.
3.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
4.
Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
Perilaku dibangun atas kebiasaan.
5.
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
6.
Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri.
Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
7.
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar itu keliru dan merugikan
Seseorang tidak melakukan yang jelek dia takut hukuman.
8.
Bahasa yang diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata.
Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural, rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatih (drill).
9.
Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.
Rumus itu ada diluar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafal dan dilatih.
10.
Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan skemata siswa (on going process of development)
Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.
11.
Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.
Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan konstribusi ide dalam proses pembelajaran.
12.
Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya.
Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada diluar diri manusia.
13.
Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative and incomplete)
Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final.
14.
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing.
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
15.
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan.
Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.
16.
Hasil belajar diukur dengan berbagai cara; proses kerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes dll.
Hasil belajar diukur hanya dengan tes.
17.
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting.
Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
18.
Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek.
Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek
19.
Perilaku baik berdasar motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
20.
Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat.
seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.
7.    Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning
Dalam draf CTL dari Depdiknas (2002: 32) program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tersebut tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian autentik.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar “rencana pribadi” tentang apa dan bagaimana yang akan dikerjakan bersama siswanya. Gambaran yang ada selama ini bahwa rencana pembelajaran adalah laporan untuk kepala sekolah atau pihak lain harus dibuang jauh-jauh. Rencana pembelajaranlah yang akan mengingatkan guru tentang apa yang harus dipersiapkan dalam proses belajar mengajar.
Dalam penyusunan perencanaan pembelajaran berbasis kontekstual haruslah memperhatikan beberapa hal di bawah ini:
a)      Menyatakan kegiatan utama pembelajaran, yaitu: sebuah pernyataan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar.
b)      Menyatakan tujuan umum pembelajaran.
c)      Membuat perincian media untuk mendukung kegiatan tersebut
d)     Membuat skenario tahap demi tahap kegiatan siswa.

Dengan menggunakan penilaian autentik, yaitu: dengan data seperti apa siswa dapat diamati partisipa



[1] Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Dirjen Pendidikan Lanjutan Pertama, Pendekatan Kontekstual,(Jakarta: Depdiknas, 2002), 27. 
[2] Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual (Buku 5), (Jakarta: Depdiknas, 2002), 3.
[3] M. Nur, Contextual Teaching and Learning (Translated By Alan Blanchard, Ph.D), (Surabaya: Pusat Sains dan Mathematika Pasca Sarjana UNESA, 2001), Th.
[4] Depdiknas, Pendekatan Kontekstual, hal. 5
[5] Depdiknas, Manajemen Peningkatan…., h. 8.
[6] Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Jakarta: Depdiknas, 2002), 5.
[7] A. Saepul Hamdani, Contextual Teaching And Learning (CTL) Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Nizamia, 2003), 4.
[8] Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Pendekatan Kontekstual….,  10 – 20. 
[9] Ibid, h. 12-14.
[10] Depdiknas Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran Dan Pengajaran Kontekstual (buku 5), (Jakarta: Depdiknas, 2002), 113.
[11] Ibid, h 18-21
[12] http://pakguruonline.pendidikan.net

One Response

  1. Wonderful post! We are linking to this particularly great
    content on our site. Keep up the great writing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: