SESAT DAN DOMINASI KEBERAGAMAAN

       Fatwa sesat terhadap aliran-aliran yang dianggap “sesat” di Indonesia, akhir-akhir ini berdampak pada penyerangan dan kekerasan terhadap pengikut aliran yang  yang dianggap sesat tersebut. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan yang penting untuk dikaji, apakah kelompok tersebut layak menyandang gelar tersebut?
            Kejaadian yang terakhir menimpa al-Qiyadah al-Islamiyah setelah sebelumnya juga Ahmadiyah dianggap MUI sebagai aliran sesat. Terlepas dari sesat atau tidak sesatnya kelompok tersebut, kita harus mengkaji dampak fatwa MUI yang telah menimbulkan banyak penyerangan maupun pengerusakan.
Sesat dan politik pelabelan
            Dari beberapa fenomena yang terjadi, fatwa yang disandangkan MUI terkesan terjebak pada logika dikotomik, artinya dalam mengklaim suatu kelompok hanya ada benar-salah atau sesat-tidak sesat. Dikotomi klaim ini yang menimbulkan kelompok yang tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh MUI, meskipun hanya terjadi sedikit penyimpangan akan diangggap sesat. Seperti kasus Yusman Roy, Tokoh penggagas Sholat dengan mengunakan dua bahasa, ini kalau dipahami sebenarnya hanya masalah rajih  dan marjuh, bukan sesat atau tidak-sesat.
            Pemilihan kata/ tanda (sign) disini sangat penting. Bila dikaitkan dengan kasus yang terjadi pada Yusman Roy sebenarnya cukup dengan “menyinpang”, Karena dilihat dari dampak yang diperolehnya. Tanda (sign) di situ berhubungan dengan interpretan, yaitu penafsiran seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda tersebut. Penggunaan tanda “sesat” dan “menyimpang” tentu menimbulkan pemahaman (interpretan) yang berbeda terhadap suatu kelompok (objek). Dari sini jangan heran bila MUI menfatwakan sesat terhadap kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah maupun Ahmadiyah akan terjadi penyerangan oleh masyarakat terhadap kelompok tersebut, hal ini tidak terlepas dari pemahaman masryarakat kita sendiri dalam menafsirkan kata sesat.
            Jika kita melihat pada teorinya C.S. Pierce (labeling theory) dampak dari penjulukan dapat sedemikian hebatsehinggga korban-korban misinterpretasi tidak dapat menahan pengaruhnya. Maka untuk mempertimbangkan pelabelan yang diintrpretasikan oleh masyarakat ini sangat penting sebagai kajian tersendiri oleh MUI.
            Dari pemahaman lain, pelabelan sesat tersebut juga ada upaya persuasif dengan menghadirkan kata sesat dengan makna konotasi, dalam artian berusaha menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak senang dan sebagainya kepada pihak pendengar maupun pihak penerima berita. Pelabelan sesat sebagai tanda (signifed) ini bisa jadi tidak untuk menggambarkan realitas semata, melainkan bisa memunculkan gambaran (citra) yang akan muncul di benak masyarakat.
            Dalam prespektif semiotik, sistem hegemoni dan penguasaan makna akan tampak dalam pemilihan kata dan frekuensi pemakaian kata tertentu baik penurunan maupun pertukaran makna. Kata “kafir” dahulu merujuk pada orang yang tidak mempunyai agama, ini berbeda halnya dengan sekarang, orang beragama pun bisa di anggap “kafir”. Hal di atas menunjukkan sistem hegemoni bahasa, ketika ia masuk dalam realitas bahasa makna baru pun bermunculan dalam mengkonstruksi kata lama dan bisa juga sebaliknya kata baru bermunculan untuk menggantikan makna lama.   
Agama dan kakuasaan
            Akar masalah dari permasalahan tersebut -fenomena penyesatan yang menimbulkan penyeranga  maupun pengerusakan- adalah pemahaman ajaran agama sebagai suatu yang absolut (mutlak). Ini yang membuat pemahaman keber-agama-an masyarakat terkurung dalam sistem dominasi salah satu ajaran kelompok agama. Sebagai contoh di Indonesia, Islam dominan terdapat dalam wadah NU dan Muhammadiyah, ketika ada kelompok yang mempunyai pemahaman ajaran agama  berbeda dengan kelompok Ormas tersebut maka konsekuensinya adalah ia harus berjuluk sesat atau harus rela menjadi terdakwa dalam kasus pelecehan agama.
            Pemahaman yang mutlak tersebut membuat ajaran agama menjadi statis. Hal ini menjadikan ajaran agama yang elastis dan dinamis menjadi kabur. Memang ajaran agama merupakan wahyu Tuhan yang mutlak kebenaranya, akan tetapi dominasi interpretasi wahyu tersebutlah yang lebih memutlakkan. Dari sini kita bisa melihat apa yang dilakukan MUI dengan menetapkan 10 kreteria kelompok yang dianggap sesat, dan sebelumnya juga tindakan MUI banyak memakan korban seperti Ahmadiyah, LDII, al-Bahaiyah, NII, Yusman Roy dan yang sekarang menjadi nilai tersendiri bagi media untuk meliput yaitu, al-Qiyadah al-Islamiyah, ini memposisikan nya sebagai diktator Islam di Indonesia.
            Tahap berikutnya setelah pemahaman masyarakat sudah terpurung dalam dominasi pemahaman agama yaitu dengan sakralisasi teks-teks agama. Dengan berbagai cara supaya masyarakat takut dalam meninterprasi teks-teks suci,   ini bisa dimunculkan dengan peenerapan kadiah-kaidah interprasi secara baku. Upaya tersebut juga nampak  dilakukan oleh MUI dalam penetapan kreteria sesat yaitu apabila dalam menafsirka teks-teks tidak sesuai dengan yang digunakan oleh MUI sendiri.
            Dari sini  keputusan yang dibuat oleh MUI memperlihatkannya sebagai sosok yang mempunyai otoritas terhadap pemahaman keberagamaan masyarakat Indonesia. Kaputusanya (fatwa) pun banyak diikuti oleh mayoritas umat muslim di Indonesia.
            Sebagai pergumulan Tokok intelektual Islam, seharusnya MUI lebih bijak  dalam mengambil keputusan, terutama terhadap kelompok-kelompok lain yang dipahami menyimpang. Ini sebagai syarat terciptanya kehidupan yang lebih arif dan bijaksana, dengan misi agama rahmatan lil alamin, tidak terkecuali  bagi umat agama lain. Dengn menerapkan dialog sebagai alat penyelesaian sengketa      
(pelajar cornel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: