Ilmu sosial dalam pendidikan nasional

Kontibusi ilmu eksakta (ilmu pengetahuan alam) dalam membangaun peradaban teknologi modern tidak bias dielakkan. Matematika manjadi basic di hamper semua bidang, fisika  telah banyak menemukan alternative energi dalam kondisi krisis energi,  begitu pula bilogi, kimia, botani dan seterusnya. Hal ini menjadikan ilmu eksat menempati prestisius yang tinggi dalam pendidikan nasional kita.
Lain halnya dengan ilmu social, dalam pendidikan umum ia  masih berada—paling tidak—satu tingkat ke bawah ilmu eksat. Benar atau tidak pernyataan demikian? Kita bias lihat dari materi UASBN, UN, UMPTN atau fenomena penjurusan di jenjang SMA untuk kelas XI. Untuk pertama kalinya UAS BN diselenggarakan di jenjang sedolah dasar materi yang diujikanya adalah Bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), dari sini bisa kita lihat matematika dan IPA betapa prestisiusnya ilmu eksat hingga dijadikan sebagai standar kelulusan  sedangkan ilmu social bahkan tidak mendapat tempat sama sekali, kecuali bahasa Indonesia, bagian dari ilmu humaniora, tapi sekarangpun linguistic sudah berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu, tidak lagi katagori ilmu social.
Selain itu, UN untuk jenjang SMP juga menunjukkan hal  yang sama dengan UAS BN, dari empat mata pelajaran yang diujikan, dua diantaranya adalah matematika dan IPA, dan lainya adalah bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Padahal kalau kita lihat, ilmu social baik dijenjang SD maupun SMP sudah diajarkan, tapi kenapa ilmu sisial kurang begitu mendapatkan tempat.
Saya masi teringat jelas kejadian teman saya (di MAN 1 Gresik) waktu penjurusan tidak diterima di jurusan IPA kemudian orang tuanya sempat minder dengan sesama teman gurunya karena hasil belajar anaknya kurang memuaskan. Satu cerita dari teman  juga ada yang sampai depresi, sampai satu semester jarang aktif masuk sekolah dan setelah ditelusuri oleh pihak sekolah (bimbingan konseling) asal-muasalnya ternyata ia tak mau masuk IPS karena malu dengan teman-teman satu kelasnya dulu. Dua kejadian yang pernah saya rasakan, barang kali adalah satu di antara stigma negative pada jurusan IPS.  Sangat sederhana, barangkali di tempat lain juga ada semacam perspektif IPA lebih unggul dari pada IPS, anak yang ingin masuk IPA belum tentu diterima tapi pasti diterima di IPS.
Pendekrisidan nyata, yang bisa dipahami adalah pada SMN PTN, yang mana anak dari  jurusan IPA bisa masuk ke semua fakultas, jurusan, termasuk fakultas ataupun jurusan ilmu social, sedangkan bagi anak IPS tidak semua Fakultas dan jurusan bias mereka pilih, adakalanya  fakltas hanya untuk anak-anak IPA, seperti tekhnik, kedokteran dan sebagainya. (pelajar cornel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: