Diklat Jurnalistik

Ikutilah Pelatihan Jurnalistik Dasar Yang diadakan
Oleh: PAC. Sarirejo dan PAC Tikung bekerja sama dengan tabloid ma’arif Lamongan.
Diselenggarakan pada hari minggu, 30 Januari 2011
Bertempat di MTs Wahid Hasyim Tikung
Pukul  08.00-16.00
Restribusi peserta @20.000
baca materi jurnalistiknya di sini
PANDUAN MATERI DIKLAT JURNALISTIK DASAR
    Pengetahuan tentang Pers dan Jurnalistik Selama ini persoalan jurnalistik/pers seringkali dimaknai tidak lebih dari sekadar merupakan kegiatan wawancara semata. Benarkah demikian? Sebelum jauh menyelami dunia jurnalistik ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui beberapa definisi istilah-istilah yang ada di dalamnya. Secara bahasa, Pers berarti media. Berasal dari bahasa Inggris press yaitu cetak. Apakah media itu berarti hanya media cetak? Tidak. Pada awal kemuculannya media memang terbatas hanya pada media cetak. Seiring percepatan teknologi informasi, ragam media ini kemudian meluas. Muncul media elektronik: audio, audio-visual (pandang-dengar) sampai internet. Jadi pers adalah sarana atau wadah untuk menyiarkan produk-produk jurnalistik. Sedang jurnalistik merupakan suatu aktifitas dalam menghasilkan berita ataupun opini. Mulai dari perencanaan, peliputan, penulisan yang hasilnya disiarkan pada publik/khalayak pembaca melalui media/pers: cetak, audio, audio-visual. Dalam kata lain jurnalistik merupakan proses aktif untuk melahirkan berita. Hasil dari proses jurnalistik yang kemudian menjadi teks yang dimuat dalam media, berupa berita ataupun opini. Fungsi Pers 1.Menyiarkan informasi ( to informative) Merupakan fungsi yang pertama dan utama karena khalayak pembaca memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini. 2.Mendidik (to educate) Sebagai sarana pendidikan massa (mass education). Isi dari media atau hal yang dimuat dalam media mengandung unsur pengetahuan sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. 3.menghibur (to entertaint) Khalayak pembaca selain membutuhkan informasi juga membutuhkan hiburan. Ini juga menyangkut minat insani. 4.Mempengaruhi/kontrol (control social) Tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan sosial ada kejanggalan-kejanggalan, baik langsung ataupun tidak langsung, berdampak pada kehidupan sosial. Pada fungsi ini media dimungkinkan menjadi kontrol sosial, yang karena isi dari media sendiri bersifat mempengaruhi. Teori Pers Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schamm menyatakan bahwa pers di dunia saat ini dapat dikategorikan menjadi: •Authoritarian Pers •Libertarian Pers •Sosial Responbility Pers •Soviet Communist Pers Adapun teori Soviet Communist Pers hanyalah perkembangan dari teori Autoritarian Pers. Pada teori itu fungsi pers sebagai media informasi kepada rakyat oleh pihak penguasa mengenai apa yang mereka inginkan dan apa yang harus didukung rakyat. Sedang teori Sosial Responbility pers merupakan perkembangan dari teori Libertarian pers. Dan teori ini adalah kebalikan dari teori autoritaria pers, dimana pers bebas dari pengaruh pemerintah dan bertindak sebagai fouth state. Pada teori ini pers menempatkan posisi sebagai tanggung jawab sosial. Apa itu Berita Secara sederhana berita merupakan laporan seorang wartawan/jurnalis mengenai fakta. Karena ada banyak fakta dalam kehidupan atau realitas sosial, apakah lantas semua fakta/relitas menjadi berita? tidak. Fakta itu menjadi berita setelah dilaporkan wartawan. Karena itu berita merupakan konstruksi dari sebuah fakta. Lantas fakta seperti apa yang semestinya dilaporkan wartawan dan lalu menjadi berita?. Secara teoritik ada banyak sekali ukuran, namun secara umum ukuran itu dibagi dua yakni penting dan menarik. Kemudian, seberapa penting dan menarikkah suatu peristiwa  itu layak dijadikan berita?. Maka untuk mempertimbangkan hal tersebut dibutuhkan adanya nilai-nilai sebagai pertimbangan untuk menentukan suatu peristiwa itu layak dijadikan berita. Dalam jurnalistik nilai-nilai tersebut disebut news value (nilai berita). Sifat Berita 1.Mengarahkan (directive) Karena berita itu dapat mempengaruhi khalayak, baik disengaja ataupun tidak. Maka berita itu sifatnya mengarahkan. 2.Membangkitkan Perasaan (effective) Melaui berita itu dibangkitkan perasaan publik/khalayak. 3.Memberi Informasi (informative) Berita harus bersifat memberi informasi tentang keadaan yang terjadi, sehingga memberi gambaran jelas dan menjadi pengetahua publik/khalayak. Obyek Berita Karena berita adalah laporan fakta yang ditulis seorang jurnalis, maka obyek berita adalah fakta. Dan fakta dalam jurnalistik dikenal dalam beberapa kriteria; a.    Peristiwa Merupakan suatu kejadian yang baru terjadi, artinya kejadian tersebut hanya sekali terjadi. b.    Kasus Ada suatu kejadian yang tidak selesai setelah peristiwa itu terjadi, artinya kejadian tersebut meninggalkan kejadian selanjutnya, peristiwa melahirkan peristiwa selanjutnya. c.    Fenomena Jika suatu kasus itu ternyata tidak terjadi hanya pada batas teritorial tertentu, artinya kasus tersebut sudah mewabah, terjadi dimana-mana. Maka kejadian tersebut dinamakan suatu fenomena. Unsur Berita Diketahui bahwa berita merupakan hasil rekonstruksi dari fakta oleh wartawan, maka diperlukan perangkat untuk merekonstruksi fakta tersebut. Berangkat dari perkiraan bahwa pada umumnya manusi membutuhkan jawaban atau rasa ingin tahunya dalam enam hal. MAka dari itu materi berita digali melalui enam pokok yang disebut unsur berita yakni; 1.What (apa) 2.Who (siapa) 3.Where (dimana) 4.When (kapan) 5.Why (mengapa) 6.How (bagaimana) News Value Pemberitaan memang berdasarkan fakta. Tetapi tidak semua fakta bisa diberitakan. Mengapa? Karena ada takaran untuk mengukur kelayakan fakta untuk dijadikan berita. Takaran itu disebut news value, nilai berita yakni sebuah standart untuk mengukur kelayakan sebuah fakta untuk dijadikan sebuah berita. Bagaimana mengukur standar kelayakan? Ikuti patokan berikut.     Aktual, artinya fakta yang dibidik dalam pemberitaan memiliki nilai kebaruan, hangat-hangat tahi ayam, lah! Fakta yang dibeberkan harus yang terbaru, dan sedang menjadi pembicaraan masyarakat.     Ketokohan, fakta yang hendak diberitakan melibatkan ketokohan seseorang.ini terkesan diskriminatif. Namun setiap ketokohan memiliki daya tarinya sendiri dalam mengail perhatian pendengar cerita.     Eksklusif, sedikit orang yang tahu. Ini berarti informasi yang dibeberkan hendaknya berupa fakta yang belum sempat diketahui publik. Sebab tidak mungkin seorang wartawan membeberkan berita ketika masyarakat sudah mengetahui isi berita tersebut. Ini namanya tidak marketeble.     Unik, berita hendaknya memilih peristiwa yang kekhasannya tidak bisa dijumpai di obyek lain.     Dramatik. Fakta hendaknya bernuansa drama. Ini berlaku disemua aspek. Bisa dramatik konfliknya, dramatik heroismenya, dramatik percintaannya dan seterusnya. Tapi ingat! Wartawan tidak boleh mendramatisir fakta. Menurut gunawan mohammad, fakta itu seringkali lebih dramatik dari sebuah cerita novel sekalipun.     Penting. Diantara semua patokan diatas, yang mesti diperhatikan adalah fakta yang diberitakan menguasai hajat hidup orang banyak      Human interest. Patokan yang terakhir ini berkaitan dengan kecenderungan manusia menyukai suguhan informasi yang menggese sisi kemanusiaan. Berita tentang bencana alam, korban perang, anak jalanan, prostitusi-misalnya, masuk dalam kategori news value ini.     Kedekatan. Bagaimanapun, membidik obyek berita harus diukur dengan kedekatan teritorial dan kedekatan emosi segmen pembaca berita. Sementara kedekatan emosi merujuk pada materi pemberitaan yang secara umum memiliki kedekatan dengan segmen pembaca. Kedekatan emosi tidak terikat dengan kedekatan teritorial. Sebab kedekatan emosi pada umumnya bisa menembus dimensi ruang yang berjauhan.     Magnitude. Apapun standar news value yang sudah disebutkan, yang pasti, materi berita harus menyimpan daya tarik (magnit)tinggi untuk semua segmen pembaca. Metode Penggalian data Dalam membuat berita, data menempati posisi penting. Karena melalui data lah peristiwa (fakta) dapat dilaporkan. Data merupakan ‘record’ (rekaman) dari suatu peristiwa. Dan penulis (jurnalis) menyajikan konstruksi dari peristiwa/fakta tersebut yang disusun dari berbagai data. Ada beberapa cara untuk penggalian data tersebut. Pertama, melalui pengamatan langsung si penulis (observasi) untuk memdapatkan data tentang fakta kejadian. Kedua, melakukan wawancara terhadap seseorang yang terlibat langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder) dalam suatu kejadian. Dengan wawancara juga dimaksudkan untuk melakukan cross-check demi akurasi data yang diperoleh melalui pengamatan (observasi). Ketiga, selain kedua perangkat tersebut data juga bisa diperoleh melalui studi literary terhadap dokumen-dokumen yang terkait dengan suatu fakta kejadian ataupun fenomena (jika dimungkinkan), data demikian biasanya dianggap penting. 1. Observasi Ini dilakukan pada tahap awal pencarian data tentang sesuatu. Dalam pengamatan sangat mengandalkan kepekaan indra (lihat; dengar; cium; sentuh) dalam mengamati dan membaca realitas. Namun dalam pengamatan tersebut observator tidak boleh melakukan penilaian terhadap realitas yang diamati. Kegiatan observasi terkait dengan pekerjaan memahami gambaran realitas serta detail-detail kejadian yang berlangsung. Untuk itu diperlukan upaya untuk memfokuskan amatan pada obyek-obyek yang tengah diamati. Observasi memerlukan daya amatan yang kritis, luas, namun tetap tajam dalam mempelajari rincian obyek yang ada dihadapannya. Untuk mendapatkan amatan yang obyektif si pengamat mesti bisa untuk mengontrol emosional dan mampu menjaga jarak dengan segala rincian obyek yang diamati. Dalam penggalian data melalui observasi ini sifatnya langsung dan orisinil. Langsung artinya, dalam amatannya tidak berdasarkan teori, pikiran, pendapat, ia menemukan langsung apa yang hendak dicarinya. Orisinil, artinya hasil amatannya merupakan hasil cerapan indranya, bukan yang dilaporkan orang lain. 2. Wawancara Wawancara merupakan aktifitas yang sering dilakukan dalam jurnalistik untuk memperoleh data. Dalam menggali data, tidak mungkin bagi seorang jurnalis untuk menulis berita hanya mengandalkan hasil observasi, tanpa melakukan wawancara. Karena dengan wawancara wartawan bisa memperoleh kelengkapan data tentang peristiwa/fenomena. Juga dengan wawancara seorang jurnalis melakukan cross-check/recheck dari data yang diperoleh sebelumnya demi akurasi data. Perlu diperhatikan bahwa wawancara bukanlah proses tanya jawab seperti ‘saya bertanya-anda menjawab’. Wawancara lebih luas dari sekedar proses tanya jawab. Pewawancara dan yang diwawancarai berbagi pekerjaan ‘membangun ingatan’. Tujuan umumnya merekonstruksi kejadian yang, entah itu baru terjadi atau telah lampau. Dalam aktifitas ini (wawancara) pewawancara dan yang diwawancarai akan membangun kembali ingatan-ingatan tersebut. Tehnik Wawancara – Menguasai permasalahan Ini penting karena untuk menghindari miss-understanding antara pewawancara dengan yang diwawancarai. – Ajukan pertanyaan yang lebih spesifik Pertanyaan yang lebih spesifik akan lebih membantu dan mempermudah dalam mengarahkan topik pembicaraan. – Jangan menggurui Karena wawancara bukan proses tanya-jawab, tetapi aktifitas membangun ingatan terhadap peristiwa yang baru terjadi atau telah lampau. 3. Studi Literary Suatu data tidak hanya dapat diperoleh melalui pengamatan dan wawancara, tapi bisa juga memanfaatkan (melacak) data-data yang sudah terdokumentasikan. Pencarian data-data yang terdokumentasikan itu juga sangat dipertimbangkan tingkat keabsahannya (valid) dan dapat dipertangungjawabkan. Misalnya keppres, tap MPR, undang-undang, tidak mungkin didapatkan melalui pengamatan ataupun wawancara. Kebutuhan data seperti itulah sangat memungkinkan dan merupakan keharusan untuk pencarian data yang terdokumentasikan. Dan biasanya data-data yang seperti itu, validitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Karena tingkat validitas data itu harus bisa dipertanggungjawabkan maka dalam pencarian data seorang jurnalis harus hati-hati memanfaatkan dokumentasi yang sudah ada. Pemanfaatan data yang terdokumentasikan tidak terbatas pada undang-undang, keppres. Hasil dari sebuah penelitian, berita di media, arsip, buku, juga bisa dijadikan sebagai data dokumen, tapi juga harus mempertimbangkan validitas dari data-data tersebut. Sumber-sumber yang bisa dijadikan bahan dalam riset dokumen/studi literer:     Koran/majalah Koran/majalah menyediakan informasi cukup memadai untuk kebutuhan  riset dokumen. Informasi surat kabar cukup layak dijadikan sumber data otentik (terlepas bila mengandung kesalahan informasi). Riset dokumen yang dilakukan mempelajari terhadap pelbagai pemberitaan dari reportase yang obyektif, teks berita foto (caption), dan tulisan yang mengandung opini. Teknik penelusuran data melalui koran/majalah •    Melalui sistem kartu indeks perpustakaan •    Melalui sistem kartu indeks yang diterbitkan oleh sindikasi surat kabar     Buku Pencarian data melalui buku terkait dengan kredibilitas penulisnya, penerbitnya, dan tahun-tahun revisi penerbitannya. Juga memeriksa keterangan seperti data-data statistik yang dikutip, apakah dari abstraksi data yang terbaru. Buku layak dijadikan sumber data karena buku biasanya memuat bahasan-bahasan yang mendalam dan cakupan pemahaman yang luas. Beberapa referensi buku yang bisa dimanfaatkan •    Kamus •    Ensiklopedi •    Biografi •    Tesis/disertasi •    Jurnal •    Internet    Merencanakan Berita (Out Line) Usai menakar news value, saatnya kita beralih pada proses perencanaan liputan (reportase). Perencanaan liputan diperlukan dalam rangka menghasilkan liputan yang dalam dan tuntas. Tetapi, memang, tidak semua berita butuh perencanaan. Straigh news-yang biasa dipakai dimedia harian, umumnya tidak memerlukan perencanaan matang. Seorang wartawan tinggal menjalankan tugas keredaksian, selanjutnya ia hanya mengcover peristiwa atau rentetan kasus yang terjadi hari itu. Ini berbeda dengan kebutuhan depth news. Umumnya, depth news membutuhkan perencanaan yang matang, sebab ia berkepentingan membidik sisi terdalam sebuah kasus. Sebab targetnya kedalam, umumnya perencanaan berfungsi sebagai : pertama, mempertegas sudut bidik (angel reportase). Kedua, fungsi perencanaan untuk memandu wartawan agar konsisten dalam menggali data yang berkaitan dengan angelnya. Mengapa? Kompleksitas masalah biasanya sering mengombang-ambingkan wartawan dilapangan. Jadi, ia butuh pegangan. Dan, perencanaan itulah pegangannya.kalangan jurnalistik sering menyebut format perencanaan ini dengan istilah out line. Lalu, apa yang mesti dilakukan dalam perencanaan berita?     Identifikasi masalah. Obyek pemberitaan seringkali berupa tarik-ulur kepentingan antara individu maupun kelompok sosial. Sementara relasi masalahnya (secara awam), sering tidak tampil dipermuaan. Sebab demikian perencanaan pada tahap awal biasanya berusaha memetakan dan mengidentifikasi masalah yang berkembang dalam sebuah kasus. Ini berarti, sebelum liputan, seorang wartawan dituntut untuk sudah memahami peta persoalan sehingga sewaktu dilapangan ia tidak diombang-ambingkan oleh sumber berita yang sering paradok dalam menyuguhkan informasi.     Mempertajam angel. Ingat angel? Harus ingat, donk. Sebab ini yang menentukan jalannya liputan dan cerita berita. Yang harus dirumuskan dalam sebuah perencanaan tidak lain adalah angel berita. Ini penting. Sebab kompleksitas isi kasus tidak mungkin dicover secara keseluruhan dalam sebuah pemberitaan. Dan seorang wartawan hanya bisa membidik sisi yang menarik dari sebuah kasus. Karenanya sejak perencanaan, sisi bidik itu sudah harus dirumuskan.     Mengembangkan draft pertanyaan. Sekali lagi, kasus selalu melibatkan individu maupun kelompok sosial dalam tarik-ulurkonflik. Semua yang terlibat berita (individu atau representasi kelompok) mesti sudah dirumuskan sejak perencanaan. Ini demi menggali informasi yang berkaitan secara langsung dengan angel berita. Kaidah-kaidah Penulisan Berita Dalam penulisan berita, dalam hal ini mengonstruk peristiwa (fakta), tidaklah semena-mena. Penulisan berita didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik. Kaidah-kaidah tersebut biasa dikenal dengan konsep ABC (Accuracy, Balance, Clarity). 1.    Accuracy (akurasi) Disebut sebagai pondasi segala macam penulisan bentuk jurnalistik. Apabila penulis ceroboh dalam hal ini, artinya sama dengan melakukan pembodohan dan membohongi khalayak pembaca. Untuk menjaga akurasi dalam penulisan berita, perlu diperhatikan beberapa hal berikut; a.    Dapatkan selalu data yang benar. b.    Lakukan re-chek terhadap data yang telah diperoleh. c.    Jangan mudah dan berspekulasi dengan isu ataupun desas-desus. d.    Pastikan semua informasi dan data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kewenangan dan keabsahannya. 2.    Balance (keseimbangan) Ini juga menjadi kaidah dalam penulisan berita. Sering terjadi sebuah karya jurnalistik terkesan berat sebelah dengan menguntungkan satu pihak tertentu sekaligus merugikan pihak lain. Keseimbangan dimungkinkan dengan mengakomodir kedua golongan (misalnya dalam penulisan berita tentang konflik). Hal demikian dalam jurnalistik disebut dengan ‘both side covered’. 3.    Clarity (kejelasan) Faktor kejelasan bisa diukur apakah khalayak mengerti isi dan maksud berita yang disampaikan. Bukan jelas dalam konteks teknis, namun lebih condong pada faktor topik, alur pemikiran, kejelasan kalimat, kemudian pemahaman bahasa dan persyaratan penulisan lainnya. Struktur/susunan Penulisan Berita Dalam berita terdapat struktur/susunan berita juga memiliki bagian-bagian. Maka sebelum mengenal struktur penulisan berita terlebih dulu kita mengenal bagian-bagian berita. Dimana bagian-bagian tersebut terdiri dari kepala berita atau judul (head news); topi berita, menunjukkan lokasi peristiwa dan identitas media (misalnya, surabaya SP) biasanya digunakan dalam penulisan straight news; intro, diletakkan setelah judul berfungsi sebagai penjelas judul dan gambaran umum isi berita; tubuh berita (news body), bisa dikatakan sebagai isi berita. Adapun struktur penulisan berita sbb; 1.    Piramida terbalik Artinya pokok atau inti berita diletakkan diawal-awal paragraf (1-2 paragraf) dan bukan berarti paragraf selanjutnya tidak penting, cuma bukan merupakan inti dari berita. Biasanya ini digunakan dalam penulisan straight news. 2.    Balok tegak Artinya pokok atau inti berita tidak hanya diletakkan di awal paragraf. Tetapi terdapat di awal, tengah, dan akhir paragraf. Biasanya ini digunakan dalam penulisan depht news (indepht reporting ataupun investigasi reporting). Bentuk Penulisan Berita 1. Straight News Straight news atau sering juga disebut berita langsung merupakan bentuk penulisan berita yang paling sederhana. Pasalnya, hanya dengan menyajikan unsur 4 W (what, who, when, where) maka tulisan tersebut bisa langsung menjadi berita. Namun bukan berarti straight news menafikan unsur why dan how. Karena itu bentuk penyajiannya pun juga diatur sedemikian rupa, sehingga khalayak pembaca bisa mengetahui pesan utama yang terkandung dalam berita itu tanpa perlu membaca seluruh isi berita. Pola penulisan straight news sering dipakai oleh media-media massa yang punya masa edar harian. Selanjutnya untuk media-media massa yang terbit berkala lebih banyak memakai pola penulisan features, depht news (indepht reporting maupun investigative reporting). Permasalahannya sekarang fakta yang bagaimana yang biasanya ditulis dengan bentuk straight news. Tidak semua fakta bisa ditulis dalam bentuk straight news. Karena straght news sangat terikat dengan unsur kebaruan (aktualita). Maka suatu fakta itu ditulis dengan bentuk straight news bila; 1.    informasi/berita tentang peristiwa dan bukan fenomena ataupun kasus. Artinya kejadian yang hanya sekali itu saja terjadi. Bukan kejadian yang terjadi secara berkelanjutan. Misalnya kecelakaan lalu lintas, kejahatan, pergantian pejabat negara, dsb. 2.    Informasi/berita itu penting untuk segera diketahui khalayak. 3.    Baru (aktual) Karakteristik Straight News 1.  Strukturnya piramida terbalik Dalam artian teras berita (lead) berupa summary lead, artianya unsur berita what (apa), who (siapa), where (dimana), when (kapan) diletakkan dalam lead. Sedang unsur how dan why diletakkan dalam tubuh berita (news body), bila dimungkinkan juga menyajikan fakta-fakta tambahan yang dianggap perlu, sehingga kalau dipandang perlu untuk di ‘cut’ maka tidak akan mempengaruhi isi berita. 2.  Deskripsinya lugas, hanya mengemukakan fakta-fakta yang perlu untuk kejelasan berita. 3.  Irama atau lenggang cerita terkesan terburu-buru. 2. Depth News     untuk lebih jelasnya lihat Siapa Bilang Bercerita Itu Sulit?. Ingin Selamat? Bikinlah Kerangka! Umumnya, penulis pemula selalu percaya diri dengan kekuatan data. Penulis seperti biasanya cukup gegabah, ambil kertas, mesin ketik, dan langsung menulis apapun yang ada di isi kepala (berdasarkan data yang diperoleh). Tidak lama kemudian, setelah beberapa paragrap, ia tersesat. Tidak tahu apalagi yang harus ditulisnya. Ini kesalahan besar. Sebab bagaimanapun menulis membutuhkan seninya sendiri. Cerita sebuah laporan berita, tidak dengan mudah bisa dituturkansecara detail dan runtut, manakala struktur cerita belum dirumuskan secara runtut dan beraturan. Maka, bikinlah kerangka. Ia adalah rumusan struktur cerita yang hendak disuguhkan kepada pembaca. Caranya :     Memilih cerita awal.  Kerangka yang akan memberitahukan kita cerita mana yang wajar menempati awal tulisan, dan secara logis juga menentukan bagian cerita mana yang menjadi runtutannya. Kerangka dengan demikian merupakan pengorganisasian langkah-langkah wartawan menjelang proses penulisan. Syaratnya : data kuat, peta masalah dikuasai oleh penulisnya, dan penulis harus selalu disiplin untuk tidak melebarkan pembahasan yang keluar dari angle.     Urut dalam berfikir dan bertutur. Apa maksudnya? Kerangka dibangun sedemikian berurutan sehingga tulisan tidak terkesan meloncat-loncat dari masalah satu ke masalah lainnya. Dalam jurnalistik, minimal kita bisa berpegangan pada dua kategori berurutan: kronologis dan logis. Urutan kronologis umumnya dipakai untuk melukiskan alur cerita berdasarkan rentetan cerita itu sendiri. Namun tidak semua kasus bisa menggunakan urutan ini, terutama kasus yang memiliki suspens atau ketegangan. Bila ternyata kita menjumpai kasus yang mengandung suspens, sebaiknya kita pilih urutan logis. Dalam urutan ini, penulis tidak hanya mengikuti bahan ceritanya, melainkan lebih aktif. Ia membentangkan suatu masalah. Penulis berita bisa memilih tiga alternatif dalam urutan logis ini: sebab-akibat, induktif, dan deduktif. Urutan sebab akibat berusaha melihat sebuah kasus secara detail, kemudian mencoba membicarakan akibat-akibatnya, akan yang sedang maupun yang akan terjadi. Urutan induktif umumnya berusaha membeberkan indikasi-indikasi, sampel-sampel, kejadian khusus, yang selanjutnya dibingkai dalam sebuah pandangan umum. Yang terakhir urutan deduktif, ia merupakan kebalikan dari urutan induktif. Mengail Dengan Lead Kalau mau berhasil menulis, kuasai kuncinya. Ia terletak pada paragrap awal, disebut dengan lead. Bagi pembaca, lead adalah umpan pada sebuah kail. Bila umpannya tidak menarik, ia akan ditinggalkan. Dan sebaliknya, umpan menarik, pembaca simpati, maka tulisan wartawan tidak akan sia-sia. Lead dianggap penting karena fungsinya. 1.    Lead berfungsi sebagai daya pikat untuk menarik pembaca untuk mengikuti alur. 2.    Lead bak rel kereta yang memberi jalan dari sederetan paragraf yang akan ditulis oleh seorang wartawan. Karena fungsinya yang cukup dominan dalam sebuah tulisan, maka lead memberi banyak  pilihan. Dari yang berusaha menyentak pembaca sampai yang berusaha menggelitik rasa ingin tahu. Dari yang nyentrik sampai yang mengaduk-aduk imajinasi pembaca. Macam-macam lead : 1.    Lead Ringkasan : Lead ini berisi inti cerita sebagaimana dalam tulisan straigth news. Syaratnya kasus harus benar-benar kuat dan menarik. Bila tidak, lead ini kurang menguntungkan. 2.    Lead Bercerita. Tipe ini berusaha membenamkan pembaca pada suasana cerita. Ia membiarkan pembaca jadi tokoh utama dalam suasana tersebut. Sayangnya, lead ini hanya cocok untuk kisah petualangan . 3.    Lead Dekriptif. Lead ini berbeda dengan sebelumnya . ia justeru berusaha meletakkan pembaca pada posisi beberapa meter di luar suasana, pembaca disuruh menonton, mencium dan membayangkan. Intinya lead ini berusaha menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang sebuah tokoh atau kasus . 4.    Lead Kutiapan. Lead dalam tipe ini merupakan kutipan statemen nara sumber yang paling menarik dan menentang. Biasanya dikutip dalam bentuk kutipan langsung. 5.    Lead Pertanyaan. Tipe ini berfungsi untuk menggugah rasa ingin tahu pembaca. Seringkali lead ini cuma tak-tik. Tidak penting apakah pembaca sudah mengetahui jawabannya, atau malah sebaliknya, yang pasti strategi dalam tipe ini dialamatkan pada pengetahuan dan terutama rasa ingin tahu pembeca. 6.    Lead Menuding Langsung. Tipe ini sangat jitu untuk mengajak masuk pembaca sebagai bagian dari alur cerita. Ia biasanya tidak segan menggunakan kata “anda”  dalam rentetan kalimatnya. Keuntungannya, penbaca tersentak, dan mau tidak mau kemudian pembaca pasrah dalam alurnya. 7.    Lead Penggoda. Tipe ini berisi cara untuk mengelabuhi pembaca dengan jalan bergurau. Tujuan utamanya adalah menggaet pembaca dan menuntunnya supaya membaca total alur cerita. Lead jenis ini umumnya berisi teka-teki, dan biasanay sedikit sekali memberi tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya. 8.    Lead Nyentrik. Tipe ini sangat memikat dan informatif, karena yang khas dan tak kenal kompromi. Umumnya berupa saduran dari hasanah pikiran, peribahasa atau permainan kata-kata yang secara kreatif menghubungkan gaya slenge’an dengan konteks cerita. Apapun bentuk lead anda, yang pasti, ketika menulis lead, tulisan harus dibikin seringakas mungkin; begitu juga paragrapnya, ringkas; diksi (pilihan kata) kuat; dan lead harus merepresentasi isi cerita.(bagian ini diambil dari “Seandainya Saya Wartawan Tempo,”agar lebih detail sebaiknya anda membacanya). Menjerat Dengan Molek Tubuh. Jangan “besar pasak daripada tiang.” Lead bagus, tapi bagian paragrap lain tidak ada isinya. Ini muspro namanya. Lead bagus, tubuh berita  pun harus bagus. Caranya? Begini. Data yang sudah anda peroleh melalui reportase, sebaiknya diklasifikasi dulu. Kemudian piih diantara tiga teknik penguraian data ini : 1.    Spiral. Setiap alenia (paragrap)mengurai lebih rinci persoalan yang disebut pada alenia (paragrap) sebelumnya. Sistematika kemudian menjadi satu-kesataun apik. Dan yang paling penting, data data kasus terurai dan tak terputus-putus. 2.    Blok. Data yang sudah diperoleh di pecah dalam berbagai alinia(paragrap).data tercecer di setiap alinia(paragrap), tetapi secara konsisten alur tulisan berusaha mengiring pembaca pada satu muara. 3.    Mengikuti tema. Setiap alinia (paragrap), berusaha menggarisbawahi atau menegaskan leadnya. Dengan tiga bantuan teknik ini, seringkali alur tulisan masih terputus –putus. Penulis umumnya tidak bisa mengoraganisir perpindahan masalah yang terjadi diseputar peralihan paragrap. Sebab demkian lengkapi struktur tulisan anda dengan Transisi, ingat ! Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabungakan agar terbentuk bangunan cerita.Anggap saja transisi adalah semen dan pasir yang diaduk untuk menyambungkan potongan informasi. Transisi bisa berupa kata, rangkaian kata, atau kalimat bahan mungkinparagrap. Fungsinya tidak lain adalah : pertama memberi tahu pembaca bahwa ada perpindahan materi ; Kedua, meletakkan matri yanglain pada persepektif yang selayaknya. Terakhir, Transisi harus sedemikian molek sehingga pembaca tidakterganggu dan enjoy sewaktu membca. Buntutnya, Jangan Sampai Berbuntut Tulisan yang baik tidak akan melupakan kesan yang harus dibangun dalam paragrap akhir. Alur cerita bisa menyuguhkan lead yang apik, Tehnik spiral maupun blok yang sistetmatis, dan tentu saja transisi yang molek. Namun satu hal , yang mereka tidak boleh meninggalkan buntut (ekor berita). Ekor harus dibikin sedemikian persuasifsehingga membuat pembaca terkesan. Seorang wartawan bisa memilih Ending ringkasan, klimaks, mapun membiarkan tanpa penyelesaian. Yang pasti, Ending bukanlah kesimpulan seoarang wartawan, sekali lagi biarkan fakta menyimpulkan dirinya sendiri.  Bahasa Jurnalistik* Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruang dan waktu yang relatif terbatas. Dengan demikian dibutuhkan suatu bahasa jurnalistik yang lebih efisien. Dengan efisien dimaksudkan lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat seorang jurnalis dalam usaha ke arah efisiensi dan kejelasan dalam tulisan. Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.     Penghematan Unsur Kata 1. Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti. Misalnya: agar supaya    menjadi    agar, supaya akan tetapi    menjadi    tapi apabila        menjadi    bila sehingga    menjadi    hingga meskipun    menjadi    meski walaupun    menjadi    walau tidak        menjadi    tak (kecuali di ujung kalimat atau berdiri sendiri) 2. Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari. Misalnya: “Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang”, menjadi “Keadaan lebih baik dari sebelum perang”. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: “Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang”. 3. Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya: kemudian = lalu Makin = kian terkejut = kaget sangat = amat demikian = begitu sekarang = kini Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Jadi dalam soal memilih sinonim pendek perlu mempertimbangkan rasa bahasa.     Penghematan Unsur Kalimat Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata. 1. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat; Misalnya: •    “Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman”. (Bisa disingkat: “Merupakan kenyataan, bahwa …”) •    “Apa yang dikatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas”. (Bisa disingkat: “Yang dikatakan Wijoyo Nitisastro”). 2. Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan: Misalnya: •    “Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri”? (Bisa disingkat: “Akan terus tergantungkah Indonesia“). •    “Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak”. (Bisa disingkat: “Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak”). 3. Pemakaian dari sepadan dengan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; juga daripada Misalnya: •    “Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan”. (Bisa disingkat: “Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan”. •    “Sintaksis adalah bagian daripada tatabahasa”. (Bisa disingkat: “Sintaksis adalah bagian tatabahasa”). 4. Pemakaian untuk sepadan dengan to (lnggris) yang sebenamya bisa ditiadakan: Misalnya: •    “Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India”. (Bisa disingkat: “Uni Soviet cenderung mengakui…). •    “Pendirian semacarn itu mudah untuk dipahami”. (Bisa disingkat: “Pendirian semacam itu mudah dipaharni”). •    “GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal” (Bisa disingkat: “GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbarui”). Catatan: Dalam kalimat: “Mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk demi kejelasan dipertahankan. 5. Pemakaian adalah sepadan dengan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu: Misalnya: •    “Kera adalah binatang pemamah biak” (Bisa disingkat “Kera binatang pemamah biak”). Catatan: Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: “Pikir itu pelita hati”. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menerjemahkan “Man is a better driver than woman”, bisa mengacaukan bila disalin: “Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita”. 6. Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu. Misalnya: •    “Presiden besok akan meninjau pabrik ban Goodyear”. (Bisa disingkat: “Presiden besok meninjau pabrik”). •    “Tadi telah dikatakan…..” (Bisa disingkat: “Tadi dikatakan”) •    “Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri”. (Bisa disingkat: “Kini Clay mempersiapkan diri”). 7. Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan: Misalnya: •    “Gubemur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti”. •    “Tidak diragukan lagi bahwa ia lah orangnya yang tepat”. (Bisa disingkat: “Tak diragukan lagi, ia lah orangnya yang tepat”). Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu. 8. Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu. Misalnya: •    “Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia”. (Bisa disingkat: “Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia”). •    “Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia”. 9. Pembentukan kata benda (ke + …. + an atau pe + …. + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarya tak perlu. Misalnya: •     “PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta”. (Bisa dirumuskan: “PN Sandang rugi Rp 3 juta”). •    “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (Bisa disingkat: “Ia telah tiga kali menipu saya”). Kejelasan Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat: 1.    Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri. 2.    Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.     Kejelasan Unsur Kata 1. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi. Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak. Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya bell-bottom dengan “cutbrai”) tetap perlu. 2. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. “Hankam”, “Bappenas”, “Daswati”, “Humas” memang lebih ringkas dari “Pertahanan & Keamanan”, “Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, “Daerah Swantara Tingkat” dan “Hubungan Masyarakat”. Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: “ortu” untuk “orangtua”; atau di pojok koran: “keruk nasi” untuk “kerukunan nasional”) tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik: (misalnya “Manikebu” untuk “Manifes Kebudayaan”, “Nekolim” untuk “neo-kolonialisme”, “Cinkom” untuk “Cina Komunis”, “ASU” untuk “Ali Surachman”). Bahasa jumalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya “Djagung” untuk “Djaksa Agung”, “Gepeng” untuk “Gerakan Penghematan”, “sas-sus” untuk “desas-desus”. Karena akronim bisa mengaburkan pengerian kata-kata yang diakronimkan.     Kejelasan Unsur Kalimat Seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.
SEKILAS TENTANG INVESTIGASI
Moh. Kodim*)
    Investigasi sebagai suatu strategi penggalian data –untuk sebuah pemberitaan—belakangan ini menjadi diskursus yang ramai dibicarakan. Dan pada gilirannya, ia menjadi perangkat alternatif yang digemari, khususnya di kalangan pers. Perangkat yang satu ini memang punya nilai keistimewaan sendiri dibanding perangkat klasik yang dipakai selama ini. Sebab, selain pilihan obyeknya –yang dituntut punya nilai publik tinggi—ia juga mengedepankan kedalaman dan kedetailan sebuah fakta. Serta yang tak kalah penting adalah; cara ini menuntut keberanian yang luar biasa dan seorang investigator harus ekstra hati-hati selama menjalankan kerjanya. Sebab persoalan yang dihadapi cukup rumit dan mengandung resiko tinggi. Bagaimana sejarah investigasi? Di Amerika : Dari investigasi sampai muckraking wategate memang menjadi simbol kekuatan investigative reporting, kata sheila S. Coronei O. Kisah serial dua wartawan washington post, Bob Woodward dan Carl Benstein, pada 1972, mengekspor pembongkaran dan penyimpanan rekaman rahasia dari pimpinan partai demokrat, yang memakai kepanjangan tangan gedung putih, di gedung Watergate. Meskipun kebenaran merupakan sesuatu yang amat kompleks, kisah watergate menjadi bagian dari mitologi populer hancurnya kekuatan seorang presiden dari bangsa yang menguasai dunia akibat ulah dua wartawan yang mempertunjukkan penyalahgunaan kekuasaan prerogatif presiden Richard Nixon’s.  Hal itu mengimbas kemudian kepada pemahaman peranan kebebasan pers dan pertanggungjawaban wartawan ketika berhadapan dengan masyarakat dan pemerintahan dibanyak negara yang diliputi penyalahgunaan kekuasaan dan tertuju pula kepada peranan wartawan yang tidak sekadar pasif melaporkan berbagai kejadian bagi sebuah bangsa yang memiliki institusi demokrasi yang rapuh dan korup. Khususnya, ketika pelbagai institusi menjadi lemah dan kompromis, pers membangun kembali apa yang mesti dilakukan polisi, pengadilan, partai dan parlemen : membukakan pelanggaran kekuasaan, membangkitkan perubahan, dan memobilisasi aksi publik untuk melawan korupsi. Akan tetapi, jurnalisme investigasi sebenarnya mempunyai jejak yang panjang dalam sejarah pers Amerika. Beberapa tokohnya tercatat dalam literatur jurnalisme AS, sebagai point pelaporan Investigasi. Dengan berbagai kisah perjuangannya, mereka menetapkan pedoman pelaporan jurnalisme investigasi. Bahkan menggariskan ciri pemberitaan pers sebagai medium Wachtdog di khasanah jurnalisme. Dalam hal inilah, pelaporan investigasi menjadi sesuatu yang inheren dengan kaidah pemberitaan, yakni : pada dasarnya, setiap berita yang dilaporkan wartawan, akan terkait dengan upaya investigasi. Penulisan berita straigh, yang dikenal sebagai pelaporan pendek, untuk konsep 5 W + H, dikerjakan melalui proses pencarian berita yang menginvestigasi kebenaran tiap detil fakta. Joseph Pulitzer, menurut Mitcell V.Charnleyo O, menyatakan ada dua hal yang sangat signifikan yang mendasari reportase investigatif : jurnalisme harus membawa muatan pelayanan “pencerahan” (enlightened) publik dan sering kali juga kegiatan fighting reporting (reportase perlawanan). Kerja peliputan jurnalistik macam ini dimotivasi oleh “semangat, keterampilan, keberanian dan imajinasi”. Kerja peliputannya tidak hanya puas dengan berita yang bisa dilihat akan tetapi menyangkut pula kemendalaman penggalian dan agresifitas serta kerap berbahaya/beresiko tinggi terhadap fakta-fakta yang tersembunyi. Untuk itu, investigative journalism disinonimkan dengan istilah jurnalisme crusading (perjalanan perang, upaya pemberantasan/pembasmian). Istilah crusading, dalam sejarah pers amerika, menyangkut periode Muckraking yang mengekspos perilaku anti sosial dan kejahatan (crime) di dunia pemerintahan dan bisnis. Rivers dan Mathews menarik garis sejarah investigasi dari awal amerika serikat belum berdiri. Ketika, pada 1690, Benyamin Harris menginvestigasi berbagai kejadian masyarakat, dan melaporkannya dalam Publik Occurences, Both Forreign and Domestick, sebagai medium penerbitan yang memerankan kegiatan untuk menentang pemerintahan. Maka itulah penerbitan awalnya langsung dihentikan. Berbagai laporan beritanya tidak mencantumkan keterangan “by authority”, yang berarti tidak mendapat ijn dari general court of massachusetts. Isi laporannya dinilai menentang kebijaksanaan kolonial inggris. Dengan kata lain, dan yang dibawakannya adalah semangat penerbitan crusading di bentukan awalnya. Pada fase selanjutnya, spirit crusading atau jihad atau perjuangan mendapatkan bentuknya yang lebih formal melalui New England Courant,1721, yang diterbitkan oleh James Franklin, dengan ketegasan menyatakan sikap oposan terhadap kebijsksanaan pemerintahan. Franklin merupakan pionir dari dunia jurnalis yang hendak menjalankan jurnalisme perjuangan, melalui ketegasan menolak keterangan “by authority”. Di dalam pencantuman laporan jurnalistik, yang berarti penolakan untuk tunduk terhadap garis politik kekuasaan (England-Britain) di Amerika. Istilah investigasi belum dipakai. Istilah investigasi sendiri baru muncul pertama kali dari Nellie Bly ketika menjadi reporter di Pittsburgh Dispatch pada 1890. Ia memulai gaya jurnalistik yang menandakan pengisahan seorang wartawan tentang orang-orang biasa. Pelaporan materi jurnalistik yang mengembangkan secara serial bagaimana kehidupan orang kelas bawah didalam kenyataan sehari-hari. Bly sampai harus bekerja di sebuah pabrik di Pittsburg, untuk menyelidiki kehidupan buruh dibawah umur (anak-anak) yang dipekerjakan dalam kondisi yang buruk. Namun laporan serial jurnalistiknya tidak lama. Ia berhadapan dengan institusi, yang melakukan pelanggaran, yang memiliki daya beli iklan dari koran tempat bly bekerja. Akibatnya, lembaga tersebut menghentikan pembelian halaman iklan Pittsburg Dispatch. Dan pihak editor mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan pemberitaan Nellie Bly. Akan tetapi, dari kisah awal tersebut, bly lalu mendapatkan lahan penulisan yang terus dikembangkannya. Keistimewaan laporan jurnalistik investigatif bly terletak di tuntutan penyelesaian yang meminta jalan keluar dari problema sosial yang terjadi di masyarakat. Jadi, bukan hanya mendeskripsikan laporan persoalan masyarakat, melainkan juga bly menunjukkan solusi terhadap persoalan yang terjadi. Hal itu ditulis dengan penuh api, dan letupan gairah pada tiap kata-katanya. Ia tidak surut oleh halangan kelembagaan media massa yang berhadapan dengan struktur masyarakat industri, pada awal mula memutarkan roda kapitalisme. Bly terus mengembangkan liputan investigasinya didalam jenis pemberitaan kemiskinan, perumahan, dan kaum buruh di New York. Dan, kemudian mendapat tempat tanpa dihalangi pihak editor semenjak direktur Joseph Pulitzer tokoh legendaris jurnalisme AS, pada 1887, untuk menulis di koran The New York World. Semenjak itu, bly masuk ke dalam persoalan kaum pekerja di wilayah-wilayah kumuh. Ia melaporkan bagaimana kelaparan, buruknya kondisi lingkungan, dan ketidaknyamanan kehidupan para pekerja. Laporan investigasinya kemudian menuntut perubahan masyarakatnya terhadap ketidaklayakan hidup para pekerja kelas bawah itu. Nellie bly, Ten days in a mad house (1888), “the eating was one of the most horrible things. Excepting the first two days after I entered the asylum, there was no salt for the food. The hungry and even famishing women made an attempt to eat the horrible messes. Mustard and vinegar were put on meat and in soup to give it a taste, but it only helped to make it worse. Even that was call consumed after two days, and the patients had to try to choke down fresh fish, just boiled in water, without salt, pepper or butter : mutton, beef, and potatoes without the faintest seasoning. The most insane refused to swallow the food and were threatened with punishment. In our short walks we passed the kitchen where food was prepared for the nurses and doctors. There we got glimpses of melons and grapes and all kinds of fruits, beautiful white bread and nice meats, and the hungry feeling would be increased tenfold. Ispoke to some of the physicians, but it had no effect, and when I was taken away the food was yet unsalted. People in the world can never imagine the length of days to those in asylums. They seemed never ending, and we welcomed any event that might give us something to think about as well as talk of. There is nothing to read, and the only bit of talk that never wears out is conjuring up delicate food that they will get as soon as they get out. Anxiously the hour was watched for when the boat arrived to se if there were any new unfortunates to be addad to our ranks. When they came and were ushered into the sitting-room the patiants would express symphathy to one another for them and were anxious to show them little marksof attention”. (sumber : Spartacus Educational. http;//www.spartacus.schoolnet.co.uk/htm;Agustus-2000) Semenjak investigasi Nellie bly mendapat tempat didalam jurnalisme amerika, ia kemudian diikuti oleh kalangan pers lainnya. Jacob A. riis, pada 1899, meneruskannya melalui serial laporannya, “how the other haif lives”, di Scribner’s Magazine. Bahkan, majalah the arena yang dikembangkan benyamin flower, menspesialisasikan pelaporan beritanya pada investigasi, dengan liputan-liputan mengenai kemiskinan, pengangguran dan tema-tema yang dimulai bly. Flower memproklamirkan kegiatan jurnalismenya sebagai kerja, antara lain; agitasi, mendidik, menyusun dan menggerakkan masyarakat melalui laporan investigasinya. Pers diposisikan sebagai pengganti pemerintah (the republic) yang lemah dalam mengatur masyarakat. *Era Muckraking Dengan demikian, jurnalisme investigatif bisa dikatakan awal munculnya memakai bentukan medium perlawanan terhadap kebijakan penguasa. Dalam format laporan yang tidak langsung menginvestigasi pelanggaran, penerbitan yang bervisi semangat jihad ini membuka lembaran awal pekerjaan investigatif. Baru pada awal abad 20, jurnalisme investigatif menegaskan wujudnya didalam liputan-liputan yang terorganisir, ketika melaporkan berbagai pelanggaran yang terjadi. Sifat laporannya, di awal dekade 1900-an, teralokasikan kepada format muckraking atau pembedahan. Sejak tahun 1900, para muckrakers mengembangkan liputan korupsi dan ketimpangan sosial yang merugikan masyarakat amerika. Presiden Theodore Roosevelt adalah pemberi nama muckrakers kepada para reporter yang sangat sibuk menyoroti kotoran (muck) dan tidak melihat sisi-sisi positif lain dari kehidupan amerika. Presiden Roosevelt menjadi berang seusai membaca laporan investigasi yang secara serial dilaporkan David Graham Phillips. “the treason in the senate”, di cosmopolitan. Laporan investigasi phillip membuka permasalahan korupsi yang terjadi di dunia AS saat itu. Roosevelt menyebut istilah muckrakers kepada para jurnalis yang melaporkan hal-hal seperti itu. Dalam kata-kata Charles Edward Russell, “the greatest single definite force against muckraking was president Roosevelt, who called these writers muckrakers. A tag like that running through the papers was an easy phrase of repeated attack upon, what was in general a good journalistic movement”. President Theodore Roosevelt, Speech at the House of Representatives (1906), “In Bunyan’s Pilgrim’s progress you may recall the description of the Man the Muck-rake, the man who could look no way but down ward whit the muck-rake in his hands, who would neither look up nor regard the crown he has offered, but continued to rake to himself the filth on the floor. I hail as a benefactor every writer or speaker, every man who, on the platform, or in book, magazine or newspaper, whit merciless severity makes such attack, provided always that he in turn remembers the  attack is of use only if it is absolutely truthful.” (Ray Stannard Baker, commented on Theodore Roosevelt and the Muckraking movement (1910). “In the beginning I thought, and still think, he did great good in giving support and encouragement to this movement. But I did not believe then, and have never believed since, that these ills can be settled by partisan political methods. The are moral and economic question. Latterly I believe Roosevelt did a dis-service to the country in seizing upon a movement that ought to have been built up slowly and solidly from the bottom with much solid thought and experimentation, and hitching it to the cart of his own political ambitions. He thus short circuited a fine and vigorous current of aroused public opinion into a futile partisan movement. “ (Sumber : Spartacus Educational. http://www.spartacus. scholnet.uk/htm: Agustus 2000) Para muckraker menyerang tatanan kesejahteraan bangsa yang telah digenggam (kontrol) oleh hanya satu persen populasi penduduk. Mereka memprotes ketidakseimbangan tradisi hukum masyarakat yang hanya mempermasalahkan kekerasan kriminalitas tapi tidak mengatur kejahatan para pebisnis kakap. Para muckrakers mengangkat berbagai perilaku big busineses yang imoral dan ilegal dikarenakan mereka, yang hanya sedikit orang itu memiliki kekuasaan yang berlebihan. Mereka melakukan pekerjaan muckrake, yang menurut Webster, yakni, mencari-cari, menyoroti, atau menunjukkan adanya korupsi, dengan bukti nyata atau hanya berdasarkan dugaan, oleh publik dan badan usaha. Dikarenakan oleh tingkat keresahan yang demikian tinggi di masyarakat, mereka buka selubung ketidakberesan kinerja lembaga-lembaga politik, ekonomi, sosial yang sudah terasa pada beberapa dekade sebelumnya. Dari sinilah era muckraking dimulai didalam sejarah jurnalisme amerika. Fenomena jurnalisme melaporkan berbagai tindak korupsi hukum dan keuangan yang terjadi di dunia politik. Atau fenomena para jurnalis menemukan medium bagi penyampaian pesan seperti itu diberbagai majalah populer, beserta khalayak publik yang sudah menunggu. Pada 1902, jurnalisme investigasi menjadi sebuah gerakan yang berpengaruh. Hal itu dipicu oleh garis kebijakan penerbitan Mc Clure’s Magazine, Coller’s, Munsey’s, Saturday evening post dan Everybody’s Magazine yang bekerjasama dengan arena, yang menyatakan sikap jurnalismenya kepada kekuatan reformasi sosial. Masyarakat antusias menyambut pemunculannya. Majalah tersebut menjadi sangat populer. Keberhasilan itu meluncurkan bentukan lain dari penerbitan I jurnalisme investigasi, yakni melalui cosmopolitan dan Saturday evening post. Kedua penerbitan lanjutan ini mengarahkan jurnalisme investigasi kepada liputan-liputan yang berbeda dengan sebelumnya. Pelaporan investigasi melebarkan topik beritanya kepada soal-soal korupsi di bidang politik dan bisnis. John O’hara cosgrave, Everybody’s Magazine (1909), “Wall Street cannot gull the public as it once did. Insurance is on a sounder basis. Banking is adding new safeguards. Advertising is nearly honest. Food and drug adiulteration are dangerous. Human life is more respected by common carriers. The hour of the old-time political boss is stuck. States and munici-polities are insisting upon clean administrators. The people are naming their own candidates. Protection is offered to the weak against the gambling shark and saloon. Our public resources are being conserved. The public health is being considered. New standards of live have been raised up. Semenjak itu, jurnalisme investigasi menjadi bidang usaha penerbitan pers yang menguntungkan. Sirkulasi sepuluh majalah, yang memfokuskan liputan jurnalisme investigasi, misalnya pada 1906 mencatat jumlah 3 jutaan eksemplar. Menurut Ferguson dan Patten O. berbagai media pers yang muncul selama abad  19 dan awal abad 20, ini saling bekerja sama menjadi pejuang keadilan sosial- ketika berbagai surat kabar telah menendangnya keluar, tidak tertarik memberitakan topik-topik perjuangan idealisme seperti itu dan lebih terfokus kepada pelaporan jurnalisme kuning (yellow journalism). Sirkulasi media pejuang keadilan itu lalu mencapai ratusan ribu, dengan format materi berita yang memerangi korupsi didalam segala bentuknya. Misalnya, laporan bersambung Ida Tarbell’s “sejarah Standard Oil Company”, di Mc Clure’s yang menjadi pionir liputan investigasi tentang dunia big busines, bisnis-bisnis raksasa. Laporan Tarbell, diantaranya menyelidiki keterlibatan John D. Rockefeller, sebagai Standard Oil’s yang melakukan tindak pelanggaran bisnis tokoh-dan ditolaknya kemudian selama bertahun-tahun. Beberapa wartawan investigasi kemudian mengembangkan gaya pelaporan jurnalisme investigasi untuk kepentingan penulisan novel. Charles Edward Russel dan Upton Sinclair, diantaranya menulis novel-novel berbasis riset jurnalistik, yang dibeli masyarakat sampai ribuan kopi. Novel Sinclair, the jungle and the brass check, mencapai jumlah 100 ribuan kopi. Pada perkembangannya, antara 1900-1914, jurnalisme investigasi lalu memunculkan asosiasi para penulis dan penerbit, dengan nama-nama Frank Norris, Ida Tarbell, Charles Edward Russel, Lincoln Steffens, David Graham Phillips, C.P. Connolly, Benjamin Hampton, Upton Sinclair, Thomas Lawson, Alfred Henry Lewis and Ray Stannard Baker. Liputan jurnalisme investigasi menjadi tambah populer ketika para jurnalis dan medianya menghadapi kekuatan politik presiden Theodore Roosevelt. Apalagi ketika berbagai hasil liputan investigasi mereka, antara lain, mempengaruhi parlemen didalam pengesahan konstitusi seperti pure food and drugs act (1906) dan meat inspectionact (1906). Lincoln stefiens, dalam outobiografhy (1931) Charles edwar Russel , “I recall vividly meeting charless Edward Russel and asking him what  he had got out oi;it all.He was the most earness, emotional, and gifter of the muckrakerrs. There was samething of the martyr in him, he had given up better jobs to go forth, rake in hard, to show tngs up, and he wanted them to be changed. His face locked as if he had suffered from then facts he saw and reported.”(sumber: spartecusEducational(http://WWW.spartacus.schoolnet.co.u  k/hatm : agustus-2000) Prioede mucraking bisa dikatakan sebagai periode akhir dari “jurnalisme kulling” Fase pers amerika kembali mengembangkan wacana kesadaran sosial terhadap perilaku kehidupan masyarakat. Pada periode ini, banyak koran, didalam laporan pemberitaannya, yang memperjuangkan uu pekerja anak-anak, memperomosikan rumah sakit dan sana tarium tuberkolosis, pengumpulan uanmg untuk  korban seperti bencana alam, dan mengekspos kasus-kasus suap/ sogok-menyogok di masyarakt. Marek paten berbagai perusahaan, status kulit hitam, dan industri pengemasan-daging. Semuanya disampaikan melalui amatan yang teliti. Hasilnya, sampai ke rapat-rapat konggres. Undang-udang tentang makanan dan obat bius, pada 1906, dibuat melalui crusaders. “critik-kritikab para jurnalis crusading ini, “ menurut furgeson & patter, “telah menetapkab julukan mucrakers kepada mereka, sebagai para peruba yang datang dengan pikiran  seperti para pendo’a. Kegiatan jurnalisme muckraking bahkan melebarkan sayap pemikiran para pekerja pers untuk masuk wacana literatur kehidupan dan permasalahan keseharian amerika. Para jurnalis, menurut Edwir emery, mulai bekerja sama dengan kegiatan para pers politis dan pemimpin kaum buruh, para reformer, (refomers) dan agitator, para profesor dan kalangan pendidikan, para pekerja sosial dan filantropis. Para pekerja jurnalisme, dan literaturnya, menjadi para crusader, pekerja perbaikan yang membantu kehidupam masyarakt di era kebangkitan “kemenangan amerika” yang melepaskan diri dari berbagai persoalan internal dan eksternal kebangsaan. Di lapangan politik luar negeri, parapekerja pers menjadi oposan untuk kebijakan aneksasi AS di Filipina, dan imperialisme dari Caribbean policy. Mereka menjadi pendukung gerakan internasional dan kebijakan arbitrase perdamaina di permasalahan internasional. Didalam negeri, mereka ikut membangun kehidupan masyarakat di tingkat negara dan lokal, ikut terlibat dalam pemilihan para senator, referendum, sampai pembuatan perundang-undangan hukum negara. Mereka menjadi pelanjut semangat Crusading dari jurnalisme diawal mula, dengan tingkat oportunitas yang lebih jauh, bagi fase abad 20 Amerika. Dilain pihak, didalam pertempuran berbagai pihak dalm menggarap issu nasional dan lokal, mereka juga sekaligus membangun kemandirian dari medium perss. Garis kebijakan New York World, dari Joseph Pulitzer, misalnya ikut mendukung sikap anti imperialisme William Jennings Bryan, dalam pemilihan presiden pada 1900, walau tidak menyepakati kebijakan moneter radikal yang direncanakan Bryan’s, mereka terus menjadi pengontrol korupsi di pemerintahan daerah semenjak Amerika mulai menumbuhkan kehidupan urban di berbagai dimensi kemasyarakatannya. Para Muckrakers, menurut C.C Regier dalam the era of the muckrakers (1933), telah berhasil mempraktekan kerja jurnalisme investigasi dalam skala pengaruh yang cukup fenomenal. Bukan saja sekadar mengetengahkan persoalan kemasyarakatan akan tetapi sekaligus membawanya sampai ke tingkat konstitusi perundang-undangan di banyak negara bagian Amerika. Dalam periode waktu dari 1900 sampai 1915, misalnya, pelaporan muckrakers telah berhasil menuntut banyak perbaikan dilakukan oleh Amerika, meliputi permasalahan sistem negara, lembaga pemasyarakatan (prison), reklamasi hutan, lingkungan, perlindungan terhadap kaum pekerja, perjudian, pajak serta pelanggaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar. Walaupun dalam perkembangannya berbagai penerbitan majalah yang mengembangkan gaya peliputan muckraking ini kemudian banyak yang kolaps. Mereka menghadapi soal pendanaan liputan yang sangat mahal. Pada sisi lain, para pengelola penerbitan pun dihadang dan ditekan oleh berbagai pihak yang tidak berkenan dengan serangan-serangan jurnalisme seperti itu. Para pemilik bisnis besar menyalurkan kemarahan mereka dengan menghentikan pemasangan iklan dimajalh yang memasang kisah-kisah muckrakers. Para pemilik majalah tidak mampu menghidupkan penerbitan mereka tanpa kontinuitas pasokan iklan. Para aparat pemerintah pun turun serta mengoreksi berbagai kesalahan liputan para muckrakers. Keberhasilan liputan mereka, yang telah ditandai dengan kelahiran berbagai perbaikan kebijakan negara serta pemunculan undang-undang yang diputuskan congress parlemen, mengalami penyurutan minat. Publik Amerika kelelahan untuk terus diajak berada didalam mode peliputan seperti itu. Publik tidak begitu antusias lagi dengan liputan bergaya muckraking. Dari fenomena periode muckraking, dapat dilihat bahwa jurnalisme investigasi tampil ketengah keadaan masyarakat yang memerlukan pasokan informasi yang bisa menjaga nilai dan norma kehidupan dari kemungkinan penyelewengan yang dilakukan berbagai pihak, kelompok, atau institusi. Dunia politik dan bisnis telah memberikan dampak-dampak buruk (selain manfaat dan keuntungan sosial dari kapitalisme). Investigasi wartawan diantaranya bertugas untuk mengungkapkannya. Para wartawan ikut didalamproses united states membangun konsolidasi didalam posisi bangsa industrial, pada awal abad 20. Mereka menginvestigasi ke banyak persoalan dari kerangka masyarakat, yang hendak membuat ekspansi ekonomi seusai Civil War, namun menyisakan soal-soal revolusi industri : pertumbuhan kekuatan ekonomi trust dan sentralistis di beberapa gelintir orang, kesenjangan pendapatan para pekerja kasardan petani, korupsi dan ketimpangan didalam kehidupan politik dan bisnis. Konsentrasi kekuatan ekonomi itu terbangun sejak 1880-an, dan memuncak setelah 1900-an. Pada 1904, sebuah studi mencatat adanya 318 industrial trust, yang menyentuh bidang-bidang bisnisseperti baja, minyak, gula dan tembakau. Para jurnalis koran dan majalah menjadi pemrotes monopoli ekonomi yang ditumbuhkan oleh kekuatan kapitalis. Dari perkembangan seperti itu, tampaknya dari awal kinerja jurnalisme investigatif membawakan elan Crusading, diteruskan dengan bentukan muckraking, kelembagaan pers dicatat sebagai aktor politik. The medi as political actors, tulis Brian Mc Nair, ketika membahas fenomena political Communication dalam realitas masyarkat Amerika. Di pengujung abad 20, Mc Nair menilai keajegan media massa sebagai salah satu unsur politik yang memainkan peranan cukup berpengaruh. “Demokrasi liberal telah meletakkan institusi media kontemporer bukan hanya sebagai pembentuk fungsi kognisi dari desiminasi informasi, akan tetapi juga sebagai pelaksana fungsi interperetatif dari kegiatan analaisis, penjelasan, dan komentar yang dilakukan media”, nilainya. Media turut akif memberi kontribusi diberbagai arahan diskusi dan resolusi politik, bukan hanya menjadi pengerangka wacana agenda publik, bukan hany sebagai penyalur kepentingan politisi menyemaikan pandangannya kepeda masyarakat. Media ikut menekan dan mengkeritik dari putaran diskusi politik yang terbangun di masyrakat. Kerja media menjadi dipenuhi dengan kegiatan menginterpretasi sosal-soal politik masyrakat, atau dengan kata lain menjadi media politik. Pemikiran Mc Nair menempatkan arah kecendrungan liputan jurnalisme investigativ dengan sistem politik yang melingkupi keberadaan sebuah media pers. Hal ini menjelaskan perkembangan jurnalisme investigastif, dari awal peliputan semacam Neliybly menuntut perhatian kekuasaan terhadap keterpurukan masyarakat kelas bawah, menjadi dipenuhi dengan warna politik yang demikian kuat diberbaghai dimensinya. Narasi pemberitaan investigativ, yang terbangun antara lain oleh suasana interkasi dan kompetisi mengejar aksentuasi isu dan dominasi wacana publik, pada kemudiannya turut terpengaruh oleh pelaksanaan dari fungsi sebagai aktor politik. Nilai berita, reportase, dan logika dari jurnalistik investigativ terperangka dalam adonan faktor-faktor tersebut. Artikulasi wacana politiknya muncul dalam belbagai dimensi. Pemilihan umum (pemilu) tingkat nasional atau lokal menjadi ajang jurnalisme investigatif membuka kasus-kasus pelanggaran partai politik. Keaktifan wartawan, baik secara penuh ( menjadi anggota partai, misalnya) atau sekedar di tataran kesepakatan orientasi politik, turut mengarahkan kisah-kisah berita investigativ . nilai-nilai propaganda, dan populisme, yang dibawakan tabloid-tabloid populer pun menyerentakkan gambaran investigatif kedalam gambaran benak banyak anggota masyarakat, dengan warna-warna “kebohongan dan sensasionalisme”mereka ketika paparan laporan investigatif mereka masuk ke pencitraan term-term politik. Banyak isu investigatif, yang diapungkan media, memanfaatkan tenaga informasi untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan publik, mengajak khalayak untuk berpindah orientasi politik, atau memberikan tekanan kepada para pemutus kebijakan politik pemerintahan. Realitas kesejarahan pers kemudian memunculkan fenomena “the journalist pundit”. Mc Nair, dengan memakai pendekatan Nimmo and combs (1992, p.6), menyebutkan istilah “pundit” kepada posisi wartawan yang melaksanakan kegiatan editorial, columns, feature articles, dan berbagai vanasi format opini lain seperti catatan harian dan kartun, yang kebanyakannya membawakan fungsi satirical. Pundit adalah sosok semacam tokoh masyarakat yang dihormati pandangan-pandangannya, diambil dari terminologi sansekerta, pada awal abad 19, fase india modern, mengilustrasikan sosok “pencari ilmu (pencerahan) atau pengajar yang tidak hanya memiliki otoritas formal tetapi juga memiliki status figur politis”. Bagi dunia pers Amerika, kehadiran Walter Lippmann mengaksentuasikan sosok ke-“pundit”-an bagi profesi jurnalisme pada awal abad 20. Ia melepas nilai  kolektifitas kewartawanan sebagai sekumpulan pekerja yang bertugas hanya menjadi pelapor informasi kepada masyarakat. Namun, ia menjadi sosok yang integritas pandangannya, analisisnya, kepiawaian policy-nya, dari kemampuan khusus lainnya, sangat dihargai di forum-forum diskusi publik. Dengankata lain, wartawan pundit ialah seseorang yang dapat mempengaruhi masyarakat karena otoritasnya di berbagai peristiwa politik. Mereka berperan sebagai sumber dari kerangka opini dan artikulasi opini. Agenda-setting dan agenda-evaluasi. Mereka memasuki perang tokh bijak, yang tahu betul bagaimana mengamati dan mengomentari kejadian-kejadian politik, dan menurunkan keresahan masyarakat akan kerumitan persoalan politik yang tengah terjadi. Dan, dalam kaitan perkembangan jurnalisme investigatif, pemunculan ke-“pundit”-an jurnalisme ini terkait dengan motif “perjuangan atau jihad”, dan “pendedahan”. Ruang jurnalisme investigatif membuka peluang bagi aspek kewartawanan untuk mengembangkan orientasi investigatifnya ke dalam ruang publik. Masuk kedalam “political class”, terlibat dalam proses “pengalian informasi” yang kerap bersifat konfidensial dan membuat tudingan-tudingan yang amat dihargai masyarakat. Semangat partisan memang kental dibawakan, namun lebih condong akhirnya untuk disebut pembawa aspirasi yang memiliki kredibilitas. Orientasi politik, baik ideologis maupun kepartaian, yang dikenakannya, tidak menghilangkan mereka sebagi pembawa suara “pencerahan” yang otoritatif. Pada sisi ini, pekerjaan investigative reporting mempunyai akses kepada realitas politik masyarakat Amerika. Melalui kenyataan itulah, menurut Burgh, antara lain jurnalisme investigatif dilakukan oleh kalangan jurnalis. Apa yang membedakan kerja wartawan investigatif dengan wartawan lainnya? Apa yang menjadi motivasi wartawan investigatif? Apa kemampuan yang kerap mereka kembangkan? Apa signifikasi kerja mereka selalu mengganggu kehidupan masyarakat? Gambaran sosok wartawan investigatif mengisinuasikan tampilan-tampilan tertentu. Ada nilai romantik idealisme jurnalis meraih budaya popularitas. Bukan hanya menampilkan pekerja di sebuah meja tapi juga memberikan kemampuan untuk melaksanakan sebuah keterampilan praktis. Dedikasinya tertuju kepada kepentingan publik, meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan dan kejahatan politisi dan para pejabat tinggi yang dapat menghancurkan dan membunuh. Dengan kata lain, mengekspresikan unsur hati yang palos. Sifat heroiknya membawakan misi suci dan petualangan yang sangat populer pada fase sebelum PD II, yang menyangkut hal-hal menggelikan, tolol, menjijikkan. Konsepsi idealisasinya sebenarnya berada dalam proses “selalu ingin ditemukan” seperti awal sebuah fiksi memulai kisah. Posisinya kerap direndahkan, berikut kemiskinannya, tapi dari hal itu pula tumbuh gairah petualangan, didalam proses mencuri “kejadian-kejadian” atau keterkenalan. Sekedar Catatan •    Sheila S. Coronel, Investigative Reporting: The Role Of The Media in Uncovering Corruption, July 31, 2000, makalah, kiriman Atmakusumah, dari Lembaga Pers DR. Soetomo •    Mitchell V. Charnley, Reporting, 1965, hlm. 275-284 •    Kamus Inggris-indonesia, John M. Echols dan Hassan Shadily, hlm. 4. William L. Rivers & Cleve Mathews, “Riwayat Investigasi”, Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, hlm. 159-160 •    http://www.spartacus.schoolnet.cc.uk/htm:Agustus-2000. Situs ini memberikan dictionary bagi sejarah jurnalisme investigasi di Amerika. Investigasinya, yang dalam uraian penulis dipakai, sengaja dikutip, sebagai bahan referensi untuk mengenali nilai historikal jurnalisme investigaasi. •    Fedler, hlm. 36-37 •    http://www.spartacus.schoolnet.co.uk/htm:Agustus-2000 •    C.C. Regier (1932), yang dikutip http://www.spartacus.schoolnet.co.uk/htm:Agustus-2000 •    William L. Rivers & Cleve Mathews, ““Riwayat Investigasi”, Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, hlm. 161 •    Donald L. Ferguson & Jim Patten, Journalisme Today, 1991, hlm. 12 •    Ferguson & Patten, op. Cit, hlm. 12 •    Edwin Emery, The Press and America: an interpretative history of journalism, second edition, Prenticehall, inc, Englewood Cliffs, N.J, 1962, hlm. 453. Kupasan Emery merefleksi korelasi sejarah jurnalisme dengan politik, ekonomi, dan berbagai kecenderungan sosial Amerika, dalam tiap periodenya. Pers, didalam interaksinya, mempengaruhi perjalanan masyarakat AS membangun kehidupan instilusi dan tradisi kemasyarakatan episode Muckraking, dari jurnalisme investigatif, dengan demikian memiliki aksentuasi yang cukup panjang di dalam relasi sosial kemaayarakatan Amerika. Bukan sekedar menjadi pelapor pelanggaran/kejahatan yang terjadi di masyarakat •    Dikutip http://www.spartacus.schoolnet.co.uk/htm:Agustus-2000 •    Fedler, log cit. •    Edwin Emery, opcit, hlm. 477,450 •    Brian Mc Nair, An Introduction to political Communication, Second Edition, Routledge (firm), New York,1999, hlm. 73-78 •    Hogo De Burg (ed), Introduction: a higher kind of loyalty (hlm. 3-26);dan The Emergence of Investigatif Journalism (hlm. 26-48), Routledge, London, 2000 ALUR PIKIR INVESTIGASI Apa yang menyebabkan seorang wartawan menjadi seorang investigator? Pertanyaan ini menjadi sedemikian penting jika dikaitkan dengan tema tentang pola pikir liputan investigasi. Dunia jurnalistik mengenal tiga tingkatan kerja reportase.  Pada level petama, para reporter melaporkan berbagai kejadian masyarakat dan memaparkan apa yang terjadi. Level berikutnya, mereka mencoba menjelaskan atau menginterpretasikan apa yang harus dilaporkan. Pada level ketiga, mereka mencari berbagai bukti yang ada di balik sebuah peristiwa. Secara keseluruhan, dunia kerja peliputan wartawan merujuk kepada tiga tipe yang disebut generasi reporters, specialist reporters, dan reporters with an investigative tum of mind. Generalis ialah para wartawan yang mencari berita tanpa mengetahui lebih dahulu subyek yang hendak diliputnya. Ia bekerja didalam ketergesaan dikejar waktu dead line. Berita diliput dari pilihan yang ditentukan oleh editor, yang telah mengagendakan pemberitaan yang harus dilaporkan, berdasarkan sumber-sumber utama pemberitaan dan media (lokal atau nasional). Mereka mencari kutipan dari para nara sumber (spokesmen): para manajer direktur, kepala polisi, petugas humas, sekretaris organisasi dan kelompok-kelompok oposan. Wartawan general bekerja menuruti permintaan masyarakat yang membutuhkan akurasi pendapat tokoh-tokoh publik yang memiliki otoritas di masyarakat. Wartawan spesialis adalah wartawan yang memiliki rincian keterangan, mengenai subyek liputan mereka, dan mencoba menjelaskannya. Seperti tugas reporter general, mereka sebenarnya hanya menjalankan tugas-tugas peliputan yang bersifat reguler. Perbedaannya, reporter spesialist memiliki jalinan kontak (hubungan) yang telah terbina untuk subyek-subyek liputannya. Mereka mengetahui orang-orang yang harus dihubungi untuk informasi yang dibutuhkannya. Berbagai keterangan, yang sudah menjadi referensinya, akan menjadi perspektif dari peristiwa dan orang-orang yang akan diberitakannya. Mereka mempunyai informasi yang layak dilaporkan karena mengetahui orang-orang yang menguasai permasalahan yang hendak diberitaknnya. Para reporter yang bekerja dengan pikiran Investigatif adalah salah satu dan kedua tipe tersebt; generalist atau spesialist. Reporter tipe ini selalu menyiapkan diri untuk mendengarkan berbagai hal yang dikatakan orang-orang kebanyakan atau orang-orang biasa saja, yang tidak pernah menjadi narasumber (non-spokesmen). Mereka tidak mau terbujuk untuk menuruti pandangan yang dikemukakan tokoh-tokoh publik atau orang-orang yang terkemuka atau pun kata-kata dari narasumber yang biasa mereka hubungi. Reporter investigasi mencari pemikiran yang berbeda, dari orang-orang yang berbeda, lain dari biasanya, untuk menyampaikan pendapatnya mengenai permasalahan yang hendak digali. Mereka hendak mengungkap di balik permukaan yang tampak di masyarakat. Mereka menyiapkan waktu untuk mengumpulkan detil-detil keterangan dari subyek liputan yang tengah dipelajarinya. Dengan demikian, reporter investigasi mengerjakan peliputan yang kerap menghancurkan kemapanan otoritas dari organisasi-organisasi, termasuk kelompok-kelompok sempalan. Ia juga kerap menjatuhkan reputasi pemikiran kepemimpinan tertentu, dan menjadi sosok yang tidak selalu benar, memiliki aib kesalahan. Ia mengumpulkan fakta-fakta yang ditunggu-tunggu banyak orang sebagai kejutan. Bukan sekedar pernyataan2 kontroversial, yang dikutipnya dari para narasumbernya, atau para pakar yang menyatakan sebuah kebenaran, melainkan orang-orang yang mengetahui adanya rahasia yang belum atau tidak bisa diungkap, dan merasa marah atu merasa wajib untuk mengungkapkan apa-apa yang telah dirahasiakan selama ini. Pete S. Steffens, dari Journalism Departement, Western Washington University, memaparkan faktor-faktor yang mendukung bentukan Good Investigative Reporter : 1.    Wants to know 2.    Able to find out 3.    Able to understand 4.    Able to tell (the public) 5.    Wants action 6.    Cares about people (also) Selain faktor-faktor diatas, ada pula yang meyakini ciri-ciri lain. Kepribadian yang agresif adalah indikasi awal. Wartawan investigatif memiliki agresifitas yang tinggi terhadap data dan keterangan yang muncul dipermukaan, yang tersedia begitu saja di hadapannya, memiliki kepekaan terhadap adanya “persekongkolan para penghasut rakyat, keculasan” yang terjadi di masyarakat. Wartawan investigatif memiliki kemampuan untuk marah, menderita semacam rasa kegusaran moral yang sungguh-sungguh terhadap keculasan. Mereka mengamsalkan bahwa “jurnalisme adalah memberikan kepada publik informasi yang oleh pemerintah dilarang keras untuk diketahui oleh publik”. Mereka memiliki keyakinan bahwa “korupsi serta kebohongan yang terjadi lebih banyak daripada diduga orang”. Maka dari itulah, dalam penilaian Rivers dan Mathews: “kelompok kecil reporter ini biasanya hidup dalam suatu perpaduan yang ganjil antara keagresifan dan ketidakpastian. Terikat pada standar moralitas personal dan sosial, mereka membutuhkan pengukuhan standar-standar tersebut, kalaupun tidak dari publik, setidaknya dari redaktur mereka”. Wartawan investigatif jarang meliput mengenai agenda hidup sehari-hari seseorang. Mereka datangi pertemuan karena adanya seseorang yang memiliki otoritas sebagai pembuat aturan. Mereka meliput pertemuan dewan kota, misalnya, jika disana terdapat latar belakang yang berhubungan dengan sebuah proyek besar. Jika pun mereka buat jadi laporan, hal itu berkaitan dengan tugas liputannya. Bahan liputannya akan dijadikan dokumentasi bagi liputan selanjutnya. Mula-mula seorang wartawan investigator adalah wartawan yang tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Seorang wartawan yang mau melakukan pekerjaan riset yang dalam,tekun merekonstruksi suatu kejahatan dan tidak kenal lelah untuk mengejar sumber-sumber yang penting dan dokumen yang bertumpuk. Para reporter acapkali juga melakukan observasi langsung terhadap berbagai kejadian, berikut sumber-sumber informasi yang sering terlihat memanipulasi pers. Berbagai sumber sengaja membuat taktik untuk mendapatkan pemberitaan, dengan cara melakukan sebuah aksi yang jadi perhatian media. Karena itulah, verifikasi, pengecekan latar belakang, observasi langsung, reportase-lanjutan merupakan bantuan dan kerap dapat mengoreksi materi keorisinalitasan-sumber. Para wartawan juga mesti mengembangkan interpretasi ketika hendak membangun kisah beritanya. Dengan kata lain, kerja kewartawanan ibarat seornag penyelidik yang tengah meneliti dan meluruskan berbagai kebohongan yang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu. Ada perbedaan mendasar antara sikap wartawan biasa-meminjam istilah Atma Kusumah, yakni wartawan ronda dan wartawan investigasi. Awal perbedaannya terletak pada inisiatif wartawan investigatif yang “tidak selalu menunggu sampai suatu masalah atau peristiwa timbul atau diberitakan”, akan tetapi “ justru menampilkan permasalahan baru atau sesuatu hal baru atau membuat berita”. Jika reporter harian/ronda/patroli “bekerja cepat mencari dan menghasilkan beberapa berita dalam satu hari, mengejar setiap informasi yang dapat disiarkan seedini mungkin lebih cepat dari penerbitan saingannya”, wartawan investigatif “memerlukan waktu jauh lebih lama untuk dapat mengungkapkan satu masalah”. Jika reporter “ronda” menjalin sebanyak mungkin “pejabat resmi yang berpotensi sebagai sumber potensi”, wartwan investigatif “sangat selektif dan skeptis terhadap bahan berita resmi, meneliti dengan kritis setiap pendapat, catatan dan bocoran informasi resmi, tidak serta merta membenarkan”. Jika reporter “patroli” memberikan “apa yang terjadi atau yang diumumkan”, wartawan investigatif malah mengungkapkan “mengapa suatu hal diumumkan atau terjadi, mengapa terjadi lagi”. Jelas bahwa sebuah karya investigasi tidak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan sebuah laporan pemeriksaan polisi atau keterangan pers sebuah lembaga swadaya masyarakat. Walaupun ukuran waktu bersifat sangat nisbi, namun sebuah laporan investigasi biasanya makan waktu cukup lama. Pada tiap langkah liputannya, wartawan investigatif memiliki kecerewetan yang demikian tinggi terhadap berbagai hal yang ditemuinya. Setiap informasi diperiksa dan diperiksa kemabli (checked and rechecked) melalui berbagai sumber yang dapat dipercaya sampai benar-benar merasa puas, dan mendapatkan keyakinan bahwa sumber informasi tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam kesediaan atau keterbukaannya memberikan keterangan. Lebih jauh lagi, si wartawan bahkan siap melindungi kerahasiaan sumber inforamasi jika dikehendaki. Pada intinya, investigasi jurnalisme amatlah berhubungan dengan upaya yang berkonteks “pengujian relevansi” terhadap berbagai hal yang terkait dengan “tujuan publik tertentu yang cukup penting”. Dan menghindari sekali kemungkinan memakai praktek Machiavelis yang “menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan”: menghalalkan segala cara meraih informasi, walaupun telah dinyatakan off the record misalnya, untuk memberitakan suatu peristiwa. Alur Kerja Investigasi Setelah memahami sikap dasar wartawan investigatif, ada baiknya digagas ihwal langkah-langkah atau alur liputan investigasi. Sheila Coroner, direktur Philippines Center for Investigative Journalism (PCIJO) yang berdiri sejak 1989-menunjukkan bahwa tahapan kegiatan investigatif itu dapat diurut kedalam dua bagian kerja: “Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar, sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi”. Pada masing-masing bagiannya terbagi kedalam tujuh kegiatan rinciannya. Rancangan kegiatan ini, menurut Coronel, merupakan pengaturan sistematika kerja wartawan investigatif agar terurut kepada tahapan-tahapan kerja yang mudah dianalisis, yakni: Bagian pertama     Petunjuk awal     Investigasi pendahuluan     Pencarian dan pendalaman literatur     Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli     Penjejakan dokumen-dokumen     Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi     Pembentukan hipotesis Bagian kedua     Pengamatan langsung di lapangan     Pengorganisasian file     Wawancara lanjutan     Analisis dan pengorganisasian data     Penulisan     Pengecekan fakta     Pengecekan pencemaran nama baik Didalam praktik, rincian teknis kerja investigatif itu tidaklah selalu dilaksanakan dengan berurutan. Kenyataan di lapangan kerap mengharuskan redaksi harus siap dengan segala kemungkinan yang tak terduga. Bagaimanapun, pedoman teknis tersebut merupakan ringkasan poin-poin penting yang selalu ada didalam berbagai kegiatan peliputan investigatif yang dilakukan dunia pers. Pada gambaran tertentu, hal itu bisa disimak misalnya lewat kerja investigative reporting yang dilakukan majalah tempo. Usulan tema investigasi, bisa datng dari reporter sampai pemimpin erdaksi. Dalam sebuah rapat perencanaan, mereka kemudian membahasnya, dan diteruskan pembahasannya dalam rapat investigasi yang dihadiri oleh semua yang akan terlibat dalam proyek itu. Proses akumulasi data sebaiknya sudah dilakukan, sebelum rapat berlangsung. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh teknis proses liputan investigasi soal penyelundupan 88 M yang pernah dilakukan Majalah TEMPO. Bagian  I Ketika itu, akhir mei 2000, penggerebekan selundupan bahan bakar minyak (BBM) mulai mengemuka. Dicokoknya penyelundupan BBM dikawasan tanjung priok, menjadi headline media massa di Indonesia. Tanpa kecuali, berita itu mendapat perhatian tersendiri dari tim investigasi TEMPO (sekitar lima orang). Selain di tanjung priok, media massa juga melaporkan ihwal teliangkapnya (maraknya tengarai selundupan BBM) melalui jalur gresik-surabaya (tanjung perak). Bahkan televisi dan media cetak, ramai-ramai mengekspos kegaduhan di wilayah tersebut secara berseri. Segudang pertanyaan berseliweran di benak kami masing-masing. Sudah berapa lamakah “tikus-tikus” minyak itu merong-rong duit negara?. Berapa fulus yang mengalir dari jagad penyelundupan BBM itu?. Dan siap di balik itu semua?. Dan masih banyak lagi. Dari aspek nilai berita, agaknya kami melihat urgensi yang sangat tinggi untuk bisa menguak kisah penyelundupan BBM tersebut. Pasalnya, masih belum cukup data untuk mengasumsikan apakah kisah BBM ini mempunyai magnitude yang cukup besar. Meski begitu, sebagian anggota tim menilai, masalah penyelundupan BBM patut mendapat prioritas untuk dijadikan tema tulisan dalam rubrik investigasi. Dalam diskusi saat itu, sudah tergambar apa yang mesti dipaparkan seandainya kami menuliskannya. Yakni, kami harus mendapatkan pola penyelundupannya, taktik penyelundupan, siapa dibelakang penyelundupan BBM tersebut, siapa saja yang terlibat dari awal hingga akhir penyelundupan, bagaimana modusnya, berapa kerugian negara, berapa keuntungan mereka, dan dimana saja markas besar penyelundup. Mengingat lahan garapan yang sedemikian dahsyat, tak urung tim harus segera memulai kerjanya. Sebagai langkah awal, kami sepakati agar semua angota tim memasang kuping, hidung hati dan matanya atas masalah tersebut. Dibuatlah outline penugasan awal untuk mendapatkan data prematur yang dibutuhkan. Langkah yang dilakukan, sebagai berikut: 1.    Melaukan riset dari seluruh pemberitaan media massa indonesia ihwal kasusu BBM, baik yang menyangkut penyelundupan di tanjung priok atau bukan. Pada saat itu, harian yang agak lengkap dan kontinu mengupas masalah selundupan BBM ini adalah KOMPAS dan MEDIA INDONESIA, dengan diikuti media lain, namun dengan persentase yang kurang begitu besar. Riset disini bukan hanya kejadian penyelundupan atau penggerebekannya saja, melainkan juga segala aturan yang melingkupi distribusi BBM dari pertamina ke masyarakat (pasar). 2.    Mengoptimalkan akses kepada sumber pertama, yang mengetahui masalah penyelundupan BBM itu secara langsung. Orang-orang yang mesti kita temui waktu itu adalah sumber resmi pertamina (untuk mengetahui bagaimana pola resmi penyaluran BBM ke pasaran-Red), aparat intelijen (yang bersih dan tahu masalah ini-red), sumber informan di departement, dan instansi lain yang pernah meneliti masalah distribusi BBM di Indonesia (ada satu lembaga yang meneliti hal  ini, tapi saya terikat janji untuk tidak membocorkannya-red). 3.    Survei lapangan. TEMPO mengirim tim untuk menjajaki bagaimana keadaan atau situasi disekitar tanjung priok paska penggerebekan, dan juga di wilayah Surabaya. Nah, hasil dari langkah awal itu membuat kami semakin yakin bahwa selundupan 88 M sangat menarik (sekaligus menantang-red) untuk dikupas tuntas. Data awal yang diperoleh, kami kodifikasi lebih lanjut. Dari sini, kami sudah mampu membangun asumsi ihwal “penyelundupan BBM di Indonesia”. Bagian  II Dari rentetan proses sejak awal, ada sejumlah hipotesis yang menjadi landasan kerja tim investigasi TEMPO. 1.    Penyelundupan BBM ini dilakukan dan dikuasai oleh jaringan mafia yang cukup kuat. 2.    Terdapat bermacam cara manipulasi BBM, muali dari awal hingga dibawa ke luar negeri. 3.    Karena pemberitaan yang marak, maka terjadi tempat pengalihan transfer minyak. Tidak lagi di kawasan tanjung priok, karena terlalu ketat. Dalam hal ini, masing-masing pointer kita diskusikan berdasarkan temuan atau data awal diatas. Artinya, kami membahasnya senyampang menguji kesesuaian antara data awal, dengan asumsi yang terbangun dari data awal itu. Seperti halnya poin pertama. Dari bahan awal, kami yakin bahwa penyelundupan BBM tersebut (tentunya) melibatkan pihak-pihak tertentu yang cara kerjanya mirip mafia. Bagaimana tidak?. Hampir seluruh perairan Indonesia dijaga ketat oleh armada TNI angkatan laut dan polisi air. Tapi kenapa mereka bisa melenggang dengan seenaknya?. Mau tidak mau kami harus membangun sub-hipotesis dari poin pertama, yakni “tentara terlibat atau (setidaknya ikut main ) dalam penyelundupan ini”. Hal itu juga dibenarkan sumber kami di jagad intelijen, yang notabene tentara juga (tapi lebih bersih-red). Sementara untuk poin kedua, kami dasarkan dari informasi resmi pertamina. Selain itu, kami juga melakukan kajian dari segala aturan perundang-undangan yang melingkupi pendistribusian BBM. Dari kajian kami, tampak jelas bahwa aturan yang ada, sangat membuka peluang manipulasi disetiap tikungan. Mulai dari ketika minyak masih berada di kantor pertamina, hingga dibawa ke kapal laut, lantas melaju ke luar negeri. Dan poin yang ketiga, kami dapatkan informasinya dari sejumlah sumber. Hampir sumber kami yang paham (dan menekuni) ihwal selundupan BBM itu, menyatakan bahwa tempat transfer minyak sudah bukan di tanjung priok lagi. Satu tempat yang disebut-sebut menjadi primadona, karena aman dan pengawasannya lemah, yaitu dikawasan Merak-Banten. Meski di tahap awal, tim investigasi sudah melakukan wawancara ataupun reporting, tak urung ketiga hipotesis awal itu kami uji ke masing-masing narasumber. Dan dengan berbagai diskusi, serta masukan dari masing-masing narasumber, hipotesis tersebut kami tetapkan menjadi pedoman kerja.  Bagian  III Dengan berbekal hipotesis awal itulah, tim investigasi TEMPO disebar keseluruh penjuru laut jawa. Tim pertama mengamati depot pertamina di prumpung (jakarta utara). Tem kedua, dilakukan di wilayah Surabaya. Tim ketiga, mengamati pergerakan situasi di kawasan tanjung priok. Dan tim keempat, menyisir kawasan perairan laut di Merak. Target kami semua mendapatkan bukti otentik manipulasi minyak dari hulu hingga hilir. Kala itu, tim pertama mengobok-obok kawasan prumpung-Jakarta selama kurang lebih empat hari, nonstop. Kawasan ini terletak di wilayah utara Jakarta. Disini terdapat depot pertamina terbesar di Jakarta. Konon, depot ini mampu menyuplai minyak untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya, dan sebagian Jawa Barat. Dari informasi awal, selain ada depot pertamina,di beberapa titik diinformasikan menjadi tempat pengoplosan minyak (pencampuran antara minyak tana h dan solar-red), namun ada pula yang memampangkan nama sebagai pengecer minyak seara ternag-terangan. Selain mereportasekan pandangan matanya, tim ini juga harus melakukan wawancara dengan penduduk sekitar maupun para pelaku. Bagaimanapun caranya!intinya, tim ini mesti mempunyai gambaran peling mendasar dari awal tentang bagaimana dari tingkat awal BBM sudah di manipulasi oleh mafia penyelundup tersebut. Sementara itu, tim kedua beroperasi di wilayah Surabaya. Target tim ini sama mendapatkan bukti otentik manipulasi BBM dari hulu hingga hilir. Lantas tim ketiga, mengamati situasi di tanjung priok. Metode pengumpulan informasinya pun sama, reportase dan wawancara dengan sumber pertama di lapangan. Baik itu penduduk setempat maupun pelakuknya. Berikutnya, tim keempat, mulai berangkat untuk menyisir wilayah perairan Merak. Dengan bekal (sekedar) informasi bahwa transfer minyak ke kapal Tangker dilakukan ditengah laut lepas. Tim berangkat untuk membuktikan hal itu. Agaknya, bagian ini merupakan bagian terberat dalam liputan investigasi kali ini. Pasalnya, tim TEMPO harus menemukan, baik melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, maupun dengan potret, bahwa memang terjadi transfer minyak ke kapal Tangker di laut lepas. Selama kurang lebih 7 hari dihabiskan tim ini untuk menemukan bukti tersebut. Dalam babakan ini, ada satu sumber penting yang hanya bisa dicapai setelah sampai pada tahapan ini. Yakni reportase dan wawancara dengan bekas pemain atau penyelundup yang sudah tobat atau tersisih dari lingkaran mafianya. Sebagai catatan pula, bagian ini merupakan bagian yag sangat melelahkan. Soalnya, kinerja yang dilakukan semata-mata kerja fisik. Yakni menginteli pekerjaan para penyelundup. Bagian  IV Pada tahapan ini, tim investigasi melakukan verifikasi, validasi, dan kodifikasi atas segala hasil liputan yang telah diperoleh. Tim harus menemukan benang merah dari data awal hingga akhir. Selain itu, tim juga harus membuktikan bahwa hipotesis awal yang telah dibuat memang benar-benar sebagaimana yang terjadi dilapangan. Ketika ada temuan lapangan yang agak sedikit berbeda dengan informasi atau data awal, maka hal itu didiskusikan lebih dulu, kira-kira apa yang menjadi penyebabnya. Apakah semata-mata kesalahan atau kelengahan liputan di lapangan?. Ataukah data awal yang agak kurang sesuai dengan kondisi lapangan?. Dan dalam liputan investigasi BBM ini, bukan hanya sekali saja tim melakukan klarifikasi terhadap temuan lapangan. Hal itu bukan karena fakta lapangan yang diragukan, namun demi menguji tingkat validasi temuan lapangan tersebut. Yang menarik dalam tahapan ini adalah terjadinya tarik-menarik antara ide awal (yang dilandasi informasi prematur-red) dan bias fakta selama dilapangan. Maksudnya, apakah si wartawan ketika mereportasekan lapangan itu hanya untuk membuktikan frame berpikirnya saja?. Ataukah fakta lapangan justru menambah (atau kalau perlu) membenahi landasan hipotesisnya?. Dalam prosesi inilah kedua hal itu dipertautkan. Selain itu, kami pun melakukan wawancara dengan ahli perkapalan dan perminyakan. Hal itu untuk menguji pengamatan atau laporan lapangan kami tentang kapasitas kapal Tangker, ciri-ciri kapal tangker minyak (apa yang membedakannya dengan kapal pengangkut bahan kimia maupun kapal angkut lainnya-red), dan juga segala tetek-bengek tentang kelautan. Apa yang kami lakukan terhada ahli perkapala ini bisa dikategorikan sebagai riset. Karena riset dalam batasan tim ini, bukan hanya seonggok kertas atau buku di atas meja, melainkan wawancara dengan para pakar pun bisa kami sebut sebgai riset. Bagian  V Tibalah saatnya pada bagian penulisan. Jadi, seluruh data dan temuan lapangan yang sudah terkodifikasikan itu, dirangkai menjadi satu tulisan yang menarik, enak dibaca, dan menggambarkan fakta yang terjadi dilapangan. Langkah yang paling aman, adalah memisahkan seluruh laporan dan data yang dipunyai kedalam masing-masing kapling tema. Misalnya, seluruh bahan yang mendukung tema tentang modus atau pola manipulasi BBM dikelompokkan jadi satu. Lantas, tanggung jawab penulisan diserahkan pada satu orang. Dengan demikian, ia bisa konsentrasi pada masalah yang menjadi tanggungjawabnya untuk ditulis. Tak lupa, penulisan seluruh materi tak boleh lepas dari hipotesis awal. Artinya, apa yang diperoleh hingga akhir kerja tim investigasi itu, hanyalah penjabaran dari apa yang tertera dalam hipotesis awal. Kecuali jika temuan lapangan betul-betul menolak hipotesis awal. Hal ini menuntut adanya verifikasi dan validasi yang sangat ketat terhadap setiap pra-kesimpulan maupun kesimpulan yang akan diambil. Bahkan demi mengantisipasi perkembangan berita, kami segera mengirim tim lagi ke lokasi-lokasi tertentu yang kami dengar menggeliat lagi sebagai tempat pengoplosan BBM. Contohnya, adalah pengintaian tim ke kawasan Cilangkap-Jakarta. Kami mendengar informasi tersebut tepat pada waktu tulisan dibuat. Mau tak  mau, tim segera diterjunkan. Dan laporannya segera di updating kedalam rangkaian tulisan panjang investigasi. MENGOREKSI SUMBER BERITA Dua tahun terakhir terjadi eksplorasi besar-besaran terhadap potensi dunia jurnalistik di Tanah Air. Itu terjadi setelah pemerintah mencabut prasyarat surat ijin usaha penerbitan pers (SIUPP), yang selama lebih 30 tahun menjadi “hantu” para awak pers. Pembredelan tidak saja menakutkan, tetapi sensor berlebihan telah memacatkan eksplorasi pengungkapan sebuah fakta kebenaran. Boleh dikata sekaranglah “musim bunga” pers Indonesia. Siapa saja, asal mempunya sejumlah dana bisa bikin koran sendiri. Tak perlu repot-repot mengurus izin. Ratusan surat kabar kemudian bermunculan. Keadaan ini ditambah marak dengan berdirinya puluhan televisi swasta. Seiring dengan itu, “musim bunga” telah membawa pengaruh pula pada sendi-sendi jurnalismenya. Persaingan antar koran atau koran dengan media elektronik makin ketat. Satu sisi, ini sangat menguntungkan pembaca/pendengar. Setiap koran atau televisi atau juga radio ingin menjadi yang pertama mengungkap sebuah peristiwa. Mereka ingin berita yang disajikan aktual dan eksklusif. Dengan itu diharapkan pembaca tertarik dan akhirnya terikat. Para pengelola surat kabar tahu benar bahwa saingan terberat mereka saat ini adalah media-media elektronik yang setiap saat bisa beraksi. Sewaktu-waktu jika terjadi peristiwa besrar media elektronik bisa melakukan stop press. Dari segi aktualitas informasi, surat kabar pastilah ketinggalan. Maka berbagai upaya eksplorasi dilakukan dunia koran guna “melawan” arus aktualitas dunia elektronik. Satu diantaranya adalah mengembangkan teknik wawancara dengan harapan mendapatkan fakta-fakta Indepth. Eksplorasi dilakukan secara lebih mendalam, hingga menemukan fakta kebenaran yang hakiki. Pendalaman ini yang tidak mungkin dilakukan dunia elektronik yang dibatasi waktu, justru akibat pilihannya menjadi paling aktual itu. Berbagai hal yang saya rumuskan dari pengalaman tentang teknik wawancara yang bisa menjadi pedoman kerja di lapangan. 1.    Teknik Wawancara Standar. Teknik hanya mengandalkan pada pertanyaan-pertanyaan standar seorang wartawan. Bahkan hanya memenuhi standar minimal; dari prasyarat peliputan 5 W+1 H (where, when, what, who, why + how). Teknik ini jarang bisa mengungkapkan sesuatu dibalik peristiwa. 2.    Teknik Wawancara Mengorek. Teknik ini sangat memungkinkan seorang wartawan menemukan sesuatu di balik peristiwa. Seorang wartwan bisa dengan leluasa mengorek sumber akan sebuah peristiwa. Bisa saja misalnya, terus-menerus mengejar narasumber dengan pertanyaan. Biar dibilang cerewaet, tak masalah. 3.    Teknik Wawancara Pancingan. Teknik harus menjadi kualifikasi bermutu atau tidaknya seorang wartawan. Pertanyaan-pertanyaan pancingan bisa diajukan agar sumber mau membuka seluruh rahasia kebenaran itu. Bisa pula dilakukan dengan berpura-pura bodoh. 4.    Teknik Wawancara Empati. Teknik ini sangat umum diterapkan dalam peliputan-peliputan musibah. Saat mewawancarai sumber yang sedang terkena musibah sangatlah bijak apabila kita turut merasakan deritaakibat musibah itu. Empati niscaya akan menghasilkan tulisan yang humanistik. 5.    Teknik Wawancara “Oposisi”. Teknik ini bisa berbahaya karena suatu kali mencelakakan diri sendiri: dibenci narasumber. Kita bisa kehilangan sumber berita. Tetapi sangat efektif guna menghadapi sumber yang bandel dan pelit informasi. Kita mesti menerapkan strategi “membantah” apa yang dinyatakan sumber. 6.    Teknik Wawancara Diskusi/Sharing. teknik ini biasanya kita terapkan untuk sumber-sumber yang memiliki kualitas intelektual memadai. Kita boleh saling memberi pendapat, tetapi tetap dalam koridor peliputan. Teknik ini jarang memerosekkan seorang wartawan kedalam perasaan “sebagai” narasumber atau merasa lebih pintar dari sumber. Perasaan ini tidak akan menghasilkan tulisan yang bagus. 7.    Teknik Wawancara Moderator. Teknik ini biasanya digunakan apabila kita berhadapan langsung dengan lebih dari satu narasumber. Para narasumber seolah-olah kita “moderatori”. Dalam pengertian tidak resmi, ketika wawancara dilakukan. Biasanya teknik ini akan sampai pada benang merah sebuah fakta. Teknik-teknik tersebut biasanya saya terapkan tidak berdiri sendiri. Beberapa teknik bisa kita gunakan secara bersamaan apabila menghadapi wawancara dengan sumber. Teknik mengorek bisa digunakan scara bersamaan dengan teknik pancingan. Mengorek sumber dan memancing dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik akan menghasilkan liputan yang lebih utuh. Wartawan  : “Ada informasi tidak hanya malang yang mengalami salah baca kWh listrik?” (mengorek) :  “ya, dimalang saja ada 280.000 pelanggan”. Wartawan      :  “Tapi yang mengalami salah baca kan Sumber          : “mencapai 8.000 pelanggan, di sluruh Jatim sendiri pasti lebih banyak              kan?” (pancingan) Sumber     :  “Kira-kira dari 5,5 juta pelanggan, ada kesalahan kWh sebanyak 1,2 juta”. (fakta itu)     Contoh kecil (ini fakta bulan desember 2000 lalu) diatas telah memberi gambaran, akhirnya kita memperoleh informasi yang lebih utuh dan menyeluruh. Persoalan salah baca kWh listrik tidak hanya terjadi di kota malang, tetapi hampir di seluruh Jawa Timur. Teknik-teknik lainnya tentu saja bisa digunakan secara bervariasi. Inilah kira-kira pengalaman sebagai wartawan yang bisa saya bagi kepada kawan-kawan. ANALISIS DATA INVESTIGATIF Salah satu hal yang membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah cara melakukan analisisnya. Pada investigative reporting digunakan pendekatan hipotesis dalam penelusuran data dan masalah. Dalam batasan tertentu investigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Dalam melakukan in-depth reporting, seorang wartawan bisa berangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya (setelah melakukan banyak wawancara, membaca tumpukan dokumen, serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya), saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif (membongkar kejahatan, mencari tooh-tokoh jahat dan rekonstruksi kejahata-kejahatan mereka). Disinilah sangat penting digunakan hipotesis untuk membantu wartawan memfokuskan dirinya dalam melakukan investigasi. Jacob Oetama dari Kompas, mengatakan bahawa salah satu halangan investigasi adalah iklim ewuh-pakewuh terhadap mereka yang dianggapnya terlibat dalam kejahatan tersebut. Keadaan inilah yang membuat tim investigasi mengalami kesulitan untuk mengejar dan menyelidiki hipotesis-hipotesis yang mereka pikirkan, padahal hipotesis ini dijadikan pijakan untuk melakukan analisa data. Dalam kasus investigasi, Busang oleh Bondan Winarno, ia mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guzman tidak wajar dan aneh. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukan mayat de Guzman. Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki masih utuh?. Untuk membuktikan hipotesis itu Bondan mengumpulkan data-data yang nantinya dianalisa untuk menjadi suatu output investigasi. Mula-mula Bondan bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa jasad tersebut. Ia menemukan data/informasi bahwa para dokter Indonesia yang mengatakan bahwa mayat itu adalah mayat de Guzman hanya berdasarkan pengamatannya dari pakaian yang dikenakan oleh de Guzman. Tidak puas dengan itu Bondan mencari data yang lain, dan dari pengakuan salah seorang istri maupun teman-temannya Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat yang ditemukan tidak ada gigi palsunya. Bondan kemudian terbang ke Filipina untuk mencari saudara-saudara de Guzman, mantan pembantu-pembantunya de Guzman yang ternyata semuanya menolak menemui Bondan. Keluarga de Guzman bahkan menolak untuk menemukan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Dan data-data ini semakin menguatkan hipotesis Bondan bahwa ada yang aneh dengan kematian Michael de Guzman. Bondan kemudian melakukan analisa dari serangkaian data dan riset yang panjang untuk mendukung invstigasinya. Analisa yang ia lakukan untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis berdasarkan data informasi yang ada. Berikut beberapa pendekatan analisa yang bisa dilakukan: 1.    Paper Trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa pelacakan dokumen untuk mencari kebenaran-kebenaran. 2.    Periksa fokus berita, angle (sudut pandang) pada rencana awal. Kemudian bandingkan dengan data yang telah terkumpul kalau masih ada yang kurang, cari sampai dapat. 3.    Cek relevansi data, jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu walaupun tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah. 4.    Jika diperlukan ubahlah data-data atau informasi yang didapat menjadi grafik atau tabel untuk memudahkan menganalisa. 5.    Membuka kembali hipotesis yang disusun dari pertanyaan dasar. Biasanya terdiri dari pertanyaan aktor pelaku kejahatan (siapa yang bertanggungjawab atas kejahatan tersebut), siapa yang memicu huru-hara, siapa yang menyebarkan sentimen (contoh anti etnik atau anti agama tertentu), siapa yang melakukan insider trading, siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh, bagaimana cara-cara suatu kejahatan dilakukan dan lain-lain. 6.    Apakah data atau inforamsi menguatkan hipotesis atau sebaliknya. 7.    Lanjutkan dengan penulisan. *) Materi ini disarikan dari tulisannya :  Rommy Fibry, Tri Anom, Putu Fajar Arcana
Tentang Features
    Features Faatures biasa disebut dengan berita kisah non fiksi. kisah karena penulisannya dengan naratif, dan non fiksi lantaran berdasarkan fakta. Maka bentuknya tak jauh beda dengan tulisan-tulisan yang lain (straigh news atau depth news) yang sering dipakai kaum jurnalis. Ini tidak lantas bisa dikatakan sama dengan bentuk berita tersebut. Sebab meski pada dasarnya sama tapi features memiliki kekhasan dalam melukiskan berita. Yaitu lebih menekankan pada sisi keindahan dalam merangkai kata. Penekanan pada penulisan indah ini bukan berarti lepas sama sekali dengan syarat-syarat berita yang selama ini harus dipatuhi oleh bentuk berita lain (Straigh News maupun Depth News). Syarat berita masih tetap diperhatikan entah itu unsur beritanya atau cover both side dan lainnya tapi penyajian yang diberikan oleh bentuk berita semacam straigh news dan news sangat linier dan kaku. Sehingga tulisan yang disajikan terkesan gersan tanpa ada nuansa yang menyejukkan. Karena itu, features yang kini lebih memperhatikan sisi keindahan pada cerita tersebut kemudian mencoba mempermaks, memoles tulisan itu sedemikian rupa tanpa mengabaikan sisi syarat sebagai berita. Atau bahasa kasarnya “ndandani” tulisan, inilah yang kemudain disebut features.  Tulisan ini biar enak dibaca, tulisan lebih hidup dan tidak membosankan. Supaya tulisan itu asyik dibaca harus dipoles dengan khazanah sastra. Basic sastra memang setiap manusia memilikinya tapi kalau kalau ini tidak pernah dieksplrasikan dalam bentuk tulisan maka sama tulisannya akan selalu kering. Atau jika ingin memberi nuansa sastra yang sedemikian bagus, seorang jurnalis harus lebih banyak membaca karya-karya sastra. Namun selama ini features sendiri masih dalam taraf debatable, apakah features itu hanya sekedar gaya tutur dalam tulisan atau menjadi bentuk berita seperti bentuk berita yang lain (straigh news atau depth news). Perdebatan ini sampai titik saat ini belum ditemukan. Tapi tak usah merisaukan perdebatan itu lantaran tak seberapa penting. Yang penting kini features dipahami sebagai bagaiamana kita menulis dengan indah dengan dipolesan khasanah sastra. Selain itu, tulisan features tidak hanya terpatok pada prinsip obyektivitas yang selama ini ditekankan oleh berita-berita semacam depth news maupun straigh news. Tulisan features tidak tunduk pada kaidah-kaidah jurnalistik yang bernama obyektivitas. Unsur subyektivitas juga bisa dimasukkan kedalam berita. Tapi ini tidak mengarahkan pada tulisan yang berbentuk opini yang unsur subyektivitas lebih ditekankan karena eksplorasi yang paling banyak diwilayah ide maupun gagasan. Tulisan features lebih pada bagaimana penulis bisa meraup obyektivitas dengan sisi subektivitas wartawan yang memiliki tautan langsung dengan fakta tersebut. Tidak teguh dan konsisten memegang kerangka obyektivitas ini lantaran ada sisi subyektivitas yang memang penting untuk di informasikan dan memang menjadi keharusan karena berkaitan dengan berita. Ini bisa dirangkai langsung dengan berita yang mau disajikan pada khalayak umum. Sisi subyektivitas ini bisa berbentuk bagaimana sulitnya seorang jurnalis mencari berita atau bisa juga kesan tertentu yang terdapat pada diri sumber berita. Tapi ini bukan berarti semua pengalaman pribadi jurnalis bisa dimasukkan ke dalam berita itu, misalnya jurnalis pada saat peliputan, ia  mau kencil lalu merasa sakit alat vitalnya. Sekali lagi ini tak boleh diceritakan kerena tidak penya kaitan apapun dengan fakta yang mau disuguhkan pada segmen pembaca. Ragam Features 1.    Historical Features Ragam features ini banyak mengusung fakta-fakta yang berkaitan dengan kesejarahan dengan mengukuhkan jejak-jejak masa lampau. Misalnya menyaksikan menulis features tentang candi borobudur atau patung liberty 2.    Profile Features Bentuk ini menyajikan prifile entah itu biografi, riwayat hidupnya dan lain sebagainya pada tokoh-tokoh yang dikenal dan memiliki pengaruh besar pada masyarakat. Profile features ini tidak hanya menceritakan mahkluk hidup yang bernama manusia, tapi bisa juga memprofilkan benda-benda mati semisal patung. Kalau patung liberty difeatureskan dengan unsur profilenya maka bisa mengambil sisi sejarahnya tapi harus sedikit.  3.    Advanture Features Jenis features ini banyak menceritaka pengalaman seorang petualang atau lelakon entah menelusuri apa. Untuk penulisan features dalam bentuk ini tidak boleh sepenggal-penggal, yang ceritanya akan terputus-putus. Ia harus mengusung seluruh pengalaman mulai start pemberangkatan sampai ending petualangannya. Petualangan ini bisa dicontohkan dengan berlayarnya colombus sampai menemukan benua amerika. 4.    Journey Features Bentuk features ini menceritakan tentang perjalanan atau bepergian seseorang ke tujuan tertentu. Meski seolah sama dengan bentuk features di atas, yaitu sama-sama melancong, tapi journey features bercerita dengan bepergian yang arah tujuanya sangat jelas dan jalan yang ditempuh pun juga bisa diprediksikan. Tapi dalam penulisan ini hanya mengusung penggalan-penggalan tertentu yang menarik. Misalnya pada saat perjalanan dari lamongan ke surabaya seseorang menemukan kejadian tawuran. Lalu 2 km menemui kejadian perayaan natal, dan seterusnya. 5.    Eksplanatory/Backgraunder Features Bentuk ini hanya menyajikan hal-hal yang berada dibelakang kejadikan. Ini arahannya menuju jauh pada sisi yang lebih dalam, dan tak pernah diusung oleh jurnalis. Contonya adalah perkelahian antara si anu dengan si una. Nah, dalam penulisan features bentuk ini seorang jurnalis tidak mengusung kejadian perkelahian yang verbal tapi mengciver sisi latar belakang perkelahian, yaitu bisa dengan menyajikan bagaimana kondisi keluarganya, apakah broken home atau yang lainnya. 6.    How Do It Features Features ini menceritakan tentang penemuan-penemuan baru dalam bidang pengetahuan. Semisal bagaimana cara pengelolahan daun sirih bisa menjadi obat hepatitis A. Atau menemukan cara untuk menghilangkan virus komputer. 7.    Seasonal Features. Bentuk ini banyak menyajikan fakta yang berkaitan dengan moment-moment  tertentu yang sudah pasti. Semisal perayaan Natal, Idul Fitri dan lain sebagainya. 8.    Human Interes Features Dalam penulisan features ini, penulis mengusung fakta yang memiliki nilai tinggi dalam menggesek sisi emosional segmen pembaca. Gugahan empati yang dimiliki dalam usungan kejadian itu. Entah itu kejadian-kejadian yang menimpa korban semisal banjir atau tanah longsor, atau yang lain . Syarat-syarat Features 1.    Pilihan leadnya bebas 2.    News body bebas tapi masih memperhatikan alur 3.    Ending dibuat begitu mengagetkan, atau bisa membuat pembaca ketawa. Tulisan ini ending disebut punch 4.    Bahasa yang dipakai lenggang sehingga tulisan bisa terkesan santai 5.    Menyajikan sisi kedetilan berita serta bangunan suasananya serasa menyasikkan dan menghanyut segmen pembaca.   
Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: