‘Kata’ dan Kuasa

Ungkapan Andrea Hirata dalam novelnya, jangan menyepelekan kata-kata!, karena kata punya kekuatan.
Dalam ungkapan yang lazim kita dengar dalam orasinya Bung Tomo, di depan pergumulan rakyat surabaya, adalah kata Allahu Akbar. kata itulah yang kemudian memacu semangat arek-arek suroboyo dalam gagahnya melawan pandudukan sekutu Inggris waktu itu. meski tangan itu tanpa amunisi, badanya tak kebal senjata, bahkan mereka hanya pegang bambu yang sekarang tidak ada harganya lagi. tapi berkat sang peminpin yang lantang bicara bendera belanda yang berkibar itu berhasil mereka ganti dengan merah putih.
Seperti itu pula yang dilantunkan soekarno, ia punya kata yang khas, yaitu REVOLUSI!. dalam berbagai kesempatan berpidatonya ia tak lupa menyuarakan kata khasnya itu, rakyatnya seakan larut dalam genggap gempita ketika mendengar kata itu. stabilitas politik mampu diredam karena ia banyak mendapat dukungan dari rakyatnya. hanya karena kata revolusi. sebelumnya sang pendahulunya juga punya kata khas nya sama, adalah Tan Malaka, yang selalu mendengungkan kata revolusi, merdeka atau mati, seorang komunis ini memang bukan seorang  orator, tapi kata-kata itu muncul di beberapa tulisanya. di dalam gagasan pertama tentang akan adanya negara INDONESIA.
pada masa pemerintahan Orde Baru, kata Pembangunan acap kali jadi legitimasi kebijakan rezim soeharto. ia punya dasar yang has dalam propaganda politiknya. megawati soekarrno putri, meski dengan suara khas feminisnya, tapi ketika mendengungkan ucapan MERDEKA, seluruh audien yang hadir pun dengan semangatnya menirukan, merdeka!. Gusdur yang menjadi presiden di saat belum stabilnya iklim politik di indonesia, iai punya kaya yang khas “gitu aja kok repot”, seakan rakyat diajak melupakan semua kekacauan negri ini, dan harus memandang kedepan.
Dan IPNU-IPPNU, mungkin tidak akan eksis sampai sekarang, karena kebijakan rezim orde baru yang melarang organisasi apapun dalam lingkup pelajar/sekolah. tapi dari Pelajar ke Pemuda dan ke Pelajar Lagi sesungguhnya hanyalah permainan kata-kata saja. tampa banyak menyimpang dari esensi gejolak akronim yang pernah berubah, sekarang pun tak ada artinya.
kata adalah kuasa, kata bisah memisah, hati-hati berkata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: