Kenapa Pakai ‘Dasi’?

Tahun baru kemarin, kami segenap keluarga IPNU-IPPNU anak cabang Sarirejo mengadakan seremonial tahun baru bersama di Camp Kebanggaan, Dermolemahbang. waktu itu tepat pukul 01.00 WIB. saya bersama rekan Tukhin Kenji, Ali Sabana dan Khoiron Ma’hadi duduk bersama bincang-bincang tanpa arah. lantas diantara kami  ada yang bertanya kenapa orang pakai dasi?. dari beberapa topik pembicaraan hanya satu pertanyaan itu yang belum tuntas terjawab.
Teman saya Ali sabana mengganggap hal itu sebagai ‘pantes-pantesan ae’-di buat perhiasan saja. begitu pun rekan saya khoiron ma’hadi menjawab dengan hal serupa. rekan tukhin kenji yang punya pertanyaan itu melontarkan pada saya. saya pun binggung harus menjawab apa. tapi waktu itu saya bilang, hanya simbol. bagi  rekan tukhin kenji jawaban itu belum eksplisit ‘kurang terperinci’. lantas beliau bertanya simbol apa? simbol formalitas, simbol kerapian dll, jawab saya. sampai pada ujungnya, tidak ada jawaban yang pas untuk bisa diterima saudara tukhin kenji, hingga beliau bilang kapan-kapan kita semua harus cari tau jawabanya.
Bagi saya, dasi hanyalah sebuah simbol. tidak pas rasanya dengan rekan-rekan saya ktika jawaban simbol itu kemudian diperbincangkan lebih lanjut pada waktu itu, karena hanya akan menimbulkan pertanyaan baru yang, disisi lain kita semua waktu itu juga tidak sepaham.

Barang kali disini kita bisa urun rembuk bersama, bahwa dasi iitu bagi saya hanyalah ‘simbol’. dalam ilmu Semiotik- sebutan yang pas untuk seorang Carles Sander Pierce untuk menyebut ilmu bahaasa, atau Semiologi-sebutan untuk Ilmu bahasa Bagi Ferdinand de Soussure. bahasa itu terdiri dari, Bisa dikatakan dualisme, antara penanda dan petanda, sintaksis dan sintagmatis, antara league-beda antara league dengan leanguage-dan parole. petanda dan penanda berati ada  suatu tanda dan ada makna dari yang di tandakan tadi, contoh ada lampu merah, berarti kita harus berhenti berkendara. sintaksis dan sintagmatis berarti adanya kedudukan dalan susunan suatu bahasa. sedangangkan langue dan parole, untuk langue bisa di maknai sistem dimana bahasa itu mendapat pemaknaan, contoh kata jancok di terminal bungurasih dianggap suatu dasah-desuh yang wajar dan tidak begitu menimbulkan effek, lain lagi kalau di pesantren, kata jancok disebut haram dan konsekuensinya bahkan bisa sampai di takzir bagi yang mengucapkan. pendek kata ketika kita berkeluh “aduh” tapi di daerah afrika, semua orang tidak akan mengerti. dari sini bisa kita maknai bahwa bahasa adalah suatu sistem. gandengan league adalah parole, parole di sini bisa kita maknai ketergantungan pada si pemakai, atau dalam bukunya alex sobur, hal ini bisa kita sandingkan dengan istilah “arbitrer’  dimana bisa kita maknai “mana-suka”. belum jelas, begini contohnya, kata  “ADUH” ketika kita ucapkan di afrika selatan misalnya, maka orang tidak akan mengerti, bicara apa orang ini, sedangkan kata “ADUH” jika diucapkan dilingkungan IPNU misalnya, maka bisa jadi rekan yang mendengarkan ucapan kita akan bertanya, ada apa kok mengeluh?. ringkasnya begini bahwa bahasa adalah mana suka-‘tergantung bagi sipemakai’ tapi ada juga menganut suatu sistem, dimana bahasa itu mendapat suatu pemaknaan.
Masih ingatkan pokok dari pertanyaanya diatas? mengapa pakai dasi dan jawaban saya adalah simbol. anggaplah yang di atas adalah kajian teoritis sebelum lebih lanjut mencerna jawaban saya. kita bicara yang global dulu, ada sebuah contoh yang dipakai Ferdinan de Soussure, di negara Aljazair yang merupakan bekas dari jajahan Prancis ada sebuah foto yang bergambar penduduk pribumi aljazair  dibawah bendera prancis kemudian ia tegap dan memberi hormat pada bendera tersebut. dalam diri Soussure hal itu hanyalahsalah satu dari  sebuah propaganda tentara prancis untuk memperbaiki citra buruk negaranya di antara warga pribumi setempat, bahkan kita bisa maknai sebuah legitimasi tindkan koloni prancis atas aljazair. di negara tersebut hal-hal seperti itu yang dipakai dan menyebar luas di seantero aljazair. hal di atas kita tidak mau memperbincangkan politik, tapi bagaimana sebuah sistem pengoperasian sebiuah bahasa.

Logikanya begini, “Dasi”- yang katakanlah assesoris bagi kalanga eksklusif juga pejabat pemerintahan- dalam hal ini bisa kita maknai sebag ai sebuah ‘simbol’, dan simbol merupakan bahasa, sedangkan bahasa sendiri adalah sebuah ‘sistem’ komunikasi yang ‘arbitrer’. setelah mendapati jawaban SIMBOL, maka tidak serta merta kita memposisikanya dalam seluruh aspek lini kehidupan.

Dasi yang dipakai anak sekolah, tentu mempunyai makna yang berbeda dengan dasinya para eksklusif. lehih lanjut dalam  bukunya alex sobur, bahasa adalah sebuah simbol;2001, dijelaskan bahwa ada beberapa unsur dari bahasa, ada alat/ujaran-yang dibahasakan, menganut sistem, arbitrer dan lokalitas.
 Jadi, Kalau kita ditanya, Apa itu dasi? dasi hanyalah sebuah simbol, simbol dimana kita mendapatinya, di kalangan birokrasi bisa jadi menyimbolkan antara pimpinan dan bawahan, kalangan eksklusif tentu dirinya ingin tampil beda dengan pengangguuran, sedangkan pemerintah yang ingin rakyatnya semua sekolah, maka mereka menyarankan sekolah agar siswanya memakai dasi, tentu ini sebagai ‘posisioning’-penempatan posisi- saja agar anak yang sekolah tampil beda dengan anak gelandangan sehingga anak yang tidak pakai dasi merasa minder. CEO lestoran ternama tentu ingin tempat makanya dianggap eksklusif dan berbeda dengan pedagang kali lima yang aa di jalanan karenanya pramusajinya disuruh memakai dasi.
Tentu kita masi inggat sejarah, kektika Mbah HASYIM mencanangkan Refolusi Jihad, dengan semboyang hubbul wathon minan iman. salah satu siasat yang dipakai adalah simbol yang membedakan antara bangsa koloni dengan pribumi adalah SARUNG, sarung yang mayoritas dipakai pribumi kita terutama kaum santri disisilain celana banyak dipakai bangsa koloni, meskipun kelihatanya sepele tapi siasat tersebut salah satu yang berperan dalam mengusir penjajahan di atas bumi kita tercinta ini. dengan Dasar, “barang sipa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk golongannya’.

Akhirnya ini adalah jawaban dari satu perspektif semata. yakni dari pespektif semeotik/semiologi, kajian atas dasar pemaknaan dari sebuah ikon, simbol dan bahasanya saja. banyak aspek lain, budaya ekonomi politi  agama dll yang sama sekali belum tersentuh. di sini saya masih ingggat slogan dari rektor saya, “TIDAK ADA KEBENARAN TUNGGAL”.  wallahulmuwafiq ilaa aqwamithariq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: