PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATA PELAJARAN SOSIOLOGI DI KELAS 3 IPS SMAN 10 MALANG DAN KELAS 3 IPS SMA TAMAN MADYA MALANG MELALUI METODE BELAJAR KOOPERATIF

Penelitian Tindakan Kelas

    ABSTRAK
    NikenSantjojo, Woro Suhartati, Rr.Sugiartari
    Kata Kunci: Metode BelajarKooperatif
    Penelitian iniadalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pemahamansiswa terhadap mata pelajaran sosiologi di kelas 3 IPS SMAN 10 dan Kelas 3 IPSSMA Taman Madya Malang. Metode Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakanempat langkah penilaian dengan rencana tindakan. Hasil Penelitian ini adalah:Siklus I, hasil obsevasi menunjukkan bahwa guru telah cukup baik mengelolapemebelajaran kooperatif, ditinjau dari kualitas belajar mengajar dapatdikatakan cukup baik, nilai rata-rata pada siklus I  SMAN 10 Malangadalah 7.33 dan SMA Taman Madya Malang 6,13. Siklus II, nilai rata-rata pada siklus I  SMAN 10 Malangadalah 7.85 dan SMA Taman Madya Malang 7,05, dan hasil observasi sebagaiberikut: 1) presentasi siswa yang secara aktif dalam diskusi kelompok dandiskuksi kelas lebih banyak  2) jumlahsiswa yang mau menyelesaikan tugas ke depan pada saat diskuksi kelas lebih, 3)penyelesaian tugas di dalam kelompok tidak lagi didominasi oleh siswa yangpandai saja tetapi lebih merata. Kualitas proses belajar mengajar pada siklusini lebih baik dari pada kegiatan belajar mengajar pada siklus I. Sedangkankualitas hasil belajar juga mengalami peningkatan..Hasil respon siswa setelahsekitar 6 kali pertemuan menunjukkan sebagian besar SMAN 10 Malang dan SMATaman Madya Malang (45%) siswa merasa senang dan tidak membosankan. PersepsiSiswa terhadap Kegiatan Belajar Mengajar diperoleh hal sebanyak 85% siswamerasa senang dengan kegiatan belajar yang diikuti, harapan yang diinginkan:penjelasanguru mudah dipahami, banyak hal-hal baru yang menyenangkan. 85% siswa merasadapat mengerjakan sebagian besar soal, dan cara mengajar seperti ini agarditerapkan pada pelajaran lain


    BAB I
    PENDAHULUAN
    A. Latar Belakang Masalah
    IlmuSosiologi merupakan salah satu cabang ilmu social yang harus disampaikan padasiswa SMA mulai kelas 1 sampai kelas 3 terutama kelas 3 IPS. Banyak materi yangharus dikuasai oleh siswa, diantaranya materi Penelitian Sosial. Penelitianmerupakan sarana untuk mengembangkankehidupan manusia modern. Oleh karenanyamateri penelitian social ini dapat dikatakan telah menjadi bagian hidup manusiayang inginmaju dan terpelajar, sehingga topik-topik bahasan mulai dari penyusunanrancangan penelitian, pengumpulan data sampai pada pembuatan laporan penelitiansocial menjadi sangat penting untuk dicermati.
    Untukmenyampaikan materi ilmu sosiologi tersebut dan agar siswa memperolehpenguasaan materi yang memadai, guru mengalami banyak kesulitan, sehinggaprestasi belajar yang diperoleh siswa belum memuaskan. Berdasarkan rekamanhasil belajar pelajaran sosiologi di kelas 3 IPS SMAN 10 dan kelas 3 IPS SMATaman Madya Malang menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa masih rendah.Beberapa indicator yang menunjukkan rendahnya kualitas proses belajar mengajaryang ditandai dengan minimnya jumlah pertanyaan yang diajukan atau siswa yangmau menjawab pertanyaan guru. Rendahnya kualitas proses belajar dan hasilbelajar siswa tersebut dipengaruhi oleh banyak factor, salah satunya adalahmetode atau pendekatan yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.Selama ini penyampaian materi pelajaran oleh guru dilakukan dengan metodeceramah, sehingga proses pembelajaran terpusat pada guru dan siswa bersifatpasif.
    Metodekooperatif sangat cocok digunakan untuk mengajarkan materi penelitian social.Metode pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis strategi pembelajaranyang menerapkan interaksi kelompok teman sebaya (Damon dan Pelps, 1989). Dalamstrategi ini siswa dikelompokkan secara heterogen dengan pola anggota seorangsiswa dengan pemahaman tinggi, seorang siswa dengan pemahan rendah dan dua atautiga siswa dengan pemahaman rata-rata, sehingga akan terjadi interaksi dankomunikasi di antara anggota kelompok.
    Pembelajarankooperatif merupakan model pembelajaran yang didalamnya siswa bekerjabersama-sama untuk mencapai tujuan khusus atau menyelesaikan sebuah tugas.Dalam metode kooperatif nampak adanya komponen-komponen utama yang merupakanbagian integral dari setiap model pembelajarannya. Pertama metodekooperatif  mengajak siswa bekerjabersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, mengerjakandan melengkapi benda kerja. Kedua, pengaturan siswa dalam kelompok kecil yangheterogen menantang siswa untuk saling membantu, berbagai tugas dan mendukungbelajar teman lainnya dalam kelompok. Ketiga, adanya saling ketergantunganposistif diantara anggota kelompok. Keempat, penumbuhan rasa tanggung jawabuntuk belajar dan bekerjasama. Kelima terjadinya pemrosesan kelompok dalambelajar.
    Denganmemperhatikan beberapa keuntungan metode kooperatif, penulis berkeinginanmencoba menerapkannya dalam pembelajaran sosiologi pada siswa kelas 3 IPS SMAN10 Malang dan siswa kelas 3 IPS SMA Taman Madya Malang dalam upaya untukmeningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran sosiologi terutama padamateri penelitian social.
    B. Perumusan Masalah
                Permasalahan penelitian inidirumuskan sebagai berikut:
    Apakahpenggunaan metode  kooperatif dapatmeningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran sosiologi di kelas 3 IPSSMAN 10 dan Kelas 3 IPS SMA Taman Madya Malang?
    C. Tujuan Penelitian
                Tujuan penelitian ini adalah untukmeningkatkan pemahamansiswa terhadap mata pelajaran sosiologi di kelas 3 IPSSMAN 10 dan Kelas 3 IPS SMA Taman Madya Malang.
    D.Manfaat hasil Penelitian
    1. Bagi Guru
        a. Membantu dalam mengatasi kesulitanproses belajar mengajar dikelas yang berbeda-
             beda karakter dan kemampuan siswa.
         b. Membantu peningkatan kemampuanprofessional guru.
         c. Membantu memperbaiki systempembelajaran dikelas.
         d. Membiasakan guru untuk melakukanpenelitian tindakan kelas dari waktu ke waktu.
    2. Bagi Siswa.
         a. Memahami materi dengan lebih baik,cepat dan tidak membosankan.
         b. Memiliki pengetahuan yang sesuai danberkesinambungan dari hal;hal yang sudah   
             pernah diketahui sebelumnya.
         c. Memperbaiki performasi siswa danmeningkatkan prestasi belajar siswa.
    3. Bagi Sekolah
        Memberikan sumbangan yang baik dalam rangkaperbaikan proses pembelajaran pada
        umumnya.
    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA
    A. Metode Kooperatif
                Metode kooperatif (cooperative learning) merupakan salahsatu metode yang bernuansa pada pendekatan konstruktivisme yaitu mengutamakan student centered.
                Dalam metode cooperative siswabelajar bersama saling menyumbangkan pikiran bertanggung jawab terhadappencapaian hasil belajarsecara individu dan kelompok ( Slavin, 1991). Metodeini berpandangan bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahamikonsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konseptersebut dengan teman sebaya (Slavin, 1994)
    Beberapa halyang perlu diperhatikan dalam penerapan metode kooperatif adalah : 1)  bentuk kelompok (jumlah anggota kelompok,tingkat kemampuan anggota kelompok, 2) konsep dan sub konsep yang akandiajarkan, 3) tugas yang harus dilakukan siswa, 4) tujuan pembelajaran yangingin dicapai, 5) ketrampilan dan strategi yang akan dilatihkan dan 6) metode  evaluasi yang digunakan.
                Metode kooperatif ditandai denganadanya tugas-tugas bersama yang kemudian di terjemahkan menjadi tujuan yangharus dicapai oleh kelompok. Adanya pembagian tugas dalam kelompok baik tugasindividu maupun tugas kelompok, adanya kerjasama dalam arti bahwa criteriautama keberhasilan ditentukan pada prestasi bersama dalam kelompok. Kelompokyang efektif ditandai dengan suasana yang hangat dan produktivitasnya yangtinggi dalam pemenuhan tugas-tugas tanpa adanya anggota kelompok yang dikorbankanditonjolkan. (joni dan Unen, dalam Suhartadi, 2002). Dengan belajar kelompokdiharapkan adanya keuntungan kognitif dan keuntungan social, karena siswa dapatmengklasifikasikan pemahamannya sendiri dan saling bertukar pendapat satu samalainnya ketika mereka berinteraksi dalam kelompok belajar.
                Dalam metode belajar kelompok perluadanya rasa tanggung jawab individual terhadap penguasaan materi pelajaran. Halini perlu untuk memaksimalkan belajar akan situasi belajar kerjasama. Secarakhusus para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang heterogen selamakegiatan belajar siswa berperan sebagai sumber belajar antara siswa satu denganyang lainnya, berbagi dan mengumpulkan informasi, saling membantu untukkemajuan anggota kelompok. Metode ini memberikan ide bahwa siswa bekerjasamauntuk belajar dan bertanggung jawab atas pelajaran anggota kelompok lainsebagaimana terhadap diri sendiri.
                Pada dasarnya inti dari metodekooperatif adalah saling ketergantungan positif antara anggota kelompok,disamping itu situasi pembelajaran secara kelompok diwarnai oleh tanggung jawabindividu, dimana setiap siswa bertanggung jawab dalam mempelajari  materi yang diberikan dan membantu kelompoklain untuk belajar, adanya interaksi dua arah antar siswa dan dapat menggunakanketrampilan interpersonal dan ketrampilan kelompok dengan tepat.
    B. Teori konstruktivisme
                Teori konstruktivisme menyatakanbahwa siswa/siswi harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasikompleks, mengecek informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah ada danmenyesuaikannya apabila tidak sesuai (Slavin, 1994). Bagi siswa agarbenar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, maka mereka harus memecahkanmasalah, menemukan sendiri segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha denganide-idenya.
                Salah satu prinsip yang palingpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedarmemberikan pengetahuan kepada siswa. Peranan penting guru adalah menyediakansuatu suasana dimana siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya didalambenaknya. Guru dapat memberikan fasilitas untuk proses ini dengan memberikankesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri danmembelajarkan siswa agar secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untukbelajar. Guru dapat memberikantahap-tahap yang membawa ke pemahaman yang lebihtinggi, dengan catatan siswa yang menemukan atau mendapatkan pemahaman tersebut(Slavin, 1994).
    C. Penelitian Tindakan Kelas
                Penelitian tindakan kelas (classroomaction research) dapat diartikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifatsuatu refleksi oleh guru untuk meningkatkan kemampuan/kemantapan rasional dalammengajar, memahami terhadap tindakan-tindakan yang telah dilakukan untukmemperbaiki kualitas proses belajar mengajar berikutnya. Penelitian tindakankelas dilakukan dalam bentuk kegiatan bersiklus yang terdiri dari empat tahapyaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
                Setelah dilakukan refleksi(analisis, sintesis, dan penilaian) terhadap hasil observasi biasanya munculpermasalahan atau pemikiran baru yang perlu diperhatikan sehingga akan munculperencanaan ulang, tindakan ulang, observasi ulang, dan refleksi ulang. Keempatkegiatan terus dapat terus berulang sesuai dengan temuan baru yang ditemui.

    D. Rencana Tindakan

                Penelitian ini menggunakan rancangan  penelitian tindakan kelas (classroomaction research) yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalambeberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu performance guru,interaksi guru- siswa, interaksi antar siswa untuk dapat men jawab permasalahanpenelitian.
                Penelitianini dibagi dalam dua siklus yang disesuaikan dengan alokasi waktu dan topikyang dipilih. Masing-masing siklus terdiri dari empat langkah (Kemmis dan McTaggart, 1988) berikut: a) perencanaan, yaitu merumuskan masalah, menentukan tujuandan metode penelitian serta membuat rencana tindakan, b) tindakan, yang dilakukan sebagai upaya perubahan yang dilakukan, c) observasi, dilakukan secara sistematis untuk mengamati hasil atau dampak tindakanterhadap proses belajar mengajar, dan d) refleksi, yaitu mengkajidan mempertimbangkan hasil atau dampak tindakan yang dilakukan.
    BAB III
    METODE PENELITIAN
    A.Setting Penelitian
                Penelitian tindakan kelas (PTK) inidilaksanakan di dua tempat yaitu di SMAN 10 dan SMA Taman Madya Malangmasing-masing dikelas :
    1. Kelas 3 IPS SMAN 10 Malang
    2. Kelas 3 IPS SMA Taman Madya  Malang
    B. Persiapan Penelitian
                Untuk memperlancar penelitiantindakan kelas (PTK) ini peneliti menyiapkan materi tentang “ PenelitianSosial”
    C. Langkah Penelitian
                 Penelitian tindakan kelas (PTK) inimenggunakan empat langkah penilaian dengan rencana tindakan seperti tersebutdibawah ini,
    Langkah pertama:
    1. Pendahuluan
             Siswa diberi permasalahan penelitian social
             Siswa  dapat mengelompokkan/ memilah-milah materi penelitian
             Siswa mampu memahami langkah-langkah yang harusdikerjakan dalam penelitian social
             Siswa dapat memilih/menentukan topic apa yang akandijadikan bahan penelitian.
    1. Langkah Utama
             Siswa membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5 orang
             Siswa menetukan topic penelitian
             Siswa membuat rancangan penelitian
             Siswa melaksanakan tugas penelitian
             Siswa menyampaikan hasil penelitian melalui diskusikelas
    1. Langkah Penutup
             Siswa memberikan tanggapan pada tiap-tiap kelompok lewatpresentasi
             Guru memberikan penilaian terhadap hasil penelitian danhasil presentasi tiap-tiap kelompok.
    Langkah Kedua:
                Pelaksanaan langkah kedua menungguhasil dari refleksi langkah pertama   
    Langkah Ketiga:
                Pelaksanaan langkah ketiga menungguhasil dari refleksi langkah kedua   
    D. Pembentukan Instrumen
                Untuk mendapatkan data yang validdan akurat dari siswa, guru , kolaborator dan proses kegiatan belajar mengajar(PBM) peneliti menggunakan instrument yang berupa:
    1. Wawancara
    2. Kuesioner
    3. Catatan langkah:
      1. Persiapan,
      2. Pelaksanaan,
      3. Penilaian.
    4. Catatan dilapangan
    5. Lembar evaluasi (authentic assessment)
    6. Lembar observasi
    E. Analisis dan Refleksi
     Data yang tercatat dalam tiap lingkunganmeliputi:
    1. Data hasil pemahaman dan penelitian siswa di bandingkan setiap siswa
    2. Data hasil penyusunan penelitian tersebut dengan baik
    3. Data hasil setiap siswa
    Data –datadiatas akan dianalisis secara berkala setiap langkah. Hal ini bertujuan untukmengetahui hasil yang sebenarnya berdasarkan tujuan kegiatan belajar mengajar(KBM) yang hendak dicapai, sebagai tujuan akhir dengan harapan kekurangan yangkita temukan dapat diatasi sehingga pada refleksi berikutnya kita dapatkanpembelajaran penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan.


    BAB IV
    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    I.                  SIKLUS PETAMA

    a.      Perencanaan
    Peneliti merencanakan tindakan berdasarkan tujuanpenelitian. Beberapa perangkat yang disiapkan dalam tahap ini adalah : bahanajar, program satuan pelajaran, rencana pembelajaran, tugas-tugas kelompok danlembar observasi.
    Diharapkan dalam kegiatan belajar mengajar akanterjadi interaksi antara guru dan siswa, interaksi antar siswa untuk dapatmenjawab permasalahan penelitian.
    Siswa diberitahu bahwa kegiatan belajar mengajaryang akan dilakukan adalah menggunakan metode belajar kooperatif, kemudianmenjelaskan kepada siswa tentang metode belajar koopertif (di SMAN 10 dan SMATaman Madya Malang belum pernah di terapkan metode kooperatif)
    b.     Pelaksanaan
                Dilaksanakanpada tanggal 22-8-2005 sampai dengan 9-9-2005 sebanyak 51 kali pertemuan.
    Materi yang dipelajari:
    Pokok bahasan:
    1.     Penyusunan rancangan penelitian sosial
    2.     Pengumpulan data
    Pada tahap ini dilakukanimplementasi model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 6 fase antaralain:
    Fase 1. Pendahuluan
                -Menetapkan dan menjelaskan tujuan pembelajaran.
                Menjelaskan kepada siswa proseskooperatif yang akan di gunakan, tujuan belajar dan mengkaitkannya denganpengetahuan awal siswa.
                -Menetapkan tingkah laku dari interaksiantara siswa yang 
                  diharapkan
    Fase 2. Penyajian informasi (garis besar materi pelajaran)
                –Menyajikaninformasi tentang penelitian sosial
    -Tahap-tahapyang harus dilaksanakan dalam penelitian sosial
    -Padasiklus 1 ini terutama tentang penyusunan rancangan 
      penelitian sosial dan pengumpulan data.
    Fase 3. Mengatur siswa ke dalam kelompok belajar
    1.     Mengatur kelompok-kelompok yang terdiri dari 6-7orang 
    secaraheterogen berdasarkan kemampuan intelektual dan jenis kelamin. Dalam setiap kelompokharus ada siswa dengan tingkat intelektual tinggi, sedang dan rendah.
    2.     Mengatur peran setiap anggota kelompok dalamkelompoknya.
                             Fase 4. Membantu siswabekerja dan belajar dalam kelompok
                                         – Membantusiswa dalam kegiatan kelompok untuk menyelesaikan
                                            tugasdan membantu dalam berinteraksi dan berkolaborasi  
                                            dengansesama anggota kelompok agar kelima komponen pembelajaran kooperatif nampak, yaitu: interaksi tatap muka, tanggungjawab individu, saling ketergantungan positif, ketrampilan berkomunikasi antarindividu dan kelompok dan proses kelompok.
                        Fase 5. Memberikan tes
             Tes diberikan secara individu dan tidak di perkenankanuntuk saling bekerjasama. Penilaian dilakukan oleh guru/ fasilitator dan skorpenilaian kelompok di dasarkan atas skor individu.
                         Fase 6. Memberikan penghargaan pada kelompok
             Penghargaan untuk kelompok bisa berupa benda, status,
          sanjungan/ pujian dan sebagainya.
    c. Pengamatan
          Selama tahap pelaksanaan penelitimelakukakan observasi terhadap ketrampilan kooperatif yang dilatihkan kepadasiswa-siswa dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan(lampiran).
    Hasilobservasi menunjukkan bahwa pada awal penerapan model pembelajaran ini,ketrampilan kooperatif siswa masih kurang (lampiran), terutama pada siswa SMATaman Madya Malang mengingat kondisi dan input siswa lebih rendah biladibandingkan dengan SMAN 10 Malang.
    Beberapahal yang menjadi penyebabnya di duga antara lain:
    1.     siswa belum terbiasa melaksanakan diskusi
    2.     siswa belum siap terhadap materti yang dipelajari  karena siswa belum mempelajari materi yangsedang dipelajari ( siswa terbiasa mengandalkan penjelasan materi dari guru).Meskipun pada pertemuan sebelumnya telah diberikan tugas membaca materi yangakan dipelajari, tetapi sebagian besar siswa tidak melakukannya. Penyelesaiantugas kelompok hanya dilakukan oleh satu atau dua siswa yang pandai dan siswayang kurang pandai hanya memperhatikan saja. Jadi adanya saling ketergantungandiantara anggota kelompok belum terjadi. Berdasarkan hasil observasi padapertemuan pertama tersebut, maka sebelum dilakukan pertemuan kedua siswadiingatkan kembali tentang pembelajaran koopertif terutama bagaimana peranananggota kelompok pada diskusi kelompok. Kegiatan belajar pada pertemuan kedua,ketiga, keempat dan kelima berangsur-angsur semakin baik, tetapi masih adabeberapa kelompok yang dalam penyelesaian tugasnya sangat tergantung padaanggota kelompok tertentu (yang pandai), sehingga apabila anggota kelompoktersebut absen maka kegiatan kelompok/ penyelesaian tugas menjadi sangatlambat. Ada  satu hal yang menarik yangteramati bahwa pemberian pujian kepada kelompok yang terbaik sangat memotivasikelompok – kelompok untuk bekerja secara sungguh-sungguh, sehingga terciptaiklim kompetisi yang sangat baik.
    Pengelolaan pembelajarankooperatif yang dilakukan oleh guru di observasi menggunakan format sepertipada lampiran. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah cukup baikmengelola pembelajaran kooperatif, meskipun nampaknya guru merasa agak beratuntuk membimbing siswa dalam kegiatan kelompok, karena pada awal kegiatan  banyak kelompok yang tidak dapat bekerjasebagaimana yang di harapkan.
       Ditinjau dari kwalitas proses belajarmengajar dapat dikatakan cukup baik, karena secara berangsur-angsur siswa tidaklagi hanya mengandalkan penjelasan guru tetapi berusaha memahami materi yangdipelajari dalam diskusi kelompok atau diskusi kelas.
       Ditinjau dari kwalitas hasil belajarmenunjukkan hasil yang masih beragam.
       Nilai rata-rata pada siklus I di SMAN 10adalah 7,33 dan di SMA Taman Madya adalah 6,13.
               d. Refleksi
          Berdasarkan hasil evaluasi secara umumdiketahui bahwa kendala utama pada penerapan metode belajar kooperatif adalahsiswa belum siap terhadap materi yang akan dipelajari. Sebagian besar siswabelum membaca terlebih dahulu materi yang ditugaskan untuk dipelajari. Akibatnya dalam kegiatan kelompokmemerlukan waktu yang lebih lama karena siswa harus membaca dahulu sebelummenyelesaikan tugas kelompok, sehingga ketrampilan kooperatif siswa belumnampak, hal ini terlihat pada waktu diskusi kelompok, dimana masing-masingsiswa mempresentasikannya di depan kelas, sedangkan hasil kegiatan kelompoksudah lebih baik jika dibandingkan dengan hasil ulangan, yang menunjukkan nilaiyang beragam.
          Untuk mengatasi kelemahan/kendala yang adapada siklus I maka pada siklus II siswa diberi tugas membaca dan diadakanpretest sebelum kegiatan belajar dimulai. Dengan adanya pretest tersebutdiharapkan siswa telah mempersiapkan diri (membaca materi pelajaran) sebelumkegiatan belajar mengajar.
    II.               SKLUS KEDUA
    a.     Perencanaan
                      Padasiklus kedua dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama, hanya perluadanya perencanaan tes ulang berdasarkan hasil yang diperoleh pada sikluspertama..
                      Dari hasil siklus pertamaterlihat adanya kendala utama yaitu siswa belum siap terhadap materi yang akandipelajari, sehingga  pada perencanaansiklus kedua perlu adanya usaha agar siswa bisa lebih siap. Maka penelitimenyiapkan pretest, yang bertujuan agar siswa mau mempelajari materi yang akandi pelajari sehingga kegiatan pembelajaran kooperatif dapat berlangsung lebihbaik.
    b.     Pelaksanaan
             Dilaksanakan pada tanggal 12-9-05 sampai dengan30-9-2005
             Materi yang dipelajari
    PokokBahasan:
    1.     Pengolahan Data
    2.     Penulisan Laporan
    Padapelaksanaan siklus kedua ini tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama hanyaperlu adanya pretest agar siswa lebih siap mempelajari materi yang akandipelajari.
                          c. Pengamatan
                                            Hasilobservasi terhadap ketrampilan kooperatif siswa
                               diperoleh hal-halsebagai berikut:
     – Presentasi siswa yang secara aktif dalamdiskusi kelompok dan diskusi    
    kelas lebih banyak (sebagian besar siswa berprtisipasi aktif dalam kegiatan kelompok) terutama padasiswa SMAN 10 yang kwalitasnya lebih baik bila dibandingkan dengan siswa SMA Taman Madya Malang, sedangkan padasiswa SMA Taman Madya Malang, juga ada peningkatan tapi tidak signifikan.
    – Jumlah siswa yang maumenyelesaikan tugas ke depan  pada saatdiskusi kelas lebih banyak (salah satu motivasinya agar kelompoknya menjadikelompok terbaik).
    – Penyelesaian tugas didalamkelompok tidak lagi didominasi oleh siswa yang pandai saja, tetapi lebihmerata.
    – Kuwalitas proses belajarmengajar pada siklus ini lebih baik dari pada kegiatan belajar mengajar padasiklus pertama
                            – Kualitas hasil belajar jugamengalami peningkatan rata-rata nilai di
                               SMAN 10 adalah 7,85sedangkan di SMA Taman Madya adalah 7,05.
                            – Hasil pengamatantentang respon siswa terhadap penggunaan model  
    pembelajaran ini setelah sekitar 10 kali pertemuanmenunjukkan bahwa sebagian  siswamengalami kejenuhan.
    c.       Refleksi
                      Darihasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan pada pelaksanaan pembelajarankooperatif yaitu terlihat dari kualitas proses belajar mengajar. Akan tetapidisamping metode ini bisa merubah siswa yang semula pasif menjadi aktifsehingga memudahkan siswa untuk memahami materi pada pelajaran sosiologi,ternyata kalau digunakan dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkankejenuhan pada siswa ini terungkap dalam angket untuk siswa (diuraikan padabagian persepsi siswa terhadap kegiatan belajar mengajar). Oleh karena itupenggunaan model pembelajaran ini dalam jangka waktu yang lama nampaknya perludihindari, dan sebaiknya di variasi dengan model pembelajaran lain yang relevan( dengan karakteristik siswa dan materi yang dipelajari)
    C. PERSEPSI SISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR   
                Pada akhir siklus kedua diberikan angket kepada siswadengan tujuan mengetahui respon siswa terhadap penggunaan model pembelajarankooperatif (angket di sajikan dalam lampiran). Berdasarkan hasil rekap terhadapangket yang terkumpul diperoleh hal-hal sebagai berikut:
    1.     Sebanyak 45% siswa merasa senang dengan kegiatanbelajar yang diikuti, Alasan siswa yang menjawab senang antara lain:
    a.      gurunya menyenangkan
    b.     soal-soal ulangan sesuai dengan yang diajarkan
    c.      mendapat kesempatan bekerja dalam kelompok
    d.     banyak kesempatan berdiskusi
    e.      suasana kelas menyenangkan
    f.      banyak memperoleh kesempatan berbicara, mengeluarkanpendapat, atau bertanya kepada guru dan teman
    g.     banyak hal – hal yang baru dan menyenangkan yang belumpernah atau jarang saya alami pada pelajaran lain yang pernah saya ikuti.
    2.     Sebanyak 15 % siswa menjawab tidak senang. Alasan siswayang menjawab     
          tidak senang antara lain:
    a.      menerangkannya tidak jelas, banyak yang belumdimengerti
    b.     soal-soal yang diberikan terasa asing
    3.     Sebanyak 40 % siswa menjawab biasa-biasa saja,
    4.     Beberapa jawaban siswa terkait dengan pendapat danharapan yang diinginkan terhadap pelajaran  Sosiologi antara lain:
    a.      penjelasan guru mudah dipahami
    b.     banyak hal-hal baru yang menyenangkan
    c.   85% siswa merasa dapatmengerjakan sebagian besar soal ulangan, dan
          15% merasa tidak dapatmengerjakan soal ulangan
    d.cara mengajar seperti ini agar diterapkan pada pelajaran lain.
    5.     Beberapa komentar siswa terhadap kegiatan belajar yangtelah diikuti:
    a.      ketika dilakukan diskusi sebaiknya ada penjelasan dariguru
    b.     guru hendaknya memberikan catatan
    c.      waktu untuk mengerjakan ulangan terlalu pendek dansoalnya terlalu banyak
    d.     belajar dengan system kelompok baik, tapi siswa yangpandai kurang memberikan kesempatan pada siswa yang kurang dengan tujuan agartugas cepat selesai.
    e.      Pembagian kelompok sebaiknya dipilih sendiri oleh siswa
    f.      Merasa senang dengan model ini tetapi tidak untuksetiap tatap muka.
    BAB V
    KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikanpada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
    Penggunaan metode belajarkooperatif dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pelajaransosiologi siswa kelas 3 IPS SMAN 10 dan siswa SMA Taman Madya Malang.
    Pada penggunaan metode ini peran guru tidak lagi sebagai satu-satunyasumber informasi tetapi lebih banyak sebagai fasilitator untuk membimbing siswadalam diskusi kelompok dan diskusi kelas, sehingga kegiatan pembelajaranterpusat pada siswa ( student centered)
    Penggunaan metode kooperatifmeningkatkan kualitas hasil belajar sosiologi siswa kelas 3IPS SMAN 10 dansiswa SMA Taman Madya Malang (terjadi peningkatan rata-rata hasil test darisiklus I ke siklus II).

    Saran- Saran.

                            Beberapa saran yang diajukan terkaitdengan hasil pembelajaran ini
                 adalah:
    1.     Perlu dilakukan penelitian tindakan sejenis untukmateri sosiologi yang lain
    2.     Untuk menghindari kebosanan siswa, sebaiknya penggunaanmodel ini di variasi dengan metode pembelajaran lain yang relevan.
    3.     Mengubah paradigma dan behaviorisme kekekonstruktivisme bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu guru harus bersabardan memulai sedikit-demi sedikit.
    4.     Penggunaan metode pembelajaran ini umumnya memerlukanwaktu yang lebih lama khususnya bagi pemula, sehingga guru harus mempersiapkandiri lebih baik.
    5.     Perlu dicari bentuk – bentuk hadiah yang menarik bagisiswa untuk menjaga agar motivasi siswa tetap tinggi dalam mengikuti kegiatanbelajar mengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: