Strategi Joyfull Learning (belajar menyenangkan)

1.      Pengertian Joyfull Learning.
Disini akan dijelaskan Joyfull Learning berasal dari kata joyfull yang berarti menyenangkan sedangkan learning adalah pemberlajaran.[1] Dave Meier menyatakan bahwa belajar menyenangkan (joyfull learning)  adalah sistem pembelajaran yang berusaha untuk membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri siswa.[2]
Menurut Paulo Fraire, Joyfull Learning adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.
Menurut bambang yulianto: Joyfull Learning yaitu membuat kelas jadi menyenangkan, jangan monoton.[3] Sedangkan menurut yanu armanto; Joyfull Learning yaitu pendekatan yang dapat membuat siswa memiliki motivasi untuk terus mencari tahu, untuk terus belajar.[4]
Maka joyfull learning adalah pendekatan yang digunakan oleh pengajar dalam hal ini adalah guru untuk membuat siswa lebih dapat menerima materi yang disampaikan yang dikarenakan suasana yang menyenangkan dan tanpa ketegangan dalam menciptakan rasa senang. Penciptaan rasa senang berkait dengan kondisi jiwa bukanlah proses pembelajaran tersebut menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Dan menyenangkan atau mengasyikkan dalam belajar dikelas bukan berarti menciptakan suasana huru-hara dalam belajar di kelas namun kegembiraan disini berarti bangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan siswa.  
Pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) bukan semata-mata pembelajaran yang mengharuskan anak-anak untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada tekanan. Yang ada hanyalah jalinan komunikasi yang saling mendukung.[5]
 Belajar sendiripun menurut para ahli berbeda-beda dalam mengemukakan definisinya. Namun, tampaknya ada semacam kesepakatan diantara mereka yang menyatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perbuatan tersebut bersifat internasional, positif, aktif dan efektif fungsional.[6]
Sifat internasional berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan. Sifat positif berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, disamping itu menghasilkan sesuatu yang ru yang lebih baik dibandingkan yang telah ada sebelumnya. Sifat aktif disini berarti perubahan yang membangun suasana yang mengembangjkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya dan tidak tergantung pada guru. Sifat efektif berarti perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relatif tetap serta dapat direproduksikan atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.
Seperti halnya ungkapan yang dipromosikan oleh Mihaly Csikszentmihalyi ”Syarat bagi pembelajaran yang efektif adalah dengan menghadirkan lingkungan seperti masa kanak-kanak”. (bukan ”kekanak-kanakkan”)  melainkan yang mendukung dan menggembirakan (”bermain”). Dan lebih lanjutnya Csikszentmihalyi katakan ”Selama beberapa tahun pertama kehidupan, setiap anak adalah ”mesin belajar” kecil yang tidak kenal lelah mencoba lagi gerakan-gerakan baru, kata-kata baru, setiap hari. Perhatikanlah dengan saksama, pusatkanlah pada wajah seorang anak tatkala belajar ketrampilan baru.[7] Apa yang mereka perhatikan adalah indikasi dari ”rasa senang”-nya. Dan setiap pembelajaran yang menyenangkan menambah kompleksitas perkembangan diri anak tersebut.
2.      Tujuan Pembelajaran Joyfull Learning.
Sebelum dikenakan pada tujuan pembelajaran joyfull learning  lebih dulu mengetahui tujuan pendidikan nasional sesuai undang-undang no.02 untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[8]
Siswa akan terdorong untuk terus belajar jika pembelajaran diselenggarakan secara nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa terlibat secara fisik dan psikis. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi pembelajran yang sesuai dengan minat dan kecerdasan siswa. Guru juga perlu memberikan penghargaan bagi siswa yang berpartisipasi. Penghargaan dapat bersifat material dan penghargaan, nilai, penghargaan applaus.[9]
Sedangkan tujuan dari pembelajaran yang menyenangkan sendiri adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar dari pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia.[10]
Proses pembelajaran yang menyenangkan disini bisa dilakukan dengan: pertama dengan menata ruangan yang apik menarik yaitu dengan memenuhi unsur kesehatan, misalnya dengan pengaturan cahaya, ventilasi serta memenuhi unsur keindahan dengan dipasang karya siswa. Kedua melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber pembelajran yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.[11]
Seperti yang telah dijelaskan pula dari quantum learning sendiri bahwa belajar itu haruslah mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekan dengan baik.
Dengan adanya pembelajaran menyenangkan (joyfull learning) ini maka pesera didik tidak hanya dikurung di dalam ruang kelas belajar saja, tetapi juga belajar di luar ruangterbuka atau Auditorium dengan arena bermain edukatif. Menjadikan pelajaran yang selama ini abstrak menjadi konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Penerapan Joyfull Learning
Joyfull Learning dapat dilakukan dengan memotivasi tumbuhnya harga diri yang positif kepada anak dan memberikan lingkungan dan kondisi yang tepat untuk semua anak. Dengan kata lain, semua anak merasakan bahwa:
1.            Kontribusi mereka sekecil apa pun dihargai;
2.            Mereka merasa aman (fisik dan psikis) dalam lingkungan belajar;
3.            Gagasan mereka dihargai
Dengan kata lain anak harus dihargai apa adanya. Mereka harus merasa aman, bisa mengekspresikan pendapatnya, dan sukses dalam belajarnya. Keramahan inilah yang membantu anak-anak menikmati belajar dan guru bisa memperkuat rasa senang ini melalui penciptaan kelas yang lebih “menyenangkan”. [12]
Oleh karena itu guru diharapkan untuk tidak membatasi argumen siswa, karena dengan mendengarkan argumen siswa merasa lebih diperhatikan dan merasa nyaman berada di kelas. Selain itu penataan kelas juga bisa membuat siswa merasa nyaman dan senang berada di dalam kelas.
4. Teknik model belajar Joyfull Learning di sekolah:
Teknik joyfull learning yang diterapkan dalam sekolah dapat dipilih kedalam empat bagian, pertama teknik persiapan, kedua teknik penyampaian, ketiga teknik pelatihan, keempat teknik penutup.[13] Adapun penjelasannya sebagai berikut.
a.   Teknik persiapan
Tahap persiapan berkaitan dengan persiapan siswa untuk belajar. Tanpa itu siswa akan lambat dan bahkan bisa berhenti begitu saja. Tujuan dari persiapan pembelajaran adalah untuk:
1.      Mengajak siswa keluar dari keadaan mental yang pasif.
2.      Menyingkirkan rintangan belajar.
3.      Merangsang minat dan rasa ingin tahu siswa.
4.      Memberi siswa perasaan positif mengenai, dan hubungan yang bermakna dengan topik pelajaran.
5.      Menjadikan siswa aktif yang tergugah untuk berpikir, belajar, menciptakan, dan tumbuh.
6.      Mengajak orang keluat dari keterasingan dan masuk kedalam komunitas belajar.
Dengan hal tersebut akan berdampak secara psikis kepercayaan diri untuk bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan yang ia inginkan.
Adapun komponen persiapan pembelajaran antara lain
1. Sugesti positif
            Guru harus peka terhadap sugesti negatif yang mungkin akan siswa masukkan ke dalam lingkungan belajar dan menggantikannya dengan sugesti positif.[14] Perasaan takut, terlalu banyak materi, serta perasaan bosan dan lain sebagainya itu merupakan sugesti negatif, dengan adanya sugesti negatif ini maka guru harus mampu mengubahnya menjadi sugesti yang positif dengan meyakinkan siswa bahwa mereka akan mampu dan bisa serta siap menghadapinya dengan rasa gembira. Selain itu guru harus mampu membuat pembelajaran tergugah, terbuka, dan siap untuk belajar.
2. Lingkungan  fisik positif.
Sugesti, baik positif maupun negatif akan sangat dipengaruhi juga lingkungan. Apabila lingkungan dibuat terkesan menyenangkan dengan sendirinya siswa akan tersugesti untuk belajar dengan menyenangkan. Sebaiknya guru memahami kaitan antarapandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasikan lingkungan belajar yang mendukung.[15] Untuk itu persiapan pembelajaran sebaiknya ditata sedemikian rupa agar dalam kelas bisa mengasyikkan dalam belajar. Misalnya dengan memasang poster afirmasi pada dinding dengan kata ” Saya mampu mempelajarinya” dengan menggunakan warna yang menarik, menggunakan alat bantu benda yang dapat mewakili suatu gagasan, mengatur bangku (seperti membentuk bangku setengah lingkaran, bangku berhadap-hadapan).[16]
3. Tujuan yang jelas dan bermakna.
                  Pembelajaran memerlikan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pembelajaran dan apa yang akan dapat mereks lakukan  sebagai hasilnya. Guru dapat menjelaskan tujuan materi dengan kata-kata, gambar, contoh, demo, atau apa saja yang membuat tujuan itu tampak nyata dan konkrit bagi siswa.[17] Dan akan sangat bermanfaat apabila disampaikan dengan bahasa yang menyentuh hati dan pikiran siswa.
4. Manfaat bagi siswa.
            Ada yang menghubungkan antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan ”apa”, sedangkan manfaat dikaitkan dengan ”mengapa”. Siswa dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka sendiri.[18]
5. Sarana persiapan siswa sebelum pembelajaran.
                  Persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum dimulainya program belajar. Jika dapat diusahakan, pembelajaran diberi sarana persiapan sebelum belajar yang diisi aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana itudapat membantu menyingkirkan rasa takut, menentukan tujuan, menjelaskan manfaat, meningkatkan rasa ingin tahu danminat, serta menciptakan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang.
 6. Lingkungan sosial yang positif.
                  Kerja sama membantu siswa mengurangi stres dan lebih banyak memanfaatkan energi kejiwaan untuk belajar (dan bukunya untuk bersaing atau melindungi diri). Kerja sama antara siswa untuk menciptakan sinergi manusiawi yang memungkinkan berbagai wawasan, gagasan dan informasi mengalir bebas.          
            Selain itu dengan kerja sama dalam belajar akan memungkinkan setiap siswa tidak akan terabaikan, sulit pula bagi siswa untuk sembunyi dan tidak aktif. Oleh sebab itu sebaiknya sebelum pelajaran melangkah lebih lanjut dibuat kelompok sebagai mitra belajar. Cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan kegiatan belajar adalah dengan membagi kelas menjadi pasangan dan membentuk kemitraan belajar.
7. Keterlibatan penuh pembelajaran
Belajar bukanlah aktivitas yang hanya bisa ditonton, melainkan sangat membutuhkan peran serta semua pihak. Belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif, melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan ketrampilan. Upaya belajar benar-benar bergantung pada siswa dan bukan merupakan tanggung jawab perencana atau guru. Guru hanya sebagai fasilitator yang berkewajiban menata meja dengan makanan yang merangsang selera dan bergizi, sedangkan kewajiban siswa untuk memakannya sendiri. Maka siswa diupayakan agar mampu berkreasi dan mandiri.
8. Rangsangan rasa ingin tahu.
                  Merangsang rasa ingin tahu siswa sangat membuat upaya mendorong siswa agar terbuka dan siap belajar. Pembelajaran (dan kehidupan itu sendiri) akan mandek jika tidak ada sesuatu yang bisa menimbulkan rasa ingin tahu. Guru dapat menggugah rasa ingin tahu siswa adalah dengan cara: memberi masalah untuk dipecahkan secara kelompok, menyuruh siswa berpasang-pasangan dalam menjalankan tugas pencarian fakta, memainkan permainan tanya jawab,menyuruh siswa menyusun pertanyaan.
b. Teknik Penyampaikan
                  Tahap penyampaikan dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan pembelajran dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik.[19] Adapun cara mengajak siswa terlibat penuh dalam proses belajar:
      1. Presentasi guru (fasilitator)
                        Ketika sedang mengerjakan suatu proses atau prosedur, gunakan hasil karya untuk menampilkannya besar-besar pada dinding, papan planel, atau papan tulis magnetik. Selanjutnya, suruhlah siswa membongkarnya dan menyusunnya kembali sebagai aktivitas belajar ”mengajar-kembali”
      2. Presentasi guru/ siswa
Sebelum presentasi, mintalah setiap siswa memilih mitra. Katakan bahwa mereka harus menyusun soal ujian lisan berisi 20 pertanyaan untuk teman mereka berdasarkan presentasi yang akan mereka dengar. Pada akhir presentasi, mereka harus menyerahkan soal ujian lisan tersebut pada teman mitranya dan menilai apakah pasangan mereka mampu atau tidak menangkap materi pelajaran yangbaru saja diberikan. Semenara itu, saat presentasi, mitra mereka akan menyiapkan soal ujian lisan 20 pertanyaan untuk mereka.
3. Presentasi siswa dan berlatih menemukan
               Guru membagi siswa dalam beberapa tim. Minta setiap tim meneliti berkas bahan pelajaran yang mereka hadapi dan buatlah presentasi untuk kelompok. Bekali setiap tim dengan materi untuk membuat pendukung atau bantuan presentasi yang dapat membantu mereka menyampaikan poin-poin mereka. Karena siswa lebih banyak mengingat dengan diasosiasikan dengan sesuatu yang telah atau pernah dilakukan. Seperti yang dikatakan oleh Harry Lorayne dan jerry lucas yaitu ” anda bisa mengingat sepotong informasi jika diasosiasikan dengan sesuatu yang telah anda ketahui atau ingat sebelumnya”[20]
c. Teknik Pelatihan
                     Pada tahap inilah pembelajaran yang berlangsung sebenarnya. Apa yang dipikirkan, dan dikatakan serta dilakukan siswalah yang menciptakan pembelajran, dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh guru. Pada tahap ini dapat dilakukan dengan meminta siswa berulang-ulang mempraktikkan suatu ketrampilan (andaipun  tidak berhasil pada mulanya), mendapatkan umpan balik segera, dan mempraktikkan ketrampilan itu lagi. Mintalah siswa membicarakan apa yang mereka alami, perasaan mereka mengenainya, dan apa lagi yang mereka butuhkan untuk meningkatkan prestasinya.
d. Teknik Penutup.
                     Banyak kasus dalam menyampaikan pelajaran dalam akhir semester atau dalam akhir jam guru menjelaskan agar materinya selesai. Namun dengan ini, malah akan tidak efektif yang seharusnya dilakukan adalah pada pemahaman guru dalam joyfull learning hendaknya memberi penguatan kepada materi yang telah diterima oleh siswa dengan memusatkan perhatian, hal itu peluang ada cara mengingat yang kuat akan apa yang terjadi. Seperti yang telah dikatakan oleh Lynn Stern, penulis improving your memory ” alasan utama mengapa kita lupa adalah karena kita tidak benar-benar memusatkan perhatian”[21]
                     Ada banyak tindakan positif yang bisa diambil untuk menciptakan penutup mata pelajaran yang bermakna dan membuat pembelajaran tidak terlupakan dengan cara antara lain:
1.      Strategi peninjauan kembali yaitu membahas cara–cara untuk membuat siswa mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan kemampuan mereka yang sekarang. Yaitu guru bisa dengan menggunakan kartu indeks yang terpisah, menuliskan pertanyaan tentang materi yang diajarkan kartu berisikan pertanyaan dengan jumlah separuh dari jumlah siswa, dari kartu yang terpisah siswa menuliskan jawaban atas masing-masing pertanyaan. Guru mencampurkan dua kumpulan kartu dan mengaduk agar acak. Berikan satu kartu untuk satu siswa, sebagian jumlah siswa menerima kartu pertanyaan sebagian yang lain menerima jawaban. Guru memerintahkan siswa untuk mencari pasangannya atau siswa yang membawa kartu jawaban pertanyaannya. Bila telah bertemu salah satu siswa diminta untuk membacanya keras-keras untuk melihat kebenaran dan kecocokkan jawaban dan pertanyaannya.[22]
2.      Penilaian sendiri yaitu membahas cara-cara untuk membantu siswa untuk menilai sendiri apa yang telah mereka peroleh.
                        Pada awal sebuah mata pelajaran, perintahkan siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang topik pelajaran, pada akhir mata pelajaran perintahkan siswa untuk kembali mengemukakan pendapatnnya. Lalu tanyakan kepada siswa apakah pandangan mereka masih sama ataukah sudah berbeda antara pendangan pada awal pelajaran dan akhir pelajaran.[23]
3.  Perencanaan masa depan.
            Guru mengungkapkan harapannya agar siswa tidak berhenti belajar hanya karena pelajaran telah berakhir. Kemukakan kepada siswa bahwa ada banyak car bagi mereka untuk terus belajar secara mandiri. Tunjukkan bahwa slah satu cara dengan membuat daftar berisi gagasan mereka. Buatlah sub-sub kelompok, perintahkan tiap sub untuk mencetuskan gagasan mereka.
4. Ucapan perpisahan
            Beri siswa kertas kosong dan katakan pada mereka inilah saatnya ”ujian akhir”,  katakan pada siswa bahwa tugas mereka adalah menulis secara urut banyaknya aktifitas belajar yang telah ditempuh, lalu perintahkan siswa untuk mengenang masa belajar yang mereka rasakan selama ini.[24]
5. Cara atau teknik menjadikan pembelajaran menyenangkan dan berhasil
      Dalam proses pembelajaran guru pasti punya tujuan yang mana guru menginginkan tujuan dari pembelajaran itu bisa tercapai dengan keadaan siswa yang senang dan menyenangkan. Adapun caranya antara lain:
a.       Menciptakan lingkungan tanpa stres (relaks)- lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan, namun harapan untuk sukses tinggi.
b.      Menjamin bahwa subjek pelajaran adalah relevan- penjelasan guru sesuai dengan kenyataan yang sekiranya siswa pernah melihat atau mengalaminya, sehingga tidak terlalu jauh antara pelajaran dengan bayangan siswa.
c.       Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif- karena pada umumnya ketika belajar dilakukan bersama guru, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu jeda teratur, dan dukungan antiusias.
d.      Melibatkan secara sadar semua indra dan juga pikiran otak kiri dan otak  kanan. Karena jika indra bergerak tidak bersamaan dengan kerja otak (melamun) maka pembelajaran tidak bisa efektif.
e.       Menantang otak siswa untuk dapat berfikir jauh kedepan dan mengeksplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami subjek pelajaran.
f.       Mengonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode waspada yang relaks.[25]
 6.  Media yang bagus dalam Joyfull Learning
Media adalah salah satu factor yang penting dalam proses pembelajaran. Motivasi untuk belajar akan meningkat jika kondisi proses pembelajaran itu menyenangkan, efektif dan lebih hidup. Jadi, media yang bagus diperlukan dip roses pembelajaran tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam.  Finnuchiaro mengatakan bahwa: ”Varios media such as the picture file, the pocket card, flash cards or words cards, the flannel board or magnetic board, real object, andmany miscellanous materials[26] yaitu: Ada banyak media seperti gambar-gambar, kartu cepat atau kartu kata, papan magnet, obyek nyata dan banyak macam-macam materi.
b.      Gambar
      Ada banyak macam gambar yang dapat digunakan di dalam kelas paling sedikit guru harus mempunyai data yang terdiri dari 3 macam gambar.
1.      Gambar individu manusia dan obyek.
2.      Gambar situasi dimana orang melakukan sesuatu dengan obyek dan hubungan obyek dan manusia yang dapat dilihat.
3.      Gambar seri 6-10 dalam 1 bagian.
Dengan menggunakan gamabr proses pembelajaran dapat menarik dan efektif jadi karakteristik seperti konsentrasi yang pendek dapat diakali dengan menggunakan gambar, dan lebih meningkatkan motivasi murid dalam belajar.
b. Kartu cepat atau kartu kata.
         Kartu cepat dapat digunakan pada kelas pelajaran yang masih muda. Kartu-kartu ini dapat disiapkan dan diisi dalam kategori yang sama dan perintah yang sama sbagai gambar individu.
         Anak-anak yang lebih muda dapat disuruh untuk mencocokkan kartu dan gambar secepat yang mereka baca. Mereka juga dapat mencocokkan kartu dan kata yang tertulis dipapan tulis atau dipapan kartu yang besar. Media ini sangat berguna dalam aktifitas bahasa seperti game. Dengan menggunakan media flash card di dalam game karakteristik dapat dimotivasi melalui aktivitas ini.
c. Papan Flanel (magnet)
            Papan Flanel dapat digunakan sama seperti papan magnet. Papan flannel adalah papan yang dibuat dari kayu yang permukaannya dilapisi dengan flannel fabric untuk menempelkan benda-benda, gambar, kertas dan lain sebagainya. Panjangnya sekitar 1 meter dan lebarnya 70 cm. alat ini dibuat untuk mempraktekkan kosa kata dan ayat-ayat al-quran. Sehingga gambar dan kertas mudah untuk ditarik dan ditempel sebagai ilustrasi dan pengajaran dari banyak konsep dan struktur.
d. Kaset.
Pemutar kaset (CD Player / tape)adalah media yang cocok untuk cerita, lagu, dan permainan, dan sebagainya. Ini adalah bentuk pertama. Suara dari pembicara asli terdengar sempurna untuk membangun pengucapan siswa atau dapat juga untuk memahami bentuk cerita atau kisah para Nabi.ucapan yang terdengar juga memberikan pengalaman dari bentuk eksperimen yang digunakan didalam pengucapan atau kefasihannya. Jadi karakteristik seperti meniru memudahkan dengan menggunakan ucapan yang asli.
            Media ini digunakan dalam pelajaran dikelas untuk membiasakan siswa pada suara lain dari pada guru mereka untuk menambah latihan konsentrasi.
e. Obyek nyata
            Obyek nyata adalah media lain. Mereka dapat diletakkan di kotak yang sangat luas. Media ini akan membantu untuk mengilustrasikan kosa kata atau konsep cultural. Seperti Koran, bendera, peta, botol, kotak, dan benda benda lain adalah ilustrasi kosa kata yang pokok. Benda-benda ini digunakan oleh guru untuk siswa senang.

One Response

  1. Dapusnya mana?? tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: